AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
SADAR


__ADS_3

Aura membuka matanya perlahan, sedikit mengerenyit kan dahi karena merasa silau dari nyala lampu di atasnya. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, karena tubuhnya sulit sekali untuk di gerakan.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Terdengar suara ibunya memanggil, ia pun kemudian menolehkan kepalanya, melihat ibunya dengan tatapan haru. Ibunya pun segera memeluknya dengan segenap kebahagiaan.


"Syukurlah kamu sadar." Ucapnya.


Tak lama datang dokter dan juga dua laki-laki yang sepertinya bergegas setelah ibunya memijit tombol tak jauh dari ranjangnya.


Aura terbelak, melihat Kenzo yang berdiri di samping Keanu. Dia belum siap menjelaskan semuanya, kehadirannya sangat mendadak. Apa lagi dia masih mengkhawatirkan anaknya, terlahir selamat atau tidak.


"Dok, dimana bayi saya?" Tanya Aura menggengam tangan dokter Tia.


"Bu Aura tenang saja, bayinya selamat. Anda bisa melihatnya setelah kondisi anda membaik."


Aura sadar kehamilannya sangat beresiko, dia pun sudah mendengar penjelasan dari dokter tentang situasi yang kemungkinan ia hadapi setelah melahirkan nanti.


"Terimakasih dok, anda telah menyelamatkan kami berdua."


"Sama-sama, saya permisi." Ucap dokter yang kemudian keluar dari ruang perawatan Aura, di susul Keanu dan bu Ratmi untuk memberi waktu bagi Kenzo berbicara kepada Aura.


Aura segera memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan Kenzo yang saat ini sudah berada di sampingnya.


Kenzo perlahan meraih tangan Aura, kemudian di genggamnya.


"Ra, aku sangat merindukanmu." kaliamat pertama yang keluar dari mulut Kenzo, mampu membuat Aura meneteskan airmata, bukan sebuah pertanyaan yang seharusnya Kenzo tanyakan tentang kepergiannya selama ini, melainkan ungkapan yang ia rasakan selama ini.


Mendengar itu, Aura merasa sudah sangat menyakiti Kenzo, Apa lagi nanti saat Kenzo mengetahui hasil test DNA yang ternyata tak mengarah kepadanya. Aura sudah bisa membayangkan akan sesakit apa nanti. Rasanya dia tak pantas lagi untuk bersama Kenzo.


Aura menyeka air matanya yang masih menetes, kemudian menolehkan kepalanya, melihat Kenzo yang saat ini sedang menundukan kepala memeluk tangannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf." Ucap Aura membelai rambut Kenzo.


"Aku tahu selama ini kamu sudah sangat kesulitan karenaku." Lanjut Aura.


"Tidak Ra, aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Aku sangat senang akhirnya kamu bisa kembali, kita bisa hidup bersama bertiga dengan anak kita, mari kita lupakan hati-hati kemarin."


Bibir Aura tersenyum gemetar, dia masih belum bisa lega, karena hasil test DNA yang ia tunggu belum juga keluar. Bagaimana jika hasilnya tak sesuai dengan dugaannya? Bagaimana jika ayah dari anaknya bukan Kenzo? dan masih banyak pertanyaan di benaknya yang mengganggunya.


"Ken, aku ingin sendiri dulu." Ucapnya kembali memalingkan wajah.


"Maaf, aku tidak sadar bahwa kamu masih harus banyak istirahat, nanti aku pasti datang lagi." ucap Kenzo merapikan selimut Aura, lalu berjalan keluar.


Kenzo merasa Aura memasang dinding diantara mereka, dia tidak tahu mengapa Aura berusaha menghindarinya.


"Nu, apa masih ada yang kamu sembunyikan?" tanya Kenzo menghampiri adiknya.


Keanu menarik kakaknya ke tempat sepi.


"Tidak, dia hanya menghindar tatapanku. Sebenarnya apa lagi yang belum aku ketahui?" Kini Kenzo mulai kesal dengan adiknya yang memberi informasi yang tak lengkap.


"Aku tidak bisa menjelaskannya, biar nanti kakak tahu dari Aura."


Kenzo memukul dinding di depannya, melampiaskan rasa kesal dan marahnya. Bahkan kini adiknya pun hanya diam.


...****************...


Siska merasa marah karena telah di bohongi Diana, ia pun melampiaskan kekesalnnya dengan mengomel kepada suaminya. Rian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dia berusaha tetap mendengarkan untuk tidak memancing kekesalan lainnya.


"Pah, kita harus melakukan test DNA." Ucap Siska yang membuat Rian terkejut.

__ADS_1


"Siapa yang haru melakukan tets itu, mama jangan mengada-ada"


"Sebenarnya papa nyimak tidak, apa yang barusan mama bicarakan?"


"Papa nyimak, biarkanlah Diana sudah menikah dengan lelaki pilihannya, walaupun dengan pamannya sendiri. karena tidak ada yang salah."


"Mama jadi ragu, kalau Lexa itu anak Keanu, jangan-jangan Lexa itu anak mereka." Kini siska meragukan cucunya sendiri, yang sudah dia asuh sejak kecil.


"Sudahlah mah, dugaan mama tidak mendasar, bukankah selama ini mama yang mengurusnya, dan mama sangat enjoy dan menikmatinya. itu saja sudah membuktikan bahwa Lexa cucu kita."


"Tapi papa dan Keanu tidak terlalu dekat. itu karena tidak ada ikatan batin antara kalian." Sela Siska.


Rian hanya menggelengkan kepala seraya menyelimuti tubuhnya siap untuk tidur.


"Sudahlah, lebih baik kita tidur." Ajak Rian menepuk-nepuk kasur.


Dengan wajah cemberut Siskapun berbaring di sebelah suaminya. "Mama tetap akan melakukan test DNA. Karena Keanu sulit di hubungi maka papa sebagai gantinya."


"Baiklah, jika itu bisa buat mama yakin, lakukanlah." Ucap Rian sebelah matanya benar-benar terpejam.


...****************...


Seteven masih berada di dalam pesawat, hanya tinggal beberapa jam lagi ia segera menemui putri cantiknya. Dia benar-benar tidak sabar untuk segera menggendongnya.


Satu pesan teks masuk, siapa lagi yang intens memberi kabar selain orang suruhannya. Isi pesannya mengatakan bahwa hasil test DNA sudah keluar, dan dia sedang berusaha mencari cara untuk melihatnya sebelum sampai pada pihak Aura.


Seteven pun membalas agar segera mengirimkan hasilnya karena dia akan segera mengubah semua asetnya menjadi milik sang anak, sesuai aturan keluarga, bahwa anak pertma yang mewariskan semua warisan keluarga. Maka dengan alasan itu Seteven selalu bermain aman berasama banyak wanitanya. Karena dia ingin anaknya terlahir dari wanita yang selevel dengannya, sehingga anaknya kelak akan mewarisi kepintaran ayah dan ibunya. Dan melihat latar belakang Aura, itu sudah sesuai dengan keinginannya.


Sedikit lagi Seteven akan tahu secara tertulis tentang ayah putri kecilnya, meskipun dia sudah sangat yakin bahwa anak yang Aura lahirkan adalah anaknya.

__ADS_1


Karena semasa kehamilan Aura, dia sangat senang dan bahagia, bahakan dia sangat menjaga Aura dan bayinya. Hati kecilnya tergerak melakukan hal-hal itu, hal yang jauh dari sifat aslinya. sangat berbanding terbalik dengan Seteven sebelumnya.


"Sebentar lagi kita akan bertemu, putri kecilku." Serunya dalam hati.


__ADS_2