
Reza mengejar Aura yang tadi pergi keluar supermarket, Menolehkan kepala melihat kearah kanan dan kirinya, tapi dia tidak menemukan sosok Aura disana. Diapun bertolak pinggang sambil berpikir kemana arah perginya Aura. sampai reza memutuskan untuk terus mencari ke pinggiran jalan, tak jauh dari supermarket miliknya.
Dan dia melihat Aura berdiri seperti sedang menunggu jemputan. Reza pun berlarai menghampirinya.
"Aura..." Teriak Reza memanggil nama Aura.
"Pak Reza..."
"Are you oke?" Tanyanya lagi, karena tadi Reza melihat Aura sangat shock.
"Saya baik-baik saja, maaf telah membuat anda tidak nyaman. Apa lagi tadi ada sedikit kesalah pahaman." Jawab Aura merasa tidak enak hati kepada Reza.
"Tidak masalah, kalau boleh tahu siapa wanita yang bersama anda tadi?"Tanya Reza, pura-pura tidak tahu.
"Dia mantan mertua saya, nampaknya dia salah paham karena melihat kita bersama."
"Saya merasa semua itu adalah kesalahn saya, karena saya yang tiba-tiba menghampiri kalian. Saya rasa saya harus menjelaskan kebenarannya." Reza menampakan wajah menyesalnya.
"Tidak perlu pak, biarkan itu menjadi urusan saya. saya sekali lagi minta maaf karena membawa anda ke dalam masalah saya."
"Saya siap membantu, jika memang di perlukan, jangan sungkan untuk menghubungi saya."
Reza melihat aura sedari tadi mengecek ponselnya,sepertinya Aura sedang dalam masalah lainnya.
"Ada apa lagi?" Tanya Reza.
"Ini, dari tadi sekretaris saya tidak bisa di huhungi." Jawab aura.
Reza ingin mengambil kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Aura.
"Izinkan saya mengantar anda." Tawar Reza dengan yakin dia tidak akan dapat penolakan.
Aura sempat Ragu, namun memang dia sedang membutuhkan tampangan.
"Apa tidak merepotkan?" Tanya Aura kemudian.dia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.
"Tidak sama sekali." Jawab Reza disertai dengan gelengan kepalanya.
Kemudian Reza pun kembali masuk area supermarketnya untuk mengambil mobilnya di parkiran.
Baru kali ini Aura diantar seseorang yang baru dikenalnya, cukup nyaman bisa berdua dengan Reza, mungkin karena sikapnya yang sudah dewasa. Dan juga kepribadiannya yang menyenangkan.
"Aku rasa kita terlalu formal, sedangkan kita berada di luar kantor dan juga pekerjaan kita, bagaimana jika aku memanggil kamu dengan Aura saja? Dan kamu bisa memanggilku senyamannya kamu saja." Usul Reza, dia merasa seperti ada batasan jika masih berbicara formal.
__ADS_1
Aura menoleh dan tersenyum canggung.
"Apa tidak masalah jika seperti itu?" Tanyanya kemudian.
"Agar terdengar lebih akrab saja." Jawab Reza melirik Aura sekilas.
"Boleh, Pak Reza bisa memanggilku dengan Aura saja, dan sebaliknya aku akan memanggil Pak Reza dengan sama, tidak ada yang berubah, karena aku sangat menghormati anda." Jawab Aura. Aura merasa tidak sopan jika berbicara santai terhadap orang yang jauh lebih tua darinya.
"Baiklah jika begitu." Ucap Reza setuju dengan jawaban Aura.
...****************...
Setelah bertemu Reza di supermarket dan pada saat itu Aura bersamanya, membuat Diana semakin membenci Aura, terlebih lagi dengan ucapan kakak iparnya tadi pagi.
"Aku tidak boleh kehilangan kalian berdua." Ucap diana dengan sangat yakin.
Diana merasa Aura di takdirkan untuk membuatnya tidak tenang, Dia harus mencari cara untuk menyingkirkan Aura lagi. Jika yang pertama berhasil sudah pasti akan berhasil untuk kedua kalinya.
Diana pikir setelah aura tersingkir dari keluarga Hartanto suaminya tidak akan pernah bertemu bahkan dekat dengan Aura lagi, ternyata dugaannya salah keanu tetap saja mencari dan bahakan menemukan keberadaan Aura ditambah lagi Om Reza yang kini mulai berulah. Dan wanita yang sama yang terlibat didalamnya.
Diana mengambil ponselnya dan dia mengetikan nomor kakak iparnya.
"Kak, bisa kita bertemu? ada yang ingin aku tanyakan?" Tanyanya begitu telphon diangkat Kenzo.
"Datang saja kekantor." Jawab Kenzo dengan singkat.
Dianapun kembali membawa tas dan tak lupa kunci mobilnya, berlari menuruni tangga.
"Ma, titip Lexa." Ucapnya kepada siska yang sedang duduk mengistirahatkan tubuhnya.
"Mau pergi lagi ?" Tanya siska Kemudian.
"Iya ma, hanya sebentar kok." Jawab Diana sambil terburu-buru meninggalkan rumah.
Dia berencana menemui Kenzo untuk meminta penjelasan tentang maksud ucapan Kenzo tadi pagi, dia meminta Kenzo menceritakan apa yang ia ketahui tentang suaminya.
Diana tahu hubungan kenzo dan Suaminya masih belum membaik itu semua hanya karena seorang wanita.
Sampailah Diana di sebuah gedung kantor yang menjulang tinggi, pusat dimana beberapa perusahaan kecil hartanto dan juga perusahaan milik suaminya.
Diana berjalan menyusuri kantor yang seahrusnya jadi milik suaminya dan itu seharusnya akan menurun kepada anaknya. Namun Lagi-lagi Aura yang menjadi penyebab Anaknya kehilangan haknya.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Diana mengetuk pintu yang bertuliskan Nama CEO perusahaan ini.
Kemudian Diana memhua pintunya perlahan dan kembali menutupnya.
"Silahkan duduk!" Ucap Kenzo mempersilahkannya duduk.
Dianapun berjalan mendekat dan duduk tepat di depab Kenzo.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Tanya kenzo langsung tanpa basa- basi.
"Aku mau menanyakan maksud ucapan kakak tadi pagi, siapa wanita lain yang kakak maksud?"
Kenzo terkekeh, dia meras lucu, karena dia yakin Diana pasti sudah mengetahuinya. Tapi dia masih tidak percaya dengan dirinya sendiri.
"Kamu mengenalnya, bahakan mungkin kamu sudah mengetahuinya." Tebak Kenzo. Karena biasanya insting seorang wanita apa lagi seorang istri sangat kuat.
"Tidak mungkin Aura, karena jika Dia, kakak pasti tidak akan diam saja." Ucap Diana menyebutkan nama Aura.
"Memangnya aku harus bagaimana? aku dan Dia sudah tidak ada hubungan apapun lagi." Ucap Kenzo cuek.
Diana tertawa renyah mendengar jawaban kenzo.
"Lantas kakak akan biarkan Keanu begitu saja? bagaimana nanti tanggapan mama dan papa?" Tanya Diana lagi.
"Kamu tidak memikirkan bagaimana tanggapan mama dan papa saat tahu kamu berselingkuh?" Tanya Kenzo menatap Diana dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Diana menelan silva, matanya membelak terkejut dengan pertanyaan kakanya. Bagaimana bisa kenzo mengtahuinya.
Dia berusaha menutupi keterkejutannya dengan tertawa menanggapi pertanyaan kakak iparnya.
"Hahah..., lucu sekali. Kakak dengar berita itu dari mana?" Tanyanya dengan jantung seakan ingin copot.
"Bahkan aku tahu Lexa bukan anak Keanu." Lanjut Kenzo membuat Diana semakin terkejut.
"Itu kebohongan, siapa yang menyebarkan berita seperti itu? Tanyanya semaki gusar. Diana seperti terjebak karena sudah datang ke kantor ini.
"Sudahlah Di, Aku sudah tahu semuanya, bahkan jika keanu abai terhadapmu itu sudah sepantasnya. Dan satu hal lagi, aku tidak masalah jika memang Keanu dengan Aura, yang terpenting adalah kebahagiaan Aura."
"Ternyata aku salah dengan datang kesini." Ucap Diana berdiri meninggalkan Kenzo.
Namun langkahnya terhenti ketika hendak membuka pintu, ia pun berbalik dan menatap dengan senyuman liciknya.
"Aura sudah menemukan pengganti Kakak. Pria itu lebih mapan dan lebih segalanya." Ucap Diana,yang kemudian menutup pintu ruangan kenzo.
__ADS_1
Jelas terlihat ada kemarahan di mata Kenzo, dan Diana tertawa puas. karena dia bisa balik mempermainkan kenzo.
"Maafkan aku om, sepertinya kedekatan om dengan Aura ada sedikit manfaatnya untukku. Tapi aku tidak bisa membiarkan ini terlalu lama, bisa-bisa aku kehilangan om seutuhnya." Ucap Diana dalam hatinya.