
Setelah berminggu-minggu akhirnya Keanu pulang juga, Diana terkejut dengan kedatangan Keanu, dia berpikir Keanu tidak akan pernah datang menemuinya lagi.
Setelah menikmati makan malam bersama keluarganya, Keanu lekas masuk kedalam kamarnya untuk mengambil beberapa pakaiannya.
"Aku akan tidur di kamar bawah." Ucap Keanu kepada Diana.
"Kenapa kamu pulang?"Tanya Diana saat Keanu hendak meninggalkan kamarnya.
"Aku pulang bukan untukmu." Jawab Keanu yang Lagi-lagi menyakiti Diana.
"Aku tahu kamu datang karena Aura. Karena besok sidang perceraian dia dengan kak Kenzo. Apa kamu akan menjadi pangeran kuda hitamnya?" Tanya Diana mencibir Keanu.
"Itu kamu sudah tahu, kenapa harus dipertanyakan lagi." Jawab Keanu melangkah keluar dari kamarnya.
"Aargghh... sial." Umpat Diana melemparkan bantal kearah pintu.
Kedatangan Keanu memang untuk Aura, dia sangat khawatir setelah mendengar kabar tentang perceraian Aura. Dia pikir Kenzo akan tetap mempertahankan Aura. Namun ternyata dia salah pada akhirnya Kenzopun tak memperjuangkannya.
Bisa kita bertemu?
Bunyi tulisan pesan yang Keanu kirimkan kepada Aura.
Tak butuh lama ponsel Keanu pun berbunyi.
Maaf Nu aku tidak bisa. aku masih banyak pekerjaan.
Balas Aura semenit kemudian.
Keanu hanya bisa menatap posnelnya, Balasan Aura tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
tok...tok...tok...
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk, Keanu sudah menebaknya siapa lagi selain Diana yang tahu keberadaannya di kamar ini. kamar yang sudah bertahun-tahun kosong.
Dengan malas Keanu melangkah untuk membukakan pintu.
"Nu aku belum selesai ya." Ucap Diana kesal.
Keanu terpaksa menarik Diana untuk masuk kedalam kamarnya, karena dia tidak ingin kedua orang tuanya mendengar perdebatannya.
"Apa lagi Di?" Tanya Keanu yang sama kesalnya.
"Apa kamu serius akan kembali bersama Aura? bagaimana tanggapan mama dan papa nanti?" Tanya Diana yang masih saja penasaran dengan isi kepala dan hati suaminya.
"Bisa tidak kamu berhenti mencampuri urusanku. seperti aku yang tidak pernah ingin tahu urusanmu." Jawab Keanu dengan sinisnya.
"Kamu tidak bisa kembali bersama Aura, jika tidak terpaksa aku mengatakan semuanya kepada papa." Diana tak bisa berpikir apapun selain mengancam suaminya.
"Silahkan. justru aku senang, kita akan lebih mudah untuk berpisah." Jawab keanu yang tak disangka oleh Diana.
"Jangan mimpi. papa pasti tidak akan setuju dengan ini semua."
"Papa akan setuju setelah mendengar kenyataan bahwa kamu memiliki hubungan dengan pria lain bahkan sampai memiliki anak."
__ADS_1
Telinga Diana panas mendengar apa yang baru saja di ucapkan Keanu.
Plaakk....
Satu tamparan mendarat di pipi keanu, Diana sangat terluka setiap kali Keanu mengucapkan kalimat itu, kalimat hinaan bagi Diana.
"Berhenti mengatakan itu. aku sudah tidak berhubungan lagi dengan om Reza. dan anakku adalah anakmu juga." Ucap Diana marah. Dia sudah berkali-kali menjelaskan bahwa Keanu adalah ayah dari anaknya. namun Keanu masih tetap tidak mempercayainya.
"Buktikan. buat aku percaya bahwa anak itu adalah anakku. jika tidak bisa tetap tutup mulut kamu itu. Atau menghilang saja dari hadapanku." Ucap Keanu dengan mata tajamnya. Kemudian keluar dari kamar itu dan membawa mobilnya meninggalkan rumah.
Diana bingung harus membuktikan bagaimana, baginya itu bagaikan kotak pandora. Dia takut akan mengetahui kenyataannya. Lebih baik tidak membukanya sama sekali.
Dan itu artinya Dia tidak akan pernah bersama Keanu lagi.
...****************...
Tepat di depan gedung pengadilan Aura berdiri, tempat yang sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikirannya. Namun disinilah dirinya berada, menunggu waktu yang tepat sampai gilirannya memasuki gedung itu.
"Bu, pak Kenzo sudah satang." Bisik Hani di telinga Aura.
Dan benar saja tak lama Aura melihat kedatangan Kenzo beserta keluarganya yang sengaja ingin menghadiri proses sidang perceraiannya.
"Apa kabar mah, pah?" Tanya Aura kepada kedua mertuanya, yang sesaat lagi akan menjadi mantan mertua.
Aura masih berusaha tetap menjaga kesopanan, walau bagimanapun mereka sangat baik kepadanya.
"Kabar kami baik-baik saja." Jawab papa mertuanya. Namun berbeda dengan mama mertuanya yang justru membuang muka, seolah tak ingin melihatnya.
Tak hanya kedua mertuanya yang hadir, ternyata Diana juga menyempatkan dirinya untuk hadir dengan membawa anaknya yang masih sangat kecil.
"Bagaimana kabar kamu Ra?" Kini giliran Kenzo yang menanykan kabar Aura.
Aura berusaha untuk tidak terlihat sedih di depan Kenzo. Air matanya sebisa nungkin ia tahan.
"Aku baik-baik saja." Ucap Aura pelan.
"Aku duluan." lanjut Kenzo yang kemudian melangkah meninggalkan Aura.
Tak bisa ia tahan lagi, buliran airmata lolos begitu saja membasahi pipinya. Hani dengan sigap memberikan tisue untuk menyeka air mata Aura.
"Lebih baik kita masuk sekarang!" Ucap Hani kemudian.
Aurapun memasuki ruang peridangan, ia kira dirinya hanya sendirian disana, sebab maminya tidak bisa menemaninya. Apa lagi kakeknya, jelas itu tidak mungkin terjadi. Namun saat memasuki ruangan dia dikejutkan dengan hadirnya kedua sahabatnya yang saat ini tengah tersenyum kepadanya. Seolah memberi kekuatan tambahan untuknya menjalani persidangan ini.
Persidangan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.Setelah hakim mengetuk palu selesailah sidang perceraian antara Kenzo dan juga Aura. Kini mereka bukanlah sepasang suami istri lagi, Aura dan Kenzo telah menyandang setatus barunya.
Setelah semuanya pergi meninggalkan ruang persidangan, tersisa Aura dan Kenzo yang masih saling berhadapan, menatap dalam satu sama lain. Tak menyangka mereka akhirnya berdiri di tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Terimakasih untuk selama ini." Ucap Aura meraih tangan Kenzo untuk di genggamnya.
Kenzo melihat kesedihan di mata mantan istrinya itu, dia pun menarik Aura kedalam pelukannya. Mungkin ini akan menjadi pelukan terakhir darinya.
"Jaga diri kamu baik-baik. Kamu masih bisa menghubungiku jika butuh bantuan, aku akan datang untuk membantumu." Ucap Kenzo masih memeluk Aura erat.
__ADS_1
...****************...
Aura menemui kedua sahabatnya yang sudah menunggu di luar gedung pengadiilan.
"Maaf membuat kalain menunggu." Ucap Aura memeluk Gea dan Melly bergiliran.
"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. tapi aku yakin kamu kuat Ra." Ucap Melly memberi semangat untuk Aura.
"Terimakasih, karena kalian sudah hadir dan menyemangatiku."
"Itu lah gunanya kita Ra." Jawab Gea tersenyum bahagia.
"Nanti malam datang ke rumahku ya, aku akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kita bertiga." lanjutnya. Sengaja Gea akan mengadakan pesta untuk menghibur sahabatnya itu, juga sebagai pesta sebelum Melly menjadi istri dari seseorang.
"Baiklah sampai ketemu nanti malam." Ucap Aura berpamitan kepada keduanya.
Setelah kepergian sahabtanya Aura di kagetkan dengan datangnya sebuah mobil dan berhenti tepat disampingnya.
Aura menoleh dan menyipitkan matanya untuk melihat kedalam mobil yang berkaca hitam itu.
Tak lama kaca mobilpun turun perlahan.
"Ayo naik!" Ucap seseorang dari dalam mobil tersebut.
Aura membungkukan tubuhnya untuk lebih jelas melihat siapa di dalam mobil tersebut.
Pria berkacamata hitam yang tak lain adalah pria yang sudah sejak lama ia kenal.
"Kamu hadir juga disini?" Tanyanya, sebab tadi dia tidak melihat sosoknya di dalam ruang pengadilan.
"Tidak, aku datang untuk menjemput kamu." Jawab pria tersebut.
Aura sempat ragu untuk ikut bersamanya namun akhirnya ia pun menaiki mobil itu dan pergi bersama meninggalkan kawasan pengadilan.
"Selamat akhirnya kamu bercerai juga." Ucapnya sambil menahan tawanya.
"Cuma kamu seorang yang memberikan selamat atas perceraianku." Jawab Aura yang juga terkekeh mendengarnya.
"Baguslah, maka aku adalah yang pertama." jawabnya kemudian.
"Terimakasih sudah membuatku tertawa." .
"Meskipun ini keinginan kamu, aku tahu kamu pasti sedih dengan perceraian ini. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu untuk terus bersedih."
Memang yang dibutuhkan Aura adalah seseorang yang mampu membuat Aura tertawa di setelah semua permasalahannya.
"Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Aura ketika mobil mengarah ke arah yang berbeda dari rumahnya.
"Pantai. Aku rasa kamu pasti menyukainya." Jawabnya sambil melirik kearah Aura.
Sampailah mereka di tempat tujuan, hamparan pasir dan ombak silih berganti, udara sejuk menyapu kulit, angin berhembus menyegarkan pikirannya yang kusut. Tak banyak yang mereka lakukan, hanya berjalan menyusuri bibir pantai, menyelami pikiran masing-masing.
"Apa bisa kita kembali seperti dulu lagi?" Kalimat itu lolos begitu saja. cukup hening untuk beberpa saat, sampai Aura menjawab dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Apa tidak cukup jika kita hanya berteman?"
Semuanya kembali terdiam, tidak berusaha membujuk ataupun menjawab. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan semua itu.