
Jirsa menarik nafasnya dan berkata dengan lembut "Wind Step".
Setelah mengatakan hal tersebut, sosok Jirsa segera menghilang dari tempat ia berdiri sebelumnya. Daripada menghilang, lebih tepatnya Jirsa memakai kemampuannya yaitu langkah angin yang membuat ia bisa berlari secepat angin.
Melihat sosok Jirsa yang bergerak ke arahnya dengan cepat, Lumina sama sekali tidak panik. Ia menebas pedangnya ke arah depan "Ice Empress".
Perlahan-lahan jarum es muncul dari tanah dan menusuk ke arah Jirsa.
Merasakan perasaan krisis yang mendekat, Jirsa melompat sedetik lebih awal yang membuat ia berhasil menghindari jarum es yang muncul dari lantai es buatan Lumina.
Sosok Jirsa melompat ke arah Lumina, saat tubuhnya berada di udara maka Jirsa memutar tubuhnya dan menebas ke arah Lumina "Fire Sword!".
Api menutupi seluruh pedang Jirsa yang membuat sebagian es di sekitarnya meleleh, ketika dirinya sudah hampir mendarat tepat di depan Lumina maka ia menebas pedang tersebut ke ara Lumina.
Lumina ikut menebas ke arah pedang Jirsa, di saat bersamaan maka pedang milik Lumina ikut ditutupi oleh es.
"Sssss!".
Suara mendesis terdengar akibat es dan api yang saling bertabrakan, 2 kekuatan yang saling berlawanan itu mulai menghasilkan asap putih akibat air yang menguap oleh api.
Kekuatan 2 orang itu hampir sama, oleh karena itu Lumina memakai tangannya yang lain untuk memukul ke arah Jirsa "Water Empress".
Tangan Lumina yang mencoba memukul Jirsa ditutupi oleh air, kekuatan menakutkan yang tidak kalah dari es miliknya bisa dirasakan dari kumpulan air tersebut.
"Brak!".
Jirsa sama sekali tidak siap terhadap pukulan Lumina yang tiba-tiba ini, lebih tepatnya ia tidak pernah berpikir bahwa Lumina masih memiliki kemampuan lain yang tidak kalah kuat dari Ice Empress.
__ADS_1
Jadi pukulan Lumina tepat memukul perut Jirsa, ia memuntahkan seteguk darah sebelum terlempar sejauh 5 meter akibat pukulan tersebut.
"Kapten Jirsa!', teriak para prajurit Jirsa dengan panik, bagaimanapun mereka sudah berperang bersama selama puluhan tahun sehingga mereka sudah seperti keluarga. Hal ini membuat para prajurit ini menjadi marah pada Lumina yang memukul Jirsa.
Beberapa prajurit segera mengambil pedang mereka serta melompat ke daratan es untuk membantu Jirsa, namun Jirsa yang jatuh kembali berdiri dan mengangkat tangannya untuk menghentikan para prajurit yang berusaha membantunya.
"Apakah kalian bodoh? Ini adalah pertarungan para pemimpin, meskipun aku mati sekalipun maka kalian tidak boleh membantuku! Jika kalian membantuku maka itu akan membuat orang-orang menganggap Kerajaan Ray kita dipenuhi prajurit penakut, jangan lupakan kehormatan prajurit milik kalian, ini merupakan pertarungan para pemimpin!", teriak Jirsa penuh ketegasan, ia mengambil kembali pedang miliknya dengan tangan yang gemetar.
"Kapten!", teriak para prajurit Jirsa dengan sedih, namun mereka tahu bahwa selama mereka tetap membantu Jirsa maka hal itu hanya membuatnya lebih marah "Rekan-rekan sekalian, kita mungkin tidak bisa membantu Kapten Jirsa tapi kita bisa menghancurkan seluruh kapal musuh! Hanya dengan cara itu maka kita bisa membantu kapten!".
"Jatuhkan kapal musuh!", teriak para pasukan Jirsa dengan mata yang dipenuhi tekad, meskipun posisi mereka lebih dirugikan akibat 250 kapal yang tidak bisa bergerak tapi hal itu tidak membuat semangat bertarung mereka hilang.
Lumina yang melihat semua itu tidak bisa untuk tidak berkata "Namamu Jirsa bukan? Baik itu dirimu dan para prajurit mu memang tidak terlalu kuat, tetapi aku bisa mengatakan dengan yakin bahwa kalian prajurit yang hebat. Apa yang paling penting bagi seorang prajurit bukanlah kekuatan mereka, melainkan kesetiaan. Aku akan memberimu 1 serangan lagi untuk membunuhmu, aku pastikan kau tidak akan merasa sakit sedikitpun sebagai bentuk penghargaan ku atas kesetiaan kalian".
Jirsa tersenyum pahit, ia mengangkat pedangnya lagi "Terima kasih, Nona Lumina, aku juga menghargai mu baik dari segi kekuatan ataupun kesetiaan. Tuan Labirin Elos sangat beruntung bisa memiliki prajurit seperti dirimu".
"Ice and Water Empress", bersamaan dengan perkataan itu maka sosok Lumina menghilang dari tempat ia berdiri sebelumnya.
Gerakan Lumina terlalu cepat sampai-sampai Jirsa tidak bisa melihat bayangannya sedikitpun, tiba-tiba Lumina sudah muncul di depannya dengan sebuah pedang yang ditutupi oleh air dan es.
"Slash".
Tanpa disadari, Jirsa langsung merasa seluruh tubuhnya terbang. Di mata tidak mengerti miliknya, Jirsa melihat sebuah tubuh tanpa kepala yang ada di depan Lumina.
Ketika menatap tubuh tanpa kepala itu, Jirsa menyadari bahwa itu tubuh miliknya, hal ini langsung membuat Jirsa mengerti bahwa Lumina menebas kepalanya hingga terbang ke langit.
Selain itu, Lumina membekukan semua sel yang ditebas, oleh karena itu Jirsa sama sekali tidak bisa merasakan sakit sedikitpun sampai ia menutup matanya dan mati.
__ADS_1
"Brak!".
Kepala Jirsa jatuh ke tanah, tidak ada sedikitpun darah yang berterbangan sebab Lumina sudah membekukan semua hal tersebut.
Setelah yakin bahwa Jirsa mati, Lumina menyimpan pedangnya dan berteriak "Seluruh pasukan, dengarkan aku! Tenggelamkan seluruh kapal musuh, jangan biarkan sebuah kapal pun melarikan diri! Kapten musuh, Jirsa sudah mati di bawah tanganku!".
Mendengar teriakan tersebut, para pasukan Jirsa tidak bisa menerimanya dan berpikir bahwa Lumina berusaha menipu mereka.
Tetapi ketika menemukan mayat Jirsa yang sudah tidak memiliki kepala lagi, mereka tahu bahwa Lumina tidak bohong.
Pasukan Jirsa sudah putus asa, di bawah tembakan tanpa henti dari pasukan Lumina maka semua kapal milik Jirsa pasti tenggelam hari ini.
Melihat semua yang terjadi, Lumina kembali ke Kapal Perang Sharfas "Pertarungan ini sudah berakhir, kita harus kembali secepat mungkin untuk membantu tuan. Walaupun ada Kronev di sana, namun tidak ada salahnya untuk bertindak hati-hati".
Arla dan awak kapal Lumia segera berteriak "Siap, Laksamana Lumina!".
Lumina mengangguk dan kembali duduk di kursinya, pertarungan menembak antara kapal ini sudah bukan pertarungannya lagi kecuali ada kapal musuh yang mencoba melarikan diri.
Kapten Jirsa, kapten pasukan elit ke 3 Kerajaan Ray, kapten angkatan laut terkuat ke 2 Kerajaan Ray, dan seorang prajurit rank 5 mati di medan perang lautan dekat Pulau Novus. Kapten Jirsa mati di bawah pedang Laksamana Lumina, prajurit khusus milik Tuan Labirin Elos.
...----------------...
Roum yang merupakan kapten lain dari pasukan elit ke 3 Kerajaan Ray sudah melabuhkan kapalnya di Pulau Novus.
100 kapal milik Roum tidak berlabuh pada dermaga Pulau Novus, Roum yakin ada banyak prajurit musuh yang pasti sudah menunggu mereka di sana. Oleh karena itu, Roum memutuskan untuk berlabuh pada pantai yang cukup tersembunyi di Pulau Novus ini.
Saat Roum baru mendarat di pasir pantai, sebuah firasat buruk muncul pada dirinya.
__ADS_1
Ia menatap ke arah laut penuh rasa khawatir "Kapten Jirsa, apakah ia bisa menghentikan kapal legendaris milik musuh?".