
Gerry yang merasa bahwa Asya sudah tidak mempermasalahkan masa lalu lagi membuat pria itu akhirnya ingin berbicara dengan suaminya, sebab biar bagaimana pun atas kebesaran hati Kenzo maka Asya bisa berada di tempat ini bicara dengannya kalau tidak ya Mana mungkin.
"Oh iya Sya, suami kamu di mana? Apa dia marah karena tahu kamu ke ruangan ini untuk menemuiku, Bisakah aku berbicara dengannya Sekarang karena ada hal penting yang juga ingin aku sampaikan kepada nya?" tanya Gerry pelan membuat Asya dan juga Vina saling pandang karena bingung dengan maksud tujuan pria itu.
"Memangnya ada urusan apa kamu mau bertemu dengan suaminya Asya, udah deh kamu jangan aneh-aneh lagi yang ada itu kamu malah membuat mereka berdua jadi berantem? "tanya Vina yang tidak menyukai sikap Gerry yang terlalu banyak maunya padahal sudah dituruti dari tadi tetapi masih saja ngeyel.
Gerry tahu pasti respon semua orang bakalan begini hanya saja dirinya bermaksud baik tidak ingin membuat suasana jadi diperkeruh, maka dari itu dirinya ingin berbicara dengan suaminya Asya agar pria itu tidak salah paham dan berpikir bahwa dirinya sedang menggunakan Kesempatan Dalam kesempitan.
"Aku hanya mau bilang terima kasih ke dia karena sudah menjaga Asya selama ini dan juga mau menerima kekurangannya, dan aku juga mau sampaikan bahwa tidak akan pernah mengganggu Asya lagi mulai dari sekarang bakalan membiarkan mereka hidup dengan tenang tanpa ada bayang-bayangan dari aku!" jelas Gerry agar kedua wanita itu tidak salah paham dan malah berpikiran dirinya merupakan orang yang tidak tahu diri sampai-sampai sudah dikasih hati malah minta jantung.
"Ya sudah kalau begitu aku bakalan memanggil suamiku untuk datang ke sini, akan tetapi aku mohon kepada kamu untuk jangan mau memancing emosinya atau mengatakan hal-hal yang tidak tidak bisa membuat dia dan aku bakalan bertengkar nantinya!" pinta Asya sambil memasang tatapan datarnya karena jika dirinya tidak melakukan hal itu maka Gerry tidak akan pernah paham.
Gerry tersenyum mendengar nada penuh perhatian dari Asya barusan membuat dirinya sedikit merasa iri terhadap pria yang berhasil mendapatkan wanita seperti Asya itu, hanya saja itu semua harus bisa ditahan jika tidak ingin membuat hubungan persahabatan mereka hancur lagi akibat dirinya yang terlalu egois.
"Kan aku sudah ngomong tadi Kalau aku tidak akan mengatakan hal yang aneh-aneh, jadi jangan khawatir berlebihan seperti begitu dan juga Kamu juga jangan terlalu bawel." ujar Gerry yang bergantian menatap Asya dan juga Vina.
"Itu bukanlah berlebihan tetapi kewaspadaan soalnya siapa sih yang tidak tahu sikapnya kamu itu, yang selalu saja berubah mengikuti arus meskipun sudah diingatkan berulang kali tetapi yang sudah menjadi kebiasaan hidup sulit berubah!" Vina mana mau disalahkan saat ini orang dirinya hanya berusaha menjadi pihak yang penengah agar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka secepat mungkin tidak sampai berlarut-larut dan akhirnya nanti dendam itu bakal menjadi mendarah daging.
"Jangan terlalu bawel jadi orang, sebelum kamu ngomong aku juga sudah paham. Terus sekarang kamu ngomong lagi aku bukannya tambah paham tetapi malah jadi emosi kan? Kalau setiap saat membahas hal yang sama lama-lama jadi bosan tetapi kamunya yang tidak pernah bosan, soalnya hobinya kamu kan memarahi orang lain sesuka hati kamu seolah-olah di dunia ini hanya kamu orang yang paling benar. "Gerry sengaja menyindir Vina karena memang kelakuan wanita itu dari dulu sampai sekarang sudah kebaca boleh semua orang sebab Sudah menjadi kebiasaan.
__ADS_1
Vina Sebenarnya masih memendam perasaan dendam kepada Gerry karena pria itu meragukan dirinya sebagai istrinya Andi, sampai-sampai ingin bukti foto pernikahan mereka karena mengira bahwa Vina sedang berhalusinasi.
"ya Siapa suruh kamu orangnya seperti begitu kemarin-kemarin saja ngomong kalau aku ini wanita yang lagi berhalu menikah dengan Andi, Kamu kan pernah meragukan pernikahan kami padahal Menurut kamu apa untungnya coba berbohong kepada kamu seperti kamu yang berbohong kepada Andi. "Vina sengaja mengatakan hal itu membuat Gerry menatap heran ke arahnya.
"Maksud kamu ngomong seperti begitu apa ya? Memangnya Sejak kapan Saya berbohong kepada suami kamu terus keuntungan untuk saya apa, Lagian kamu kok jadi orang terlalu percaya diri sekali seolah-olah suamimu itu merupakan orang yang paling penting di sini? "tanya Gerry.
"hohoho anda tidak bisa berbohong ferguso Soalnya aku tahu kalau sebenarnya yang mengatakan alamat Asya di sini yaitu suamiku, kamu tahu sendiri kan Kalau suamiku itu orangnya tidak bisa berbohong kepadaku kalau dia berbohong kepada kamu tidak masalah tetap kepada istrinya sendiri rasanya tidak akan pernah terjadi ."Vina tersenyum mengejek ketika melihat wajah Gerry yang memerah karena malu mungkin karena kebohongannya sudah terbongkar.
"Jadi maksud kamu mereka tahu kami di sini itu karena suamimu yang mengatakannya? Wah itu kutu kupret sepertinya lagi mencari masalah denganku, Baiklah aku bakalan keluar terus memanggil mereka berdua agar masuk ke dalam Soalnya aku pengen banget bikin perhitungan kepada suami kamu yang mulutnya ember dari dulu tidak pernah berubah!"ujar Asya kesal lalu dirinya pun segera keluar dari ruangan rawat nya Gerry itu untuk menemui suaminya yang sedang menunggunya di depan pintu.
ceklek
"Aku baik-baik saja kok Mas jangan cemas begitu begitu dong, soalnya itu orang mulut ember di samping kamu itu terlihat begitu kepo dengan urusanku!" nada bicara Asya tidak seperti biasanya tetapi kali ini terlihat lebih semangat mungkin karena beban pikirannya sudah sedikit berkurang.
"Memangnya Apa hubungannya denganku? Lagian itu Istriku yang kamu bawa masuk ke dalam kenapa malah kamu tinggalkan dengan manusia satu itu, kamu kan tahu sendiri kalau Hanya mereka berdua dalam satu ruangan pasti sebentar lagi Bakalan terdengar perang dunia ke-3 soalnya sejak kapan mereka berdua cocok?"tanya Andi penasaran.
"Ya biar kamu jangan penasaran masuk saja ke dalam langsung melihat kira-kira mereka sekarang lagi ngapain, Kan sekarang yang ada di dalam itu istri kamu bukan istrinya siapa-siapa jadi yang harusnya kepo urusan nya suaminya bukan orang lain!" jelas Asya membuat Andi mendengus kesal karena ternyata sahabat istrinya itu sudah kembali ke mode lamanya yaitu bawelnya minta ampun.
Kenzo menatap sekilas ke arah istrinya yang terlihat berbeda dari biasanya, membuat dirinya merasa begitu bahagia meskipun perubahan itu bukan karenanya tetapi tidak masalah karena dirinya yakin bahwa tempat Asya pulang yaitu hanya kepada Nya saja.
__ADS_1
"Jadi gimana urusan tadi di dalam? Apa Mas boleh tahu dan juga boleh dengar apa saja yang kamu bicarakan, tapi kalau kamu keberatan ya sudah tidak masalah karena hanya tanya saja!"Jelas Kenzo membuat Asya begitu bahagia.
"Aku berusaha memaafkan dia soalnya kalau terus-menerus hidup dalam dendam sepertinya tidak baik, Maka dari itu dia juga meminta untuk bertemu dengan kamu entah apa yang ingin dia katakan aku juga tidak tahu. " Asya menjelaskan apa yang memang terjadi di dalam untuk selanjutnya apapun itu biarlah nanti suaminya yang mengetahui dari mulutnya Gerry sendiri tidak perlu harus dirinya yang menjelaskan semuanya.
Kenzo menganggukan kepala pertanda menyetujui apa yang dikatakan oleh istrinya itu bahwa dirinya harus menemui Gery saat ini, kalau untuk keadaan anak mereka tidak perlu terlalu dicemaskan karena gadis kecil itu dikelilingi oleh kakek neneknya yang jumlahnya sangat banyak.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk ke dalam Soalnya biar urusan kita cepat selesai dan bisa kembali ke kamar adik, Dan Kamu sepertinya memang kamu harus ikut soalnya istri kamu di dalam sedang dia apa-apa kan kita juga tidak tahu." ujar Kenzo yang sengaja melebih-lebihkan sesuatu agar Andi terlihat cemas dan memang benar wajah pria itu langsung seketika mendadak menjadi tidak karuan.
Tanpa permisi Andi pun nyelonong masuk ke dalam dan melihat Vina Tengah memainkan ponselnya sambil duduk di sofa yang berseberangan sedikit jauh dengan tempat tidur Gerry berada, membuat Vina yang tengah asik menatap ke arah ponselnya begitu kebingungan melihat sikap suaminya yang tidak seperti biasanya itu seolah-olah sedang mencemaskan sesuatu.
"Kamu kenapa tiba-tiba masuk dan Wajah kamu seperti begitu seolah-olah dikejar setan?"tanya Vina penasaran.
"kamu dari tadi tidak di ajak ribut kan sama dia, soalnya aku cemas banget loh ketika Asya keluar dan meninggalkan kamu sendirian dengan dia di sini?"tanya Andi memastikan.
Vina ingin sekali tertawa melihat wajah cemas suaminya itu, sebab ternyata pria itu masih mengingat kebiasaan dirinya dulu yang setiap kali bertemu Gerry pasti bakalan memarahi pria itu habis-habisan.
"kamu tenang saja deh soalnya aku tidak ada niatan buat ribut sama itu orang soalnya katanya kalau saat hamil kita terlalu membenci orang tersebut nanti wajah Anaknya mirip seperti orang itu, Ya kali masa anakku mukanya kayak dia nanti orang bakalan menaruh curiga dan berpikir yang aneh-aneh terhadapku nantinya!"ujar Vina sambil terkekeh geli sebab menurutnya akan lucu jika jadinya seperti begitu.
"Wah jadi Maksudnya kamu sekarang lagi Hamidun? ih Ternyata kalian gercep juga ya tetapi aku salut semoga kelak menjadi orang tua yang berguna dan juga bisa menjaga anak-anak yang dipercayakan oleh Tuhan, tetapi ingat ya Rubah sikap kalian yang seperti anak kecil itu sedikit-sedikit berantem sedikit-sedikit meninggal Nanti orang lain yang bakalan kesusahan! "jelas Asya.
__ADS_1
"Hai bro! gimana keadaan kamu sudah mendingan atau belum, kalau memang rasa tidak nyaman ngomong ya biar bisa panggilkan dokter agar segera bertindak untuk menangani kamu? "tanya Kenzo penasaran sebab Biar bagaimanapun Gerry berbaring bola masuk seperti itu akibat menolong Putri mereka.