
Kenzo masih berdiam diri di rumah Denis, ponselnya sejak tadi tak berhenti berdering, semua telphone dari Rian di abaikannya. Bahkan Denis yang juga mendengarnya sudah mulai terganggu dengan suara telphon dari ponsel Kenzo.
"Angkatlah telpohon loe, sepertinya penting." Ucap Denis melemparkan ponsel kearah Kezno.
"Biarkan saja. Paling juga papa minta aku untuk datang makan malam bersama, Dia." Jawab Kenzo sigap menangkap ponselnya.
"Dia siapa? jangan bilang malam ini ada pertemuan keluarga? Kenzo loe harus berangkat sekarang!" Denis mendorong- dorong Kenzo untuk segera bangkit dan pergi dari ruamahnya.
"Untuk apa? Lagi pula dia yang mengingin untuk bertemu nanti saat di pernikahan." Jawab Kenzo datar. Kenzo masih saja mendendam dengan penolakan dari calon istrinya.
Namu tak sampai disitu Denis terus saja mendorong dan mengganggu Kenzo. Lama-lama Kenzo pun Kesal dan dengan terpaksa berangkat untuk makan malam bersama orang tuanya. jika bukan karena nama baik keluarga yang harus dia jaga, dia tidak akan pernah mau datang.
Tak butuh waktu lama, sebab jarak dari tempat Denis ke reatoran tempat diadakannya makan malam sangatlah dekat.
Diapun Berjalan mengikuti petunjuk dari pelayan retoran yang akan membawanya ke ruangan yang di tuju.
Buuugghhh...
Tak sengaja seorang wanita yang sedang berlari tergegas-gesa menabrak dirinya.
"Sorry..." Ucap wanita tersebut sembari menyembunyikan wajahnya, dan meneruskan langkahnya.
Kenzo terdiam terperangah, melihat siapa yang baru saja menabrak dirinya. wanita dengan masker wajah yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dia masih ingat dua bola mata itu.
"Dia, wanita itu..." Ucap Kenzo tersadar dan dia pun bergegas mengejar wanita yang baru saja menabraknya tadi. Dia yakin itu wanita yang sama yang dia tabrak satu tahun lalu.
Huh...huh...huh...
Suara nafas Kenzo tersengal-sengal. dia mencari ke seluruh arah di luar restoran itu, Tidak ada satupun jejak dari wanita itu, nampaknya dia sudah kehilangan lagi.
"Arrghh... sial." Ucapnya kesal kepada dirinya sendiri, yang tak cukup cepat mengejar wanita itu.
Cukup lama berdiri di luar restoran, Kenzo pun memutuskan untuk kembali kedalam menemui kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu keringatan begitu?" Tanya Siska yang millihat kemeja Kenzo yang sedikit basah.
"Tadi aku berlari mah." Ucap Kenzo duduk di samping mamanya.
Kenzo melihat ke kursi di depannya yang kosong,
__ADS_1
"Sudahku duga dia tidak akan datang!" Kenzo mendengus dalam hati. Merasa Kesal karena hanya dia yang datang sementara Calonnya tidak.
Siska yang melihat anaknya sedang menatap kursi di depannya, mengerti dengan yang sedang dipikirkan anaknya.
"Sayang sekali, kamu sudah berlari sperti ini, tapi tidak sempat melihat Aura. Dia sudah pulang, Kamu terlambat sayang." Namun Siska salah mengartikan, dia mengira Kenzo datang dengan berlari karena ingin segera bertemu calon istrinya.
"Jika saja alerginya tidak kambuh, pasti kalian sudah bertemu." Ucap Jasmin menimpal, Jasmin sangat senang, rupanya Kenzo memiliki ketertarikan dengan anaknya.
"Alergi?" Tanya Kenzo.
"Iya, tadi dia makan kacang kedelai. Dia alergi kacang-kacangan, persis seperti papinya." Ucap Jasmin menjelaskan.
Dia kembali mengingat mantan suaminya yang kini sudah tidak ada lagi di dunia. Papa Aura mempunyai Alergi yang sama, wajahnya akan memerah dan juga membengkak jika tidak sengaja memakan kacang-kacangan. Pernah suatu ketika, dia meminum susu kedelai milik Jasmin dan langsung saja dia seketika tidak bisa bernafas, karena wajahnya yang bengak samapi tenggorokannya juga membengkak, itu keadaan paling parah dari alergi mantan suaminya yang Jasmin tahu. Kini anaknya mewarisi itu.
"Kamu harus ingat itu Ken, Aura Alergi kacang-kacangan.nanti itu akan jadi tanggung jawab kamu." Ucap Rian menasehati anaknya.
"Saya yakin Kenzo akan menjaga Aura dengan baik." Ucap jasmi kemudian.
Kenzo hanya mengangguk menaggapi ucapan para orang tua.
"Aku ragu akan hal itu. aku masih saja kesal dengan sikap sombongnya, setiap mendengar namanya di sebut aku selalu ingat akan penolakannya saat itu."
...※※※※...
"Ternyata selama ini dia ada disini, di sekitarku, aku sangat yakin wanita tadi adalah wanita misterius itu. Hati ini gak akan pernah bohong, Ada apa dengannya, kenapa dia seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu?" Kenzo menatap Anting yang selalu ia bawa kemanapun ia Pergi.
"Kenapa loe ada disini? kenapa juga loe gak pulang? tadi lancar kan? terus seperti apa calon istri loe?" Tanya Denis saat melihat Kenzo sudah ada di dalam rumahnya.
Namun semua pertanyaannya tak satupun di jawab kenzo.
"Kenzo! apa yang loe pikirkan?" Tanya Denis, berjalan mendekati Kenzo.
"Gw ketemu dia lagi!" Ucao Kenzo lirih.
"Dia siapa?" Tanya Denis.
"Wanita misterius itu!" Jawab Kenzo dengan tatapan yang masih menatap anting di tanggannya.
"Sumpah loe, trus kenapa loe masih seperti ini?" Denis tidak mengerti, jika sudah bertemu, mengapa sahabtanya masih saja sedih.
__ADS_1
"Gw kehilangan dia lagi!" Ucapnya menyiratkan kesediahan.
"Loe yakin itu dia? momen seperti itu terasa aneh saja. dunia ternyata sangatlah sempit. Dan ada kemungkinan loe akan bertemu dia lagi. Tapi kebetulan seperti tadi sangat jarang terjadi. kecuali kalian memang di takdirkan akan bertemu lagi."
"Takdir? loe percaya takdir?"
"Iya. Kalau kalian di takdirkan bertemu maka akan bertemu, entah kapan waktunya. jadi menurut gw loe fokus ke pernikahan loe. jangan terlalu memikirkan wanita itu, jika sudah takdirnya kalian pasti akan bertemu."
Sudah satu tahun Kenzo seperti ini, selalu sedih namun dia selalu menyembunyikan itu semua. Karena wanita itu adalah wanita pertama yang berhasil mencuri hati Kenzo.
Perkataan Denis terngiang di telinga Kenzo. Sebelumnya dia tidak pernah terpikirkan tentang takdir. dia pun tidak percaya akan hal itu, namun perkataan Denis ada benarnya. Bahwa jika sudah takdirnya maka dia akan bertemu dengan wanita itu, karena sudah satu tahun dia mencarinya namun semua usahanya nihil, tak ada satu petunjuk pun yang mengarah kepada wanita itu.
...※※※※...
Karena Kenzo masih tinggal dengan orang tuanya, maka ada aturan-aturan yang harus di ikutinya, salah satunya adalah sarapan bersama, karena hanya pagi hari semua anggota keluarga berkumpul.
"Ken, sempatkan waktu mencoba tuxedo untuk pesta pernikahan. pernikahan kamu tinggal menghitung hari. Dan hari ini harus sudah selesai." Siska memperingati anaknya untuk tidak lupa dengan persiapan pernikahnnya.
"Iya mah." Jawb Kenzo sambil meneruskan sarapannya.
"Kamu tahu Ken, ternyata Aura jauh terlihat cantik dari photonya. Sayang sekali kamu tidak sempat melihatnya." Ucap Rian. Namun kenzo hanya diam saja tidak merespon ucapan papanya.
"Dan juga sangan santun. mungkin karena pendidikannya yang tinggi." Siska menambahkan.
"Jasmin benar-benar sudah mendidiknya sangat baik." Ucap Rian kemudian.
Kenzo merasa gerah, wanita yang menurutnya sombong kini sedang di puji kedua orang tuanya.
"Jangan terlena. papa dan mama baru satu kali melihatnya, sikap seseorang bisa berubah setelah kita lama mengenalnya." Ucap Kenzo.
"Hush... Sikap kamu tuh yang seharusnya di ubah." Siska menjewer telinga anaknya.
"Aw... sakit mah." Kenzo mengaduh kesakitan. mamanya memang tidak pernah berubah, masih mengaggap dirinya seperti anak kecil.
"Papa yakin kamupun sependapat jika bertemu dengannya."
"Semoga saja ya pah." Kenzo meninggalkan Meja makan, karena memang sarapannya sudah selesai.
"Jangan lupa pergi ke butik." Teriak siska mengingatkan kembali anaknya.
__ADS_1
Kenzo yang sudah berjalan menjahui meja makan hanya mengagguk mengiyakan perintah mamanya.
Jika yang akan menikah dengan Aura adalah Keanu, siska dan Rian tidak akan sekhawatir ini. Tapi lain halnya dengan kenzo. Meskipun dia setuju untuk menikah, namun sikap dingin dan cueknya yang membuat Rian dan siska Khawatir. terlebih lagi Aura adalah cucu dari sahabat kakenya. jika Aura mengeluh tentang sikap Kenzo Rian tidak memiliki muka di depan keluarga winston.