
Setelah memastikan bahwa Perot benar-benar jatuh dan mati, Witer melangkah maju serta menggali tanah sebelum memakamkan tubuh Perot disana.
Menurut Witer, orang yang mati serta harus ia makamkan adalah rekan-rekannya atau musuh yang cukup kuat untuk bisa melawannya atau membuatnya terkejut. Oleh karena itu, gerakan terakhir Perot benar-benar mengejutkan Witer, berdasarkan serangan yang bisa melukainya tersebut maka Witer merasa tidak ada masalah untuk memberikan Perot pemakaman yang seharusnya.
Setelah melakukan semua itu, Witer berjalan kembali menuju tempat dimana Tiamat berada.
Bagaimanapun ia sudah menghilangkan sedikit kebosanannya waktu melawan Perot, ia tidak tertarik lagi untuk melawan musuh-musuh yang lebih lemah selama hari ini.
Sekarang Tiamat sedang berdiri diam di dekat tembok Ibukota Kerajaan Sanctus sambil menunggu kedatangan pasukan Elos dan yang lainnya, lagipula tubuh Tiamat ataupun Witer terlalu besar yang membuat mereka tidak bisa mengatur kota ini.
Melihat Witer yang datang, Tiamat tidak bisa untuk tidak berkata dengan aneh "Kenapa bulu mu terlihat seperti terkena luka bakar? Bukankah kau hanya melawan kekuatan tingkat 4? Aku yakin musuh seharusnya tidak bisa mengalahkan mu yang sudah berada di tingkat 2".
Mendengar perkataan Tiamat, Witer baru menyadari bahwa ada banyak sekali jejak hitam akibat terbakar pada putih di tubuhnya.
Witer memakai kemampuan penyembuhannya untuk memulihkan semua luka bakar kecil pada bulunya sambil berkata "Ia memang hanya tingkat 4, tetapi kemampuannya benar-benar mengejutkan! Siapa yang berpikir bahwa tingkat 4 bisa memiliki kemampuan seperti itu, ia bahkan membuatku harus memakai kemampuan suci milikku agar bisa mengalahkannya. Oleh karena itu, orang yang aku lawan barusan memang memiliki tingkat 4 tapi kekuatannya lebih dari itu".
Tiamat sedikit terkejut sebab Witer memang selalu terlihat melakukan apapun secara sembarangan, walaupun begitu Tiamat juga tahu bahwa apabila itu mengenai masalah kekuatan musuh maka Witer tidak akan berbohong. Jika kekuatan musuh lemah maka ia pasti mengatakannya sebagai lemah, begitu juga sebaliknya.
Jadi orang yang bisa mendapatkan pengakuan Witer, maka hanya berarti bahwa orang itu benar-benar kuat.
Hal ini membuat Tiamat sedikit penasaran, sosok sekuat apa yang bisa membuat Witer memakai kekuatan sucinya padahal kekuatan mereka berbeda jauh. Tiamat selalu bersama Witer ketika penyerangan terhadap kerajaan manusia ini, karena alasan ini maka Tiamat tahu seberapa menakutkannya kekuatan Witer.
__ADS_1
Ketika Tiamat berencana untuk bertanya lagi tentang seberapa kuat musuh yang ia lawan barusan, Tiamat menutup mulutnya kembali dan melihat ke sebuah arah "Sepertinya tuan sudah datang!".
Bersamaan dari perkataan Tiamat, ratusan ribu pasukan Elos mulai terlihat, baik itu Elos serta para petingginya ada di kelompok pasukan ini. Mereka sudah merebut seluruh Kerajaan Sanctus, sekarang mereka berkumpul di Ibukota Kerajaan Sanctus sesuai dengan rencana yang sudah dibuat sejak awal.
...----------------...
Ark dan yang lainnya terbang dengan cepat menuju Kerajaan Sanctus, Perot berada disana sehingga mereka memutuskan untuk pergi menuju Kerajaan Sanctus lebih dulu.
Sedangkan pasukan yang mereka bawa untuk melawan kekaisaran, maka Ark meninggalkan pasukan tersebut dan terbang lebih dulu bersama Luri, Torei dan yang lainnya.
Bagaimanapun jika menunggu pasukan itu bergerak maka mereka mungkin membutuhkan waktu 1 hari sebelum tiba di Kerajaan Sanctus, sedangkan dengan terbang maka mereka bisa tiba hanya dengan waktu beberapa jam.
Torei yang mengikuti mereka tidak bisa untuk tidak berhenti lalu bertanya "Ada apa? Kenapa kalian berhenti secara tiba-tiba? Bukankah kita seharusnya pergi secepat mungkin menuju Kerajaan Sanctus seperti yang sudah direncanakan?".
Ark berdiri diam di tempatnya tanpa menjawab sedikitpun, ia hanya melihat ke arah Kerajaan Sanctus dengan wajah sedih.
Berbeda dari Ark, Luri menggelengkan kepalanya dan menghela nafas dengan berat "Kita terlambat, Elos serta Federasi Tuan Labirin benar-benar sudah menjebak kita".
Torei tidak terkejut mendengar bahwa Perot sudah kalah, lagipula ia tahu bahwa di pasukan Tuan Labirin Elos terdapat banyak sekali prajurit khusus yang menakutkan, apalagi ia mewariskan para prajurit khusus dari Tuan Labirin Urmur sebelumnya.
Oleh karena itu, tidak aneh mengetahui bahwa Perot sudah dikalahkan.
__ADS_1
Torei yang tidak terkejut berkata penuh rasa tidak peduli "Aku tahu bahwa kalian sedih tapi ini bukan waktu yang tepat untuk merasa sedih, apa yang lebih penting sekarang yaitu menentukan rencana selanjutnya. Kita tadi berencana pergi ke Kerajaan Sanctus secepat mungkin untuk membantu Perot, tapi Perot sudah tidak ada yang membuat kita tidak perlu membantunya. Apa yang menjadi masalah yaitu dengan hilangnya Perot maka apakah kita masih pergi ke Ibukota Kerajaan Sanctus seperti sebelumnya atau kembali ke perkemahan prajurit atau istana milikku untuk membahas rencana berikutnya".
Semua orang menatap ke arah Ark sebab mereka tahu bahwa keputusan Ark yang menentukan langkah selanjutnya, jika Ark berencana terus menyerang maka mereka menyerang sedangkan apabila Ark berencana untuk mundur sebentar lalu membangun strategi maka mereka harus mundur.
Di bawah tatapan semua orang, Ark berkata dengan tegas "Bukankah jawabannya sudah jelas? Kita tetap pergi ke Kerajaan Sanctus, disana Elos dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita. Jadi kita akan melakukan pertarungan yang menentukan di Kerajaan Sanctus, belum lagi Elos serta yang lainnya baru merebut Kerajaan Sanctus sehingga mereka belum menyiapkan jebakan apapun kepada kita disana".
"Ark, aku tahu bahwa kau marah akibat kehilangan rekan dekatmu yaitu Perot, tapi sekarang kita harus berpikir sebaik mungkin. Meskipun mereka tidak menyiapkan jebakan di Kerajaan Sanctus, namun Elos yang sekarang memiliki banyak sekali prajurit khusus yang kuat, bertindak tanpa membuat rencana hanya akan membawa kita menuju kekalahan. Ayo kembali dulu dan membuat rencana baru, saat itu maka tidak terlambat untuk membunuh Elos", kata Torei mencoba membujuk Ark.
Ark menggelengkan kepalanya tanpa ragu "Torei, kau bisa pergi tanpa masalah jika kau tidak tertarik untuk membantu. Kita tidak bisa memberi lebih banyak waktu bagi Elos untuk berkembang, selama kita kembali serta membuat rencana lebih dulu maka Elos mungkin sudah menjadi lebih kuat lagi. Oleh karena itu, kalian yang tidak tertarik untuk membantu maka bisa pergi, aku tidak keberatan melawan Elos dan yang lainnya sendiri".
Tanpa menunggu jawaban siapapun, Ark terbang pergi dari tempat ini. Melihat sikap cepat Ark, semua orang tahu bahwa Ark marah akibat kematian Perot, lagipula Perot adalah yang paling dekat dengan dirinya di beberapa perang sebelumnya.
Luri, Hera dan Sares hanya tetap mengikuti Ark, mereka bagian dari prajurit di bawah Ark sehingga tidak aneh untuk langsung mengikutinya.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya Halra hati-hati, menurutnya tindakan Ark juga terlalu sembarangan tanpa rencana apapun yang sangat berisiko.
"Apakah kita memiliki pilihan lain? Tanpa bantuan Ark maka kita tidak bisa menang dari Elos, jadi kita hanya bisa mengambil resiko ini untuk mengalahkan Elos daripada kehilangan kesempatan sepenuhnya untuk membunuh Elos", kata Torei.
Halra hanya bisa mengangguk setuju terhadap keputusan Torei, mereka mengikuti Ark lagi.
Lebih tepatnya Ark dan yang lainnya kembali bergerak cepat menuju Kerajaan Sanctus.
__ADS_1