
" Kak Gerry Please deh tolong jangan mengucapkan sesuatu yang membuat aku jadi kebingungan memikirkannya, Memangnya Kak Gerry sama Asya ada masalah apa sih kok bisa kalian seperti saling menjauh dan hilang kontak?" tanya Vina penasaran.
Gerry hanya bisa menghela nafasnya kasar karena tidak mungkin juga akan menjelaskan sedikit mungkin kepada Vina, yang ada dirinya bakalan dimaki-maki oleh wanita itu karena biar bagaimanapun Vina yang dikenal dengan wanita Barbar di kampus itu selalu saja Bahkan membela sahabatnya Asya.
" kamu lebih baik tidak usah memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan, karena aku tadi kan sudah ngomong kalau tugas kamu itu ya hanya memastikan Di mana keberadaan Asya sekarang?" tegas Gerry membuat Vina mendadak langsung bungkam karena dirinya juga tadi sempat terkejut karena nada bicaranya Gerry yang tidak seperti biasanya selalu ramah.
" kalau untuk memastikan keadaan dan keberadaan Asya tidak perlu Kak Gerry suruh juga aku bakalan melakukannya kok, hanya saja Lain kali kalau ngomong terus tidak mau menjelaskan maksudnya lebih baik gak usah ngomong sekalian deh!" kesal Vina lalu segera mematikan panggilannya itu meskipun Nanti dikiranya tidak sopan karena Biar bagaimanapun tadi itu Gerry yang menelpon bukan dirinya.
Gerry memilih membuang ponselnya asal bukan karena merasa kesal dengan perkataan Vina tadi melainkan merasa kesal kepada dirinya sendiri, Jika saja tidak termakan hasutan mama dan juga tidak lari dari tanggung jawab pasti semuanya tidak bakalan serumit ini.
mau kembali ke tanah air juga sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi sebab Asya sudah tidak ada di sana, terus jika mencari keberadaan Asya secara terang-terangan bisa dipastikan orang tuanya bakalan mencurigai dirinya yang tidak tidak.
" kamu kok kayak gitu Asya pergi begitu saja tanpa ngomong dulu kepadaku, apa ini balasan kamu dengan apa yang telah aku lakukan?" Lirih Gerry karena sudah bingung harus bersikap apalagi sebab dirinya benar-benar tidak akan tenang hidupnya jika Asya harus menjadi milik orang lain.
jika kemarin benci terus hari ini memiliki perasaan lebih dari itu maka bisa dipastikan fix Kamu adalah manusia hidup bukan orang yang tidak punya perasaan atau sudah mati, begitulah dirasakan Gerry jika selama ini dirinya selalu mengatakan bahwa Asya adalah adiknya maka malam kelam itu terjadi membuat dirinya sadar jika selama ini Asya selalu memiliki posisi yang tidak bisa orang lain ambil dan Mona adalah pelariannya saja.
Sedangkan di dalam kamarnya Rama sedang berusaha mengungkapkan apa yang tengah dirinya rasakan akibat perubahan Sang Putra dan juga kabar yang tadi di berikan oleh Siti, dirinya sebagai seorang pria dan juga orangtua yang selama ini memperhatikan kembang tumbuh anaknya tidak memungkiri jika Gerry sebenarnya sedang lari dari suatu masalah.
" Papa mau ngomong hal penting apa sampai ngajakin mama berduaan saja dalam kamar, awas loh kalau sampai Papa modusin Mama lagi Bakalan Mama kurangi jatah hariannya dari 2 kali menjadi setengah kali saja? "tanya Norah dengan tatapan menyelidik.
" Mama tolong jangan mengingatkan papa akan hal itu sekarang ini, karena nanti bisa dipastikan apa yang ingin Papa bahas bakalan Papa cancel!" pinta Rama sambil menatap gemas ke arah istrinya itu.
" ya maka dari itu sudah sampai disini ya langsung ngomong to the point aja jangan lagi ngalor-ngidul kemana-mana, Soalnya mama itu mau ketemu sama Gerry terus bertanya kepada dia tentang keadaan Asya dan juga keberadaan calon menantu kita itu lho suamiku tercinta"! ujar Norah membuat Rama langsung menarik tubuh istrinya itu agar duduk dan mendengarkan apa yang ingin Ia katakan.
" Justru karena itu makanya Papa Panggil Mama buat duduk dan ngobrol, Lagian kalau tidak ada hal yang penting ngapain juga coba hanya membuang-buang tenaga tanpa melakukan foreplay seperti biasanya! " sahut Rama membuat Norah akhirnya fokus dengan apa yang ingin dikatakan oleh sang suami karena sepertinya ada yang sangat penting.
" Menurut Mama kenapa apa sampai Gerry nekat malam-malam datang ke sini tanpa ngomong dulu ke kita atau Tanpa Rencana sedikitpun, terus kenapa tadi Siti ngomong kalau Asya itu sudah pindah sama keluarganya? " tanya Rama berharap agar sang istri konek dengan maksud tujuannya mengatakan hal itu.
" itu yang membuat Mama juga bingung Papa dengan kemauan anak kita yang tiba-tiba itu, padahal sebenarnya dia akan ngomong kalau tidak bakalan berpisah dari Asya Apapun Yang Terjadi?" bukannya jawaban yang didapatkan oleh Rama melainkan kata kata ambigu milik istrinya itu.
__ADS_1
"maka dari itu kita sebagai orang tua harus mencari tahu ini semua karena jangan sampai ada hal yang tidak kita ketahui tapi sudah terjadi, sebab selama ini Gery sedikitpun Tidak pernah mau berpisah dari Asya tapi kenapa sekarang mereka malah mendadak melakukan hal ini Gery pergi Asya Pun Menghilang!" Tegas Rama.
" Ya sudah nanti Bapak tolong selidiki dengan menyewa detektif yang biasa kita pakai, agar semuanya menjadi jelas tas tidak tergantung seperti begini! " pinta Norah membuat Rama mengangguk setuju dengan perkataan istrinya itu.
" ya sudah kalau pembahasannya sudah selesai Gimana kalau kita membahas soal kita saja, kayaknya Tentang Kita juga merupakan hal yang paling penting karena Papa dari tadi sudah tergoda loh dengan paha putihnya Mama yang dari tadi terpampang jelas minta untuk dibelai!" ajak krama sambil menaik turunkan alisnya membuat Norah menatap tak percaya kearah suaminya itu sudah tua tapi kalau soal yang begituan semangatnya 45 mengalahkan anak muda mungkin itulah yang disebut dengan masa puber kedua.
" tapi mama beneran capek lho Pah, nanti besok-besok saja deh bukan ke Dunia Belum Kiamat juga kalau kita tidak melakukan hal itu sehari saja! " tolak Norah membuat Rama hanya bisa menghela nafasnya kasar karena ternyata apa yang dirinya inginkan dari tadi tidak terealisasikan sama sekali.
" Ya sudah kalau memang mama capek kita tidur saja deh Daripada nanti Papa nggak tahan terus memaksakan diri, nasib nasib juniornya sudah siap ngajakin perang ini mendengarkan duitnya tidak menanggapi!" lirih Rama membuat Norah ingin sekali tertawa dengan wajah yang begitu tersiksa milik suaminya itu.
ketika semua orang sudah memilih untuk tidur berbeda dengan seorang pria yang masih setia menunggu gadisnya yang sedang tertidur memunggunginya, pria itu bahkan tidak bergeming dari tempatnya sedari tadi karena dirinya takut jika ia bergeser sedikit Asya bakalan terganggu dan kembali memimpikan sesuatu yang tidak diinginkan sama sekali.
Asya bahkan sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Kenzo di tempat itu, karena dirinya entah Mengapa seolah merasakan ada yang nyaman di dalam ruangan itu bahkan mimpi buruk yang ia takutkan seolah tidak ingin menghampirinya sekarang.
" kapan Posisiku bakalan berubah, tidak lagi menatap kamu dari sini melainkan langsung di samping kamu tanpa ada penolakan sama sekali?" tanya Kenzo dalam hati menyadari apa yang tengah dialami sekarang ini.
dirinya tahu jika Asya tidak pernah meminta Ia melakukan hal itu, hanya saja nalurinya sebagai seorang lelaki untuk menjaga wanitanya membuat dirinya secara sukarela melakukannya selalu saja mendapatkan penolakan.
Asya yang dari tadi sebenarnya tidak tidur karena dirinya merasa asing Jika ada yang menjaganya seperti begitu, sebab dirinya bukan seorang tuan putri apalagi permaisuri kerajaan.
karena tidak mendengar suara lagi Yang ada hanya dengkuran halus dirinya yakin jika Kenzo akhirnya menyerah dan tertidur, namun kemauan kuat dari pria itu yang tidak ingin meninggalkannya sama sekali membuat Asya Hanya bisa menghela nafasnya kasar.
dengan perlahan Asya mendekati Kenzo dan menutupi tubuh pria itu dengan selimut yang biasa dirinya pakai, sebab tidak tega juga sih melihatnya seperti orang yang tidak dianggap sama sekali.
" Lain kali kalau tidak mampu jangan bikin diri sok kuat, aku bukanlah wanita yang lemah ah yang selalu saja butuh dukungan dari siapapun! Jangan memperlakukan aku seperti orang yang kesakitan karena aku sangat tidak menyukainya sama sekali, lain kali urusi saja dirimu itu jangan ikut campur dengan urusan orang! " bisik Asya pelan lalu memilih kembali ke atas tempat tidur.
Kenzo yang merasakan kehangatan apa menikmati tidurnya, karena ternyata selimut yang diberikan oleh Asya itu begitu sangat penting untuk pria itu sekarang.
Dewi di dalam kamarnya tidak bisa mengucapkan matanya barang sedikitpun karena biar bagaimanapun apa yang terjadi dengan Asya itu akibat kelalaian nya sebagai orang tua, Jika saja ia sedikit peka dengan apa yang bakal dialami oleh Asya tidak mungkin semua ini bakalan terjadi.
__ADS_1
Rio yang juga belum memejamkan matanya secara benar menatap sendu ke arah istrinya itu yang terlihat begitu banyak memikul beban pikiran, tapi yang penting intinya hanya satu mereka tidak pernah menyesali jika memiliki Asya dalam hidup mereka.
" Mama kenapa belum tidur ini Sudah jam berapa loh, Ayolah tidur walau sebentar saja kasihan Asya jika sampai melihat Mama penampilannya begitu berantakan besok pagi?" tanya Rio pelan sambil mengusap bahu istrinya yang terlihat ingin sekali menangis tapi begitu ditahannya.
" Mama yang salah karena sudah membiarkan Asya menginap dirumah Gerry waktu itu, coba saja kalau mama menahan nya tidak mungkin kan masalah ini bakalan terjadi dan Asya akan trauma seperti itu? Kenapa hari itu Mama begitu bego dengan membiarkan dia pergi ke sana, kenapa Mama dengan tidak tahu dirinya membiarkan dia pergi menginap dirumah orang lain?" lirih Dewi membuat suaminya itu memeluk erat tubuh sang istri yang terlihat begitu Terpukul.
" Jangan berbicara seperti itu karena Biar bagaimanapun semua sudah terjadi tidak mungkin juga kan kita harus mengulang kembali. Yang ada sekarang pekerjaan kita sebagai orang tua yaitu menjaga bagaimana agar Asya selalu bahagia dan tidak memikirkan masalahnya, dan juga mencari tempat tinggal yang layak agar dirinya yang dulu bisa kembali secepatnya!" bujuk Rio membuat Dewi hanya bisa menganggukan kepalanya karena sudah tidak tahu lagi harus berpikir apa lagi.
" Kamu benar sekali mas kita harus bisa bangkit demi Asya, dan mama rasa sepertinya Kenzo memiliki perasaan yang lebih kepada putri kita itu? Ternyata anak kita sudah besar ya Pah sampai-sampai bisa menjadi Primadona loh, betapa bangganya Mama menjadi orang tua dari gadis sehebat anak kita itu!" Dewi kembali tersenyum mengingat tentang gadis kecilnya yang dulu selalu ia bawa kemana-mana kini sudah berubah menjadi wanita yang sangat disukai oleh banyak orang.
" Naka dari itu kita tidak boleh lemah karena kalau kita lemah anak kita juga bakalan sedih, usahakan caranya bagaimana biar Asya tidak terlalu merasa bersalah kepada kita berdua karena sudah gagal menjaga kepercayaan kita selama ini! " pinta Rio dan hanya dibalas anggukan kepala oleh istrinya itu.
Bahagia Itu Sederhana ketika kehadiran orang di sekitarmu bisa menghilangkan beban pikiran yang telah kau alami, Bahagia itu tidak mahal cukup Kita Sendiri Saja menciptakannya Percayalah Hidup bakalan terasa lebih indah.
Jangan menyesal ataupun merutuki dengan nasib yang telah engkau alami hari ini, karena percaya Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah dalam hidupmu. Karena biar bagaimanapun kasih sayangnya kepada makhluk ciptaanNya itu begitu besar.
Hidup itu hanya sekali jangan terlalu dibawa pusing ataupun tangisi Karena kebahagiaan yang tak kunjung datang, sebab Tuhan sudah menciptakan kebahagiaanmu sendiri tanpa disadari ataupun diketahui oleh orang sekitarmu.
Semua orang tengah menikmati waktu istirahat mereka melepaskan sejenak beban pikiran dunia karena biar bagaimanapun apa yang dialami hari ini sungguh menguras tenaga dan pikiran.
Keesokan paginya Rianti yang hendak masuk ke dalam kamar Asya sekedar memastikan keadaan gadis itu, langsung dibuat terkejut dengan keberadaan putranya.
Dirinya pun segera memanggil Kenzo bangun karena jika tidak maka bisa dipastikan masalah bakalan lebih rumit kalau sampai kakaknya yang mengetahui hal ini, ingin sekali dihajar kepala putranya itu yang begitu keras kepala nasehati oleh orang tua.
" Jadi anak kok nekat banget sih, untung juga tidak ketahuan sama Mbak Dewi ataupun Mas Rio, kalau tidak bakalan ada masalah besar nih jadinya! " Rianti merutuki Apa yang dilakukan oleh putranya itu sungguh sangat diluar Nalar untuk dipercayai.
" Ken, ayo bangun Nanti kalau ketahuan sama paman kamu urusannya bisa Bahaya loh?" bisik Rianti sambil mengguncang pelan tubuh putranya itu akan segera bangun karena dirinya juga tidak ingin mengganggu tidur nyenyaknya Asya.
Kenzo yang sedang memimpikan jika Asia sedang memanggilnya bukannya bangun malah tersenyum penuh bahagia, Siapa sih yang tidak bahagia ketika apa yang ia impikan selama ini menjadi kenyataan di depan mata.
__ADS_1
Urusan lain boleh menanti tapi menyangkut hati tidak pernah ada kata tunggu dalam melakukannya, Apa yang dilakukan oleh Kenzo itu membuat Rianti merasa gemas padahal situasinya sedang darurat.
" Astaga ini anak Bukannya bangun malah tersenyum tidak jelas, bisa bahaya ini kalau sampai sikapnya terus seperti begini." secara perlahan Rianti kembali mengguncang tubuh putranya itu agar Bangun kalau mau melanjutkan tidur ya bisa di kamarnya saja yang penting intinya bukan di sini.