AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Kecelakaan


__ADS_3

Seharian ini Aura hanya mengunci diri di dalam kamarnya, bahkan ponselnya sengaja ia matikan untuk menghindari panggilan dari Seteven. Aura masih mencari jalan keluar untuk permasalahan yang ia hadapi. Berkali-kali ia tak bisa menahan air matanya saat tak ada satu ide pun di kepalanya.


Sambil mengusap perut yang masih sangat rata, Aura berjalan mendekati lemari pakaiannya. Ia memutuskan untuk pergi menjauh dari semuanya, sampai ia melahirkan anaknya nanti.


Aura mengambil kopernya, lalu ia memasukan semua pakaian miliknya. Ia tak peduli lagi dengan tujuannya datang jauh-jauh ke negri orang. Ia tak lagi peduli bagaimana winston akan menilainya, dia juga tak lagi peduli dengan keinginan papinya.


"Sekarang aku hanya akan memikirkan diriku sendiri." Ucapnya dengan menarik koper keluar dari kamarnya.


Begitu keluar Aura mencari Jasmin untuk berpamitan, namun nampaknya sang mami sedang tak ada di rumah, lalu Aura hanya menitipkan pesan tentang kepergiannya.


Aura tidak tahu akan pergi kemana, yang terpenting dia ingin berada di tempat yang tak seorang pun mengenal dirinya.


Aura berdiri di pinggir jalan menunggu taxi pesanannya datang. Cukup lama ia menunggu, datanglah sebua mobil dan Aura mengira itu adalah mobil yang telah ia pesan.


Aura pun segera masuk kedalam mobil tersebut tanpa rasa aneh ataupun curiga.


"Bandara!" Ucapnya singkat kepada supir mobil yang ia naiki.


Aura mengerutkan keningnya,ketika tak mendengar jawaban apapun dari arah depannya, Kemudian Aura melihat kearah spion depan. Aura merasa tak asing dengan pria yang sedang mengemudi itu.


Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa panas, matanya membelak saat menyadari bahwa yang sedari tadi duduk di bangku pengemudi adalah Seteven.

__ADS_1


"Apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Aura dengan tubuhnya yang mulai gemetar.


Saat ini Aura merasa ketakutan dengan kehadiran Seteven, Karena setelah kejadian di rumah sakit bersama Seteven Aura berusaha menghindari Seteven yang terus mengejarnya.


"Bukankah kamu ingin pergi dan bersembunyi. saya akan membawa kamu ketempat persembunyian terbaik. " Ucap Seteven tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya dan itu membuat Aura bergidik.


"Turunkan saya!" Teriak Aura kepada Seteven.


"Saya tidak mau ikut anda." Lanjut Aura dengan masih berteriak.


Namun sekeras apapun Aura berteriak, Seteven sama sekai tidak mendengarkannya.


"Kamu membahayakan kita semua!" Teriak Seteven ketika sudah mengendalikan mobilnya. Hampir saja mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakan.


Seteven menoleh kearah belakang dan melihat Aura sudah tak sadarkan diri. Diapun segera melihat keadaan Aura.


"Ra. Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan wajah yang sangat tegang. Karena sepertinya Aura sedikit terbentur saat dirinya berusaha mengendalikan mobil, karena Aura tidak memakai sabuk pengamannya.


Seteven berusaha menyadarkan Aura, sambil menunggu ambulance datang. Seteven sangat frustasi melihat Aura belum juga sadar. Apa lagi ada dua nyawa yang harus di selamatkan.


Dengan waktu singkat mobil ambulance datang, namuntak hanya itu beberapa mobil bertuliskan media setempat pun datang dan meliput kecelakaan tunggal yang baru saja di alami Seteven. Wajar saja banyak media yang datang, karena berita tentang Seteven sangat menjadi incaran. Apa lagi kali ini ada seorang wanita yang bersamanya.

__ADS_1


Di tengah ke tegangan dan kekhawatiran yang Seteven rasakan, dia juga harus menenangkan awak media yang sedang kehausan berita tentangnya.


Seteven mencoba menjelaskan tentang penyebab kecelakaan yang di alaaminya.


"Saya dalam keadaan sadar, tidak terpengaruh alkohol, anda semua bisa menanyakan kepada pihak yang berwenang." Jelasnya saat dikaitkan bahwa dirinya berkendara dalam keadaan mabuk.


"Siapa wanita yang bersama anda?" Tanya salah satu awak media.


Seteven sebisa mungkin berusaha menghindar dari semua pertanyaan mengenai Aura. Dia butuh persetujuan Aura untuk menjawab semuanya.


"Saya harus segera kerumah sakit." Ucapnya yang kemudian naik, masuk kedalam mobil ambulance, meninggalkan semua awak media yang mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


Sesampainya di rumah sakit Seteven masih setia mendampingi Aura, sambil terus memegang tangannya. Dia tidak mengerti mengapa Aura melakukan hal yang bisa membahayakn dirinya juga janin yang ada di perutnya.


"Maaf bisa tanda tangan disini." Ucap suster menahan Seteven dan memberi selembar Kertas persetujuan.


Setelah itu Seteven segera menghampiri Aura yang sedang mendapat tindakan dari dokter.


"Periksa kondisi kandungannya." Ucapnya memberitahukan tentangvkehamilan Aura kepada dokter yang sedang berusaha menyelamtkannya.


Seteven melihat semua pergerakan beberpa dokter yang sedang berusaha menyelamatkan Aura dengan segala peralatan yang ada. Dia hanya berdiri dengan perasaan yang campur aduk. Dalam hatinya terus mengucapkan doa, agar Aura dan bayinya bisa terselamatkan. Karena itu yang terpenting untuknya.

__ADS_1


__ADS_2