AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Gaun pesta


__ADS_3

Gea masih kesal karena Keanu selalu saja tak jujur kepadanya apalagi itu menyangkut tentang Aura. ditambah lagi Keanu hanya memberikan pesan singkat untuk pemberitahuan keberangkatannya bersama Kenzo.Bahkan sampai sekarang dia masih menunggu kabar dari kekasihnya itu.


Gea sedari tadi melirik ke arah ponselnya, yang tak juga berbunyi satu notifikasi apapun. Alhasil Gea hanya bermalas-malasan di atas kasurnya saja. tiba-tiba suara dering dari ponsel gaya berbunyi, ges segera meraih ponselnya dan melihat Siapa yang menghubunginya, saat tahu bahwa itu adalah Keanu, Gea sengaja mengulur waktu sebelum m(engangkat panggilan telepon dari kekasihnya itu.


"Halo sayang, aku baru saja sampai." Ucap Keanu begitu panggilannya Gea terima.


Gea yang sedang kesalpun, terpaksa menyembunyikannya, karena dia tidak ingin memperbesar masalah tentang Aura. Meski membuatnya cukup sakit hati, namun Gea akan menyimpan untuk dirinya sendiri saja.


"Disana jam berapa?" Tanya Gea basa-basi, yang sebebarnya dia pun tahu perbedaan waktu diantara mereka, karena Gea pun pernah tinggal disana.


"Di sini sudah siang, tapi agak mendung. Sayang sudah dulu ya, kak kenzo memanggil." Ucap Keanu segera menutup ponselnya.


Kemudian Gea melemparkan ponselnya sembarang. kesal karena durasi obrolan mereka hanya sekejap.


Diapun kembali berbaring terlungkap, memenuhi pikirannya dengan hal-hal negatif, membayangkan bagaimana jika Keanu memang benar bertemu kembali dengan Aura, dan perasaan cintanya muncul kembali.


"Aarrgghhh.... Bikin kesel saja." Ucapnya membenamkan seluruh wajahnya di atas bantal.


...****************...


Seteven mendaptkan telepon dari pelayan di rumahnya, yang mengatakan bahwa semua gaun pilihan Seteven di tolak Aura, dan pelayan pun mengirimkan gambar gaun yang di inginkan oleh Aura.


"Dimana aku mendaptkan gaun seperti ini?" Tanya Seteven geram.


Kemudian Seteven memijit telepon kantor untuk memanggi Sekertarisnya.


"Abigail keruangan saya." Ucapnya segera mengakhiri panggilannya.


Tak laama Abigail datang dengan wajah sumuringah, karena dia merasa sedang di butuhkan oleh Seteven. Dengan gaya khasnya Abigai segera mendekat dan bahkan mengusap lembut pundak Tuannya.


"Apa Tuan menginginkan sesuatu?"


Seteven hanya membiarkan Abigail memainkan tangannya di area punggungnya, sembari memperlihatkan sebuah gambar gaun di ponselnya.

__ADS_1


"Cari gaun ini sampai dapat." Perintan Seteven kepada Abigail.


"Gaun ini untuk siapa?" Tanya Abigail yang berharap bahwa gaun cantik nan indah itu untuk dirinya.


"Ini untuk Laura gunakan di acara nanti malam. Jangan sampai terlambat." Jawab Seteven yang kemudian berdiri melepaskan diri dari permainan jari-jari Abigail. Lalu mendekat kearah pintu dan membukanya.


Dengan menghentakan kaki Kesal Abigail berjalan keluar dari ruangan Tuannya.


Seteven yang sudah mengenal Abigai sejak lama tak memperdulikan lagi dengan sikap Abigail yang menurut kebanyakan orang kurang sopan kepadanya. Namun Abigail bersikap seperti itu karena memang merasa dekat dengan Seteven. Dan Seteven tak mempersoalkannya.


Seteven kemudian melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian dia memutuskan untuk pulang lebih Awal.


Saat di perjalanan pulang Seteven mengingat dirinya belum pernah membelikan hadiah apapun untuk Aura, Hanya sebuah cincin yang tanda pernikahan mereka, itu juga Abigail yang memilihkan.


"Pak, mampir di mall depan." Pintanya kepada supir pribadinya.


Mobilpun berhenti di parkiran mall, kemudian Seteven turun untuk membelikan hadiah untuk Aura.


Berjalan sendiri tanpa pengawal ataupun Abigail di sampingnya cukup membuatnya bingung, Apa lagi di tempat perbelanjaan sebesar ini.


Ya memang ada kebiasan Seteven yang berubah sejak mengenal Aura. Dan itu tak Seteven sadari.


Buughh...


"Maaf tidak sengaja." Ucap Pria yang berjalan mundur dan tak sengaja bertabrakan dengan Seteven.


Rupanya Kenzo yang sedang memberikan kode kepada Adiknya, dan tak sengaja menabrak orang di belakangnya. Kenzo sangat terkejut begitu tahu orang yang ia tabrak adalah Seteven Gerald. Kenzo masih ingat wajahnya.


"Oke, tidak masalah." Ucap Seteven terlihat sedikit kesal. Kemudian berlalu meninggalkan Kenzo yang memberi tatapan tajam.


Lagi-lagi seorang Seteven masih membuat Kenzo penasaran. Diapun mengikuti Seteven lagi bak seorang mata-mata.


Sampailah Seteven di sebuah toko perhiasan, Kenzo masih mlihat semua aktifitas Seteven dari kejauhan, sampai datanglah seorang wanita mengahmpiri Seteven dan mereka terlihat sangat dekat.

__ADS_1


Kenzo memicingkan mata, bahkan dia juga maju lebih dekat lagi, agar terlihat jelas wajah wanita yang saat ini bersama Seteven.


Jantungnya sudah memompa darah, mengalir lebih kencang, saat menelisk kearah wajah wanita yang ternyata itu bukan Aura, dan juga bukan wanita yang ada di gambar bersama Seteven.


"Siapa wanita itu? Atau dia selingkuhannya?" Banyak pertanyaan dalam kepala Kenzo. Jika saja benar bahwa sikap Seteven sesuai dengan yang beredar di banyak artikel, maka Kenzo semakin khawatir, membayangkan Aura berhadapan dengan pria seperti Seteven.


Kini mereka sedang memilih perhiasan, nampak seperti pasangan pada umumnya.


Sebuah tangan mengejutkan Kenzo, dia pun menoleh dan ternyata adiknya yang sedang mencari dirinya.


"Aku sudah dapat kak." Ucap Keanu menujukan setelan jas yang akan ia kenakan nanti malam.


"Oke, tunggu sebentar." Ucap Kenau yang kemudian berbalik kearah toko perhiasan lagi, dan ternyata Seteven sudah tak ada lagi disana, Kenzo tak tahu kemana arah perginya Seteven.


"Kakak cari siapa?" Tanya Keanu yang penasaran, sebab keanu tak melihat siapapun.


"Nggak, sepertinya kakak salah orang, kamu sudah selesai, ayo kita pulang." Jawab Kenzo segera menarik tangan Adiknya untuk meninggalkan mall.


Keanu yang tak mau ikut campur dengan masalah kakaknya, tidak memperdulikan, dia hanya terus mengikuti langkah kakaknya.


Sementara Seteven yang bertemu dengan Abigail di mall yang sama, dipinta Abigail untuk mengikutinya karena dia kebingungan dengan ukuran pakaian yang biasa Aura pakai.


"Sepertinya Tuan sangat tahu sekali ukuran Laura." ucap Abigail menyembunyikan rasa cemburunya.


"Jangankan Laura, saya tahu ukuran pakaian seisi rumah." Jawab Seteven dengan sikap dinginnya.


Abigail hanya berdecah kesal, karena Seteven sama sekali tak menoleh kearahnya.


Tak lama seorang pelayan membawakan ukuran gaun yang diminta Seteven.


Seteven melihat setiap detail gaun yang Aura inginkan, memang terlihat sesuai dengan gambar di ponselnya.


"Tuan tahu gaun ini limited edition. Wah... Tuan memang hebat tahu hal semacam ini." Puji Abigail, karena Abigailpun baru mengetahui saat tadi di jelaskan bahwa gaun yang is cari bukan Gaun biasa.

__ADS_1


"Saya sampai menelphon semua kenalan saya mencari gaun ini." Lanjut Abigail mengharapkan pujian dari Tuannya. Meskipun dia kesal karena dia bersusah-susah untuk mencari gaun yang pada akhirnya akan di kenakan Laura, bukan dirinya.


"Saya tidak mengira mencari gaun saja sampai sesulit itu." Tanggapan Seteven yang sama sekali tidak ada kata pujian atau hal yang membuat Abigail senang mendengarnya. Kemudian Seteven pergi menuju kasir untuk membayar gaun tersebut.


__ADS_2