AKU MENJADI TENGKORAK DI DUNIA LAIN DENGAN PEKERJAAN TUAN LABIRIN.

AKU MENJADI TENGKORAK DI DUNIA LAIN DENGAN PEKERJAAN TUAN LABIRIN.
BAB 150 : URMUR SUDAH MATI


__ADS_3

Di sebuah istana yang terletak jauh di antara hutan, lebih tepatnya istana ini terletak di sudut dunia tempat yang sangat jauh dari kehidupan, bahkan tidak ada seorangpun makhluk hidup lain yang ada di sekitar istana tersebut.


Saat ini di ruang utama istana, seorang pria dengan rambut emas pendek duduk di atas tahtanya sambil mengamati papan catur yang ada di depannya.


Pria ini sedang duduk sendirian di samping papan catur, hanya ada seorang pelayan yang merupakan pria tua dengan rambut yang sudah berubah menjadi putih, berdasarkan wajahnya maka ia sudah berusia sekitar 50 tahun ke atas.


Walaupun pria di depannya sedang bermain catur sendirian, pelayan itu sama sekali tidak menganggapnya sebagai orang aneh, ia hanya berdiri diam di belakangnya dengan hormat.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan ini terbuka dan sosok seorang pelayan wanita dengan rambut merah panjang muncul di ruangan ini.


Ia berjalan tanpa ragu ke depan pria yang sedang bermain catur sendirian, meskipun dirinya merupakan seorang pelayan tapi tindakan serta caranya berjalan terlihat sangat tidak sopan yang jauh berbeda dari pelayan.


Daripada seorang pelayan, wanita yang baru datang ini lebih mirip seorang prajurit.


Ia berdiri di depan pria yang bermain catur itu sebelum berkata "Tuan Torei, hasil pertemuan Tuan Labirin sudah diketahui, Urmur dan para Tuan Labirin yang lain sudah memutuskan untuk menyerang para dewa yang mengepung Labirin Fran".


"Apakah begitu? Informasinya tidak salah bukan, Halra?", kata Torei, pria yang bermain catur sendirian tersebut.


Halra yang merupakan pelayan wanita berambut merah itu menjawab tanpa ragu "Informasi ini aku dapatkan langsung dari para mata-mata yang bisa dipercaya, selain itu para mata-mata ini tidak saling mengenal sehingga tidak mungkin mereka bekerja sama untuk memberikan informasi palsu kepadaku. Untuk berjaga-jaga, aku juga sudah memastikannya sendiri".


Torei mengangguk, ia menggerakkan raja di pion putih ke arah kumpulan pion hitam yang membentuk pengepungan di atas papan catur. Lalu Torei menggerakkan kumpulan pion hitam untuk menjatuhkan raja pion putih ini, Torei menggelengkan kepalanya "Urmur sudah mati, ia melompat ke arah jebakan yang sudah disiapkan para dewa. Nampaknya Urmur memang sudah terlalu tua dan memiliki sifat yang terlalu baik, oleh karena itu ia gagal".

__ADS_1


Halra tidak terkejut terhadap perkataan Torei, bahkan ia sangat percaya tentang kebenaran tersebut sebab Torei di masa lalu sudah berkali-kali mengetahui hasil dari suatu peperangan sebelum perang itu di mulai, jadi kemungkinan besar Urmur pasti mati sesuai perkataan Torei.


"Tuan, apakah kita harus bertindak untuk membantu Urmur? Bagaimanapun hanya dirinya yang selama ini memiliki kemungkinan besar untuk mengalahkan para dewa", tanya Halra dengan hati-hati.


Torei menggelengkan kepalanya "Tidak perlu, hidup dan mati Urmur sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Ketika Urmur ini mati maka Urmur baru pasti muncul untuk melawan para dewa, meskipun kita juga berencana membunuh para dewa namun belum waktunya bagi kita untuk bergerak".


"Apakah kita masih menunggu orang yang tuan sebutkan dulu?", tanya Halra lagi.


Torei mengangguk tanpa ragu "Di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan para dewa, bahkan aku sekalipun. Tapi ada 1 orang yang memiliki kemungkinan bisa mengalahkannya, tugasku hanya menunggu sampai sosok itu tiba dan membantunya menang. Selama orang itu tidak pernah muncul, maka aku juga tidak akan bergerak".


Halra bertanya dengan ragu-ragu "Kalau begitu kenapa tuan tidak memberitahuku nama orang yang tuan tunggu? Aku mungkin bisa menemukannya dengan memakai mata-mata yang sudah aku sebar ke seluruh dunia".


"Tidak perlu mencarinya", kata Torei tapa ragu "Ketika ia cukup kuat maka aku pasti akan mendengarkan namanya".


Halra tiba-tiba mengingat sesuatu "Jika berbicara tentang orang kuat baru, aku mendengar bahwa ada bintang baru di antara Tuan Labirin. Meskipun ia belum cukup kuat sekarang, kekuatannya meningkat dengan kecepatan yang sangat menakutkan. Dari rank 9, ia bisa menjadi rank 4 hanya dengan waktu sekitar setahun".


"Sangat hebat", kata Torei yang berbaring di tahtanya dengan tidak peduli, menurutnya sebuah bintang baru sama sekali tidak bisa menarik perhatiannya.


"Nama anak itu-- Tunggu, ia adalah tengkorak sehingga cukup aneh untuk memanggilnya anak. Kalau tidak salah namanya adalah Foj, bukan! Namanya adalah Fjor, Fjor, aku ingat! Nama Tuan Labirin baru itu Fjorten Elos!", kata Halra berteriak senang sebab ia bisa mengingat nama Elos yang sudah ia lupakan sebelumnya.


Halra tidak mengingat nama Elos dari awa sebab ia sama seperti Torei, seorang bintang baru tidak bisa menarik perhatiannya yang membuat Halra tidak terlalu mengingat nama Elos.

__ADS_1


Tapi Torei yang sebelumnya berbaring di tahta miliknya langsung melompat, ia yang tadi terlihat tidak tertarik sekarang memiliki wajah yang sangat panik serta terkejut.


Torei memegang pundak Halra dan menatapnya dengan hati-hati "Halra, katakan! Katakan lagi nama anak itu!".


Halra sedikit terkejut sebab ia sudah lama tidak melihat Torei begitu bersemangat, terakhir kali Torei paling bersemangat yaitu ketika mereka berhadapan dengan dewa yang dijuluki sebagai ke 2 terkuat, Luri. Meskipun mereka tidak bisa menang saat itu, tapi mereka bisa melarikan diri hidup-hidup dari tangan Luri yang sudah menunjukkan kekuatan mereka.


"Namanya Fjorten Elos, aku yakin itu nama Tuan Labirin yang baru tersebut", kata Halra penuh keraguan sebab ia takut salah berbicara di depan Torei yang merupakan tuannya.


"Fjorten Elos? Tidak diragukan, itu namanya. Namun apakah nama mereka hanya kebetulan sama atau Tuan Labirin baru ini benar-benar orang yang sedang aku cari?", gumam Torei sambil berpikir.


Halra tidak bisa untuk tidak bertanya lagi "Tuan, apakah ada masalah? Mungkinkah Fjorten Elos ini adalah--".


Sebelum Halra bisa menyelesaikan perkataannya, Torei sudah berkata dengan tegas "Halra, siapkan semua yang dibutuhkan untuk perjalanan kita, kali ini aku akan pergi untuk mengamati medan perang kematian Urmur secara langsung. Aku tidak yakin apakah Tuan Labirin baru ini benar-benar Fjorten yang aku cari, tapi tidak ada salahnya untuk melihat".


Walaupun masih merasa bingung, Halra masih menerima tugas yang diberikan Torei "Aku mengerti tuan, aku akan membiarkan para penjaga terbaik kita untuk bersiap".


Setelah itu Halra meninggalkan ruangan secepat mungkin untuk melakukan tugasnya.


Ketika Halra pergi, Torei menatap ke arah pelayan tua yang selalu diam di belakangnya "Paman Tirus, aku akan menyerahkan benteng ini kepadamu, selama aku pergi maka kau memiliki kendali penuh tehadap benteng ini serta menjaganya".


Pelayan tua bernama Tirus itu membungkuk hormat "Jangan khawatir tuan, selama aku masih hidup maka tidak akan aku biarkan seorangpun menghancurkan benteng ini".

__ADS_1


Torei mengangguk, sebuah senyuman muncul di wajahnya "Akhirnya, kita akan lihat apakah Fjorten Elos ini benar-benar orang yang aku tunggu selama ini atau nama mereka hanya kebetulan sama!".


__ADS_2