
Seteven sedang menikmati pagi harinya, duduk bersantai di tepi kolam renang, dengan bulatan asap yang keluar dari rokok miliknya. Seteven sedang beristirahat Setelah tiga puluh menit berolahraga air.
"Ambilkan saya handuk!" Ucapnya dengan suara yang terdengar berat dan juga sedikit serak. kepada pelayannya.
Ada dua orang pelayan wanita dengan berseragam yang amat menempel di tubuh mereka berada di sisi kanan dan kirinya. Dengan cepat handuk itu sudah berpindah tangan kepada tuannya.
Kemudian Seteven membelitkan handuk di pinggangnya, lalu berjalan dengan diikuti kedua pelayan wanitanya masuk kedalam kamar.
Ternyata di dalam kamar masih ada pelayan wanita lainnya yang sudah menunjukan beberapa jas untuk ia pakai berangkat menuju kantor.
Semua pelayan yang berada di dalam kamar Seteven menundukan pandangannya, saat Seteven mulai mengganti pakaiannya. Namun ada saja diantara mereka yang mencuri-curi pandang ingin melihat betapa atletis tubuh tuannya itu. Namun jika mereka sampai tertangkap oleh kedua mata Seteven, maka tak akan ada ampun baginya.
"Tuan, ini jadwal anda hari ini." Ucap Sekretaris Seteven yang di ketahui bernama Abigail.
Bisa di bilang Abigail adalah wanita nomor satu diantara banyak wanita yang bekerja dengan Seteven. Dengan predikat itu membuat Abigail besar kepala. Karena dia merasa hanya dirinya wanita yang bisa mendaptkan apa yang di idam-idamkan para wanita lain yang ada di sekitar Seteven.
"Cancel semuanya. Saya akan menuju hotel xxx." Ucap Seteven mengembalikan tablet kepada Abigail.
Mendengar itu Abigail tersenyum kemudian menjawab dengan antusias.
"Baik Tuan." Jawabnya disertai lirikan kepada para pelayan yang tengah memandang iri kepadanya.
Jika tujuan Tuannya adalah Hotel xxx, itu sudah di pastikan Tuannya sedang menginginkan dirinya.
__ADS_1
...****************...
Aura sudah bangun sejak dua jam yang lalu, namun bukannya bersiap untuk segera menemui Seteven Gerald, Aura justru masih bergelut dengan pekerjaan yang Hani kirimkan untuk ia periksa. Sebelum keberangkatannya, Aura berpesan untuk melaporkan semuanya. Karena kejadian kemarin amat membuatnya hati-hati dalam masalah pekerjaan.
Tok...tok...tok...
"Sayang ayo sarapan!" Ajak maminya seraya mengetuk pintu kamarnya.
"Iya mam." Jawab Aura segera meninggalkan pekerjaannya, Karena maminya paling tidak suka melewatkan sarapan pagi.
"Kok masih pakai piyama?" Tanya Jasmin ketika Aura datang dengan masih menggunakan pakaian tidurnya.
"Aura masih sangat lelah." Jawabnya dengan melakukan peregangan. Padahal sejak pagi dia sudah menatap layar laptopnya.
"Iya mam, mama tidak usah khawatir, aku pasti bisa." Ucap Aura yang sangat tahu apa yang saat ini ada di pikiran Jasmin. Bahkan sejak kemarin jasmin selalu membuka obrolan tentang Seteven.
"Syukurlah, Mama yakin kamu bisa melakukan apa yang kakek kamu tidak bisa lakukan." Ucap jasmin memberi semangat kepada anaknya.
"Aku keatas dulu." Aurapun beranjak meninggalkan meja makan karena sarapannya telah selesai.
Aura pun segera bersiap-siap mencari pakaian yang tidak terlalu formal juga tidak terlihat santai. setelah selesai mandi, Aura pun segera menggunakan celana panjang di padukan dengan kemeja polos. Juga mengikat rambutnya karena cuaca di luar sana cukup panas.
Alamat yang di berikan Seteven adalah alamat sebuah hotel, dan itu tak berarti apapun baginya, karena pertemuan pertama mereka juga di sebuah hotel. Apa lagi Hotel ini dalah milik Seteven sendiri.
__ADS_1
Aura berangkat dengan mobil milik maminya yang sengaja Jasmin berikan untuk aura selama berada di Inggris. Apapun yang milik Jasmin sudah pasti barang mewah. dan itu membuat Aura terlihat lebih meyakinkan.
Mengendari mobil mengikuti petunjuk Arah yang sudah di aturnya. Menoleh kekanan dan kekiri melihat tak banyak yang berubah saat terakhir kali ia melintas di jalanan yang sama beberapa tahun lalu. Mengembalikan semua kenangan saat-saat dirinya berusaha move on dari seorang Keanu.
Hanya butuh beberpa menit Aura sudah sampai di depan gedung hotel yang menjulang tinggi, Hanya melihat hotelnya saja, Aura sudah bisa menilai betapa suksesnya seorang Seteven.
Berjalan perlahan dengan anggun menuju respsionis, menunjukan kartu nama milik Seteven. Kemudian tak lama ada seorang pria datang menghampiri Aura, kemudian mempersilahkan Aura untuk mengikutinya.
Aurapun berjalan di belakang sang pria dengan pakaian serba hitam, mungkin pria tersebut adalah ajudan dari Seteven Geral, atau apapun jabatannya yang terpenting dia akan mempertemukannya dengan Tuannya.
Pria tersebut memijit tombol yang menunjukan bahwa tujuan mereka adalah lantai teratas dari gedung ini. Dan sudah di pastikan itu adalah kantor dari Seteven gerald.
Setelah samapi di lantai yang dituju, Aura dihadapkan dengan pintu besar di depannya. Disana tak ada pintu lain selain pintu itu. kemudain Aura di berikan satu buah kunci untuknya masuk kedalam ruangan itu.
Dengan ragu Aura menerima kunci tersebut, lalu ia di tinggal sendiri disana, karena pria serba hitam itu kembali masuk kedalam lift.
Aura menolah kearah kanan dan kirinya, bohong kalau ia tak merasa takut. Namun ia berusaha tetap yakin dengan dirinya sendiri.
perlahan Aura menempelkan kunci yang ada di tangannya, kemudian mendorong pintu itu perlahan.
"Wah...." Ucapnya takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah ruangan yang sangat luas, dengan jendela yang sangat besar, menampakan pusat kota dari ketinggian.
Namun Aura tak melihat satu orang pun disana, Hanay ada kursi dan barang-barang antik lainnya. Bahakn disana banyak lukisan dari pelukis terkenal. Aura mencoba terus melangkah, semakin dalam, semakin jauh dari pintu masuk yang tadi di lewatinya. Aura tersadar bahwa dugaannya salah, ruangan ini bukan kantor, melainkan sebuah kamar.
__ADS_1