
Setelah menghancurkan 1 tornado api, Witer tidak berhenti sampai di situ. Ia mengangkat ke 2 cakarnya dan mulai menebas semua tornado api yang mendekat.
"Slash!".
Di bawah tatapan tidak percaya Perot, semua tornado api yang ia buat benar-benar hancur dengan mudah di bawah serangan cakar milik Witer. Bahkan Perot mulai bertanya-tanya apakah dirinya memang selemah itu? Bagaimanapun Perot tahu bahwa ia jauh lebih lemah daripada kekutan Witer, tapi tornado api itu merupakan bagian dari kemampuan terbaiknya, masalahnya dihadapan musuh maka kemampuan terbaiknya hancur dengan sekali tebasan cakar musuh.
Padahal bukan Perot yang terlalu lemah melainkan Witer yang terlalu kuat, serangan 1 tornado api milik Perot tadi sudah bisa menghancurkan sebuah kota tanpa masalah, namun tornado api itu tidak lebih dari angin yang sedikit lebih kuat di depan Witer.
Tanpa memberikan Perot lebih banyak waktu lagi, Witer berlari menuju Perot lalu mencakar nya.
Gerakan Witer terlalu cepat, ketika Perot menyadarinya maka Witer sudah ada di belakangnya dan menebas memakai cakar tajam tersebut.
Witer saat ini merasakan krisis hidup dan mati, lagipula ia sudah melihat sendiri seberapa menakutkannya cakar Witer yang bisa menghancurkan tornado apinya dengan mudah, selama cakar ini mengenai dirinya maka Perot hanya bisa mati.
Tidak membuang waktu sedikitpun,. Perot melompat ke samping untuk menghindari tebasan cakar itu.
"Slash!".
Cakar Witer hanya bisa menebas angin sebab Perot sudah menghindar.
Berhasil menghindar, Perot memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri kembali dan mulai melarikan diri. Selagi Witer masih baru gagal menebasnya dan terkejut, maka ini adalah kesempatan untuk melarikan diri.
Tetapi sebelum Perot bisa pergi lebih jauh, ia tiba-tiba merasa tubuhnya di tabrak oleh sesuatu.
"Brak!".
__ADS_1
Perot menemukan bahwa yang menabrak dirinya adalah kaki Witer, sekarang Witer sedang menatapnya dengan dingin "Apakah kau berpikir aku akan terkejut sebab kau berhasil menghindar? Jawabannya salah, aku sudah menyiapkan serangan lain jikalau bisa menghindari cakar milikku, bahkan apabila kau juga bisa menghindari serangan tendangan ini maka aku sudah menyiapkan serangan lagi agar kau tidak bisa melarikan diri. Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa sejak aku bertemu denganmu, maka kau tidak bisa pergi".
Tubuh Perot terbang sejauh ratusan meter sebelum menabrak tembok kota dengan keras, bahkan Perot mungkin terbang sejauh ribuan meter akibat tendangan tersebut.
Bagaimanapun istana terletak di tengah kota yang sangat jauh dari tembok kota, hal ini menunjukkan seberapa jauhnya Perot terlempar akibat tendangan Witer.
Perot memuntahkan seteguk darah, ia tidak tahu berapa banyak tulangnya yang sudah patah namun sebuah hal yang pasti yaitu seluruh tubuhnya sangat sakit.
Sebelum Perot bisa kembali sadar, sosok Witer sudah berlari ke arahnya dan melompat, Witer berencana untuk menebas Perot lagi memakai cakarnya.
Merasakan bahwa ia tidak bisa menghindari lagi, Perot berteriak marah "Jangan meremehkan ku, sebagai penerus terakhir tombak keluarga Gren sang pengguna tombak api terkuat, aku tidak bisa dikalahkan semudah itu! Bahkan aku akan membunuhmu!".
"Teknik Tombak Gren, Api membakar hidup!", teriak Perot dengan keras.
Kali ini api bukan muncul di tombak Perot melainkan di seluruh tubuhnya, Perot saat ini memakai teknik terkuat tombak keluarga Gren yaitu dimana ia bisa meningkatkan kekuatannya sebanyak 2 hingga 4 kali lipat dengan bantuan api di seluruh tubuhnya, namun sebagai gantinya maka api tersebut terus membakar hidupnya. Setiap 10 detik yang dihabiskan maka ia kehilangan 1 tahun hidupnya, ini adalah harga besar yang harus dibayarkan waktu memakai kemampuan ini.
Oleh karena itu, Perot yang sudah tidak merasa sakit lagi melompat dari tembok kota, ia melompat menuju ke arah Perot "Teknik Tombak Gren, Tombak Beruang Api".
Sosok berubah yang terbentuk dari api muncul di belakang Perot, beruang itu memiliki tinggi 10 meter serta memegang sebuah tombak api juga.
Ketika Perot mengangkat tombaknya, maka beruang di belakangnya ikut mengangkat tombak tersebut. Perot menebas menuju Witer tanpa ragu yang menyebabkan beruang api itu ikut menebas menuju Witer.
Sebenarnya Witer yang melompat cukup terkejut terhadap peningkatan kekuatan Perot yang tiba-tiba, jadi tombak itu langsung menabrak dirinya sebelum ia siap untuk menghindar.
"Brak".
__ADS_1
Tubuh raksasa Witer jatuh ke tanah dengan keras, asap putih akibat ledakan naik ke atas langit serta di area dimana Witer jatuh ditutupi oleh api.
Tidak diketahui seberapa banyak rumah yang hancur akibat jatuhnya Witer tersebut, tapi Perot tidak peduli apa yang terjadi di situ.
Api di tubuh Perot perlahan-lahan mulai menghilang bersama beruang api, ia bernafas dengan berat di atas langit, dapat dilihat bahwa ia sangat kelelahan memakai kekuatan tersebut. Bukan hanya kelelahan, ia terluka akibat serangan Witer sebelumnya dan waktu hidupnya juga ikut berkurang akibat memakai teknik tombak api terkuat dari keluarga Gren tersebut.
Perot menatap ke tempat dimana Witer jatuh sambil berkata "Bagaimana? Apakah berhasil? Bahkan dewa tingkat 2 sekalipun paling tidak harus terluka berat akibat serangan itu--".
Sebelum Perot bisa berbicara lebih banyak lagi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"Stab!".
Suara tusukan terdengar, tiba-tiba Perot merasa sakit dari tubuhnya, terutama bagian jantung.
Perot menundukkan kepalanya untuk menemukan bahwa jantungnya sudah hancur, lebih tepatnya ada sebuah lubang di bagian tubuhnya yang seharusnya merupakan lokasi jantung.
Berdasarkan luka di sekitar lubang tersebut, dapat terlihat bahwa lubang itu terbentuk akibat serangan yang sangat kuat serta memiliki kemampuan membakar yang kuat juga sebab ada luka bakar di sekitar lubang pada jantung Perot.
Perot memuntahkan seteguk darah lagi, sebelum ia mati maka Perot menetap ke arah Witer yang berdiri di tanah tempat dimana ia jatuh.
Setelah semua asap putih akibat ledakan menghilang, sosok Witer yang membuka mulutnya terlihat.
Pada mulut Witer yang terbuka, terdapat bola cahaya disana yang kemungkinan besar bola cahaya itu adalah sesuatu yang ditembakkan Witer untuk membakar jantungnya.
"Kau cukup hebat, setidaknya kau bisa membuatku memakai kemampuan suci milikku, padahal kau jauh lebih lemah dariku. Kau bisa bangga atas itu, nak!", kata Witer tegas, ia mengakui kekuatan Perot yang bisa membuatnya harus memakai kekuatan suci untuk mengalahkan Perot. Padahal awalnya Witer berpikir untuk mengalahkan Perot, maka kekuatan fisik sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Perot perlahan-lahan kehilangan kesadarannya dan jatuh ke tanah, dengan luka berat serta luka pada jantungnya maka Perot tidak bisa lagi bertahan hidup.
Perot pada akhirnya dikalahkan oleh serangan Witer.