
Setelah 10 menit perang di Ibukota Wock berlangsung, wajah Elos menjadi sedikit suram sebab pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka masih mencoba melawan dengan sangat keras kepala, oleh karena itu semakin banyak korban yang berjatuhan di perang ini.
Walaupun sebagian besar korban di pihak Elos hanyalah mayat hidup, tapi Elos masih merasa tidak senang terhadap pasukan mayat hidupnya yang terus berkurang.
"Zeyi, apa yang terjadi? Kenapa pasukan kita belum berhasil menjatuhkan musuh?", tanya Elos kepada Zeyi yang bertugas untuk mengelola seluruh pasukan, lagipula medan perang ribuan ini terlalu luas yang membuat Elos tidak bisa mengamati seluruh medan perang sendirian.
Mendengar panggilan Elos, Zeyi sedikit berkeringat "Tuan Elos, jika semuanya berjalan seperti rencana sebelumnya maka 5 menit sudah jauh lebih cukup untuk menjatuhkan Ibukota Wock. Tetapi dengan keberadaan pahlawan maka semangat pasukan musuh yang rendah meningkat lagi, mereka terus menahan pasukan kita dengan keras kepala".
"Ternyata semua ini karena tindakan pahlawan", kata Elos sambil mengangguk "Lalu bagaimana keadaan Tiamat? Ini sudah lebih dari 5 menit, apakah ia sudah menjatuhkan petarung rank 3 milik Duke Wock?".
"Tuan, Tiamat seharusnya sudah membunuh Pagir yang merupakan prajurit terkuat Duke Wock, namun Pagir tiba-tiba melarikan diri di tengah pertarungan yang membuat Tiamat mengejarnya tanpa memberi Pagir kesempatan untuk melengkapi diri. Menurut Tiamat, ia membutuhkan waktu sekitar 5 menit lagi, gerakan Pagir terlalu gesit yang membuat Tiamat sulit menangkapnya", lapor Zeyi.
Elos merasa bahwa dirinya mungkin terlalu meremehkan Duke Wock, beberapa pengikut Duke Wock benar-benar bisa menahan Tiamat, Kronev, Sloth dan Greed. Meskipun para pengikut Elos yakin bisa menang, tapi mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengalahkan musuh mereka.
"Elos, apakah aku harus bertindak sendiri? Apabila aku bertindak maka kita mungkin bisa menang lebih cepat", kata Riona yang memberikan saran ke Elos.
Elos berpikir sebentar sebelum menggelengkan kepalanya "Tidak perlu, kau akan terus mengikuti ku, kali ini aku akan turun tangan sediri untuk menyelesaikan perang ini lebih cepat. Bukankah Honret dan Tiamat sebelumnya sama sekali tidak cukup untuk mengetes kemajuan kekuatanku? Kalau begitu aku akan menjadikan seluruh pasukan di Ibukota Wock untuk mengetesnya!".
Tanpa menunggu lagi, Elos berjalan maju hingga berdiri beberapa ratus meter dari tembok Ibukota Wock bersama Riona dan Zeyi yang mengikuti dari belakang, mereka mengikuti Elos untuk menjaganya apabila ada seseorang yang mencoba menyerang Elos.
Baik itu pasukan Elos ataupun musuh langsung menghentikan gerakan mereka dan melihat Elos, bagaimanapun kemunculan Elos secara tiba-tiba di medan perang sangat mengejutkan mereka.
"Elos!", teriak Serun yang ada di tembok kota dengan dingin, ia sekarang sangat membenci Elos yang mencoba berkembang melebihi dirinya yang merupakan pahlawan.
Elos todak menanggapi teriakan dingin Serun, di mata Elos maka Serun yang sekarang sama sekali bukan lawannya.
Perlahan-lahan, Elos mengulurkan tangannya ke depan, ada kegelapan yang sangat dingin terlihat melalui 2 mata kosong milik Elos "Ruler of Death".
__ADS_1
Bersamaan dengan perkataan Elos, cuaca di sekitar berubah menjadi dingin, bahkan awan gelap menutupi seluruh langit yang memberikan rasa takut ke banyak orang.
Baik itu hewan atau monster yang ada di sekitar Ibukota Wock merasakan takut ketika Elos memakai kemampuan Ruler of Death, mereka berusaha menjauh dari tempat ini secepat mungkin.
Seluruh tubuh tengkorak milik Elos ditutupi oleh kegelapan yang sangat dingin sampai menusuk tulang setiap orang di sekitarnya, setelah itu aura kegelapan tersebut menyebar ke arah tembok Ibukota Wock, tempat dimana pasukan Duke Wock sedang berjaga.
Beberapa penyihir angin milik Duke Wock mulai merapal mantra mereka untuk membersihkan aura hitam Elos, tapi sihir angin para penyihir segera terserap saat mengenai aura hitam Elos.
Aura hitam milik Elos menyebar ke seluruh bagian atas tembok kota, lalu sesuatu yang mengejutkan terjadi di depan mata semua orang.
"Aaaaa!", seorang prajurit Duke Elos tiba-tiba berteriak yang membuat semua pasukan yang lain menatap ke arah asal suara itu.
Di bawah mata semua orang, mereka menemukan bahwa seorang prajurit meleleh akibat aura hitam Elos, baik kulit ataupun tulang mereka meleleh saat terkena aura hitam Elos.
"Sakit! Sakit! Bantu aku! Penyembuh! Dimana penyembuh!", teriak prajurit yang meleleh tersebut mencari bantuan dari para prajurit di sekitarnya.
Tidak hanya 1 prajurit yang mengalami hal tersebut, hampir setengah dari pasukan Duke Wock yang ada di atas tembok kota mulai meleleh.
"Serun, bantu aku! Tubuhku meleleh! Cepat lakukan sesuatu sebelum tubuhku meleleh sepenuhnya!", teriak seorang murid yang juga berasal dari dunia lain seperti Serun, tapi ia tidak cukup beruntung sebab tubuhnya terkena aura hitam milik Elos.
Wajah Serun menjadi kosong, ia belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya yang membuat Serun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan bodoh "Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak tahu cara menghilangkan kutukan ini--".
Sebelum Serun berbicara lagi, murid yang meleleh itu menarik pakaian Serun "Bukanlah kau pahlawan? Kami bahkan selalu mengikuti mu semua kesombongan mu, lalu kenapa kau menjadi tidak bisa sekarang? Bukankah kau pahlawan yang bisa melakukan semuanya, cepat bantu aku--".
Tubuh murid tersebut meleleh sepenuhnya tanpa bisa menyelesaikan kata-katanya kepada Serun.
Melihat semua kejadian ini, Serun tidak bisa menahan diri lagi dan langsung muntah, bukan hanya Serun melainkan seluruh murid dari dunia lain ikut muntah.
__ADS_1
Mereka sebelumnya masih menganggap ini seperti game dimana jika mereka mengikuti sang pahlawan maka mereka bisa menang, lalu mereka bisa hidup lagi setelah mati seperti yang ada di game.
Namun kematian 1 rekan mereka kali ini membuka mata mereka bahwa semua ini bukan game, mereka benar-benar bisa mati disini.
Oleh karena itu mereka semua muntah dan menjadi ketakutan, mereka takut akan kematian.
"Aku tidak tahan lagi, aku pergi dari sini!", teriak seorang murid yang melarikan diri.
Murid yang lain saling menatap sebelum berbalik, mereka yang sudah sangat takut atas kematian memutuskan untuk melarikan diri.
"Kalian, tunggu aku! Kakiku tidak bisa bergerak! Kenapa kalian semua pergi tanpa aku?", teriak Serun yang seluruh kakinya sudah bergetar hingga tidak bisa berdiri lagi.
Tidak ada seorangpun yang mendengarkan Serun, mereka semua melarikan diri.
Serun menemukan Gisha yang mencoba melarikan diri juga, jadi ia memeluk kaki Gisha dengan wajah menyedihkan "Gisha, kau pasti tidak akan meninggalkanku bukan? Kau tidak seperti teman-teman sekelas yang lain kan?".
Gisha menatap Serun yang memeluk kakinya dengan dingin, ia menendang wajah Serun tanpa ragu "Lepaskan, lepaskan kakiku dasar beban! Apakah kau pikir sekarang kau masih pahlawan yang tidak terkalahkan? Lihat dirimu baik-baik, jika bukan karena kami menganggap mu akan selalu menang maka kami pasti tidak akan mengikuti mu setiap harinya seperti orang bodoh! Lepaskan kakiku! Kau bisa mati meleleh, dasar tidak berguna".
Setelah menendang Serun sampai melepaskan kakinya, Gisha ikut melarikan diri dari tempat ini.
Wajah Serun yang berbaring di tanah menjadi kosong, ia merasa dirinya sudah terbangun dari mimpi.
Di mimpi itu ia seperti dewa yang tidak terkalahkan di atas langit, tapi ia sekarang sudah terbangun untuk menyadari bahwa dirinya hanyalah katak di dasar sumur.
Dengan sekali serangan Elos, hampir semua pasukan Duke Wock meleleh hingga mati, ribuan orang mati sangat kejam hanya dengan sekali serangan dari Elos.
Sejak hari ini, maka Elos ditakdirkan mendapatkan julukan baru selain Tiran Elos, orang-orang mulai menyebut dirinya sebagai Elos sang Pembawa Kematian.
__ADS_1