
Selesai Rapat, Aura menyempatkan diri berkunjung ke resto milik sahabatnya,selain ingin bertemu Melly, ia juga akan mengisi perutnya.
"Hai... Melly mana?" Tanya nya saat bertemu Denis, Dan segera menanyakan keberadaan sahabatnya.
"Di atas, naiklah!" Jawab Denis. Aura pun segera naik sebelum itu tak lupa ia memesan makanannya.
"Hai... calon pengantin." Sapa Melly, ia sangat senang dengan kedatangan Aura menemuinya.
"Sudah mulai masuk kerja?" Tanya kemudian, karena Aura datang dengan pakaian formalnya.
"Iya, tapi tidak setiap hari, kebetulan ada rapat sebentar." Jawab Aura yang mendaratkan tubuhnya di atas sofa tepat di sebelah Melly.
Kemudian Aura mengambil remot televisi dan menyalakannya.
"Siapa yang jaga Keyzara?"
"Nenek dan kakeknya. Aku sangat senang karena mereka menerima Keyzara."
"Aku sudah menduga itu. Lalu rencana pernikahan kalian sampai mana? Tanya Melly lagi.
"Masih 50%, Kenzo masih belum deal dengan tempat dan banyak hal lainnya." Keluh Aura. Sebenarnya Aura ingin pernikahan yang biasa saja, karena ini bukan pernikahan pertma mereka. Meski dirinya senang bisa mengurus semuanya.
Obrolan berlangsung sampai makanan pesanan Aura tiba. Kemudian ponsel Aura berdering kembali. Lagi-lagi Aura hanya menoleh dan mengabaikan panggilan tersebut.
"Kenapa Nggak di angkat?" Tanya Melly.
"Nomor tak di kenal, mungkin orang iseng saja." Jawab Aura.
Namun tak lama bersalang ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama menghubunginya.
"Angkaltlah, siapa tau penting." Sudah berkali-kali menghubungi melly pikir itu adalah panggilan yang mungkin saja penting.
"Baiklah." Aura kemudian menyimpan sendok yang di pegangnya dan segera mengangkat panggilan yang dari semalam menghubunginya.
"Halo..." Ucap Aura menggantung, karena tak ada jawaban, orang di sebrang sana cukup lama terdiam, sampai terdengar suara berdehem.
"Ini dengan siapa, dan ada perlu apa?" Tanya Aura lagi.
__ADS_1
"Apa kabar Ra?"
Terdengar Suara yang tak asing di telinganya. Aura terdiam, mencoba mengingat pemilik suara itu.
"Saya mohon jangan ditutup telphonnya." Ia khawatir jika panggilannya di tutup, karena cukup lama tak mendengar jawaban dari Aura.
"Tidak mungkin ini Seteven. jelas sekali aku lihat namanya di daftar korban pesawat jatuh." Dalam hatinya, Aura menyangkal saat akhirnya dia bisa menebak pria di balik suara dari panggilan telphonnya.
"Kamu. Kecelakaan itu." Ucap aura terbata-bata.
"Aku selamat dari kecelakaan itu."
"Mau apa kamu menghubungiku?" Aura menjadi gusar dengan kembali sosok Seteven. di saat ia tengah bahagia bersama Kenzo, baru saja beberpa bulan kebahagiaan itu datang, kini dia terancam dengan kehadiran Seteven di hidupnya lagi. Bukan mengingnkan Seteven tak selamat dari kecelakaan itu, namun jika kesempatan hidup di gunakan untuk mengusik kehidupannya lagi, lebih baik dia meninggal di saat itu juga.
"Aku sudah mendengar kabar itu. Kabar pernikahan kamu. Aku hanya ingin mengucapkan Selamat semoga kamu bahagia." Ucap Seteven mengakhiri panggilan telphonnya.
Aura mematung, ia tak menyangka Seteven mengatakan hal yang tak terduga. Bukan Aura mengahrapkan hal lain, ia hanya tak menyangka seorang Seteven yang semula mengejarnya, kini mundur dan bahkan mengharapkan kebahagiaannya.
...****************...
"Mengapa tuan tak berusaha mencegah pernikahan itu?" Tanya Abigail. Ia kira tujuan Seteven menghubungi Aura adalah untuk mencegah Aura untuk menikah, Namun yang baru saja tuannya Ucapkan berbeda dari yang ia kira. Meski senang mendengarnya, karena kini Tuannya tak lagi mengejar Aura, Namun Abigail tetap merasa aneh. Karena terlihat jelas guratan kesedihan di wajah Tuannya.
"Kamu tidak lihat keadaan saya sekarang? saya tidak yakin Aura akan bahagia jika bersama pria cacat ini." Kepercayaan diri Seteven hilang, Keadaanya saat ini hanya akan membuat Aura kesulitan. Meski dia punya kuasa untuk membawa Aura. Namun Seteven sekarang berbeda. Pria lemah yang mungkin tak akan ada wanita yang mau bersamanya.
"Tuan masih bisa berjalan normal kembali." Abigail kecewa dengan ucapan Seteven, seolah Seteven tidak ada keinginan untuk kembali normal.
"Saya tahu, tapi butuh waktu yang sangat lama, dan itu pun tidak akan senormal dulu, saya harus menggunakan tongkat untuk alat bantu nanti."
Lagi-lagi Abigail merasa sedih melihat Tuannya seperti ini, semangat hidupnya tak seperti dulu. Dia tak lagi banyak keinginan seperti dulu.
"Kamu boleh pulang, istirahatlah dirumah." Pinta Seteven. Sebenarnya Ia ingin sendirian. Bohong jika ia baik-baik saja setelah apa yang di ucapaknnya kepada Aura. Merelakan Aura serta anaknya kepada pria lain sangat membuat hatinya sakit.
...****************...
Setelah menerima panggilan Seteven tadi siang, Aura tak berhenti memikirkannya. Ia hanya ingin tahu kabar terbaru dari Seteven. Setelah Keyzara juga Kenzo tertidur, Aura perlahan keluar dari dalam kamar, kemudian duduk di sofa ruang tengahnya.
Ia membuka pencarian di ponselnya, lalu ia ketikan nama lengkap Seteven dan munculah beberapa artikel tentang Seteven dan kecelakaan pesawat yang dialaminya.
__ADS_1
"Ternyata kamu benar selamat." Gumamnya saat melihat beberapa photo terkait keadaan Seteven, Hanya mendengar suara saja tak membuatnya yakin bahwa yang ia dengar adalah Seteven.
Dan semakin memprihatinkan ketika ia membaca kondisi Seteven yang kemungkinan tidak akan bisa berjalan kembali seperti sebelumnya.
"Separah inikah kondisi kamu." Aura terperangah ia tidak tahu kecelakaan itu membuat Seteven seperti ini.
"Sayang, kamu belum tidur?" Suara kedatangan Kenzo mengejutkannya. Dan ponselnya tal sengaja tergelincir dari tangannya.
Namun saat hendak mengmbilnya, Kenzo mencegahnya.
"Biar aku yang ambilkan." Kenzo pun membungkukan badan untuk mengambil ponsel Aura yang terjatuh.
Aura gugup, dia khawatir Kenzo melihat isi ponselnya. Kemudian Aura pun segera merebut ponselnya dari tangan Kenzo.
"Terimakasih." Ucapnya kemudian segera menyimpan kembali di saku celananya.
"Kenapa terbangun?" Tanya Aura berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Itu karena kamu tidak ada disampingku. dan ternyata kamu disini." Kenzo kemudian duduk di samping Aura, dan membiarkan Aura bersandar di lengannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sampai tidak bisa tidur?" Tanya Kenzo sembari membelai rambut Aura.
Aura merasa tak enak hati, mendaptkan pertanyaan seperti itu, membuatnya bingung harus menjawab Apa, apakah ia harus jujur atau menyembunyikannya.
"Sayang, ada apa? sepertinya kamu memang sedang banyak pikiran, apa rapat tadi tidak berjalan lancar?" Tanya Kenzo lagi, karena Aura masih saja diam tak menjawabnya.
"Ini bukan masalah pekerjaan." Jawabnya yang kemudian bangun dan membenarkan duduknya. "Ternyata Seteven selamat. Tadi siang dia ada menghubungiku." Ucap Aura terpotong.
Kenzo masih mendengarkan ia tak mau langsung menyimpulkan yang nantinya akan terjadi salah paham diantara mereka.
"Dia hanya memberi selamat untuk pernikahan kita." Lanjutnya.
"Aku kira ada apa. Terimakasih, kamu sudah berkata jujur. aku sudah lihat apa yang kamu cari di ponsel."
"Aku hanya memastikan apa Seteven benar-benar selamat. hanya itu saja."
"Aku tahu, dan aku mengerti." Kenzo menarik Aura kedalam pelukannya.
__ADS_1