
Aura kelelahan, setelah berlari mengitari bandara yang begitu luas demi menemukan pria yang akan menjadi penyelamat hidupnya. Membantu dirinya terlepas dari bayang-bayang sang kakek.
Karena ini adalah hari kerja, dia tidak bisa seenaknya saja pulang, meninggakan kewajibannya, bagaimanapun kehadirannya di kantor sangat di butuhkan.
Aura harus berpisah dengan Kenzo di depan bandara, karena kebetulan mereka membawa mobil masing-masing. Sedikit heran dengan sikap Kenzo yang ia tunjukan tadi, Aura merasa ada yang Kenzo sembunyikan,Tapi dia tidak bisa menebaknya. Apa lagi saat dirinya menunjukan alamat milik Seteven. Wajah pucat kenzo sangat terlihat.
Sampailah Aura di kantornya. Memarkirkan mobil di parkiran yang khusus untuknya. Setelah itu Aura bergegas masuk untuk merebahkan badannya yang sudah terasa pegal.
"Harusnya aku rajin berolah raga." Keluhnya di dalam hati. Karena fisiknya sudah di buat bekerja di pagi hari.
"Siang bu,..." Sapa sekretarisnya hendak memberitahu bahwa ada maminya sudah menunggu di ruangannya. Namun ucapannya terpotong, karen Aura memberi perintah.
"Bawakan air mineral dingin dan juga pesankan makanan seperti biasa." Pinta Aura, yang kemudian berlalu masuk kedalam ruangannya.
Aura terkejut dengan kehadiran Jasmin yang sudah menunggu di dalam ruangannya.
"Mami, kapan sampai?" Tanya Aura dibarengi pelukan hangat yang di dapat. Hubungannya dengan Jasmine memang tidak secanggung dulu, kini mereka sangat dekat, semenjak Jasmine menceritakan tentang kehidupannya bersama papinya dan juga alasan meninggakannya sejak bayi.
"Tadi pagi, mami datang begitu mendengar berita kamu sayang." Ucap Jasmin, melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan Aku mam, telah membuat mami khawatir." Ucap Aura menyesal karena telah membuat keributan seperti kemarin, meskipun semua itu murni bukan salahnya, tetap saja dia telah salah memilih rekan kerja.
"Mami sudah menemui kakek. Kakek bilang kamu membuat penawaran, apa itu?" Tanya Jasmine mulai membuka topik serius. Jasmin hanya takut jika Aura melakukan hal yang berbahaya demi mempertahankan perusahaan yang sesungghunya adalah hak Aura sendiri.
"Mami mengenal Seteven gerald?" Tanya Aura
"Iya, mami pernah mendengarnya, kalau tidak salah dia yang pernah membuat kakek kesal, karena semua kerja sama yang kakek tawarkan di tolaknya." Jawab Jasmin sambil memutar ingatannya mundur ke beberapa tahun silam, saat papanya pernah di buat kesal dan bahkan nekat mendatangi kantornya langsung di inggris, untuk mengetahui sehebat apa Seteven gerald sampai memiliki sifat sombong.
"Aku hampir mencapai kesepakatan dengannya." Lanjut Aura yang membuat wajah jasmine terkejut dan tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
"Kamu serius sayang, Selamat." Tanggapan jasmine sampai ia tak bisa berkata-kata, sebuah pencapaian besar jika Aura bisa bekerja sama dengan pria tersebut. Itu membuktikan Aura bisa melakukan yang tidak bisa di lakukan Papanya.
"Tapi, dia memintaku untuk datang menemuinya." Aura memperlihatkan alamat yang Seteven berikan kepadanya.
"Kamu harus segera menemuinya." Ucap Jasmine bersemangat. "Kita bisa pergi bersama. penerbangan mami besok pagi." Lanjutnya lagi mengajak Aura untuk pergi ke inggris bersamanya.
"Aku masih belum yakin, pria itu sedikit aneh." Pertemuan pertama dengan Seteven bahakan pertemuan keduanya pun tetap memberi penilaian 'Aneh' kepada pria itu.
"Aneh bagaimana?" Tanya Jasmine sedikit gemas dengan keragu-raguan anaknya.
__ADS_1
"Aku tidak yakin, hanya saja aku baru menemukan pria seperti dia, mungkin dia sudah lama berada di luar. Kepribadiannya, kehidupannya...." Ucap Aura membayangkan setiap gesture Seteven saat bertemu dengannya
"Kamu hanya perlu fokus di satu titik. Yaitu pekerjaan, jangan pikirkan apapun tentang Seteven, selain kepiawaiannya dalam berbisnis. Jangan lihat gosip-gosip yang beredar tentang dia. Tapi lihat pencapaiannya." Ucap Jasmine menasehati anaknya. Dia mengerti arti aneh yang di maksud putrinya.
"Pikirkanlah, mana yang menurut kamu yang terbaik. Mami pulang dulu." Ucap jasmin berpamitan.
Aura memikirkan baik-baik setiap kata nasihat dari maminya. memang tujuannya adalah untuk pekerjaan, tapi mengapa dirinya terganggu dengan sikap yang di tunjukan Seteven?.
Bulu kuduk Aura merinding, mengingat kembali saat tatapan menggoda dari sekretaris Seteven, dan juga mendaptkan balasan tatapan yang sama dari sang bos. Dan itu terjadi tepat di depan Aura. Bahkan Aura menyimpulkan bahwa sekertaris itu mengabil double job. seorang sekertaris dan juga teman tidur.
...****************...
Kenzo mendatangi resto Denis, itu menandakan bahwa Kenzo sedang butuh untuk di dengarkan. Sepasang suami istri itu sudah saling berbisik saat melihat Kenzo keluar dari mobionya sampai masuk kedalam resto.
"Itu bagian kamu sayang." Ucap Melly mendorong suaminya untuk datang kepada Kenzo. Sementara dia akan memantau dari jauh.
Namun Denis menarik tangan melly untuk ikut bersamanya. " Sepertinya dia butuh saran dari kamu sebagai wanita." Ucap Denis terkekeh.
Bukan tidak ingin menemani Kenzo, mendengar setiap curhatannya, hanya saja mereka membuat kedatangan kenzo sebagai candaan bagi mereka. Karena satu alasan. Yaitu taruhan yang sempat mereka buat tentang Kenzo dan Aura akankah kembali bersama.
__ADS_1
"Ini, minum!" Ucap Denis memberikan satu botol minuman untuk Kenzo.
Setelah menghabiskan satu botol penuh, Barulah Kenzo mulai membuka mulutnya untuk bercerita. Dan Melly juga Denis mendengarkan dengan seksama.