
Aura merasa kepalanya sedikit sakit saat wawancara di mulai, kemudian rasa sakitnya bertambah saat wawancara akan selesai, namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak mengganggu sesi wawancaranya.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Hani saat Aura terus saja memegangi kepalanya.
"Saya baik-baik saja, sedikit pusing tapi masih bisa saya tahan." Jawab Aura yang terus melanjutkan langkahnya.
Nmaun tiba-tiba Aura tak bisa menahan lagi sehingga ia pun terjatuh pingsan.
"Bu Aura!" Teriak Hani kaget melihat Aura terjatuh. Bahkan semua orang yang melihat, berkerumun mencoba menolong Aura.
"Permisi, Tolong beri saya jalan." Ucap seseorang dari tengah-tengah kerumunan.
"Pak Kezno!" Ucap Hani terkejut, karena tiba-tiba ada Kenzo di dekatnya.
"Apa yang terjadi, Kenapa Aura bisa pingsan?" Tanya Kenzo sangat khawatir. Sambil menggendong Aura untuk ia bawa kedalm mobilnya.
"Tadi ada sedikit insiden, ibu Aura menebarak mobil di depannya saat akan menuju tempat ini." Jawab hani sambil terus berjalan mengikuti Kenzo.
"Lalu dia tidak langsung memeriksakan ke dokter, justru melajutkan pekerjaannya?" Tebak Kenzo.
"Iya pak!" Jawab hani yang sudah bergetar, karean merasa sedang di marahi atasannya sendiri.
"Seharusnya kamu bisa mencegahnya, itu gunanya sekretaris yang merangkap asisten seperti kamu." Ucap Kenzo yang memperingati Hani.
Kenzo membawa mobilnya dengan kencang umtuk segera sampai di rumah saki, agar Aura segera tertangani oleh dokter.
"Dok tolong selamatkan pasien ini." Ucap Kenzo begitu sampai di UGD rumah sakit
"Anda walinya?" Tanya doktersebelum mulai menangani Aura.
"Bukan dok, Dia walinya." Jawab Kenzo menunjuk kearah Hani. Kenzo sadar bahwa kini dirinya bukan siapapun bagi Aura.
"Baik, tunggu sebentar!" Ucap Dokter yang kemudian mulai menangani Aura.
Dokterpun memeriksa Aura, memasang selang infus kepada Aura lalu menyuntikann obat melalui infusannya.
"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Kenzo begitu dokter selesai mengobati Aura.
__ADS_1
"Bu Aura baik-baik saja, namun benturan di kepalanya cukup keras sehingga menyebabkan sedikit rasa sakit namun tenang saja, saya sudah memberi pereda nyeri dan sebentar lagi pasti sadar, namun bu Aura harus tinggal satu malam disini, kami harus observasi terlebih dahulu."
"Terimaksih dok." Ucap Kenzo dan Hani serentak.
setelah dokter pergi, Kenzo pun masuk untuk menemui Aura, dia melihat Aura yang masih terbaring tak sadarkan diri. kenzopun duduk di samping Aura, perlahan menggenggam tangannya, dibawanya dekatnke arah bibir dan kemudian dikecupnya.
"Kenapa aku harus lihat kamu terbaring lemah seperti ini? bagaimana bisa aku berhenti untuk mengkhawatirkanmu, sementara kamu seperti ini." ucap Kenzo lirih.
Kenzo tiba-tiba merasa ada pergerakan dari jari Aura, dan itu membuatnya terkejut. Iapun segera bangun dan pergi dari ruangan Aura. Dia tidak ingin Aura mengetahui kehadirannya.
"Hani, sepertinya Aura akan sadar, jangan mengatakan bahwa saya yang membawanya kesini, pokoknya Aura tidak boleh tahu tentang kehadiran saya disini."
"Baik pak!" Jawab Hani menganggukan kepala, sementara itu Kenzo pergi berlalu,
...***********************...
Setelah pualang dari rumah sakit, Kenzo langsung mendatangi denis di restonya. Setelah ia bercerai dengan Aura ia sudah jarang mendatangi Denis, sampai Denis pernah berkata telinganya terasa damai tak lagi mendengar keluh kesah sahabatnya itu.
Namun pertemuannya dengan Aura tadi membuat Kenzo ingin datang dan menceritakan kepada sahabatnya itu.
Kenzo sudah duduk dengan wajah sedihnya, sementara Denis sedang di panggil oleh salah satu pegawai resto.
"Hei, ada apa? ada masalah di kantor?" Tanya Denis lagi saat melihat Kenzo dengan wajah murungnya.
"Sejak kapan dia disni? dan Kenapa dia harus menunjukan sisi lemahnya di depanku?" Tanya Kenzo yang sama sekali tidak di fahami Denis.
"Siapa maksud kamu Ken?" Tanya Denis penasaran.
"Aku yakin kamu sudah tahu bahwa Aura ada di jakarta." Ucap Kenzo kemudian. kenzo menduga shabatnya menyembunyikan keberadaan Aura darinya.
"Aku tahu, karena dia membantu melly menyiapkan pernikahan." Jawab Denis. Dan memang hanya itu yang Denis tahu dari Melly
"Tidak hanya itu, kini dia bekerja dan menetap lagi disini." Lanjut Kenzo yang membuat Denis terkejut pasalnya kekasihnya tidak mengatakan demikian.
"Kamu yakin? karena melly tidaknpernah mengatakn itu."
"Sudah Jelas dia tidak ingin aku mengetahuinya."
__ADS_1
"Hari ini dia pingsan tepat di depan mataku, kenapa dia harus membuatku jadi khawatir? jika terus seperti ini, bagaimana aku bisa benar-benar melepaskannya?"
Denis kembali menjadi pendengar setia, dari semua kegelisahan hati sahabatnya. ia tahu bahwa Kenzo masih sangat mencintai Aura, dan tidak mungkin Kenzo bisa melupakan Aura dengan semudah itu. justru Denis berharap agar suatu saat Kenzo dan Aura bisa kembali bersama lagi.
...***********************...
Satu malam telah Aura lewati terbarin dengan selang infus menyambung ketangannya, setelah kemarin sempat sadar sesaat namun Aura tidur kembali karena masih terasa sedikit sakit di kepalanya. Hanya tinggal menunggu hasil dari pemeriksaan semalam baru Aura bisa pulang.
"Bunga dari siapa?" Tanya Aura saat melihat bunga tulip kesukaannya, lalu ia mengambil bunga yang terletak dimeja sampingnya, kemudian dihirupnya,
"Semalam ada pria yang mobilnya anda tabrak datang menjenguk." Jawab Hani meneceritakan kedatangan pria asing itu,
"Pria itu datang?" tanya Aura seolah tak pecaya. karena dia pria yang baru Aura temui, Jadi sangat tidak mungkin jika dia simpati terhadapnya, bahkan rela sampai datang untuk menjenguk.
"Iya dia datang. Tapi dia bilang untuk tidak membangunkan anda dan pergi setelah menyimpan bunga itu." Jawab Hani sambil tersenyum, saat membayangkan fisik pria itu. meski sudah cukup tua, tapi kharismatik.
"Kamu tidak memberi tahu mami, kalau saya masuk rumah sakit kan?" Tanya Aura memicingkan matanya.
"Anda tenang saja, saya tidak memberi tahu siapapun." Jawab Hani lagi.
"Bagus. ayo kita pulang sekarang." Ajak Aura yang telah siap untuk kepulangannya. sementara Hani membereskan semua administrasi.
Ada hikmahnya juga untuk Aura dari kejadian ini. setidaknya dia bisa beristirahat tanpa harus memikirkan masalah pekerjaan. Apalagi akhir pekan ini dia akan sibuk dengan pernikahan sahabatnya.
Tiba- tiba Aura mengingat pria yang datang menjenguknya, dia belum sempat mengucapkan terimakasih dan juga maslah biaya perbaikan yang mungkin hendak dibicarakannya pada hari itu saat dirinya di rumah sakit.
Kemudian Aura pun memutuskan untu mngirim pesan sebagi ucapan terimakasih karena telah memberinya bunga.
Terimakasih sudah menjengyk dan membawakan bunga, saya tunggu nota biaya perbaikan mobilnya.
tulis Aura dinpesan teksnya.
Taklama kemudian ponsel Aura berbunyi, Aura segera membuaka dan membacanya.
Bagaimana jika biayanya di ganti dengan mentraktir makan malam, jika kesehatan anda sudah membaik.
Baiklah. nanti saya kabari lagi.
__ADS_1
Aura menyetujui usulan pria tersebut, namun jadwal Aura minggu ini cukup padat, mungkin nanti setelah pernikahan Melly Aura akan mengajak pria itu makan malam sebagai ganti biaya perbaikan mobil yang Aura tabrak.