
Siska sedang duduk di taman depan rumahnya, dengan secangkir kopi panas menukmati dinginnya malam, bukan itu sebenarnya tujuan siska berada di taman, melainkan menunggu anak sulungnya pulang. Kejadian tadi pagi mungkin membuat Kenzo kesal kepadanya, Namun bukan permuntaan maaf yang akan di utarakan melainkan sebuah peringatan untuk menjaga sikap apa lagi di depan orang-orang baru.
Mobil Kenzo pun masuk ke halam rumah, namun begitu keluar Kenzo terus saja berjalan untuk masuk kedalam rumah, sementara jelas terlihat siska berada di sana.
"Ken, tunggu mama." Teriak Siska yang segera bangun mengejar anaknya.
"Apa lagi mah? tidak cukup menipuku tadi pagi?"
"Kapan mama melakukan itu?" Tanya siska yang tidak mengakui perbuatannya.
Kenzo pun menghentikan langkahnya, kemudian berbalik, dan melihat mamanya dengan lagkah cepat menghampiri.
"Aku tidak suka mama melakukan hal seperti itu lagi."
"Apa salahnya kalian saling mengenal dulu, mama tidak memaksa kamu untuk jatub cinta ataupun menikah dengan Riana. Tapi setidaknya kalian bisa jalan dulu."
"Aku tidak ada waktu." Jawab Kenzo cepat.
"Hanya dua sampai tiga kali jalan, kalian bisa nonton atau sekedar menghabiskan weekend bersama." Siska tetap berusaha membujuk anaknya.
"Sekali ini saja, ikuti apa kata mama, setelah itu jika kamu masih tidak memiliki perasaan apapun, mama tidak akan mengganggu kamu lagi."
Mendengar itu Kenzo segera berbalik, dan menghampiri mamanya.
"Mama janji, setelah aku ikuti semua keinginan mama, mama tidak akan memaksakan apapun lagi." Ini kesempatan yang harus Kenzo ambil demi masa depannya, jika kelak dia membawa Aura maka mamanya tidak akan bisa melarang, karena janji ini.
"Iya, mama tidak akan turut campur lagi masalah percintaan kamu." Jawab Siska mulai terlihat senyum mengembang di bibirnya.
Siska merasa senang, Akhirnya Kenzo mau menuruti keinginan. Dengan hati senang siska pun kembali ke kamarnya. tak sia-sia dia menunggu di depan rumah.
"Kamu kenapa mah?"Tanya Rian yang melihat eksprsi bahagia istrinya.
__ADS_1
"Pah, sebentar lagi kita akan besanan dengan pak wibowo." Ucap Siska yang tentu saja membuat Rian bingung.
"Apa Kenzo berubah pikiran?" Tanya Rian yang tak percaya dengan semudah itu merubah pikiran anak sulungnya.
"Iya,Kenzo sepakat untuk saling mengenal terlebih dahulu. Mama sudah tidak sabar pah. Ternyata Riana sangat cantik, dia juga sangat sopan dan idaman pokonya."
"Dulu juga mama mengatakan hal yang sama kepada Aura." Sela Rian
"Ah... papa, Riana tidak bisa di bandingkan dengan wanita itu." Jawab siska yang seketika menjadi kesal dan cmberut.
"Iya maaf, papa hanya bercanda. mama atur aja semua, asal tidak ada paksaan." Ucap Rian membelai, membujuk Siska untuk tidak larut kesal kepadanya.
...****************...
"Aku bisa sendiri Nu." Ucap Aura saat Keanu mengambil alih vacum cleaner yang di pegang Aura.
Aura sudah merasa membaik, apa lagi obat yang di resepkan kepadanya sangat manjur. Merasa bosan hanya berbaring dan selalu di dalam kamarnya, Aura berinisiatif untuk bersih-bersih.
Aura merasa tidak enak hati selalu di layani Keanu, jasanya sudah terlalu banyak bagi Aura. Apa lagi dia rela meninggalkan pekerjaan dan Gea yang sudah pasti menunggunya.
"Ini sudah hari ketiga kamu disini, Gea pasti mencari kamu. lagi pula aku sudah membaik. Apa kamu tidak akan pulang?" Tanya Aura
"Aku pasti pulang, tapi tidak hari ini atau pun besok. Aku akan melihat kondisi kamu terlebih dahulu. Dan kamu jangan khawatir kan Gea." Jawab Keanu dengan santainya.
Aura hanya duduk menonton tv, sementara Keanu kini sedang menyiapkan makanan di dapur.
Tiba-tiba Suara ponsel Keanu berbunyi, Keanupun segera menerima panggilan itu. Entah siapa yang menelphonnya, karena saat ini wajah Keanu berubah, Nada bicaranya sedikit tinggi, meski tidak terlalu jelas mendengarnya.
Kemudian Keanu berpindah tempat, dia keluar dari apartment, mungkin karena takut pembicaraannya terdengar Aura.
Justru itu membuat Aura menjadi penasaran. Aura pun perlahan berjalan mendekat, dan menempelkan telinganya di balik pintu.
__ADS_1
Masih tidak terlalu jelas, namun cukup untuk mengetahui apa yang sedang Keanu bicarakan.
Aura memegangi dadanya setelah tahu dengan siapa keanu berbicara. Dia merasa sangat bersalah, karena secara tidak langsung dia penyebab Keanu dan Gea bertengkar di telphon.
Aura segera duduk kembali, saat merasa Keanu telah selesai dengan panggilan telphonnya.
Mencoba melemparkan senyum saat kedua mata mereka bertemu. Dan memang Keanu adalah pemain unggul, karena dengan sekejap wajahnya kembali terlihat santai, seolah tidak terjadi apapun.
Aura dengan ragu-ragu memberanikan diri untuk menanyakan siapa yang tadi menelphonnya.
"Apa Tadi Gea yang menelphon?"
"Iya itu Gea." Jawab Keanu singkat
Aura perlahan mendekati Keanu. dan duduk di kursi meja makan.
"Kalian bertengkar?" Tanya Aura kemudian.
Bukannya menjawab Keanu hanya tersenyum lebar, Aura tahu Keanu sedang berusaha menyembunyikannya.
"Tidak usah di pikirkan, lebih baik kita makan saja." Jawab Keanu yang datang dengan dua piring makanan.
Aura terus memandang kearah Keanu, untuk memastikan bahwa Keanu baik-baik saja.
"Ayo dimakan!" Ucapnya karena Aura tak juga menyuap.Kemudian Keanu meraih tangan Aura.
"Kamu dan Gea, sama pentingnya, tapi saat ini kamu lebih membuthkan aku. apa lagi di dalam perut kamu ada calon keponakanku. Itu adalah tanggung jawabku sebagai pamannya."
Tak terasa Aura meneteskan air matanya, dia bahagia ada Keanu yang masih peduli, dan pasti lebih bahagia jika Kenzo yang saat ini ada di depannya.
"Terimakasih Nu." Ucap Aura meloloskan satu suapan kedalam mulutnya.
__ADS_1