
Asya sebenarnya merasa segan juga ketika berhadapan dengan pria asing selain orangtua dan juga suaminya sendiri hanya saja jika dirinya menjadi wanita yang lemah otomatis disaat seperti begini tidak ada yang bakalan membantunya,karena manusia hidup tidak akan pernah berhenti membully sesama jika kaum itu sangat tertindas.
"Persetan dengan segala yang kamu katakan tadi karena aku tidak akan pernah berubah pikiran,karena dalam hidupku tidak akan pernah namanya ada Poligami apalagi berbagi cinta dengan wanita lain!" jelas Dev penuh percaya diri bahkan dengan Wajah yang tatapan matanya tidak ada kebohongan sama sekali.
Jika saja Asya sedang berstatus single otomatis wanita itu pasti bakal terpesona bahkan mungkin sudah klepek klepek,namun yang ada Asya ingin sekali menghajar wajah pria itu agar sadar dengan apa yang dikatakan.
"Kamu itu gila atau menuju kegilaan sih,apa kamu lupa sekarang status ku seperti apa? Bisa tidak jangan membuat sesuatu itu hanya memikirkan perasaan kamu melainkan ingat juga dengan perasaan orang lain,karena biar bagaimanapun aku itu punya suami dan aku sangat mencintai dia!" Tegas Asya yang sudah muak berhadapan dengan manusia yang tidak punya hati nurani seperti Dev itu.
"Kamu pikir sekarang pendapat mu itu mutlak akan aku dengarkan?" Sinis Dev yang mulai menunjukan sisi gilanya.
"Terserah kamu mau mendengarkan atau tidak! Karena yang penting intinya cuma satu,yaitu tubuhku ya Milik ku bukan milik siapa siapa dan kamu tidak punya hak untuk mengatur ataupun menentukan bagaimana nasibku kedepannya! jadi lebih baik kamu pergi mencari wanita yang gila sama seperti kamu dan mau saja mendua dengan pria yang tidak punya hati nurani, karena aku sedikitpun tidak berniat untuk melakukan hal itu apalagi menduakan suamiku yang masih segar bugar bahkan bisa menafkahi aku secara jasmani dan Rohani!" Ketus Asya.
Brakk
"Jaga bicara mu,karena aku bukan pria gila yang seperti kamu katakan!" Dev benar benar sudah tidak bisa membendung rasa emosinya karena Asya yang selalu menjawab.
"Ya kalau tidak mau dikatakan manusia gila,ya kalau begitu harus dibilang apa?" Tanya Asya Sinis.
Plak
Plak
__ADS_1
Dua tamparan mendarat sempurna di kedua pipi mulus Asya itu,bahkan wanita itu sampai merasa gelap dan juga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Tuan,apa yang anda lakukan?" Tanya Rama yang dari tadi sudah mendengar perdebatan antara Asya dan Dev yang sudah mulai memanas.
"Kamu cari orang yang bisa merias wanita keras kepala ini secepatnya,biar kami berdua bisa segera menikah agar aku bisa merasakan bagaimana nikmat tubuhnya !" sinis Dev yang menatap tajam kearah Asya yang juga tak kalah sinis darinya yang seolah ada perdebatan terselubung di dalamnya.
"Kamu kalau pergi aku bakal mengutuk dalam hati karena pernah bertemu dengan manusia kurang ajar seperti kalian,karena aku tidak akan pernah membenarkan apa yang kalian lakukan padaku!" tegas Asya membuat Rama yang hendak pergi langsung memutar tubuhnya karena harus membenarkan apa yang dikatakan wanita itu.
"Maaf Nona,karena aku tidak kuasa menolak apa yang diperintahkan!" Ujar Rama lalu kembali pergi dari situ walau terasa begitu berat.
Asya ingin sekali memaki semua pria aneh yang ia temui hari ini,sebab karena mereka dirinya harus seperti orang gila.
" Demi Tuhan Kalau bertemu dengan orang seperti begitu Terus aku lama-lama bisa gila. Kok bisa bisa sih mereka tetap pada pendirian mereka padahal sebenarnya salah besar, Awas aja kalau sampai Mas Kenzo datang dan menghajar mereka aku juga bakal ikutan melakukan hal itu agar mereka tahu kalau Asya Delano bukan dalam wanita sembarangan!" sungut Asya dalam hati.
"Kamu sedang memikirkan apa sekarang,jangan bilang kamu itu mau berusaha untuk kabur?" Tanya Dev penuh dengan nada yang menyelidik sebab ia sangat tahu bagaimana persisnya jangan pikirnya seseorang ketika sedang berada di posisi Asya sekarang ini.
Asya tidak ada niat untuk menjawab apa yang dikatakan oleh Dev,karena itu sama saja dengan merespon apa yang di katakan oleh pria itu.
" kenapa kamu malah mengatakan hal yang menurut kamu itu sangat benar,padahal jelas jelas ada pria yang tulus ke kamu sekarang ini?" Tanya Dev.
"Orang gila seperti ini kok bisa ya dibiarkan menghabiskan oksigen di dunia,padahal ada orang lain yang sedang membutuhkan hal itu saat ini?" Sungut Asya dalam hati.
__ADS_1
Rama sengaja mengulur waktu agar Dev mungkin berubah pikiran dan bisa mencari bantuan,karena dirinya tidak ingin Asya mengalami nasib buruk karena sikap yang di tunjukan oleh Dev itu.
Karena biar bagaimanapun dirinya tidak mau membuat Asya merasa jika ini semua karena campur tangannya juga,karena Rama berpikir jika dirinya tidak bisa menjadi orang spesial dalam hidup Asya maka biarlah pria itu menjadi orang yang berguna.
Sebab mencari musuh itu merupakan perkara mudah dibandingkan mencari seorang teman yang ada di saat susah,oleh karena itu Rama memilih menolong Asya biarlah kalau nanti Dev tahu dan marah marah ia yang akan menghadapi amukan nya.
"Pokoknya aku harus tetap berada di depan gerbang ini dan usahakan tidak bisa dilihat oleh penjaga,karena pasti ada yang bakal lewat jalan sini dan saat itu pula aku bakal meminta tolong !" Gumam Rama dalam hati.
Kenzo yang feelingnya semakin kuat dan merasa yakin jika sebenarnya istrinya berada di dekatnya, perasaannya itu semakin kuat ketika menyadari bahwa akses jalan ke pinggiran kota itu hanya satu-satunya dan itu yang sedang ia lalui.
"Nak,kamu yakin kalau mereka membawa Asya kesini bukan ketempat lain?" Tanya Rio penasaran.
Kenzo menghela nafasnya mendengar apa yang di tanyakan oleh mertuanya itu,sebab dirinya hanya mengikuti feeling yang diyakini sangat benar.
Dan ia pun mengakui jika Feeling tidak tidak bisa menjadi tolak ukur penyelesaian,namun jika ia merasa itu pasti maka tak ada masalah untuk menganggap feeling-nya itu sebagai patokan untuk mencari sang istri.
" aku hanya mengikuti apa yang aku rasakan dan juga hati nurani ku mengatakan kalau Asya berada di sekitar sini, hanya saja kita sedikit mengalami kendala sebab bangunan yang disini Bentuknya sama saja dan juga ada beberapa bangunan jadi otomatis kita harus bisa memperkecil lokasi pencarian agar bisa menentukan ke arah mana sebenarnya Tujuan kita yang benar!" Jelas Kenzo membuat mertuanya itu paham dengan tujuan yang sebenarnya dari pria itu.
"Kalau perasaan Papa, kita itu lebih baik memperhatikan dengan seksama, Sebenarnya ada beberapa rumah yang dijaga ketat oleh penjaga dan juga ada yang dibiarkan begitu saja. karena setahu Papa jika tidak ada masalah dalam rumah itu otomatis pemiliknya tidak akan pernah menyewa penjaga, karena sama saja membuang-buang uang untuk menakuti hal yang tidak jelas sama sekali!" saran Rio membuat Kenzo akhirnya sadar dan merutuki kebodohannya yang daritadi tidak sampai berpikiran ke arah situ padahal sebenarnya itu merupakan hal yang paling penting dalam mewaspadai sesuatu hal yang tidak diinginkan.
" Baiklah aku sudah paham dengan apa yang Papa katakan tadi dan sepertinya ada beberapa rumah yang harus kita periksa dan dengan saksama, sebab rumah lain sepertinya hanya dijadikan persinggahan saja dan tidak ditinggali sedangkan ada beberapa rumah yang dijaga ketat agar tidak memudahkan orang dari luar untuk masuk ke dalam!" Ujar Kenzo yang sedikit merasakan angin segar di tengah padang pasir yang begitu tandus akibat dirinya yang kehilangan istrinya yang merupakan nafas kehidupan untuknya.
__ADS_1
Ada lebih dari sepuluh Villa yang berada di tempat itu,hanya saja empat dalam posisi kosong sedangkan enamnya dalam keadaan yang sepertinya ada pergerakan didalamnya.
"Kamu perhatikan baik baik ya! Sekarang itu ada enam Villa yang berjejer tepat di hadapan kita,tapi menurut Papa yang benar benar ada penghuninya itu hanya 2 Villa yang berada di pinggir sebab terlihat pintu gerbangnya tidak terkunci dan juga ada bekas-bekas ban kendaraan yang keluar masuk di area itu !" jelas Rio.