AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
ASING


__ADS_3

Seteven terus menengok jam dinding besar yang berada di ruang tengah rumahnya. Tak hanyavitu jam di pergelangan tangannya tak luput dari perhatiannya. Karena waktu sudah menujukan untuk dirinya dan juga Aura berangkat menuju pesta besar yang sudah di nantikannya.


"Apa Laura masih lama?" Tanyanya sudah mulai kesal kepada pelayannya.


"Saya akan memanggilnya." Jawab pelayan yang hendak pergi untuk memanggil Aura.


"Biarkan saja." Seteven mencegah oelayanbitu untuk pergi, sebagi gantinya dia tetap menunggu.


Tak lama terdengar suara ketukan dari sepatu High heels yang Aura kenakan. Suara langkah kaki Aura terdengar seirama dan mulai terdengar kencang, itu berarti Aura sudah mulai mendekat.


Seteven menengadah untuk melihat Aura yang hendak menuruni tangga yang terpapang panjang itu.


Tak terasa bibir Seteven terangkat, mengagumi sosok wanita yang saat ini tengah menuruni anak tangga dengan pelan dan juga sangat berhati-hati.


Penampilan Aura malam ini memang sangat berbeda, meskipun dengan perut yang sudah membesar namun masih terlihat sangat sexy dan elegan.


Setevenpun segera menghampiri Aura, dan mengulurka tangan kanannya, membantu Aura untuk berjalan menuruni tangga.


"Kamu cantik malam ini." Bisik Seteven memuji Aura.


Aura kemudian menyambut uluran tangan Seteven dengan menyuguhkan senyum tipisnya.


Perjalanan mereka tak begitu jauh dari tempat tinggal Seteven, Hanya beberapa menit mereka sudah sampai. Seperti sebelumnya di setiap acara besar pasti banyak wartawan yang sedang mencari bahan untuk laporannya, Aura menyadari itu, dia harus menguatkan diri dan tekadnya, bersikap seperti istri dari Seteven Gerald. Apa lagi dengan kehamilannya yang sudah membesar pasti akan membuat para wartawan mengejar kabar terbaru tentang Seteven juga dirinya.


Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, menjadi hal yang wajib di lakukan saat menemui kerumunan orang, begitulah sikap seseorang yang menyimoan rahasia besar, selalu gugup dan cemas jika bertemu banyak orang, takut penyamarannya akan terbongkar.


"Ayo turun." Ajakan Seteven menyadarkan Aura dari pikiran-pikiran negatif yang membuatnya meragukan kemampuannya sendiri.


"Jika kamu masih takut, pegang erat tanganku." Lanjut Seteven yang kemudian mengukurkan tangannya.


Mereka berjalan di atas karpet merah yang sudah membentang sangat panjang. Berusaha tetap tersenyum menanggapi teriakan pertanyaan dari para wartawan.


Aura menelisik ke setiap orang yang berkerumun, dia khawatir ada yang mengenalinya meski sudah terlihat berbeda seperti sekarang ini.


"Apa yang kamu cari?" Tanya Seteven yang bisa menebak kegelisahan yang Aura rasakan. Karena genggaman Aura terasa semakin erat.

__ADS_1


"Aku takut jika ada yang mengenaliku." Jawab Aura, menoleh menatap Seteven.


"Kamu tenang saja, tidak akan ada yang mengenalimu dengan dandanan seperti ini." Jawab seteven menepuk pelan tagan Aura.


Aura cukup lega saat sudah masuk kedalam ruangan, saat tak ada lagi kerumunan para wartawan.


"Seteven, Apa kabar? saya sangat terkejut saat mengetahui bahwa anda sudah menikah." Sapa seseorang pria yang datang mendekat kearah Seteven.


"Saya baik. Ya seperti ini lah, aku kini sudah menikah." Jawab Seteven dengan ramah.


"Perkenalkan istri saya." Lanjut Seteven yang kemudian membelitkan lengannya di pinggang Aura.


"Saya Laura Gerald." Ucap Aura dengan suara lembutnya.


Kedua pria itu terlihat sangat akrab dan itu membuat Aura heran, karena seorang Seteven ternyata memiliki teman juga. Aura mengira Seteven tidak pernah berkawan.


"Aku ketoilet dulu." Ucap Aura berbisik.


Seteven hanya menoleh lalu mengangguk, kemudian meneuskan obrolannya.


Aura pun berjalan menjauhi Seteven, Sempat bingung karena luasnya tempat itu, menoleh kekanan dan kiri mencari dimana toiletnya berada.


"Nu, kakak kesan dulu." Pamit Kenzo, karena ia hendak menjalankan misinya berada di tengah-tengah pesta itu.


Kenzo mencari kesetiap sudut, mencari sosok Seteven Gerald.


Namun sebuah bayangan seorang wanita melewatinya, tentu saja Kenzo teralihkan


"Aura." Gumamnya yang segera mengikuti kemana wanita itu pergi.


Dan ternyata wanuta itu masuk kedalam toilet wanita, yang tentu saja Kenzo mennghentikan langkahnya karena tak bisa mengikuti sampai kedalam toilet.


"Aku yakin itu kamu Ra." Kenzo meutuskan untuk menunggu di depan toilet. Berkali-kali Kenzo harus menelan kekecewaan setelah melihat siapa saja yang telah keluar dari toilet itu.


Cukup lama Kenzo menunggu namun wanita yang di duga mirip Aura tak juga keluar, bahakan Kenzo sempat mengira bahwa dirinya tak menyadari bahwa wanita itu telah keluar.

__ADS_1


Namun bukan seperti itu. Rupanya Aura lebih dulu menyadari bahwa ada pria yang sejak tadi mengikutinya. Lalu Aura mencoba mengintio untun tahu siapa pria tersebut.


"Kenzo, kenapa bisa dia disini?" Aura sangat terkejut karena ada Kenzo yang menunggunya.


Aura sempat menahan diri berada lebih lama di dalam toliet, dan berharap bahwa Kenzo akan menyerah dan pergi dari sana.


Namun dugaannya salah, Kwnzo masih saja nerdiri tegak dengan berkali-kali menolehkan kepala kearah toilet.


Kembali Aura menarik nafasnya dalam, dengan tangan yang terus ia kepal, memberanikan diri keluar dari dalam toilet tanpa menoleh kearah Kenzo, dan pura-pura tak pernah mengenalnya.


"Aura, kamu Aura kan." Ucap Kenzo yang menyadari Aura telah keluar dari toilet.


Aura menutup telinganya, berusaha tak menoleh kearah panggilan Kenzo.


"Tetap berjalan lurus Aura!" Serunya dalam hati. Aura terus menahan kepalanya agar tak menoleh.


"Tunggu Aura." Panggil Keanzo lagi, namun kali ini Kenzo menahan lengan Aura.


Aura terpaku, nafasnya mulai tak beraturan, jantungnya kini berpacu dangat cepat. bahakan keringat sudah membasahi tubuhnya.


Tangan yang sudah lama Aura rindukan, kini sangat terasa menyentuh kulit Aura.


"Kamu Aura kan?" Tanya Kenzo lagi, namun kini ia berpindah kearah depan Aura.


Aura berusaha tetap menjalankan perannya sebisa mungkin, berusaha tak goyah dengan kerinduannya kepada Kenzo. wajah yang selalu ia rindu kini tepat di depan matanya. bahkan Kenzo terlihat sangat kurus.


"Maaf, sepertinya anda salah orang." Jawab aura melepasakan tangan Kenzo dali lengannya.


Sakit, itu yang Aura rasakan saat ini, melepaskan diri dari pria yang sangat ingin di peluknya.


"Tunggu, kamu pasti Aura." Lagi-lagi Kenzo menahan langkah Aura.


Kenzo menatap lekat wajah Aura, kemudian tatapannya turun melihat perut besar Aura.


"Kamu tidak mengenaliku?" Tanya Kenzo merasa putus Asa.

__ADS_1


Aura tersenyum dengan menahan bibirnya agar tidak bergetar, menahan pelupuk matanya agar tak membiarkan satu tetes airmata jatuh di hadapan pria yang sudah sangat ia rindukan.


"Aku tidak mengenal Anda." Jawab Aura tetap berusaha ramah, namun sebenarnya ia ingin menjerit.


__ADS_2