AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Wanita Ceroboh


__ADS_3

Aura berkali-kali menggosok matanya, pandangannya sangat kabur, bahkan dia tidak melihat dengan jelas apa yang sedang Seteven kerjakan.


Saat ini Seteven sedang membuka laci meja kerjanya. Setelah menyeret Aura sampai keruangan kerja, Dia pun membiarkan Aura duduk dengan tenang di sofa. Bahakan Aura sangat berusaha untuk duduk tegak.


Seteven tersenyum, menertawakan Aura dalam hati. Pasalnya dia baru bertemu wanita yang tak kuat minum seperti Aura.


Kesadaran Seteven mulai kembali, dirinya memang sang ahli dalam bidang apapun termasuk dalam minuman beralkohol.


Seteven mengeluarkan sebuah kertas dari lacinya, kemudian di tandatanganinya.


Kini Aura tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh diatas sofa, kesadarannya sudah hilang sepenuhnya. Dia tidak tahu apa yang sedang Seteven kerjakan, bahakan dia juga tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi kepada dirinya yang tak sadarkan diri di tempat asing dan berbahaya seperti ini.


Seteven berjalan mendekati Aura yang sudah terbaring di sofanya. Kemudian Seteven berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan wajah Aura.


"Wanita ceroboh!" Ucapnya menyibakan helaian rambut Aura yang menutupi wajah cantiknya.


Perlahan Seteven memindahkan Aura dengan menggendongnya sampai keatas ranjang yang tadi ia gunakan bersama Abigail. Tak lupa ia juga meletakan kertas yang sudah di bubuhi tandatangannya di meja kecil di samping tempat tidurnya.


Andai saja Aura wanita biasa, pasti dia sudah ada di bawah kungkungan Seteven. Menikmati sisa hari ini dengan keringat yang saling bercampur. Namun itu hanya terjadi di dalam pikiran liarnya, yang berimajinasi sesuakanya saja.


Karena Aura bukan wanita sembarangan, jelas di belakang namanya tersemat nama besar winston. Siapa yang tak mengenal winston. Meski berkali-kali Seteven menolak bekerja sama dengan winston bukan berarti dia tak mengenal atau tak menyukai seorang winston. Dia hanya tidak ingin terlibat dengan pria Tua, yang seharusnya kepemimpinannya sudah di alihkan kepada ahli warisnya.

__ADS_1


Sebelum pergi meninggalkan Aura, Seteven meminta untuk beberapa pelayan menjaga Aura sampai terbangun.


...****************...


Aura merasa ada sesuatu yang bergerak di perutnya, dan dia meraskaan mual yang sangat hebat. Kemudian dia terpaksa membuka mata, dan segera menahan mulutnya untuk tidak muntah di sembarang tempat.


Aura terkejut saat sadar dirinya sudah ada di atas ranjang dan masih di dalam ruangan yang sama. Karena dirinya masih menahan mual, dia tak bisa banyak berpikir yang penting dia harus segera menemukan toilet. Untung saja ada pelayan hotel yang mengantarkannya sampi kamar mandi.


Aura memuntakan isi perutnya, tak ada apapun yang keluar selain cairan, mungkin dari wine yang tadi diminumnya.


Aura berpikir keras dengan apa yang telah terjadi kepada dirinya. sekeras apapun Aura berusaha mengingat, dia hanya ingat saat dirinya meminum wine yang Seteven beri.


"Ayo Aura, coba di ingat-ingat lagi." Ucapnya kesal, Kemudian Aura membasuh wajahnya berkali-kali berharap dia akan ingat semuanya.


"Anda baik-baik saja?" Tanya pelayan yang sedari tadi menunggundi luar kamar mandi.


"Saya baik-baik saja." Ucapnya yang kemudian kembali berbaring diatas kasur. karena dia merasa sekujur tubuhnya lemas.


"Tuan meminta kami memastikan agar Anda makan." Ucap pelayan yang lain dengan mendorong berbagai jenis makanan.


Kebetulan Aura sudah sangat lapar, karena sepertinya dia melewatkan jam makan siangnya. Namun saat akan memasukan suapan pertama kedalam mulutnya, Aura kembali merasakan mual, dan dia merasa heran, karena perutnya sangat lapar, namun mulut menolaknya.

__ADS_1


Kemudian Aura mencoba makanan lain, berharap ada satu makanan saja yang bisa masuk kedalam perutnya. Namun semuanya percuma, dari 10 menu yang tersaji tak ada satupun yang dapat Aura makan.


Kini tersisa menu menutup, ini harapannya, jika ini juga tak bisa masuk kedalam mulutnya, Aura tak tahu harus menghilangkan rasa lapar dengan cara apa.


Akhirnya satu gigitan cake masuk kedalam mulut Aura, bahakn sampai tak tersisa. Aura menikmatinya dengan penuh senyuman.


"Saya mau ini lagi." Ucapnya kepada pelayan yang ada di dekatnya.


"Baik, saya akan bawakan." Ucap Pelayan itu menarik kembali semua makanan yang tak tersentuh oleh Aura.


Karena mengurusi perutnya yang lapar, Aura melupakan keberadaannya di atas kasur milik Seteven.


"Tidak mungkin itu terjadi." Ucapnya dalam hati. Aura menyangkal semua pikiran-pikiran buruk yang kemungkinan Seteven telah lakukan kepadanya.


"Aku hanya mabuk, dan Seteven membaringkanku diatas kasurnya. Hanya itu saja." Aura meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang terjadi antara dia dan Seteven. Karena itu tidak akan termaafkan.


Saat Aura masih berusaha myakinkan dirinya, matanya terganggu dengan sesuatu di atas meja, diapun mencoba mengambilnya.


Yyyeeeaaa.....


Teriaknya sesaat setelah membaca apa yang tertulis di dalam kertas tersebut, bahakn dibawanya sudah tertanda tangani dengan jelas oleh Seteven.

__ADS_1


Namun Aura kembali berpikir buruk tentang Seteven. Bahwa kerjasama ini seharga dengan apa yang telah Seteven lakukan kepada dirinya.


"Tidak. Itu tidak mungkin terjadi." Ucapnya memeluk dirinya sendiri.


__ADS_2