AKU MENJADI TENGKORAK DI DUNIA LAIN DENGAN PEKERJAAN TUAN LABIRIN.

AKU MENJADI TENGKORAK DI DUNIA LAIN DENGAN PEKERJAAN TUAN LABIRIN.
BAB 269 : BOLA API


__ADS_3

Setelah menjatuhkan Witer, Luri melambaikan tangannya sehingga angin yang sangat kuat muncul di belakangnya dan menghentikan api serta racun yang ditembakkan oleh 3 kepala naga Tiamat.


Baik itu Tiamat ataupun Witer sangat terkejut, mereka pernah melawan musuh yang kuat sebelumnya tapi mereka tidak pernah melawan sosok yang sekuat ini hingga dengan mudah menahan serangan mereka.


Bahkan Witer sekarang sama sekali tidak bisa bergerak sebab tongkat sihir milik Luri menahannya, mungkin lebih tepat mengatakan bahwa kekuatan Luri menekan dirinya hingga tidak bisa bergerak.


"Witer, kau memang kuat namun sebelum bertarung maka kau harus memakai kepalamu, jangan asal maju yang membuat rekanmu kerepotan", kata Luri dengan lembut, berdasarkan suaranya maka Luri sama sekali tidak mengejek melainkan benar-benar mengajari Witer.


"Sedangkan untuk Tiamat, kau memang memakai kecerdasan serta kekuatanmu, namun kau terlalu berhati-hati. Ketika menyerang musuh mu maka kau tidak boleh ragu, seperti ini!", kata Luri yang mengambil sebuah batu di tangannya dan melemparkan batu tersebut menuju Tiamat.


"Brak!".


Tiamat sama sekali tidak bisa melihat gerakan batu yang dilempar tersebut sebab terlalu cepat, ketika Tiamat sadar maka sudah ada lubang besar pada sayapnya akibat tabrakan batu tersebut.


Dengan luka besar pada sayapnya, Tiamat hanya bisa mendarat di tanah dengan keras, ia tidak bisa mempertahankan keseimbangan saat sedang terbang jika memiliki luka sebesar itu.


Walaupun luka pada sayap Tiamat mulai pulih, Tiamat sudah sangat ketakutan karena Luri hanya mengambil sebuah batu secara sembarangan dan membuatnya terluka seperti ini. Apabila Luri melempar batu tersebut menuju jantungnya, maka ia pasti sudah mati.


"Kau juga terlalu takut, bagaimana mungkin serangan seperti itu sudah membuatmu takut?", kata Luri menggelengkan kepalanya "Aku dengar bahwa kau masih seekor naga anak kecil, namun kau tiba-tiba menjadi besar serta kuat karena peningkatan dari Elos. Karena semua hal itu, maka kau memiliki kekuatan yang kuat tapi jiwa yang masih lemah. Nampaknya semua hal itu benar".


"Jangan remehkan kami!", teriak Witer yang akhirnya memakai kekuatan sucinya.


Kekuatan suci meledak dari tubuh Witer yang berubah menjadi jarum-jarum cahaya kecil, jarum itu bergerak dengan cepat menuju Luri untuk menusuknya.

__ADS_1


Luri melompat mundur tanpa ragu, bersamaan dengan itu maka Luri memukul semua Harun berkekuatan suci ini memakai tongkat sihirnya hingga menghilang tanpa jejak.


Hilangnya tongkat sihir Luri yang menekannya, Witer kembali bisa berdiri dan berteriak "Tiamat, jangan takut! Kita tidak bisa mengecewakan tuan, apakah kau lupa tujuan kita datang kesini? Kalau kau masih takut maka aku sarankan untuk pergi disini, keberadaan yang takut hanya menjadi beban untukku".


Tiamat kembali sadar, ia melihat ke arah Witer tapi sekarang sudah ada sedikit kekaguman di wajahnya "Tuan mengatakan bahwa aku adalah pemimpin dari kelompok ini, namun aku merasa bahwa gelar pemimpin itu lebih cocok untukmu! Setidaknya orang yang berani dan tegas seperti itu cocok untuk menjadi pemimpinnya".


"Tidak, aku sama sekali tidak cocok! Aku tidak bagus dengan kecerdasan serta aku selalu bertindak sembarangan. Pada akhirnya orang sepertimu yang cocok menjadi pemimpinnya, Tiamat! Untuk mengalahkan Luri ini maka aku membutuhkan dukungan darimu, apakah kau tidak keberatan untuk membantuku lagi, pemimpin?", kata Witer.


Tiamat mengangguk tanpa ragu "Kau bisa maju tanpa khawatir, aku akan memberikan dukungan dari belakang!".


Luri bertepuk tangan mendengarkan percakapan Witer dan Tiamat "Benar-benar semangat yang bagus, kalian membuatku tersentuh!".


"Kalau kau tersentuh, kenapa tidak kau memakai sihirmu untuk melawan kami!", teriak Witer yang melangkah maju lagi menuju Luri.


"Bukankah sudah jelas? Kalian bisa mati ketika aku sudah memakai 1 sihir sekalipun!", kata Luri yang memukul kepala Witer lagi.


Berbeda dari sebelumnya, Witer kali ini dilindungi oleh kekuatan suci sehingga ia tidak jatuh ke tanah secara langsung.


Menahan pukulan tongkat di kepalanya, Witer membuka mulutnya untuk membentuk sebuah bola berkekuatan suci dan menembakkannya menuju Luri.


Tiamat di belakang juga tidak membuang waktu, ia menembakkan api yang sangat kuat dari mulutnya.


Melihat serangan itu, Luri berlari ke samping untuk menghindar, namun Witer tidak memberi waktu Luri untuk bersiap-siap lagi.

__ADS_1


Witer segera mengejar Luri sambil terus menebas memakai cakarnya yang memiliki kekuatan suci, saat Luri berhasil melarikan diri maka ia langsung dihadapkan oleh kekuatan api Tiamat sehingga ia tidak memiliki waktu sedikitpun untuk menyerang balik.


Saat Luri terus menghindar di bawah serangan cakarnya, Witer berkata sambil tersenyum mengejek "Ada apa? Kenapa kau terus menghindar? Apakah kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi? Dimana sikap sombong mu barusan yang mengatakan kami akan mati selama kau memakai sihir, kenapa kau tidak mencoba sekarang dan menunjukkan kepada kami apakah itu semua benar atau kau hanya seorang penipu yang membawa tongkat sihir padahal tidak bisa memakai sihir".


Luri yang terus menghindari setiap cakaran dan tembakan api ke arah dirinya sedikit tersenyum "Apakah kau mencoba membuatku marah agar aku memakai sihir ku? Sebenarnya hal itu sama sekali tidak bisa membuatku marah, namun karena kau sangat tertarik untuk melihat sihir ku maka biarkan aku menunjukkannya kepada kalian sedikit".


Bersamaan dengan itu, Luri terbang ke atas langit sambil mengangkat tongkatnya "Aku akan memakai sihir ku sekarang, lebih baik kalian sedikit berhati-hati. Tapi tidak perlu khawatir, aku pasti menahan kekuatanku agar kalian tidak mati".


"Bukankah kau terlalu sombong? Kalau begitu aku akan memakai kemampuan terkuat ku juga!", kata Witer yang mengumpulkan bola cahaya di mulutnya.


Kekuatan cahaya terus berkumpul di mulut Witer, siapapun yang melihat bola cahaya itu pasti tahu seberapa menakutkannya kekuatan tersebut.


Di sisi lain, Tiamat membuka mulutnya juga.


2 kepala membentuk api di mulut mereka sedangkan 1 kepala yang lain membentuk asap beracun. Berbeda dari serangan-serangan sebelumnya, kali ini Tiamat memakai kekuatan penuhnya juga.


Luri mengangkat tombaknya sambil berkata "Bola Api".


Mendengar perkataan Luri, Witer yang sudah hampir selesai menyiapkan kekuatan bola cahayanya tersenyum mengejek "Sihir bola api? Kau pikir bisa mengalahkan kami memakai sihir pemula seperti itu? Tidak ada salahnya meremehkan musuh yang lebih lemah darimu, namun jika kau terlalu meremehkannya maka kau pasti menyesal!".


Witer menembakkan bola cahaya putih dari mulutnya tanpa ragu, di waktu yang sama maka Tiamat menembakkan api serta asap beracun yang sangat kuat dari 3 kepala naga miliknya.


Selama seseorang terkena serangan gabungan dari Witer dan Tiamat ini, maka Zamir sekalipun belum tentu bisa bertahan.

__ADS_1


__ADS_2