AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Konfernsi Pers


__ADS_3

Kenzo keluar dari kamar dengan menggosok-gosok kedua mata menggunakan tangannya, dia berpikir saat ini dirinya berada di runah Denis karena semalam dia minum terlalu banyak.


Kenzo berjalan dengan wajah kusut bangun tidurnya menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Tanpa Kenzo sadari, ada banyak mata yang tengah memperhatikannya.


Hampir saja gelas yang di genggamnya terlepas, karena terkejut melihat seluruh keluarga ada di hadapannya, sedang menikmati sarapan pagi.


"Mama,papa, Keanu?" tanyanya bingung, lalu pandangannya menyisir keseluruh ruangan, dan dia baru menyadari bahwa dia sedang berada di rumahnya sendiri.


"Ayo sarapan, ada yang akan papa tanyakan." Ucap rian membiarkan anaknya untuk duduk menikmati srapan pagi bersama-sama.


Kenzo pun menarik kuri dan duduk diatasnya. Mengambil selembar roti untuk sarapan paginya.


"Minum ini untuk meredakan rasa pusingnya." Ucap Siska memberikan minuman untuk menghilangkan efek mabuknya.


"Apa ada masalah di kantor?" Ucap rian menanyakan alasan semalam datang dengan keadaan mabuk.


Kenzo menaruh kembali roti yang hendak di makannya, terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan papanya.


Siska menoleh kearah Kenzo, berharap anaknya tak menyebutkan Aura di depan suaminya.


"Tidak pah, kantor baik-baik saja." Ucap Kenzo meneruskan menggit rotinya.


'Lalu apa yang meneybabkan kamu seperti semalam, kamu biasanya tidak pernah seperti itu?" Tanya Rian lagi dan hampir membuat Kenzo tersedak.


Kenzo mengira papanya tidak akan memperpanjang tentang keadaannya semalam.


"Aku sedang banyak pikiran saja, bukan masalah besar." jawab Kenzo berebohong.


Siska lega karena Kenzo tidka berkata yang sebenarnya kepada papanya.


"Biasalah pah, mungkin habis party dengan teman-temannya." Sela siska, berharap suaminya tak lagi mempertanyakan keadaan anaknya semalam.


"Oke. Jangan sampai terulang lagi. Papa tidak suka melihat kamu seperti itu., kamu hanya terlihat seperti orang bodoh."Ucap Rian yang kemudian menyudahi sarapannya, di susul Siska yang juga sudah selesai dengan sarapannya.


"Nanti temui papa kamu, mohon maaf kepadanya." Ucap siska kepada Kenzo. Kenzo hanya tertunduk mengiyakan. Dia seperti anak kecil yang sedang di marahi kedua orang tuanya.


Setelah kedua orang tuanya pergi, tinggallah Kenzo bersama Keanu disana.


"Apa kamu yang bawa kakak pulang? kamu kan tahu papa tidak suka melihat anaknya sampai pulang dalam keadaan tak sadarkan diri." Ucap Kenzo memarahi Keanu yang ceroboh membawnya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Lalu aku harus bawa kakak kemana? lagi pula semalam kakak terlihat sangat tidak baik. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Keanu.


"Aura. Dia hilang." Ucap Kenzo pelan.


"Hilang? hilang bagaimana maksud kakak?" Tanya Keanu bingung, karena aneh saja jika orang dewasa hilang begitu saja.


"Kakak sendiri juga tidak tahu, sudah hampir satu minggu Aura tidak menghubungi." Ucap Kenzo merasa putus asa. Jelas terlihat kesdihan di ledua matanya.


Keanu semakin bingung, dia tahu kakaknya terlihat tidak baik-baik saja. Tapi dia masih tida mengerti dengan ucaoan Kenzo.


"Apa kakak membuat kesalahan?" Tanya Keanu berusaha memahami kakaknya.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya. karena Aura menghilang di saat hubungannya mulai bersemi.


"Aku sudah cari kemanapun tempat yang mungkin Aura singgahi, tapi semua tak membuahkan hasil."


"Kakak sudah cari ke tempat ibu dan bapak?" Tanya Keanu, mungkin saja Aura berada di tempat ibu dan bapak.


"Belum. kakak takut kecewa, jika tak menemukan Aura disana."


"Aku dan Gea akan bantu cari, kakak jangan patah semangat. kakak harus tetap mencarinya. jangan apa yang pernah terjadi kepadaku terulang lagi." Ucap Keanu memberi semangat kepada kakaknya. berharap kakaknya belajar dari pengalaman dirinya.


...****************...


Tok...tok...tok...


"Kamu sudah siap?" Tanya Seteven masuk ke dalam kamar rawat Aura.


Seteven terkejut saat masuk melihat Aura sudah siap dengan wajah yang di tutupi masker, juga kain penutup yang menutupi sebagian rambutnya.


"Kamu akan muncul dengan keadaan seperti ini?" Tanya Seteven yang melihat Aura dengan tatapan aneh.


"Ya, karena keadaan ku masih kurang sehat." Jawab Aura yang kemudian duduk di kursi roda.


"Kamu bisa mendorongku." Ucap Aura kemudian.


Seteven tak bisa berkata apa-apa lagi, ia kemudian menaruh kedua tangannya menggenggam dorongan kursi roda itu.


"Baiklah. Cukup masuk akal." Ucap Seteven yang kemudian mendorong Aura untuk selanjutnya mereka melakukan konferensi pers.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dan menghadapi puluhan wartawan yang sudah sejak pagi menunggunya.


Cahaya lampu dari beberpa kamera menyilaukan pandangan mata Aura, juga untuk lebih menutup wajahnya secara menyeluruh, Aura pun memakai kaca mata hitam yang sudah di siapkannya.


"Kami tidak bisa terlalu lama, karena kondisi kami masih dalam proses penyembuhan. Silahkan di mulai." Ucap Seteven memberikan keseptan untuk para wartawan bertanya kepadanya juga Aura.


Pada dasarnya semua wartawan ingin berita tentang sosok wanita asing di sampinya. begitu di beri kesmpatan, banyak di antaranya yang penasaran dengan hubungan mereka berdua.


"Apa kah benar wanita yang saat ini bersama anda adalah istri anda?" Tanya salah satu wartawan.


Seteven tersenyum menanggapi pertanyaan itu sebelum ia menjawabnya.


Seteven merangkul Aura di hadapan semua orang, Aura hanya menoleh dengan tatapan tak suka, namun terhalang kaca mata hitamnya.


"Dia memang istriku." Jawab Seteven dengan senyum lebarnya.


Terdengar sorak sorai dari para wartawan, juga banyak diantara mereka mengucapkan selamat. Namun ada sosok yang hahya menatapi sinis kearah mereka berdua. Namun apalah daya, dia tak bisa berbuat banyak selain mengikuti semua perintah tuannya.


"Kenapa anda merahasiakannya, disaat anda akan memiliki anak. bukan kah itu perayaan yang sangat besar?" Tanya wartawan lainnya.


"Saya tidak bermaksud menyembunyikannya. memang saya sudah merencanakan sebuah pesta besar, namun karena istri saya sedang mengandung, terpaksa harus di undur sampai kandungannya cukup kuat. Bukan kah begitu sayang?" Tanya Seteven menunggu persetujuan Aura.


"Iya." Ucap Aura sangat singkat.


Aura sudah tidak tahan harus berpura-pura dan membohongi semua orang, dia ingin semuanya segera berakhir.


"Bisa kah anda memperkenalkan istri anda."


Seteven pun mempersilahkan Aura untuk membuka suaranya.


Aura mengambil nafas dalam, dia sangat gugup, menghadapi puluhan wartawan yang saat ini sedang menunggu satu kata keluar dari mulutnya.


"Perkanalkan, saya istri dari Seteven. Laura Gerald." Ucap Aura Lagi-lagi sangat singkat.


"Baiklah semuanya. saya rasa cukup, karena istri saya masih harus banyak istirahat." Ucap Seteven menyudahi sesi tanya jawabnya, yang kemudian mendorong kursi roda Aura untuk keluar dari rumah sakit.


Para wartawan pun membubarkan dirinya, setelah Seteven dan Aura pergi. diantanya ada yang merilis berita sesuai dengan apa yang di ucapkan Seteven banyak juga yang masih meragukan Seteven dan masih mencari celah dari Seteven.


Ini memang tak akan mudah, Seteven pun sadar dengan pro kontra akan dirinya. setidaknya dia bisa menangani setengah dari para wartawan itu.

__ADS_1


__ADS_2