
Pagi hari di musim panas sudah membuat Aura kegerahan, untung saja ada AC yang selalu ia nyalakan sepanjang hari. Cuaca seperti ini yang membuat Aura ingin segera pulang ke negara tercinta dan berjumpa dengan pria yang juga ia cintai.
Sebelum menemui Seteven, Aura akan mampir ke dokter kandungan yang kemarin sudah membuat jadwal bersama dengan Aura.
"Kamu jadi bertemu dengan dokter Joan?" Tanya Jasmine, ketika Aura datang untuk sarapan.
"Jadi mam, tapi aku sedikit takut." Jawab Aura *******-***** jari jemrinya.
Dari wajahnya sangat terlihat bahwa Aura merasa cemas. Dia tak berani berharap terlalu tinggi untuk hasil dari pemeriksaan yang akan ia jalani, karena dia tidak ingin merasa kecewa lagi.
"Aku berangkat dulu mam, doakan semoga hasilnya bagus." Ucap Aura mencium kedua pipi jasmin.
Aura pun berangkat dengan mengendarai mobilnya, untuk menenangkan hatinya yang tegang, Aura menyalakan musik di dalam mobilnya, sampai suara telphon masuk dan membuat Aura mematikan meski dan menerima telphon yang ternyata dari Seteven.
"Pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Aura begitu mengangkat telphonnya.
"Kamu dimana?" Tanya Seteven gusar.
Aura menautkan kedua alisnya, karena jadwalnya bertemu Seteven masih beberapa jam lagi.
"Saya di jalan xxx, ada apa pak?" Tanya Aura lagi.
"Kebetulan. Jemput saya di hotel xxx, saya tunggu di depan lobi." Ucap Seteven menyebutkan satu nama hotel yang kebetulan Aurapun akan lewat kedepan hotel tersebut.
"Tapi pak...." Ucap Aura terpotong karena Seteven sudah menutup panggilannya.
Aarrgghhh....
Aura kesal harinya sudah di ganggu Seteven, iapun kemudian melihat jam di pergelangan tangannya, masih ada beberapa menit sebelum bertemu dengan dokter joan.
__ADS_1
Aurapun membelokan setirnya masuk ke kawasan Hotel dan berhenti tepat di depan pintu lobi hotel.
"Di hotel sepagi ini..." Keluh Aura. Aura sudah terbiasa dengan kehidupan malam rekan bisnisnya itu. kini dia hanya bisa memakluminya.
Aura tak perlu turun dari mobil dan mencari Seteven, karena dia sedang berjalan mendekat.
"Kamu datang tepat waktu. Sekarang antar saya pulang." Pinta Seteven begitu masuk dan duduk di kursi samping Aura.
"Tidak bisa, saya ada jadwal bertemu dokter, dengan terpaksa anda akan ikut saya." Ucap Aura mulai menginjak pedal gas dan meninggalkan hotel.
"Baiklah, saya ikut, setelah itu antar saya pulang." Jawab Seteven setuju.
Mereka pun telah sampai di depan rumah sakit khusus untuk ibu dan anak. Aura keluar dari mobilnya dan masuk kedalam untuk menemui dokter.
Seteven terheran-heran, dengan tujuan Aura datang menemui dokter kandungan, namun ia tak banyak bertanya hanya terus mengekori Aura.
"Anda mau kemana?" Cegah Aura saat dirinya hendak masuk keuangan dokter untuk pemeriksaan.
Aura berdecih, karena Seteven terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya. Namun dia juga tak bisa berbuat apapun, akhinya membiarkan Seteven untuk turut masuk dan menemaninya menjalani pemeriksaan.
"Pagi dok!" Sapa Aura lalu duduk di kursi depan meja dokter.
"Pagi, saya sudah melihat riwayat pengobatan anda. Apa ada yang anda rasakan akhir-akhir ini?" Tanya dokter Joan.
"Beberapa hari ini saya sering merasa mual, apa lagi di pagi hari." Jawab Aura.
Memang beberapa hari terakhir ini Aura merasakan tak enak di perutnya dan itu hanya terjadi di pagi hari.
"Baik silahkan berbaring!" Ucap Dokter menggiring Aura menuju ranjang untuk di periksa.
__ADS_1
"Kita mulai dari USG terlebih dahulu, nanti di lanjut dengan cek darah dll." Ucap Dokter mulai meletakan alat USG di perut Aura.
Dokter Joan melihat sesuatu di layar, dia melihat kantung di perut Aura yang sudah terisi, Namun karena melihat riwayat Aura sebelumnya, membuatnya cukup lama berada di perut Aura.
"Baiklah, sudah selesai."Ucap Dokter Joan, yang kemudian Aura bangun dan kembali duduk di kursi menunggu penjelasan dari sang Dokter.
"Selamat anda sedang mengandung. Namun kita harus lihat perkembangan kedepannya." Ucap Joan penuh senyum.
Namun berbeda dengan Aura, dia sangat terkejut dengan ucapan dokter. Kemudian Aura menoleh menatap Seteven tajam.
"Ada apa?" Tanya Seteven bingung mengartikan tatapan tajam Aura.
"Hari itu, anda tidak melakukannya 'kan?" Tanya Aura tergagap.
Seteven sama sekali tak mengerti dengan apa yang di bicarakan Aura.
"Maaf dok kami permisi dulu!" Pamit Seteven yang kemudian menarik tangan Aura untuk keluar dari ruangan dokter.
"Hei, ada apa dengan kamu?" Tanya Seteven mencoba mengguncang tubuh Aura yang masih syock setelah mendengar ucapan dokter Joan.
"Hari dimana kita bertemu. Aku mabuk, tidak terjadi apapun kan? anda tidak melakukan yang biasa anda lakukan kepada wanita-wanita lainnya 'kan?"
"Oh my god." Ucap Seteven mengacak rambutnya.
"Jawab Pak!" Teriak Aura frustasi. Dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Seteven menggelengkan kepalnya, dia berusaha mengingat apa yang terjadi di hari itu bersama Aura, setelah menggendong Aura kemudian di baringkannya di atas ranjang, setelah itu dia tidak mengingat apapun. Selain meletakan surat perjanjian dan memanggil beberapa pelayan menunggu Aura sampai terbangun.
Namun mengingat sifatnya yang sering bermain dengan wanita, ada kemungkinan dirinya yang setengah mabuk itu melakukannya juga kepada Aura.
__ADS_1
"Aku tidak mengingatnya!" Jawab Seteven kemudian dengan suara melemah.
Mendengar jawaban Seteven membuat Air mata Aura lolos membasahi pipinya, Lalu duduk berjongkok memeluk kedua lutunya.