
Pagi hari kenzo sudah ada di resto Denis seorang diri, dia tahu bahw hari ini Denis dan Melly akan kembali dari bulan madunya. Kenzo tidak mempunya tujuan lain saat hatinya tengah bersedih, selain mendatangi Denis untuk sekedar mendengar candaan atau ejekan, bahkan melampiaskan kekesalannya. Namun sudah tiga hari ini Kenzo harus menahannya, sebab sahabatnya baru akan tiba sebentar lagi.
Sebuah mobil berhenti di depan resto dan ternyata itu adalah Denis dan juga Melly, mereka memasuki resto dengan saling bergandengan tangan, merasa sangat bahagia telah menjadi sepasang suami istri dan kini mereka hanya tinggal menjalankan bahtera rumah tangganya.
Begitu masuk mereka di kagetkan dengan hadirnya Kenzo yang berwajah masam, sementara di meja sebelahnya ada Gea yang sedang bekerja dan juga menemani bosnya.
"Kenapa lagi?" Tanya Denis memberikan kode kepada Gea tentang keadaan Kenzo. Sebab itu sangat berbanding terbalik saat mereka akan berangkat, tepatnya tiga hari yang lalu. Hari itu wajah Kenzo sangat ceria juga bibirnya tak lepas dari senyumannya.
"Sudah dari kemarin dia seperti itu." Jawab Gea sedikit berbisik.
"Ini masih pagi, kenapa kalian ada disini?" Tanya Denis lagi, namun kali ini dia menoleh kearah Gea.
"Kita ada janji temu di resto ini. Bagaimana bulan madu kalian? Ucap Gea balik bertanya.
"Pastinya happy dong." Jawab melly bersemangat.
Dhheeemm....dhemmm...
Suara deheman berasal dari Kenzo, yang di susul oleh ketiga kepala saling menoleh bersamaan melihat kearah Kenzo.
"Kenapa lagi sih Ken? Kemarin kayanya baik-baik aja." Tanya Denis duduk mendekat ke samping Kenzo.
"Aura Den, kayanya udah nggak ada harapan lagi untuk kembali dengan Aura." Jawab Kenzo lirih.
"Kenapa? Dia udah ada cowok baru?" Tanya denis menebak-nebak dan mendapat anggukan dari Kenzo yang berarti tebakannya benar.
"Ngak mungkin! Jawab Denis menyangkalnya, karena dia belum mendengar apapun dari istrinya, itu berarti berita itu kurang valid.
"Dia lebih dewasa, usia mereka terpaut jauh, dan ternyata pria itu seorang duda, sepertinya Aura sangat nyaman bersamanya. Itu jelas terlihat dari gesture tubuhnya." Lanjut Kenzo dengan tatapan seeihnya, dia hanya menatap meja kososng di depannya dengan tangan dijadikan penyangga kepalanya.
"Kamu mau menyerah begitu saja? Jika begitu kamu hanya akan jadi seorang pengecut, apa bedanya dulu dan sekarang. Kesalahan kamu dulu adalah tidak mempertahankan Aura. Dan sekarang kamu mau melakukan hal yang sama lagi?"
Kenzo termenung, yang dikatakan Denis semuanya kebenaran. Jika kali ini dia juga diam dan menerima semuanya, maka ia akan kehilangan Aura lagi. Dan mungkin tidak pernah mendapatkannya lagi.
...****************...
Langkah kaki Diana membawanya sampai kedepan ruangan Reza. Sudah beberpa hari ini Reza menolak panggilannya, bahkan Diana sampai datang ke kediamannya namun Reza sedang tidak ada dirumah. Jalan satu-satunya adalah menemui Reza langsung dengan mendatangi kantornya.
"Maaf bu, pak Reza tidak bisa di ganggu." Cegah seorang wanita yang merupakan sekretarisnya.
__ADS_1
Diana sangat kesal karena langkahnya harus terhenti.
"Kamu tidak tahu siapa saya?" Tanya Diana dengan berteriak. seakan-akan dirinya adalah orang penting di kantor itu.
"Maaf bu, pak Reza memang tidak ingin di ganggu." Ucap sekretis itu lagi.
Namun bukan Diana yang akan menurut dan pergi begitu saja, justru dia mendorong sekretaris Reza dan membuatnya terhuyung kebelakang, baru lah Diana bisa menerobos masuk kedalam ruangan Reza.
"Kenapa om tidak mengangkat telphon dariku?" Tanya Diana begitu masuk kedalam.
Reza menatap Diana dengan tersenyum, karena sebenarnya dia sudah tahu bahwa Diana akan mendatanginya.
"Aku sibuk." Jawab Reza mendekat kearah tempat Diana berdiri.
"Biasanya om tidak seperti ini." Daian masih berfikir bahwa dia adalah wanita yang bisa mengendalikan seorang Reza.
"Kamu lupa ucapanku waktu itu, apa kamu sudah membuat keputusan?" Tanya Reza mengingatkan percakapan mereka beberapa hari lalu.
"Aku tahu, om seperti ini karena wanita itu kan? Om tidak peduli lagi terhadapku dan juga anak kita karena om telah menemukan penggantiku." Ucap Diana masih dengan nada marahnya.
"Sepertinya yang kamu katakan benar," Ucap Reza mulai mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Diana. "tapi jika kamu mau meninggalkan suami kamu saat ini juga, kita bisa seperti dulu lagi." Lanjut Reza sambil berbisik.
Diana menggeliat geli, dan menolehkan wajahnya, sehingga bertatapan muka dengan jarak yang sangat dekat, menatap tajam kedalam mata pria yang sudah bertahun-tahun selalu setia menemaninya, meski dirinya telah jahat kepadanya, namun dia tidak pernah melangkah pergi darinya. Pria yang selalu menjadi rumah tempatnya pulang.
Perlahan Diana mulai mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Reza. Memejamkan mata merasakan begitu lembutnya benda kenyal itu, yang sesaat kemudian kecupannya telah berubah menjadi ciuman yang mendalam.
Jantungpun bekerja secara keras untuk memompa agar aliran darah tetap menjalar ke seluruh tubuh, hawa panas telah menyelimuti perpaduan mereka,sanpai supply oksigen terhenti dan mereka menyudahi aktivitas panas mereka.
"Beri aku waktu." Ucapnya lirih Diana di dalam pelukannya.
"Sampai kapan?"Tanya Reza menginginkan kepastian.
Diana mendongkakan kepala, menatap Reza kemudian di letakan di kedua pipi Reza.
"Aku tidak tahu, tapi aku akan usahakan secepat mungkin, maka tunggulah aku." Ucap Diana yang mengecup Reza dan kemudian pergi dari ruangan itu.
Reza hanya menatap kepergian Diana, tanpa mencoba mencegahnya seolah-olah ucapan terakhir Diana adalah mantra untuk menenangkannya.
Aaarrghhh.....
__ADS_1
"Kenapa selalu saja membuat aku menunggu." Teriak Reza menepis semua yang ada di mejanya, sampai terjatuh berserakan di lantai.
Lagi-lagi Diana tidak bisa memberi kepastian untuknya. Selalu saja membuatnya menunggu, dan Reza tidak bisa untuk berkutik.
"Lihat saja Diana, kali ini aku akan membuatmu menungguku." Ucap Reza penuh amarah.
...****************...
Suara bel apartment berbunyi, Aura terkejut mendengarnya, jelas itu bukan Hani, karena jika Hani, ia pasti langsung masuk, tidak perlu memijit bell.
"Jika bukan Hani lantas siapa?" Tanya Aura dalam benaknya.
Dengan langkah gontai Aura berjalan untuk membukakan pintu. Padahal hari ini dia sedang merasa kurang enak badan.
"Keanu, bagaimana kamu tahu aku tinggal disini?" Tanya Aura terkejut dengan kedatangan Keanu tanpa pemberitahuaan.
Di balik pintu ternyata sudah berdiri keanu dengan membawa sebuah paperbag.
"Aku selalu bisa menemukanmu Ra." Jawab Keanu menunggu Aura mempersilahkannya untuk masuk.
"Ayo masuk!" Ucap Aura, membiarkan Keanu untuk masuk kedalam rumahnya.
"Aku bawa kue kesukaan kamu." Keanu memberikan kue yang di belinya tadi saat perjalanan menuju tempat Aura.
"Wah...kebetulan aku memang sedang ingin makan yang manis-manis." Ucap Aura mengambil kue pemberian Keanu yang kemudian langsung ia potong dan di makannya.
Itu membuat Keanu merasa sangat senang, dari dulu sampai sekarang Aura tidak berubah, dia selalu segera memakan kue pemberian Keanu.
"Enak Nu." Ucap Aura tersenyum di sela-sela makannya.
Kenau melihat Aura seperi gadis kecil yang dibelikan kue kesukaannya oleh ibunya. Namu Kenau melihat wajah Aura sedikit pucat. Kenudian diapun menjadi khawatir.
"Kamu baik-baik saja kan? kok wajah kamu terlihat pucat?" Tanya Keanu.
"Aku?" Tanya Aura memegangi wajahnya, dan kemudian mencari ponsel untuk ia jadikan cermin. "Apa aku terlihat pucat?" Tanyanya lagi.
"Kamu terlihat sangat pucat." Ucap Keanu lagi, namun kali ini Keanu menempelkan tangannya di kening Aura.
"Aku baik-baik saja Nu." Jawab Aura menepis tangan Keanu dari keningnya.
__ADS_1
Aura masih saja kurang nyaman jika terjadi kontak fisik dengan Keanu, apa lagi status Kenau dengan Diana masih belum jelas.
Meskipun mereka memang benar-benar bercerai, Itu tidak ada pengaruhnya untuk aura, karena aura memang belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun, apa lagi dengan keturunan hartanto lagi, yang jelas itu tidak mungkin terjadi.