
Diana menyimpan ponselnya setelah menerima telphon dari papa mertuannya.
"Sayang, papa telphon lagi. Sepertinya kali ini kita harus pulang. Kak Kenzo akan menikah." Ucap Diana kembali duduk di meja makan, menemani suaminya makan malam.
Kabar yang mengejutkan bagi Keanu, karena dia mengira kakaknya akan lebih lama lagi untuk menikah.
"Kamu serius kakak akan menikah? Kapan?"
"Satu minggu lagi."
"Wah...Akhirinya dia menikah juga. Apa kamu pernah dengar kakak sedang dekat dengan siapa sebelumnya?" Tanya Keanu, dia pikir istrinya sudah tahu sebelumnya, karena dia sering berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Nggak, justru aku sangat terkejut mendengar berita itu. Aku tidak berpikir kak Kenzo akan menyusul kita secepat ini."
"Mungkin ini saatnya kita untuk pulang." Sudah berkali-kali papanya meminta Keanu pulang, namun selalu ia tolak, namun kali ini berbeda, dia harus pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya. meskipun ada kemungkinan untuk dia tidak bisa kembali lagi ke jerman.
Keputusan itu pun di setujui Diana. "Iya, aku juga kangen mama dan papa."
"Aku penasaran wanita mana yang bisa buat kak Kenzo jatuh cinta?" Keanu membayangkan wanita seperti apa yang sudah menaklukan kakaknya.
"Sebegitu penasarannya kamu sayang?" Diana tersenyum melihat Keanu sangat antusias.
"Iya, karena selama ini kak Kenzo tidak pernah membawa wanita manapun. Standar wanitanya sangat tinggi."
"Kalau kamu seperti ini aku jadi penasaran juga."
"Sudah lah, nanti juga kita tahu. Aku akan mandi, kamu tidur duluan saja, pasti kamu sudah ngantuk karena menunggu aku pulang." Kenzo pun mengambil handuknya hendak membersihkan diri. sebab malam ini Kenzo pulang sangat larut.
"Terlihat ya, kalau aku sudah ngantuk?" Tanya Diana memegangi wajahnya.
Keanu sekilas melihat wajah Diana, "Iya, selamat malam." Keanu membelai lembut rambut istrinya.
Setelah selesai mandi Keanu melirik jam di dinding kamarnya, sudah dini hari, sedangkan dirinya belum juga mengantuk. lalu ia putuskan menelphon papanya, untuk membicaraka masalah kepulangannya.
"Hallo Nu, bukankah di sana malam hari?" Tanya Rian.
"Aku tidak bisa tidur pah. Oh ya, aku dengar Kak Kenzo akan menikah?"
"Iya minggu depan, kamu dan Diana harus segera pulang, papa ingin di pernikahan kakak kamu semua keluarga kumpul."
"Iya aku pasti pulang."
"Bukan hanya pulang, kamu juga harus menetap disini." Ucap papanya kemudian, Dan Keanu pun sudah menduga papanya akan mengatakan hal itu.
"Tapi pah, bagaimna dengan disini?"
"Kamu atur semuanya, ada waktu beberapa hari untuk kamu menyelesaikan pekerjaan kamu disana."
"Papa selalu saja memaksakan kehendak papa." Ucap Keanu mulai kesal dengan pembicaraan papanya.
"Dan kamu juga selalu menolak keinginan papa." Balas Rian tak mau kalah dengan anaknya, disetiap kesempatan mengobrol dengan Keanu, pasti saja ada perdebatan di dalamnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku mulai ngantuk pah. aku tutup telphonnya." Keanu tidak ingin berdebat lebih jauh lagi. Diapun mengakhiri telphonnya.
Sepertinya tidak ada yang berubah dari papanya, meskipun satu tahun tidak bertemu, tetap saja Rian masih memaksakan kehendaknya.
Sepertinya ide untuk menelphon papanya adalah ide yang salah, nayatanya Kenau menjadi kesal setelah berbicara dengan Rian.
...※※※※...
Aura yang mengalami jetlag masih betah berlama- lama menempel dengan bantalnya. Padahal Aura ada janji temu dengan keluarga calon suaminya. Dia akan makan malam bersama, juga memperkenalkan dirinya. Karena mereka hanya tahu Aura dari photo saja.
Jasmin langsung menerobos masuk ke kamar Auar, karena sejak tadi dia mengetuk pintu, tapi tidak ada suara balasan dari dalam kamar.
Dan ternyata Jasmin melihat Aura masih tidur, Jasmin pun langsung membangunkan Aura, dengan menggoyang-goyangkan badannya.
"Aduh sayang, bukankah seharusnya kamu sudah bangun?" Ucapn jasmin.
"Aku masih ngantuk mam!"
"Kamu harus segera bangun, nanti kita terlambat untuk makan malam. Kamu bahkan belum memilih dress untuk nanti malam, kamu juga harus menata rambut kamu." Omel Jasmin, jarang jasmin mengomel seperti ini, pernah beberapa kali ia seperti ini dan itu membuat dia merasa seperti seorang ibu sesungguhnya.
"Please mam, biarkan aku tidur sebentar lagi, atau aku bisa tertidur saat makan malam nanti." Aura menutupi kedua telinganya dengan bantal.
"Oke, satu jam. tidak ada tawar-menawar lagi." Jasmin mengerti saat ini Aura masih lelah karena perjalanannya Namun janji sudah terlanjur di buat.
Selang beberapa menit dari kepergian maminya, Aura mendengar suara-suara di dalam kamarnya, suara benda di geser dan suara langkah-langkah manusia. sangat berisik di telinganya.
"Duh, siapa lagi yang datang." Kesal Aura di dalam hatinya.
Terpaksa Aura bangun dan menanyakan apa yang sedang terjadi di dalam kamarnya.
"Untuk apa semua ini?" Tanya Aura kesal.
"Maaf non, Ibu jasmin meminta untuk dipilihkan dress untuk nona Aura."
"Terus kalain berdua sedang apa?" Tanya Aura kepada dua lelaki yang sedang merapikan alat-alat make up di meja Aura.
"Kami bersiap untuk merias wajah dan rambut nona Aura." Aura mengehala nafas melihat ulah maminya kali ini.
"Arrgghhh...." Aura mengacak-acak rambutnya.
Dengan langkah malas, Aura menuju kamar mandi, bersiap untuk datang ke pertemuan keluarga, dan juga bertemu dengan calon suaminya.
Perasaan gugup sudah menyelimuti Aura dari mulai dirinya memilih dress yang akan di gunakan. Dia ingin terlihat sempurna di pertemuan pertama mereka.
"Bagaimana Aura sudah bangun?" Tanya Jasmin kembali masuk kedalamkamar Aura.
"Sudah mami, aku sudah siap." Jawab Aura yang sedang bercermin melihat hasil pekerjaan orang-orang suruhan maminya.
"Syukurlah, kita berangkat sekarang." Ajak Jasmin yang diapun sudah siap.
Jasmin melihat kecemasan di diri Aura, dia pun menggenggam tangan Aura.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Rian dan siska sangat baik, dia pasti akan menyukai kamu." Ucap Jasmin menenangkan Aura.
Merekapun masuk menuju ruangan yang sudah di persiapkan.
"Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Sapa Jasmin kepada orang tua Kenzo.
"Kami baik, dan kamu masih tetap luar biasa." Jawab Rian memuji Jasmin.
"Anak saya, Aura winston. sayang, mereka calon mertua kamu." Ucap Jasmin memperkenalkan Aura kepada orang tua Kenzo.
Melihat keakraban antara maminya dan calon mertuanya sediki membuat Aura tenang, apalagi orang tua Kenzo sangt ramah.
Aura pun menyalami Rian dan Siska bergantian.
"Wah... jauh lebih cantik dari yang di photo." Ucap Sisika meyentuh dagu Aura. Siska sangat senang melihat Aura karena dulu Siska sangat menginginkan Anak perempuan.
"Terimakasih Tan."
"Jangan panggil tante, sebntar lagi kamu jadi anak menantuku. panggil kami mama dan papa."
"Baik. mama, papa!" Aurapun mempraktekan panggilan baru itu, meski sedikit canggung namun lama-kelamaan akan terbiasa.
Aura menatap kursi kosong di sebelah calon mertuannya, sudah setengh jam, namun kursi itu tak juga berpenghuni.
"Aduh pah, Kenapa Kenzo lama sekali?" Bisik Sisika namun masih sedikit terdengar
"Kita tunggu saja, mungkin Kenzo banyak pekerjaan, dia memang selalu fokus dalam bekerja." Jawab Rian menenangkan istrinya, sebenarnya dirinyapun sudah tidak tenang menunggu kedatangan Kenzo. dia khwatir Kenzo tidak datang dan itu akan melukai harga diri Keluarga winston.
Merekapun melanjutkan makan malamnya sambil menunggu kedatangan Kenzo.
Saat sedang menikmati makan malamnya, aura merasa gatal di seluruh wajahnya, lalu dia melihat ke piring makanannya. Dia terkejut dan segera menutup mulut dengan tangannya.
"Mam, aku harus ke toilet" Ucap Aura berbisik.
Aura segra bergegas ke toilet, dia ingin memuntahkan apa yang baru saja di makannya, namun sepertinya sudah terlambat, kini wajah aura membengkak.
"Ah... kenapa harus hari ini?" Aura menatap cermin dia memegangi wajahnya yang sudah memerah dan sedikit bengkak.
Diapun mencari sesuatu untuk menutupi wajahnya, dan juga menelphon Jasmin memberitahukan keadaanya.
Jasmin pun datang dan panik melihat Aura yang sudah seperti itu.
"Mengapa jadi seperti ini? Kamu harus segera ke rumah sakit?"
"Tidak perlu mam, tadi aku langsung memuntahkannya. Tapi sepertinya aku gak bisa masuk ke dalam lagi."
"Kita pulang saja, mereka pasti akan mengerti." Ucap Jasmin kemudian.
"Tidak mam, mami di sini saja lanjutkan makan malamnya, aku biar pulang dengan pak deni." Usul Aura. karena jika mereka semua pulang, aura merasa tidak enak hati dengan keluarga hartanto.
"Baiklah, tapi jangan langsung pulang. mama akan suruh pak deni antar kamu ke rumah sakit."
__ADS_1
Jasmin pun menelphon supirnya untuk mengantarkan anaknya ke rumah sakit, sementara dia akan kembali kedalam melanjutkan makan malam bersama calon beasannya.