
Asya mendekati Dewi dan memeluk erat tubuh Mama nya yang paling ia sayang itu,terlihat Dewi begitu takut kehilangan dirinya padahal ia tidak bakal pergi kemana mana.
Ketakutan Dewi itu tidak beralasan sebab ia takut jika Asya setelah menikah dengan Kenzo bakal di bawa pergi tak kembali lagi,padahal Kenzo hanya memiliki sebuah Apartemen dan selama ini jarang ia tempati karena lebih kebanyakan tinggal bersama kedua orang tua nya.
Maklum tahu sendiri kan gimana sikap Rianti yang selalu nyerocos tanpa henti jika Kenzo memilih tinggal di Apartemen,ia akan pergi menjemput sampai pemuda itu mau pulang dan tinggal di rumah.
"Mama ku tersayang,aku itu menikah bukan langsung menghimbau! Lagian kalau kami mau pindah tidak mungkin juga harus jauh dari kalian,maka dari itu boleh khawatir tapi jangan terlalu berlebihan." Ujar Asya tapi sambil tertawa.
Dewi hanya membersihkan air matanya karena mendengar ucapan Asya barusan,putrinya itu ada saja yang ia ucapkan sehingga membuat orang lain jadi mengurungkan niatnya untuk terharu atau pun ingin mewek.
"Kamu ihhh,Mama lagi sedih juga mohh! Kok bisa sih malah membuat Mama jadi cancel mau menangis nya,lain kali lihat dengan keadaan sekitar apa mendukung untuk bercanda atau tidak?" Dewi melayangkan protes.
Rianti tidak terima ketika calon menantu nya itu malah di salahkan,padahal dirinya juga sangat menyayangi dia tanpa ingin menyakiti hati Asya sedikitpun.
"Mbak,jangan keterlaluan begitu dong! Aku mana tega dan Ihklas menantu kesayangan aku di katakan seperti itu,awas saja kalau sampai terulang lagi aku bakal marah semarah marah nya kalau sampai terulang lagi!" Sungut Rianti.
"Lho kenapa kamu yang ngegas,eh kamu itu masih calon mertua bukan sudah sah jadi jangan ikut campur atau aku Mama nya tidak akan mengijinkan hal itu terjadi!" Ujar Dewi tak mau kalah.
"Yang,ayo kita jalan yuk! Soalnya kalau kelamaan disini lama lama kita bisa stress,karena suasana yang sangat tidak mendukung untuk tetap di tempat ini!" Ajak Kenzo karena memang tidak menyukai sikap semua orang yang selalu saja hobi berdebat di hadapan Asya.
Padahal baginya seorang wanita hamil tidak boleh di buat tertekan,jika tidak ingin masalah bertambah runyam dan alamat mempengaruhi kesehatan Ibu dan Anak.
"Kamu benar sekali Mas,aku juga capek masa iya salah sedikit langsung marah marah,giamana nanti kalau salah nya lebih besar lagi entah kejadian menggemparkan apa yang bakal terjadi!" Asya menimpali membuat dirinya dan Kenzo langsung tersenyum ketika melihat wajah cemberut milik Dewi dan Rianti itu.
"Hallo semuanya,apa kami ganggu?" Tanya Lorrin yang entah bagaimana ceritanya tapi sudah berada di situ dengan kedua orang tua nya.
"Eh kalian,ayo duduk!" Panggil Rianti.
Kenzo menarik tangan Asya agar ikut dengan nya,karena dirinya tidak menyukai Paula yang merupakan Mama dari Lorrin yang suka sekali berbicara di luar batas.
"Yang,ayo pergi!" Ajak Kenzo setengah berbisik tapi Asya menggelengkan kepala.
Jelas Asya tidak mau pergi ketika tamu keluarga itu baru saja sampai,karena nanti dikira tidak tahu sopan santun sebab tidak mengetuai orang yang baru datang.
"Nanti saja Mas,soalnya aku nggak enak hati!" bisik Asya membuat Kenzo hanya menghela nafasnya kasar dan berharap tidak ada kejadian yang aneh dan menyebabkan semua nya menjadi buyar.
"Kalian ada tamu?" Tanya Paula yang merupakan adik perempuan nya George.
__ADS_1
"Oh ini bukan tamu tapi keluarga,mereka adalah Kakak tertua ku yang tidak di indonesia dan baru saja pindah kesini!" Jelas Rianti sambil tersenyum.
"Yang katanya pilot itu ya?" Tanya Paula penasaran.
"Benar sekali,salam kenal saja Dewi Kakak iparnya Rianti!" Dewi berusaha bersikap biasa saja meliputi sedikit tidak suka dengan tatapan sinis Paula kearah Asya.
"Aku Paula,dan ini suamiku serta putriku yang seorang dokter!" Paula membanggakan diri seolah dunia ini harus tahu apa profesi mereka.
"Iya kebetulan kami sudah tahu,soalnya waktu itu sudah ketemu. Dia kan dokter Umum,yang waktu itu memeriksa putri saya!" Jelas Dewi.
"Oh jadi dia itu anak kamu,pantesan!" Sinis Paula.
Kenzo merasa gusar karena kebiasan buruk Tantenya itu sudah mulai mencuat di permukaan,padahal dari tadi dirinya sudah merapalkan doa agar suasana tidak segila seperti biasanya.
'Maksud kamu Apa Ya? Kalau kamu suka membuat orang lain emosi,lebih baik nggak usah datang! Mereka itu adalah keluarga KANDUNGKU,jadi otomatis tidak ada yang boleh mengatakan hal buruk apapun itu!" Ketus Rianti yang memilih meng skak mat iparnya itu yang kalau bicara tidak pernah di pikirkan lebih dahulu.
Paula menatap kesal kearah kakak ipar nya,karena setiap kali dirinya datang kesitu pasti bakal berakhir keduanya berdebat.
"Ya aku kan hanya menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan,jadi kalau tidak mau terima aku minta maaf!" Ujar Paula dengan wajah masam nya.
"Kalian tumben kesini,memangnya bagaimana urusan rumah sakit milik kalian itu?" Tanya George penasaran dengan kemunculan keluarga Delano yang lain itu.
"Memang nya aku tidak boleh berkunjung,bukan kah ini juga rumah keluarga ku ya otomatis tidak masalah?" Sungut Paula dengan tatapan yang begitu tidak suka pada pertanyaan Kakak nya itu.
"Aku tuh tidak masalah kalau kamu datang hanya saja tadi itu hanya bertanya bukan untuk mencari tahu,tapi kalau kamu marah tidak jelas ya sudah dari kamu saja mau apa?" Tanya George yang memang harus lebih tegas dengan adiknya itu agar tidak membuat Keluarga Rio menjadi tersinggung.
"Pah,aku sama Asya bakal menginap di luar,nanti baru besok pagi kami bakal pulang!" Kenzo tidak nyaman dengan Sikap dan juga suasana yang berada di tempat itu.
Paula akhirnya sadar jika sebenarnya dari tadi dirinya melupakan Kenzo dan juga wanita hamil yang sedang berada di samping pria itu.
"Oh itu wanita yang di kasih tahu sama Lorrin waktu itu,memang nya kapan kalian menikah? Perasaan waktu itu Tante datang kesini, kamu masih sendirian katanya sedang menunggu jodoh tapi sekarang kok bisa dia sudah hamil seperti itu?" Tanya Paula penasaran.
Kenzo menghela nafasnya kasar karena memang tidak percaya dengan pertanyaan barusan,sebab ada saja orang yang mencari tahu masalah orang lain tapi dengan cara yang begitu keterlaluan.
"Tante,jangan terlalu ikut campur semua urusan orang yang seharus nya tidak perlu di urus! Aku pamit semua nya,dan kamu kalau mau bicara ke orang lain jangan hanya berdasarkan apa yang dilihat,akan tetapi harus yang di dengar dan juga kenyataan yang tidak boleh kamu pungkiri!" Ujar Kenzo sambil menatap tajam kearah Lorrin yang sudah membawa kabar yang tidak enak kepada siapapun.
Lorrin tidak bisa menjawab ataupun memberikan sanggahan yang nanti nya bakal membuat dirinya menjadi kewalahan,sebab dirinya tidak bisa berkomentar karena sangat takut terhadap sepupunya itu yang kalau marah sangat menakutkan.
__ADS_1
"Maaf Kak,tadi itu keceplosan makanya Mama yang memaksakan diri untuk datang!" Jelas Lorrin sambil tertunduk karena mana berani menatap kearah lawan bicara nya yang kalau ngomong malah bikin dirinya merinding.
"Lain kali lihat dulu siapa yang kamu ajak bicara,karena yang ada kamu malah cari masalah!" Sarkas Kenzo dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Ketika Kenzo berbicara dengan nada yang tidak begitu bersahabat,membuat Paula tidak bisa berkomentar banyak karena nanti sama saja dirinya yang bakal kena amukan dari pria itu.
"Ya sudah kalian jalan nya hati hati,ingat jaga ANAK KALIAN itu baik baik!" Ujar Rianti yang berusaha terlihat santai padahal sedang berusaha menekan kata kata yang ingin membuat Paula sadar jika Anak Asya adalah anak Kenzo juga.
"Itu pasti akan aku lakukan tanpa Mama minta,Semuanya kami pamit!" Ujar Kenzo.
"Mah,kami jalan dulu ya!" Asya pamit kepada Dewi yang sepertinya paham kenapa sampai Kenzo mengambil keputusan sepihak seperti itu karena memang ingin yang terbaik untuk Asya.
"Ya sudah kalian hati hati ya,ingat tidur nya jangan kemalaman!" Tegas Dewi dan di anggukan kepala oleh Asya dan Kenzo.
Sepeninggal Kedua pasangan itu kini mulai lah Paula menginterogasi kakak nya beserta istrinya dan semua di situ.
Tapi Rio yang mulai tidak nyaman memilih untuk mengajak Dewi masuk kedalam kamar,karena pikir nya pasti Paula ada urusan mendesak.
"Semuanya kami pamit soalnya ada yang mau kami bahas,maaf jika tidak sopan!" Setelah mengatakan hal itu Rio segera menarik tangan Dewi agar ikut dengan nya.
Tinggalah Paula dan keluarga nya serta George dan Rianti yang sedang meladeni keluarga rasa tamu itu.
"Kak,benar kah kalau Kenzo sudah menikah? Tapi kapan,sebab selama ini aku tidak pernah tahu atau pun diundang?" Tanya Paula penasaran.
Rianti mendengus kesal mendengar apa yang di tanyakan oleh Paula itu,sebab seperti nya hanya alasan untuk bertanya agar ada alasan untuk membicarakan orang lain.
"Apa ada kegunaan untuk kamu mengatakan hal itu?" Tanya Rianti sinis.
"Yah mbak yanti Kok ngomongnya gitu sih,padahal kan aku cuman bertanya saja ?" Tanya Paula merajuk.
"Kamu yang sangat keterlaluan sampai membuat orang lain tidak suka dengan kelakuan kamu itu,itu lihat sampai Kakak dan istrinya pergi kedalam kamar karena mendengar gaya pertanyaan kamu yang tadi?" Tanya Rianti tapi dengan nada yang memang tidak bisa di anggap remeh.
Paula yang notabene anak manja dan paling tidak suka apa yang ingin ia bicarakan ada yang bantah,langsung meminta pertolongan pada Kakak nya it.
"Kakak itu tega masa menikahkan anak dengan wanita seperti itu,apa karena dia merupakan anak dari keluarga istrimu? ingat ya kalau sampai besok lusa Kenzo menyesal di kemudian hari kalian yang bakalan tanggung jawab, Padahal di sini Banyak wanita yang lebih bagus dari dia Kenapa harus memaksakan diri untuk menikah dengan orang seperti begitu! " sungut Paula memang tidak terima sama sekali karena memang dirinya sudah menyiapkan anak dari itu untuk menikah dengan Kenzo.
mendesah kasar hanya itulah yang bisa dilakukan oleh George, karena mau lihat Sikap yang ditunjukkan oleh adiknya itu sungguh sangat membuat dirinya hanya bisa geleng-geleng kepala. begitulah sikapnya Paula tidak pernah mau mengenal orang secara dekat Tetapi lebih banyak memberikan komentar, untung juga tadi Dewi dan Aryo sudah masuk ke dalam kamar mereka Coba kalau mereka masih berada di situ dan mendengar semua yang dikatakan oleh Paula entah nanti Bagaimana nasib pernikahan yang sudah direncanakan oleh Kenzo dan Asya.
__ADS_1