AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Komunikasi


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Aura akan menemui psikiater, Pagi hari yang cukup cerah untuk memulai hari dengan semangat baru.


Kali ini Aura bertekad untuk sembuh, setelah merenungi semuanya, memang ada yang salah dengan dirinya. Selama ini Kenzo sudah menyarankan untuk kebaikannya, namun karena dirinya yang keras kepala, sehingga tidak menghiraukan ucapan suaminya yang sesungguhnya sangat peduli kepadanya.


"Kita sarapan, aku sudah buatkan nasi goreng." Ucap Kenzo memberitahu Aura yang masih duduk di depan meja riasnya.


Aura pun tersenyum dan menyambut uluran tangan suaminya.


Hubungan keduanya mulai membaik, Baik Aura maupun Kenzo sudah menyadari apa kesalahan mereka satu sama lain. Dan memang suatu hubungan harus terjalin komunikasi dua arah, jika tidak maka akan selamnya selalu menduga dan akhirnya salah paham.


Mereka pun menuruni anak tangga dengan saling berpegangan tangan, menuju meja makan yang sudah tercium aroma-aroma wangi dari masakan yang di buat Kenzo.


"Kamu yang buat ini?" Tanya Aura Terperangah dengan nasi goreng yang di buat Kenzo dengan sangat lucu, seperti membuat sarapan untuk anak TK.


"Just for you!" Ucap Kenzo tersipu, sebab diapun merasa ini sangat kekanak-kanakan.


"I like it." Jawab Aura masih mengembangkan senyum di bibirnya, karena menurutnya itu sudah keluar dari ciri khas seorang Kenzo.


Merekapun memulai sarapannya, dengan obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan yang akan di lakukannya hari ini.


"Aku mau kamu cukup antar aku saja, setelah itu berangkat kerja." Ucap Aura.


"Aku tidak boleh ikut menemani kamu di dalam?" Tanya Kenzo.


"Aku tidak mau. Nanti kamu bisa dengar langsung saja kesimpulan dari dokternya. aku tidak akan bebas jika kamu ikut memperhatikan." Aura berpikir jika Kenzo ikut mendengar kan konsultasinya, dia merasa tidak bisa untuk releks.


"Aku mengerti, tapi setelah selesai kabari, aku akan antar kamu pulang."


"Iya, pasti." Ucap Aura setuju.


Setelah dirasa cukup memenuhi perutnya di pagi hari, merekapun pergi meninggalkan rumah untuk menemui psikiater.


Seperti yang sudah di sepakati, Kenzo hanya mengatarkan Aura sampai depan klinik tempat Aura akan berkonsultasi, Kemudian meneruskan perjalanan nya menuju kantor.


Dengan langkah ragu Aura berjalan memasuki koridor yang akan membawanya ke depan ruangan dokter Tirta. Menunggu dengan gelisah sampai namanya di panggil.


"Nona Aura winston" Suara terdengar dari speaker menyebutkan namanya.


Aura segera berdiri dan di persilahkan untuk masuk kedalam ruangan, Dia sempat melirik jamnya, rupanya tepat dengan janji temu yang sudah di jadwalkan sebelumnya. Karena konsultasi dengan psikiater harus memiliki janji terlebih dahulu agar dapat di sesuaikan jadwalnya.


"Selamat pagi." Ucap Aura begitu masuk kedalam ruangan. Terlihat seorang pria dewasa duduk tegak di kursinya, Mungkin usianya menginjak kepala empat.


"Silahkan duduk." Ucap Dokter Tirta mempersilahkan Aura untuk duduk tepat di hadapannya dengan meja menjadi penghalangnya.

__ADS_1


Disana Aura mendapatkan pertanyaan mendasar, seperti identitas diri. Sebelum menuju ke pertanyaan intinya.


"Silahkan, anda bisa duduk di kursi sebelah sini." Ucap dokter Tirta meminta Aura untuk pindah tempat duduk, dia juga meminta untuk Aura bersandar dan merilekskan diri.


Aura mengikuti semua arahan dari dokter tirta. Diapun mulai duduk bersandar dengan nyaman, sementara dokter Tirta pun sudah duduk tepat di sampingnya.


"Ceritakanlah masa-masa saat anda kecil." Dokter tirta mulai menanyai segala hal untuk bisa menemukan apa sebenarnya yang salah dengan Aura.


Aurapun mulai kembali memutar ingatannya ke masa-masa saat dirinya kecil, bersama papinya yang telah lama meninggalkan nya.


Hari pertama berkonsultasi, cukup menguras airmata Aura. Mungkin karena kembali mengingat momen bersama papinya yang tidak mungkin terulang lagi.


"Saya tunggu kedatangannya kembali di hari kamis." Ucap Dokter tirta sebelum Aura meninggalkan ruangannya.


Aura telah di jadwalkan untuk datang kembali di hari kamis. Dan dia akan datang sesuai jadwal, karena setelah menceritakan kembali dia mendapati hatinya yang lebih ringan, seperti beberapa beban terangkat dengan sendirinya.


Tiba-tiba ponsenya berdering, Aura sempat menduga itu dari Kenzo, karena sangat pas sekali dengan dia selesai berkonsultasi.


Namun saat melihat nomornya ternyata bukan dari Kenzo, melainkan nomor sahabatnya menelphon.


"Hallo Ra, apa kabar?" Tanya Melly dari sebrang sana.


"Baik Mel, kata Gea kamu ada di indonesia, kenapa gak ngasih kabar?"Tanya Aura antusias.


"Ah.... aku lupa, sorry..." Ucap Aura lirih.


"Its oke. Sekarang aku dan Gea mau kerumah kamu, ada di rumah kan?" Tanya melly kemudian.


"Gea ada di sini juga?" Tanya Aura terkejut, sebab yang dia tahu hanya Melly saja yang pulang. Ternyata Gea juga ikut pulang.


"Pokoknya panjang deh ceritanya."


"Kebetulan aku ada di luar, tapi sebentar lagi sampai kok, kamu sudah tahu alamat rumahku?"


"Iya aku sudah tahu, pokoknya cepat pulang, karena aku sudah di jalan."


"Oke, sampai ketemu di rumahkh ya." Aura segera menutup telphonnya.


Kemudian Aura mencari nomor suaminya, sebab dia akan meminta Kenzo untuk tidak perlu menjemputnya, sebab akan memakan waktu lama untuk sampai di rumah jika menunggu kedatangan Kenzo. Aura memutuskan untuk menaiki taksi untuk pulang kerumahnya.


...※※※※...


Sementara Melly dan Gea sudah melaju dengan mobil milik Denis, bermodalkan Google map, untuk mereka sampai di rumah Aura.

__ADS_1


"Mell janji ya, kita rahasiakan tentang pertemuan aku dan Kenzo. Tapi aku pasti akan mengatakan kepada Aura yang sebenarnya, tapi bukan hari ini, kita juga sama-sama tahu kondisi Aura saat ini seperti apa." Ucap Gea memohon kepada Melly.


"Iya Ge aku janji, tapi kamu harus tetap jujur kepada Aura."


"Iya Mell, Pasti." Ucap Gea dengan yakin.


Tak lama merekapun sampai di alamat yang dituju. tepat di depan rumah yang cukup mewah. Geapun membawa mobilnya masuk kedalam garasi yang sudah otomatis terbuka itu.


Tepat di depan mereka sudah ada Aura yang sedang berdiri menyambut kedatangan kedua sahabatnya.


"Uh... kangen kalian!" Ucap Aura seraya memeluk kedua sahabatnya.


"Aku juga..." jawab melly yang sedikit menitikan airmatanya.


"Kok jadi sedih begini." Ucap Gea yang juga merasa sedih dengan pertemuan kembali dengan Aura. apalagi Gea merasa sangat bersalah.


"Masuk yuk... kita ngobrol di dalam." Ajak Aura menarik tangan kedua sahabatnya untuk masuk kedalam rumahnya."


Melly dan Gea melihat-lihat dalam rumah Aura yang terpangpang photo Aura bersama kenzo saat menikah juga photo-photo yang lainnya.


"Itu suamiku, Kenzo namanya." Ucap Aura saat Melly dan Gea menatap photo pernikahannya.


"Aku di jodohkan, jadi lihat saja senyuman kita berdua nampak sangat terpaksa." Ucap Aura kemudian menjelaskan saat melakukan pemotretan itu.


"Iya terlihat jelas." Ucap Melly terkekeh.


"Apa sampai sekarang masih terpaksa?" Tanya Gea yang mendapati tatapan tajam dari Melly.


"Hhmmm.... sekarang, tidak lagi. Kami sudah saling jatuh cinta." Ucap Aura sambil tersenyum saat mengingat awal mereka saling jatuh cinta.


Melly dan Gea masih melihat-lihat sekeliling, sampai Melly sangat terkejut melihat salah satu photo terpajang di dinding yang sama dengan photo pernikahan Aura yang lainnya.


"Tunggu dulu, ini... Keanu?" Tanya Melly menunjuk seseorang yang dia pernah lihat berada di barisan photo pernikahan Aura.


"Iya, Dia Keanu. Ternyata kamu masih ingat wajahnya." Ucap Aura Acuh, tanpa melihat ekspersi sahabatnya yang tidak dapat berkata-kata lagi.


"Mana aku lihat." Ucap Gea mendekat kearah photo yang di unjuk Melly.


"Kok Bisa?" Tanya Gea sama terkejutnya dengan melly.


"Dia adiknya Kenzo." Mendengar ucapan Aura Melly dan Gea bergegas mendekati Aura yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


Melly dan Gea sudah tidak sabar mendengar cerita dari Sahabatnya, karena mereka adalah saksi bagaimana dulu Aura berjuang untuk melupakan Keanu.

__ADS_1


__ADS_2