
Cara satu-satunya untuk tidak terlalu memikirkan Aura adalah dengan mencari kesibukan. Itu yang pernah di lakukan Kenzo saat dulu mencoba melupakan Aura.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, semua pegawai sudah meninggalkan kantor sejak sore tadi, bahkan diantara beberpa pegawai yang lembur pun sudah pulang sejak 2 jam yang lalu. Lampu-lampu dari kseluruhan ruangan pun sudah gelap, Hanya Ruangan Kenzo saja yang masih terang benderang di temani secangkir kopi dan berkas pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas Gea.
Kenzo melirik saat ponselnya yang sunyi tiba-tiba berbunyi.
"Denis. Ada apa?" Tanyanya dengan pesan yang baru saja ia terima dari sahabatnya.
Namun Kenzo mengabaikannya, lalu dia kembali menatap layar komputernya.
Selang berapa lama ponselnya kembali berdering, namun kali ini bukan sebuah pesan teks tapi sebuah panggilan dari Denis.
"Apa? aku sibuk!" Jawab Kenzo acuh, karena memang dirinya sedang asik dengan pekerjaannya.
"Buka pesan, kamu pasti terkejut!" Seru Denis yang kemudian mematikan ponselnya.
Kenzo membuang nafas kesal, karena sahabatnya sangat bertele-tele, dia bisa saja langsung memberitahu Kenzo lewat panggilan telphon tadi.
Kenzopun kemudian membuka pesan yang di kirimkan Denis. Benar saja. saat ini kedua matanya terbelak, saat membuka link pemberian Denis.
"Apa ini kamu Ra?" Tanya Kenzo sambil terus menzoom photo Aura bersama dengan Seteven.
__ADS_1
Ada sesuatu di dadanya yang terasa sangat menekan, sehingga membuat Kenzo sulit untuk bernafas. Melihat wanita yang mirip dengan Aura sedang bersama lelaki lain.
Kenzo menyudahi pekerjaannya, tak lupa ia mematikan lampu sebelm meninggalkan ruangannya. Kemudian tancap gas menuju resto milik sahabatnya untuk menanyakan tentang bagaimana Denis tahu tentang ini semua.
...****************...
Aura sedang menikmati sarapan paginya, dengan sepotong roti yang di oles selai coklat, Berada seorang diri di meja makan yang sangat panjang tak membuatnya kesepian, karena ada beberapa pelayan yang berdiri di kanan dan kirinya. Seolah sedang melanai tapi juga terasa mengawasi.
"Apa Seteven tidak sarapan?"Tanya Aura kepada salah satu pelayannya.
"Tuan tidak pulang semalam." Ucap pelayan itu, lalu lebih mendekatlan bibirnya di telinga kanan Aura.
"Biasanya Tuan bersama bu Abigail." Bisik Pelayan itu melanjutkan. Entah apa tujuannya mengatakan hal seperti itu. Mungkin dia bermaksud memancing pertengkaran antara dirinya dan juga Abigail.
"Baik Terimakasih. setelah ini siapkan mobil." Pinta Aura yang membuat pelayan itu tersenyum. mungkin dia pikir Aura akan mencari suaminya yang bermalam bersama sekretarisnya.
Aura beranjak dari kursi makannya, untuk kembali ke dala kamarnya. Hari ini dia akan memeriksa kandungnya, memeriksa perkembangan janin yang ada dalam perutnya.
Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna Aura pun turun dari kamarnya.
"Nona, supir sudah menunggu." Ucap Pelayan dengan pandangan yang selalu tertunduk.
__ADS_1
Aurapun terus melangkah sampai depan rumah, dan melihat sebuah mobil sudah terparki di depannya. Begitu juga pintu mobil sudah terbuka.
Saat aura mendartkan tubuhnya di kursi belakang mobil, ia dikejutkan dengan sosok yang juga sudah duduk di kursi sebelahnya.
"Seteven, kenapa kamu disini?" Tanya Aura yang terkejut dengan keberadaan Seteven yang sudah ada di dalam mobil yang akan digunakan Aura untuk menuju rumah sakit.
"Apa ada yang salah?" Ucap balik bertannya.
Aura menoleh dengan tatapan tak suka kepada Seteven. Karena bersama Seteven, Aura merasa seolah terpenjara, tak bebas melakukan apapun.
"Bukankah kamu sedang bersama Abigail?" Tanya Aura dengan sinis. Aura tak sudi menyebutkan nama Abigail dengan mulutnya sendiri.
"Ternyata istriku ini pencemburu, kami hanya bekerja." Ucap Seteven terkekeh dengan tangan membelai rambut Aura.
Aura segera menghindar dari belaian yang Seteven berikan. Merasa tak nyaman dengan sikap yag Seteven berikan.
"Tak perlu menjelaskan, lagi pula aku tak peduli." Jawab aura membuang wajahnya, Aura lebih memilih menatap jalanan dari pada harus melihat kearah Seteven..
Setven hanya berdecah kesal, Lagi-lagi tanggapan Aura membuat kesal dirinya, kalau saja Aura tidak sedang mengandung, dia tidak akan menahan diri di dekat Aura.
Padahal Seteven dari kantor langsung pulang, demi menemani Aura melihat bayi mereka. Bahkan rapat dengan klien pentingnya pagi itu juga terpaksa di undur, untung saja Klien itu sangat pengertian dan membiarkan Seteven untuk lebih mendahulukan istri dan calon anaknya.
__ADS_1
Dengan sikap acuh, dingin yang Aura selalu tunjukan di depan dirinya tak menutup kemungkinan itu membuat Seteven berbalik lebih penasaran kepada sosok Aura sebenarnya. Karena baru Aura seorang wanita yang tak menginginkannya. Seteven merasa aneh saja ada wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita. Biasanya wanita yang pernah di dekatnya selalu mengincar kenyamanan dari kemewahan yang Selalu Seteven berikan.
Sehingga itu membuat Seteven menganggap wanita hanya sebagai mainan saja, yang bisa ia beli bahkan buang saat ia tak membuthkannya lagi.