AKU MEMILIH SETIA

AKU MEMILIH SETIA
Malam Pertama


__ADS_3

Diana meghentakan kakinya berulang kali, melampiaskan kekesalan karena ucapan Aura yang terdengar menyebalkan.


"Uuhh... sombong banget, hanya karena status dia di keluarga ini lebih tinggi, bukan berarti dia bisa mengatur begitu saja." Ucap Diana melemparkan dompet yang di pegangnya ke sembarang Arah.


"Kamu kenapa?" Tanya Keanu yang terbangun karena suara-suara Yang Diana sebabkan.


Diana pun memeluk Keanu dan bersandar di dadanya.


"Maaf sayang, aku gangggu kamu tidur. Aku kesal, karena tadi aku Nggak sengaja pas-pasan dengan Aura. Aku sebagai adik sudah berusaha mengakrabkan diri, apa lagi dulu kami berteman. tapi dia dengan sombongnya hanya.... Arrghh...,aku kesal sekali." Ucap Diana berkeluh kesah kepada suaminya.


Keanu mendengarkan semua keluh kesah istrinya sambil membelai-belai rambutnya.


"Dia mengabaikan kamu?" Tanya Keanu menanggapi cerita Diana.


"Iya seperti itu. mungkin dia membenciku karena melihat kita bersama." Ucap Diana mendongakan kepalanya, menatap wajah Keanu.


"Sudahlah, kita abaikan saja dia. lebih baik kamu segera ganti pakaian, dan tidur." Ucap Keanu mencubit kedua pipi istrinya. Dianapun tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Keanu.


"Biklah, Kamu lebih baik tidur lagi, aku mandi dulu." Ucap Diana bangun, dan membiarkan suaminya untuk tidur kembali.


Keanu mencoba memejamkan matanya, namun rupanya dia sulit untuk tidur kembali, bahkan saat ini Diana sudah tertidur pulas di sampingnya.


Keanupun bangun dari tempat tidur, dia butuh udara segar, kemudian dia membuka pintu menuju balkon kamarnya. dan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.


Membuka kembali photo-photo saat acara pernikahan kakanya tadi pagi. Membuka satu photo ketika ia bersama Kenzo dan Aura.


Keanu memperbesar gambar wajah aura, dia melihat auranya telah berubah, benar-benar berbeda dengan Aura lima tahun yang lalu.


"Kenapa kamu jadi secantik ini?"


Dulu aura tidak setinggi ini, juga kulitnya tidak seputih saat ini.


"Kenapa kamu bisa bersama kak Kenzo? bukankah sebelumnya kamu sudah menikah? Kenapa kamu harus masuk di kehidupan ku lagi?"


Keanu pu meletakan ponselnya dengan keras, pertanya-pertanyaan itu membuatnya sesak.


Diapun berdiri dan bersandar di pagar, kemudian dia merogoh sakunya untuk mengabil sebatang rokok dan menyalakannya.


Keanu sudah terbiasa merokok, dan itu ia lakukan saat pikirannya sedang kacau, sebagai penenang diri.

__ADS_1


Hisapan demi hisapan mengeluarkan asap yang membuatnya lebih releks. Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang terbatuk, sontak saja Ia menolah kan kepalanya.


Dia membelakan mata, Nafasnya seakan terhenti, bahkan rokok yang saat ini ada di mulutnya pun terjatuh begitu saja, ketika melihat seseorang yang saat ini juga sedang menatap kearahnya. Pertemuan dua pasang mata yang tak terelakan lagi, saling menatap, seolah sedang saling bertanya.


...※※※※...


Aura duduk di tepi ranjang pengantinnya, diliriknya jam yang menggantung di dinding tepat di depannya, Rupanya sudha larut malam, namun dia masih saja sendiri di dalam kamarnya, menunggu kedatangan Kenzo, namun dirinya ragu bahwa Kenzo akan mendatanginya di malam pertama mereka.


karena malam semakin larut, Sementara Aura masih berbalut gaunnya. Diapun menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, menyudahi dari menunggu Kenzo yang entah akan datang atau tidak.


Benar saja, Kenzo tak kunjung datang, meski Aura sudah berlama-lama di kamar mandi. Bukan ini yang di harapkan dalam perjalanan rumah tangganya. Di tolak, di abaikan bahkan tidak di harapkan. Aura memegangi dadanya yang terasa sakit.


Meski dirinyapun tidak setuju dengan perjodohan ini, setidaknya Kenzo tetap datang dan mendiskusikan bagaimana hubungan mereka kedepannya. Bukan menghilang dan hanya memberi harapan.


Aura berharap walaupun pernikahan ini di dasari dari keterpaksaan, tapi ada sedikit letulusan di dalamnya.


Tak terasa air matanya menetes, membasahi pipinya. Meratapi ketidak bahagiaan dalam awal pernikahannya.


"Mengapa harus seperti ini? ibu tolong Aura!"


Dikala sedih, aura selalu saja mengingat ibunya, karena dulu sewaktu masih bersama ibunya, aura tidak pernah mengalami kesedihan apapun.


Angin malam berhembus mengeringkan pipi Aura yang basah, seolah memberi semangat untuknya, menyudahi tangisannya. Menemani kesendirianya.


Tiba-tiba Aura terbatuk, menghirup asap rokok yang entah dari mana asalnya. Aura mencari asal dari asap roko tersebut. Dan dia melihat seorang lelaki tengah bersandar di pagar balkon dengan menyesap rokoknya, bahkan dia terlihat sangat menikmati rokonya, sebab matanya terpejam setiapkali menyesap,dan mengembuskan asapnya.


Lelaki itu menolah dan menatap tajam kearahnya. Aura terpaku saat kedua pasang mata saling menatap. Debaran jantung yang semakin cepat. keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Keanu, apa kabar kamu? Banyak yang ingin aku tanyakan, Bagaiman caranya aku memenuhi rasa keingintahuanku selama ini?" Ucapnya dalam hati.


Aura selalu terlihat baik-baik saja, dari awal dia melihat photo Keanu bersama Diana, sampai photo mereka menikah. Namun dalam hatinya selalu mempertanyakan mengapa semua ini terjadi? Mengapa Keanu tega berbuat seperti itu? Petanyaan-pertanyaan itu selalu terulang setiap Aura kembali mengingat Keanu, jika ini terus di pendam maka selama itu pula Aura akan terus merasa tersakiti.


Tiba-tiba Diana datang menghampiri Keanu, sontak saja Aura menggeserkan tubuhnya bersembunyi di balik dinding. Entah apa yang membuat Aura harus bersembunyi, padahal tidak ada yang salah atas sikapnya.


Bunyi suara pintu kamar terbuka, Siapa lagi yang akan masuk kecuali suaminya. Aura pun bergegas masuk kembali dan menutup pintu balkon.


"Jangan berharap apapun dariku malam ini!"


Ucap Kenzo sangat menusuk di hati. Aura benar-benar telah di tolak di malam pertamanya.

__ADS_1


Kenzo mengambil handuknya dan masuk kedalam kamar mandi.


Auta terduduk di kasur, setelah mendengar ucapan Kenzo. Kembali memegangi dadanya yang semakin sakit, akibat perbuatan kaka-beradik itu.


Aura mengganti pakaiannya, kemudian dia keluar dari kamar pengantinya menuju lobi hotel, dia memdatangi resepsionis untuk memesan kamar lagi untuknya tidur. Dia tidak ingin berada satu kamar dengan lelaki yang memang tidak menginginkannya.


...※※※※...


Kenzo keluar dari kamar mandi dan melihat Aura sudah tidak ada di dalam kamar. dimencari ke balkon,sebab terakhir kali Aura berada di sana, namun di sana tidak ada siapapun.


"Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Ah... biarkan saja, nanti pasti kembali lagi." Ucap kenzo menyudahi pencariannya dan melanjutkan untuk tidur.


Cukup lama Kenzo tidur, namun dia harus terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Dia pun bangun untuk mengambil segelas air putih. diliriknya jam di ponselnya, waktu menujukan pukul 3 dini hari, dan Aura belum juga berada di kamarnya.


Kenzo menarik rambutnya, kesal. Harus mencari Aura kemana, sedangkan ponselnya tertinggal di kamar.


"Arrghh... menyusahkan saja." Ucapnya Kesal.


Dia harus segera menemukan Aura, karena tiga jam lagi dia harus segera meninggalkan hotel menuju bandara, bagaimana jika nanti orang tuanya tahu bahwa Aura menghilang, pasti Kenzo akan kena getahnya.


Kenoz berlari menuju resepsionis untuk menanyakan Aura.


"Kalian lihat istri saya keluar hotel ini?" Tanya Kenzo terdengar konyol, bagaimana mungkin seorang suami bertanya kepada orang asing tentang istrinya.


"Maksud anda ibu Aura? Kebetulan semalam ibu Aura memesan kamar tambahan."


"Berikan saya kuncinya!" Pinta Kenzo


"Silahkan pak!"


Kenzo pun langsung berlari menuju kamar yang dimaksud. Dan dengan perlahan Kenzo membuka pintu dan masuk kedalam kamar.


Lalu dia melihat Aura yang sedang tertidur sangat nyenyak.


"Uh... rupanya kamu disini. konyol sekali." Ucap Kenzo menyeringai.


Lega karena dirinya sudah menemukan Aura, yang ternyata tidak pergi jauh. diapun ingin melanjutkan tidurnya, masiha ada wakktu sebelum mereka berangkat ke bandara.


Karena tidak mungkin untuknya tidur di atas kasur yang sama dengan Aura, diapun memilih untuk tidur di sofa di kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2