
Suasana pagi hari di kota hujan, membuatnya enggan untuk bangun dari tempat tidurnya. Namun mengingat Reza memintanya untuk selalu menyalakan berita di televisi membuatnya penasaran.
Saat ini Diana berada di villa Reza, Diapun tidak tahu dengan maksud Reza yang memintanya untuk datang dan menginap di sana. Tapi Diana berharap bahwa Reza tidak lagi melamar dirinya, karena sudah jelas jika keinginannya belum terpenuhi dia tidak akan menerima lamaran dari pria yang sejak lama ada disampingnya.
"Sebenarnya apa yang ingin ditujukannya?" Tanya Diana berjalan meninggalkan tempat tidur mencari remot untuk menyalaka televisi yang tepat di depan tempat tidurnya.
Setelah menyalakan televisi, Diana pun duduk dengan santainya, bahakan dia masih memakai linggerinnya dan belum sempat pergi ke kamar mandi.
"Apa aku harus menonton ini seharaian?" Tanyanya kesal, karena tidak ada satupun berita yang menarik sejak tadi.
Namun saat Diana akan menekan tombol power di remot yang saat ini di pegangnya, satu berita muncul yang sangat menarik perhatiannya.
Diapun tersenyum licik saat nama Aura tertulis di berita tersebut, bahkan tak hanya nama, photo Aura pun jelas terlihat.
"Jadi ini maksud kamu Om, akhirnya kamu berhasil menjatuhkannya." Ucap Diana masih tetap fokus mendengar berita di televisnya.
Sebenarnya bukan hanya nama dan perusahaan Aura yang dirugikan atas keinginan Diana, perusaaan Reza pun sudah pasti kena imbasnya, namun perusahaan besar dan sekuat milik Reza, tak akan berdampak serius.
Sama halnya dengan twins grup yang sudah begitu besar dan memiliki anak perusahaan dimana-mana, dampak dari kejadian ini pun tak akan terasa, namun reputasi Aura lah yang sebenarnya di pertaruhkan.
...****************...
Aura masih menemani sarapan klien pentingnya, sebenarnya moodnya sudah berantakan, karena dia hanya di buat menunggu, seperti tak ada kerjaan lain yang di lakukannya, namun Aura bersuaha bersabar menghadapi pria di depannya ini.
"Bukankah itu anda?" Tanya Seteven menunjuk kearah televisi yang sedang menayangkan berita mengenai produk baru perusahaan Aura.
Aurapun menoleh dan sangat terkejut, karena ada gambar dirinya di dalam berita. dia baru mengetahui bahwa berita itu sedang membicarakan tentang perusahannya.
__ADS_1
"Bisa anda jelaskan apa yang sedang terjadi." Tanya Seteven lagi.
Aura tidak bisa menjelaskan apapun kepada kliennya, bahwa saat ini dirinyapun tidak tahu mengenai berita itu. Aura hanya menatap bingung kearah Seteven.
"Mohon maaf, saya pasti akan menjelaskan semuanya, saya mohon anda harus mendengarnya hanya dari saya saja." Ucap Aura dengan sedikit gusar namun penuh harap.
Aura menatap lekat kedua mata pria di depannya, dia masih menunggu jawaban darinya. hatinya terus berharap agar Seteven mau memberinya waktu, dan tetap percaya kepada dirinya.
"Baiklah, saya harap anda tidak mengecewakan saya."
"Terimakasih pak." Ucap Aura penuh syukur, dan kemudian dia bergegas pergi.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Tanyanya sambil terus merogoh tas untuk mencari ponselnya.
Arrgghh....
"Hallo Hani, kamu dimana?" Tanya Aura begitu terhubung dengan Hani.
"Saya berada di rumah sakit."
"Saya sedang menuju kantor, temui saya disana!" Ucap Aura kemudian, namun segera di sanggah hani.
"Jangan bu, di kantor banyak wartawan menunggu anda." Ucap Hani kemudian.
"Arrghhh.... sebenarnya ada apa ini Hani???" Kesal Aura, Aura merasa putus asa, dia serasa di serang beberapa anak panah yang membuatnya bingung harus kemana.
"Bu anda harus tenang, bagaimana jika di tempat saya." Hani menyarankan untuk mereka bertemu di rumahnya.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Aura segera mematikan telphonnya.
Aurapun menginjak pedal gas, menambah kecepatannya agar segera sampai dikediaman hani.
...****************...
Reza dan juga Haris di panggil ke kediaman winston, Reza sadar hal ini pasti terjadi dan dia sudah memperkirakan ini semua.
"Kenapa anak itu membuat keributan semacam ini?" Teriak marah kakek winston kepada sekretarisnya. "Dan kamu tidak pernah membicarakan ini kepada saya?"
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak tahu bahwa bu Aura merencanakan project ini. ternayat selama ini dia bergerak di belakang anda." Ucap Haris dengan gemetar, satu hal yang sangat ia takuti yaitu kemarahan tuannya.
Kini winston berbalik menatap Reza, "Bagaimana hal seperti ini bisa lolos dari pengawasan anda?" Tanyanya kepada Reza.
"Saya mengakui kelalaian saya, karena sebelumnya kerja sama kita selalu baik, jadi saya tidak menyangka hal ini akan terjadi."
"Ya, saya paham, mungkin anda berpikir saya dan anak itu sama karena darah saya ada di dalam dirinya." Jawab winston sedikit memelankan suaranya karena sebenarnya dia malu untuk mengakui itu semua.
"Kamu urus semuanya, dan bawa anak itu menemui saya." Ucap Winston setelah selesai dengan pembicaraannya.
Haris dan Reza pun keluar dari ruangan winston, mereka hanya jalan perdampingan tanpa mengeluarkan satu katapun.
Sampai mereka sampai di pintu keluar Haris mengeluarkan suaranya.
"Ini adalah bagian dari rencana anda." Ucap Haris yang membuat Reza menoleh dan perlahan mendekat.
"Sebaikanya kamu tutup mulut kamu itu." Jawab Reza, dengan menujukan telunjuknya kearah mulut haris.
__ADS_1
Haris membalas tatapan Reza dengan senyuman yang mengejek, dan pergi dari hadapan Reza. Reza tidak tahu apa arti itu semua. dan membiarkan Haris berlalu.