
Sura ketukan pintu terdengar dari luar Apartment Reza. Dia bisa langsung mengetahui siapa yang datang, karena selain dirinya sendiri ada seorang yang tahu alamat barunya.
Reza segera meninggalkan pekerjaannya untuk membukakan pintu. Dan benar saja, wanita pujaannya sudah datang di depan pintu dengan membawa sebuah koper.
"Sayang, ada apa dengan koper ini?" Tanya Reza mengangkat sebelah alisnya.
"Izinkan aku tinggal disini." Tanpa menunggu jawaban Reza, Diana menerobos masuk kedalam Apartment Reza.
"Kalian berpisah?" Tanya Reza lagi membuntuti kekasihnya.
"Akan lebih baik jika memang begitu. Dia tidak mau melepaskanku. Karena di keluarganya tidak boleh ada kata perceraian." Jawab Diana lirih.
"Ada apa sebenarnya? Bukankah kamu ingin tetap bersamanya?" Reza sangat tahu bahwa Diana mencintai Keanu. Meski tawaran harta yang menggiurkan darinya.
"Aku lelah om, selama ini aku tidak berarti apa-apa untuknya. Aku kira meskipun begitu aku akan bahagaia, karena itu pilihanku sedari dulu. Tapi ternyata aku juga butuh untuk di cintai."
"Coba dari dulu kamu memilih om, pasti kamu selalu merasakan kebahagiaan." Ucap Reza mengingatkan Diana kembali saat ajakan menikah darinya di tolak Diana.
"Om lupa, dulu istri om masih hidup."
"Meskipun begitu, seharusnya kamu tetap disisi om, om pasti akan selalu memprioritaskan kamu. Tapi biarlah, yang penting saat ini kamu ada disini."
Reza memang sedari dulu sangat mencintai Diana, meskipun dia tahu hanya di manfaatkan oleh Diana. Namun dia tidak masalah hanya saja karena usianya yang tak lagi muda membuat dia tidak berani merusak masa depan Diana yang jelas
...※※※※...
"Mah, sepi sekali ya, malam ini!" Ucap Rian saat hanya berdua saja dengan istrinya di meja makanyang panjang ini. yang biasanya ada kedua anaknya, namun sekarang tidak, karena Keanu dan Diana pergi sementara menetap di surabaya.
"Iya, jika saja Keanu dan Diana tidak pergi ke surabaya." Jawab Siska yang merasakan hal yang sama dengan suaminya.
"Itu keputusan perusahaan mah. Bagaimana jika kita undang Kenzo dan Aura saja untuk makan malam disini." keluarlah ide dari Rian.
"Ide bagus pah, semoga saja mereka belum makan malam." Siska mengambil ponselnya di dalam kamar dan kemudian menelphon anaknya.
Beberpa saat kemudian siska keluar lagi denga wajah cemberutnya.
"Apa katanya?" Tanya Rian. Dari wajah siska Rianpun sudah tahu jawabanya.
"Sepertinya kita memang harus makan berdua saja. Kenzo dan Aura tidak bisa datang."
"Ya sudahlah, mulai sekarang kita harus terbiasa seperti ini."
"Bukankah momen ini mengingatkan kita dimasa muda pah?" Tiba-tiba siska mengingat masa-masa muda mereka yang tidak mudah.
"Betul sekali, itu sudah lama sekali, namun ada satu yang tidak pernah berubah." Ucap Rian sengaja membuat siska penasaran.
"Apa itu pah? Benar saja siskapun penasaran dan menanyakannya.
"Kamu, kamu selalu terlihat muda dan cantik di mataku." Gombal Rian yang membuat siska tersipu malu
"Ah, papa bisa saja." ucap Siska menyembunyikan pipinya yang sudah berubah seperti kepiting rsbus.
"Serius sayang. Ternyata perjuanganku tidak sia-sia."
Flashback....
__ADS_1
"Pokonya papa ingin kamu menikah dengan Jasmin." Ucap hartanto tegas kepada anaknya.
"Pah, sudah berkali-kali aku bilang, aku menolak perjodohan ini."
"Cobalah mengenalnya terlebih dahulu, lagi pula dia masih sekolah."
"Jawabanku tetap sama, karena aku akan menikahi seseorang." Rian sudah yakin dengan keputusannya. dia akan mebikahi Siska kekasihnya yang sudah lama menemaninya.
"Rian....
Dengarkan papa, Papa tidak akan menyetujui huhungan kamu dengan siapapun kecuali dengan Jasmin." Teriak pak hartanto karena Rian terus berjalan meninggalkan papanya.
Rian sangat frustasi selalu didesak untuk menikahi Jasmin yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Sementara dirinya sudah memiliki hubungan serius dengan Siska. Tanpa sepengetahuan papanya Rian sudah mempersiapkan pernikahan bersama Siska.
"Kamu tenang saja sayang, aku akan perjuangkan kamu, dan membuat kamu diterima dikeluargaku." Ucap Rian saat memberitahu apa yang telah terjadi antara dia dan papanya.
"Tapi mas, bagaimana dengan Jasmin, bagaimana perasaannya jika kamu menolaknya. Lagipula hubungan kita sudah sangat dekat."
"Kamu tenang saja, Jasmin masih muda, jiwa mudanya akan menolak pemikiran kolot para orang tua."
Namun tak semudah yang di pikirkan Rian, semua usahanya untuk membujuk sang papa tidak membuahkan hasil. Disaat dirinya menemukan jalan buntu datang Jasmin yang memberikan masukan yang tidak masuk akal namun bisa membatalkan perjodohan itu.
"Ide apa yang ada di otak kecil kamu ini?" Tanya Rian menggenggam kepala mungil Jasmin dengan kedua tangannya.
"Biarpun kecil tapi ideku ini bisa buat kak Rian dan kak Siska bahagia." Jawab Jasmin menghempaskan kedua tangan Rian dari kepalanya.
"Kawin Lari!" Ucap Jasmin kemudian.
"Apa. kawin lari? Aduh... dapet dari mana ide konyol itu?" Tanya Rian, menggerakan tangannya bentuk penolakan dari ide jasmin
"Kak coba pikirkan, kalian bisa menikah dan datang kembali setelah memiliki anak. jangan sampai om hartanto tahu. kalian bisa menjalani kehidupan seperti biasanaya, karena pernikahan itu hanya kalian yang tahu, dan tentunya aku."
Flashback end.
"Hahaha... jika mengingat waktu itu, Jasmin memang penyelamat kita." Ucap Siska tertawa mengingat ide konyol Jasmin yang mengantar mereka ke gerbang pernikahan.
"Ya, Lucunya lagi Jasmin yang membantu aku mempersiapkan semuanya, seolah-oleh dia yang akan menikah dengan kamu." Timpal Rian melengkapi ceritanya.
"Tapi mas aku bersyukur karena papa menerima aku dan Kenzo meskipun bertahun-tahun papa menolaknya."
"Iya, itu terjadi setelah papa tahu bahwa kamu mengandung anak lelaki lagi."
"Dan dari sanalah asal usul wasiat papa di buat. untuk membiarkan salah satu anak kita menikah dengan anaknya Jasmin kelak, yang bahkan pada waktu itu jasmin sedang lari dengan kekasihnya, mengikuti jejak kita."
Obrolan di meja makan, mengenang masa lalu mampu membangkitkan lagi semangat Rian dan Siska. Menumbuhkan lagi gelora cinta yang mereka miliki di masa muda.
...※※※※...
Sudah dua hari Kenzo menunggu kabar dari istrinya, semua tempat yang biasa Aura kunjungi sudah Kenzo datangi.
Duduk termenung di resto sahabatnya menajdi pilihan terakhir Kenzo. Ingin bekerjapun dia tidak bisa memfokuskan pikirannya.
"Ada masalah apa Bro?" Tanya Denis menghampiri meja Kenzo.
"Aura pergi, dan kali ini aku benar-benar kehilangannya, aku tidak tahu kemana dia pergi." Ucap Kenzo putus asa.
__ADS_1
"Kalian bertengkar lagi?"
"Tidak, ada seseorang yang sengaja mengambil photo ini dan di berikan kepada Aura." Kenzo menunjukan photonya saat bersama Gea.
"Inikan waktu itu." Ucap Denis, karena dia bersam melly ada di tempat yang sama.
"Iya, kamu bahkan ada disana. Memang ini murni kesalahku karena tidak jujur kepada Aura. aku menyembunyikan tentang aku yang mengenal Gea."
"Jadi selama ini kamu belum menceritakannya?" Denis terkejut, karena dia pikir Kenzo sudah jujur kepada istrinya.
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya lemas. dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Fatal Ken. Aura pasti merasa di khianati." Ucap Denis, yang membuat kenzo semakin sedih lagi.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan, aku rela jika harus bersujud meminta pengampunan drainya."
"Kamu tunggu saja, mungkin dia butuh waktu menjernihkan pikirannya. Setelah merasa baik, pasti dia akan datang dan meminta penjelasan. Karena setahuku Melly dan Gea juga belum mengetahui ini. nanti aku akan minta bantuan melly untuk mencari tahu keberadaan Aura."
Kenzo mendengarkan saran dari sahabatnya, benar yang di katakan Denis, mhngkin Aura butuh waktu untuk mengistirahatkan pikirannya, karena akhir-akhir ini begitu banyak masalah yang mendatangi dirnya.
"Thanks ya Den, sudah memberi saran yang sama sekali tidak terpikirkan."
"Inilah gunanya sahabat, sekarang lebih baik kamu kembali kekantor. Bersikaplah seolah tidak terjadi apapun."
Setelah hati dan pikirannya sedikit tenang, Kenzopun kembali kekantornya. Kembalu memeriksa beberapa pekerjaan yang ia tunda.
Tok...tok...tok....
" Pak, ini laporan yang dikirimkan pak Keanu." Ucap sekretaris Kenzo.
"Terima kasih, kamu bisa kembali." Jawab Kenzo setelah mengambil berkas laporan yang di berikan sekretarisnya.
"Oh iya pa, saya baru ingat. Saya pikir pak Kenzo pergi bersama ibu Aura."
"Memangnya kenapa?" tanya Kenzo yabg tidak mengerti arah pembicaraan sekretarisnya.
"Karena saya bertemu ibu Aura di bandara, sepertinya itu penerbabgan domestik. Kalau tidak surabya pasti Bali. Karena itu jadwal penerbangan saat itu, saya kira pak Kenzo akan berbulan madu lagi."
Kenzo terkejut, rupanya sekretarisnya melihat Aura pada malam itu. dan Kenzo tidak ingin sekretarisnya mengetahui keadaan rumah tangganya.
"Ya, memang benar, Aura pergi terlebih dahulu, kemudian saya akan menyusul." Kenzo menutupi semuanya, dia menelisk kearah sekretarisnya, dengan harapan sekretarisnya akan percaya.
"Baiklah pak, saya permisi dulu."
Kenzo membuang nafas lega, karena sekretarisnya tidak mencurigai apapun.
"Surabaya atau Bali." Ucap Kenzo menyebut kedua kota yang kemungkinan Aura singgahi.
Tiba-tiba terlintas di pikirannya, bahwa Aura pergi ke Surabaya, sementara disana ada adiknya.
"Jangan-jangan Aura menemui Keanu." Bisik hatinya.
Di hempaskan semua benda yang Ada di depannya.
Brukkk...brukkk...
__ADS_1
Suara beberpaa berkas yang sudah berceceran di lantai. Kenzo saat ini tidak bisa menahan amarahnya, membayangkan apa saja yang di lakukan Aura dan Keanu di tempat yang sama.
"Aaargghhh...... Awas Nu, kalau kamu berani berbuat macam-macam. Aku tak akan segan melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan." Ancamnya, Kenzopun berkali-kali memukul meja menyalurkan amarah yang tidak terbendung lagi. Hatinya merasa sakit dengan kemungkinan yang belum tentu terjadi.