
Tangisan bayi kecil nan mungil kini menghiasi suasana Rumah Hartanto, Sudah satu minggu semua orang rumah di buat repot dengan adanya keluarga baru. Kebahagiaan nampak jelas terlihat dari siska dan Rian yang kini sudah menyandang status sebagai nenek dan kakek dari seorang cucu laki-laki pertamanya yang begitu menggemaskan.
"Di, Mama dan papa berterima kasih sekali, akhirnya kamu mewujudkan apa yang selama ini jadi keinginan kami berdua." Ucap siska memeluk menantunya itu.
"Papa akan memberikan saham perusahaan di surabaya atas nama anak kamu, yang tentunya kamu sebagai walinya." Tambah Rian dengan memberikan sedikit hadiah untuk kelahiran cucunya.
"Terima kasih mah, pah, kasih sayang yang kalain berikan sudah cukup sebagai hadiah untuk Diana." Jawb Diana sedikit merendah, padahal di dalam hatinya dia tengah bahagia akhirnya mendapatkan saham meskipun dengan nama anaknya.
"Apa Keanu sudah berangakt?"
"Iya pah, Keanu ada rapat dengan klien penting."
"Padahal Keanu sudah beberpa hari ini begadang nemenin kamu." Siska merasa khawatir karena sudah beberpa hari keanu tidak tidur dengan benar.
"Itu namanya anak kita bertanggung jawab terhadap istri, anak dan pekerjaannya."
Disela-sela obrolan mereka, datanglah Bi Darmi memberitahukan kedatangan seorang tamu untuk Diana.
"Maaf bu ada tamu yang ingin menjenguk Non Diana."
"Siapa Bi?" Tanya siska penasaran.
"Maaf bu saya tidak pernah melihatnya, sepertinya teman Den Keanu." Jawab Bi Darmi menebak-nebak.
"Pria?" Tanya siska Lagi. Karena Keanu jelas tidak memiliki teman perempuan.
"Iya bu." Jawab Bi Darmi sambil tetap menundukan kepalanya, tanda hormat kepada majikannya itu.
"Biarkan dia masuk, jangan lupa bikinkan minuman." Pinta Siska kemudian.
"Iya bu, saya permisi dulu."
Setelah Bi Darmi hilang dari pandangan mereka, masuklah seorang pria berkharisma berjalan dengan tegapnya menghamipri.
Tenggorokan Diana tercekik, Suplai oksigenpun di tolak tubuhnya, saat dia melihat Om Reza dengan membawa hadiah yang begitu banyak, melangkah perlahan mendekati Diana yang sedang menimang-nimang anaknya.
"Selamat siang. Saya...." Reza mencoba memperkanalkan dirinya di depan kedua mertua Diana, namun kalimatnya di potong oleh Diana, dia takut Reza akan mengeluarkan ucapan yang sembarang.
"Perkenalkan mah, pah dia om Reza, Omku." Sela Diana. Diana terpaksa memperkanalkan Reza sebagai omnya, Karena tidak mungkin megakui Reza sebagai teman karena usia mereka tidak mungkin untuk berteman.
"Saya Rian hartanto dan juga istri saya, anda adik dari mamanya Diana?"Tanya Rian karena Rian hanya mengenal beberpa dari keluarga Diana.
"Bukan pah, Om Reza adalah saudara dari pihak papaku, jadi papa dan mama belum mengenalnya." Jawab Diana menjelaskan, Dia gugup menghadapi mertuanya dengan kebohongan, dia takut jika ketahuan sedang berbohong.
__ADS_1
"Ya sudah, silahkan kalian berbincang, mama dan papa pergi dulu."
Setelah mertuanya pergi, barulah diana menatap marah keraah Reza.
"Kenapa om datang kesini?" Tanya Diana dengan suara pelan, karena di rumah itu tak hanya ada dirinya saja. Dia takut di curigai oleh Art yang bekerja disana. Apa lagi Bi Darmi, dia adalah kepercayaan siska.
"Aku datang untuk melihat anakku." Jawab Reza mengusap kepala bayi mungil itu.
"Sudah aku katakan ini bukan anak om."
"Aku tahu hari ini Keanu tidak dirumah, jadi aku berani datang, ini semua demi anak kita, dia harus tahu disaat kelahiranya papanya sangar peduli." Ucapan Diana sama sekali tidak di gubrisnya, meski ratusan kalipun Diana mengatakan anak ini bukan anaknya. Itu akan percuma.
"Percuma saja, dia tidak akan mengingatnya."
"Tapi setidaknya suaraku pernah di dengarnya."
"Sini sayang papa gendong kamu." Reza meminta diana untuk membiarkannya menggendong anaknya.
"Jaga ucapan om, Kita tidak sedang berdua, jangan sampai ada yang mendengarnya." Tegur Diana karena Reza mengakukan dirinya sebagai papa dari anaknya.
Diana pun membiarkan anaknya di gendong reza, terlihat sekali bahwa Reza memang sangat bahagia saat melihat anaknya.
"Lihat betapa miripnya kita berdua, kamu mewarisi wajah papa sepenuhnya." Ucap Reza kepada anaknya. Reza menatap keseluruh wajah bayi yang saat ini ada di pangkuannya, memang dia terlihat seperti sedang bercermin.
"Coba kamu lihat. matanya, hidungnya ini semua sangat mirip denganku."
"Sudahlah, Berikan dia kepadaku." Diana merebut anaknya dari pangkuan Reza.
"Ingat janji kamu Di, kamu akan sering membawa dia kepadaku." Reza terpaksa mengembalikan anaknya kepada Diana dengan sedikit memberi peringatan akan janji yang pernah Diana ucapkan.
"Ya." Jawab diana singkat.
"Baiklah, papa pulang dulu, tapi tenang saja papa pasti akan kembali lagi untuk melihat kamu." Pamit Reza dengan mencium kepala anaknya yang sangat lembut.
"Tidak bisa om, ini untuk pertama dan terakhir. jangan datang lagi atau aku akan membawa anak ini pergi agar tidak bertemu kamu lagi." Ancam Diana. Dia tidak ingin Reza datang lagi ke rumah ini.
"Oke... aku tidak akan datang lagi, tapi sebagai gantinya kamu yang harus datang begitu aku memintanya. Kalau tidak kamupun sudah tahu apa yang akan terjadi." Kali ini Reza tidak akan mengalah, dia harus mendaptkan keinginannya, meskipun harus sedikit mengancam Diana.
"Cepat om pergi dari sini." Ucap Diana mendorong Reza agar segera keluar dari rumahnya. Dia takut keberadaan Reza akan menghancurakan semua angan dan mimpinya di keluarga ini.
...¤¤¤¤...
Semua berkas untuk Rapat bosnya dengan klien dari surabaya sudah siap, Hani hanya tinggal memberitahu Aura, kemudian Diapun mengetuk pintu Aura.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Kita harus berangkat sekarang." Ucapnya saat Aura sedang memainkan ponselnya.
Lagi-lagi pkerjaan menyelamtkan Aura dari pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya.
"Ayo!" Ucap Aura, segera membawa tas tangannya.
Supir perusahaan membawa mobil dengan sangat hati-hati menyusri jalanan kota, sampai mereka berhenti di sebuah hotel bintang lima.
"Apa disini tempatnya." Tanya Aura begitu mobilnya berhenti.
"Iya, kebetulan klien kita menginap di hotel ini." Jawab Hani.
Aura hanya mengangguk dan segera turun dari mobilnya.
"Mari bu, kita duduk di sini." Ucap Hani ketika dia sudah tahu tempat yang sudah di booking kliennya.
"Apa klien ini sangat penting?"
"Iya bu, meski sama-sama di untungkan, tapi perusahaan kita butuh proyek ini untuk mengungguli perusahaan winston yang lainnya."
Aura mengerti, karena perusahaan yang dipimpinnya, bisa di sebut anak tiri dari perusahaan kakeknya. Jadi Aura harus membuktikan bahwa perusahaannya bisa lebih unggul dari perusahaan yang mendapat dukungan dari winston.
Tak begitu lama Hani pun berdiri dan menghampiri kliennya yang baru saja datang.
"Perkenalkan Ibu Aura, pengganti pak Hendrik." Ucap Hani memperkenalkan kliennya kepada Aura."
"Selamat siang, saya Keanu dari perusahaan HR Surabaya." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Aura yang sedang duduk menoleh dan mendongkakan kepalanya, pupil matanya membesar, tubuhnya tiba-tiba memanas, saat melihat pria yang sudah berdiri tepat disampingnya.
Rupanya tak hanya Aura, Keanupun terkejut saat melihat wanita yang duduk itu adalah Aura, wanitanya yang sudah hampir 3 bulan tak terlihat.
Aurapun menjabat uluran tangan dari Keanu.
"Saya Aura. Silahkan duduk!" Aura sebisa nungkin menahan diri untuk tetap mengontrol emosinya, bersikap seprofesiaonal mungkin.
"Senang bertemu dengan anda!" Ucap Keanu begitu mendaratkan dirinya di kursi berhadapan dengan Aura.
Keanu tidak tahu jika perusahaannya bekerjasama dengan perusahaan milik orang tua Aura, Dan Aura sendiri yang memimpin perusahaannya.
Keanu melihat setitik Celah harapan untuknya bisa kembali dekat dengan Aura, Keanu akan membuat seolah-oleh tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Asalkan itu bisa membuat hubungan keduanya dekat kembali.
__ADS_1