
Gea mengintip dari balik gordeng kamarnya, saat mobil Keanu sudah sampai tepat di depan rumahnya. Gea sedang berusaha mengatur nafasnya, dia tidak menyangka ucapan Diana tadi siang sangat mempengaruhinya.
Tok...tok... tok...
Suara ketukan pintu kamar Gea, siapa lagi selain Keanu yang kini membuka pintu lalu masuk menghampiri Gea yang sedang membelakanginya.
"Kamu sudah siap?" Tanya Keanu terus berjalan mendekat menghampiri Gea.
Keanu merasa ada yang aneh dengan sikap Gea, dia tak seperti biasanya, yang selalu ceria menyambut kedatanganya.
Keanu perlahan membalikan kursi roda Gea, lalu duduk berjongkok mensejajarkan dirinya.
"Ada apa?" Tanya Keanu nampak khawatir.
Gea bingung bagaimana menjawab pertanyaan Keanu, apa dia harus jujur tentang kedatangan Diana, atau dia menyimpannya untuk dirinya saja?
"Kamu pulang saja." Ucap Gea membuang wajahnya.
Keanu merasa ada sesuatu yang membuat Gea bersikap dingin kepadanya.
"Kenapa? bukankah kita akan makan malam di luar?" Tanyanya lagi.
"Aku sedang tidak ingin!" Ucap Gea memutar roda kursinya menjauh dari Keanu.
Keanu mengikuti Gea dari belakang, dia semakin khawatir dengan perubahan sikap Gea.
"Kamu sakit?" Tanya Keanu menahan kursi roda Gea, lalu ia tempelkan tangannya di kening Gea.
__ADS_1
Namun Gea segera menepis tangan Keanu, tapi kali ini Keanu menahan tangan Gea, lalu di gengamnya.
"Katakan apa yang terjadi denganmu? bukankah kita akan saling terbuka satu sama lain?" Tanya Keanu yang menatap kedua bola mata Gea.
Gea berusaha menghindar dari tatapan Keanu, dia tidak bisa mengatakan apa yang telah terjadi dengannya.
"Apa aku ini hanya pelampiasan kamu?" Tanya Gea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Keanu tak mengerti dengan pertanyaan Gea, tapi dia melihat Gea meragukan dirinya. Kemudian Keanu menarik tengkuk Gea, lalu perlahan ia dekatkan bibirnya, sorot matanyapun tak lepas dari menatap Gea.
Gea tersentak, ini adalah ciuman pertamanya dengan Keanu, jantungnya semakin berdetak kencang, dia mencoba memejamkan mata, sampai dia tersadar Saat Keanu mulai melpaskannya dan membawa tangannya menyentuh dada Keanu.
"Apa Kamu merasakannya? jantung ini berdetak karenamu." Ucap Keanu kemudian.
Gea sangat merasakan ritme jantung Keanu yang sama persis dengan dirinya.
"Aku merasakannya." Ucap Gea dengan senyum yang mulai menghiasi bibirnya.
Gea sangat terharu dengan ungkapan perasaan Keanu kepadanya, bodoh sekali dia sudah meragukan Keanu dengan membiarkan ucapan-ucapan Diana mengotori pikirannya.
"Aku sangat bahagia Nu, aku juga mencintai kamu." Jawab Gea yang kemudian meneteskan Air mata di pelukan Keanu.
Gea merasa sangat dicintai oleh Keanu, Gea berharap memang Keanu adalah pilihan tuhan untuknya.
...****************...
Seteven tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Aura menangis di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Diapun sama terkejutnya dengan Aura, selama ini Seteven tak pernah melakukan hubungan tanpa pengaman. Tapi memang hari itu di sakunya hanya tersisa satu dan itu ia gunakan saat bersama Abigail.
__ADS_1
Perlahan Seteven mendekati Aura, dan menyentuh kedua pundaknya dengan maksud mencoba menenangkan Aura. Namun Aura segera menepis dan berdiri lalu melangkah menjauhi Seteven.
"Kita masih bisa mencari kebenarannya!"Ucap Seteven yang terus mengikui dari belakang Aura.
Mendengar itu Aurapun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam Seteven, sekarang ia tidak peduli dengan pengaruh Seteven, yang jelas dia sangat kecewa, dan merasa putus asa.
"Bagaimana caranya?" Tanya Aura dengan tangan yang terkepal menahan rasa marahnya.
"Cctv. memang di dalam kamar tidak ada cctv, tapi saya bisa pastikan saya hanya sebentar berada di dalam kamar itu." Ucap Seteven dengan sangat yakin. Karena Seteven masih meyakini prinsipnya, yang tidak akan menyentuh wanita manapun yang bukan miliknya, apa lagi Aura adalah rekan bisnisnya sendiri.
Aura menatap mata Seteven lekat, dan memang terlihat sangat meyakinkan.
"Baik, buktikanlah!" Jawab Aura setuju.
Mereka pun akhirnya pergi dari rumah sakit menuju hotel milik Seteven untuk melihat rekaman cctv beberpa hari lalu.
Perasaan Aura campur aduk, ada rasa bahagia dan juga kecewa, dia bahagia karena mendapti dirinya yang tengah mengandung, dan dia amat berterimakasih, tapi dia pun kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak tahu siapa ayah dari anaknya.
Aura masih mengikuti Seteven menuju ruang keamanan hotel, Setiap langkahnya Aura terus memanjatkan doa. Harapannya hanya satu bahwa Seteven tak pernah menyentuhnya.
Di depannya sudah ada layar yang menjukan dirinya masuk kedalam kamar hotel Seteven, lalu tak berapa lama keluar Abigai dari kamar tersebut. Aura semakin cemas karena waktu terus berjalan sedangkan Seteven tak juga keluar dari kamar itu.
Kemudian Aura menoleh kearah Seteven, dalam hatinya ingin memaki dan menjerit, karena Seteven tak juga keluar dari kamar hotelnya. Barulah dua jam kemudian Seteven keluar dengan sudah mengganti pakaiannya. Selama waktu dua jam itu mereka tidak tahu apa yang sudah mereka berdua lakukan.
"Ra, maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab." Ucap Seteven setelah melihat rekaman cctv itu.
Aura tak bisa berkata-kata lagi, kini air matanya kembali menetes, Buakn masalah pertanggung jawaban Seteven, melainkan janjinya kepada Kenzo. janji untuk kembali bersama. Lalu bagaimana dia menjelaskan kepada Kenzo tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
Aura merasa semua ototnya melemah, dia tak punya kekuatan lagi untuk menompang dirinya sendiri. Tapi dia harus tetap kuat demi bayi yang sudah diharapkannya selama ini. Aurapun meninggalkan ruang Keamanan dengan sisa kekutannya, berjalan lunglai tak tahu kemana arahnya.
"Aura...!" Ucap Seteven menahan tangan Aura, Namu sekali lagi Aura menepis hingga tangan Seteven terlepas. Seteven sangta merasa bersalah, dia hanya bisa menatap punggung Aura dengan perlahan tetap mengikuti Aura dari belakang.