Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 162


__ADS_3

Gerry pulang ke rumah dengan perasaan marah sebab menurutnya bertemu dengan Almira itu merupakan sebuah malapetaka karena harinya bakalan tidak akan bagus, Bagaimana tidak wanita itu malah mencurigai dirinya sebagai pria yang memiliki kelainan bagian tertentu.


padahal Sejak kapan dirinya menyukai pintu belakang orang pintu depannya saja Ia baru merasakan dari Asya masa iya harus memikirkan tempat lain, kalau memang dirinya tidak akan memiliki pasangan hidup lagi ya sudah tidak perlu memaksakan diri dengan melakukan hal-hal yang sangat ditentang oleh agama dan juga negara.


" dasar wanita aneh yang bertingkah soal akrab denganku padahal Kenal pun tidak tapi malah melakukan hal yang tidak-tidak, Awas aja kalau sampai ketemu lagi aku bakalan bikin perhitungan ke dia agar sadar kalau sebenarnya aku itu bukan tipe pria yang terlalu manis dengan wanita! " ujar Gerry yang benar-benar merasa kesal dengan pertemuannya dengan Almira tadi padahal dirinya saja selama hidup tidak pernah mengenal wanita itu dan juga tidak ingin kenal wanita selain Asya mungkin dulu dirinya terpeleset sehingga bisa berkencan dengan Mona.


" kamu Kenapa baru datang kok wajahnya kusut seperti itu, lain kali itu kalau baru datang Ucapkan salam biar orang tua tahu bahwa anaknya sudah pulang dan juga sudah kembali ke rumah tidak keluyuran di luar !" sindir Dito yang ternyata dari tadi duduk di ruang keluarga untuk menunggu putranya itu kembali sebab menurutnya Gerry tidak kembali ke rumah itu merupakan sebuah hal yang harus dikhawatirkan takutnya anak muda itu mencari masalah yang sama seperti yang telah ia lakukan seperti sebelumnya.


Gerry mendesah nafasnya kasar karena ternyata orang tuanya sudah tidak mempercayai dirinya lagi bahkan bisa dibilang dirinya diperlakukan seperti anak kecil, maka dari itu apakah mungkin penyesalan yang ia Tunjukkan selama ini mereka tidak pernah percaya dan mengira dirinya Hanya bermain-main saja karena ingin mendapatkan Maaf Semata.


" aku tadi mau pergi ke rumah sakit tempat aku praktek nantinya hanya saja direktur rumah sakitnya lagi keluar makanya aku kembali lagi tapi mampir dulu di toko buku, Papa Kenapa bertanya seperti itu seolah aku baru saja melakukan kejahatan besar yang membuat kalian khawatir secara berlebihan?" tanya Gerry penasaran sebab memang tidak biasanya Papanya Itu mencampuri urusannya meskipun dirinya tidak pulang sampai seminggu pun pria paruh baya itu akan terlihat biasa saja.


Gerry hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan wajah Papanya Itu yang terlihat Tengah menatap heran ke arahnya, padahal dirinya saja biasa saja tidak ingin melakukan sebuah kejahatan yang begitu besar tetapi kenapa orang-orang di sekitarnya malah meragukan hal itu.


" Papa tahu kamu sudah besar dan tidak mungkin kamu pergi kemanapun yang membuat kami bakalan kecewa ataupun malu lagi, hanya saja Papa heran kamu datang ke wajahnya ditekuk seperti begitu seperti Tengah memendam beban pikiran yang bisa dibilang bukan suatu perkara yang mudah?" tanya Dito setengah mengejek tetapi Gerry mah biasa saja karena dirinya ingin sekali menyukai sikap orang tuanya yang kembali hangat kepadanya tidak dingin seperti waktu ia membeberkan kesalahan yang ia lakukan kepada Asya dulu.


" ya bagaimana tidak ditekuk pah tadi itu aku ketemu manusia yang super duper aneh, bahkan bisa dibilang kalau di museumkan di rekor Muri bakalan lolos soalnya kan memang aneh sekali aku saja sampai sekarang mencoba mencerna sikapnya tetapi tidak bisa juga!" penjelasan Gerry yang begitu ambigu membuat sang Papa hanya menggelengkan kepala Ternyata bukan masalah orang tua saja yang rumit ternyata anak muda juga lebih parah lagi.


" kalian itu padahal sebenarnya hanya perlu dipikirkan adalah mencari kerja agar kualitas pendidikan kalian itu memang benar-benar bisa dibuktikan, bukan malah memendam pikirannya menurut Papa tidak ada kegunaannya sama sekali bahkan bisa dibilang itu sangat aneh!" ejek Dito membuat Gerry mengerutkan keningnya karena sepertinya Papanya Itu sudah paham ke arah mana hal yang membuat moodnya hari ini sangat berbeda seperti biasanya.


" Ah Papa jangan sok tahu deh lebih baik aku pergi tidur Oh iya Mama ada di mana Soalnya dari tadi tidak kelihatan, padahal Biasanya kalau tukang komenntar mengomentari itu merupakan jagoannya Mama maka dari itu Melihat rumah yang terasa sepi begini kan jadinya aneh?" tanya Gerry karena memang dari tadi ia tidak melihat keberadaan Norah yang entah di mana.

__ADS_1


" kalau soal Mama Papa sebenarnya dari tadi bingung soalnya Mama itu sikapnya hari ini aneh Tidak seperti biasanya, padahal kita kan tidak punya masalah tetapi dia seperti sedang memikirkan sesuatu hal tetapi ketika Papa tanya dia malah bilang nanti saja lah!" jelas Dito yang membuat Gerry langsung paham karena memang mereka tidak punya masalah tetapi orang yang berhubungan dengan masa lalunya Gerry itu yang punya masalah.


" kita memang tidak punya masalah Pah, tapi apa papa lupa kalau sebenarnya orang yang pernah berhubungan dengan Gerry dulu kini tengah punya masalah dan otomatis kita pasti akan dilibatkan. buktinya kemarin saja polisi sudah datang ke sini terus menanyakan hal yang tidak jelas membuat aku saja malas untuk meladeninya, semoga saja mama tidak terlalu tertekan karena memang kami berdua tidak ada apa-apa sudah lama sekali bahkan lost contact pun sudah terjadi dan aku juga tidak pernah mengharapkan kehadirannya yang membuatku menyesali kembali perbuatanku kepada Asya!"jelas Gerry .


Terkadang seseorang itu bisa percaya dengan apa yang kita lakukan bukan hanya dengan perkataan saja, karena sejatinya lidah itu tidak bertulang dirinya bisa membelokkan sejumlah kata tanpa diminta dan tanpa beban dan juga tanpa memerlukan tenaga yang ekstra. jika di bibir Gerry mengatakan bahwa ia tidak akan berhubungan dengan Mona lagi tetapi di kehidupan nyata Siapa yang tahu, karena pasti rasa iba itu ada apalagi wanita seperti Mona itu tidak akan pernah kenal kata menyerah dan dirinya akan terus mengganggu Gerry sampai kembali terjerumus seperti yang dulu.


" Aku bukan anak kecil lagi Yang akan kembali ke lobang yang sama seperti yang dulu aku lakukan, kesalahan akibat berhubungan dengan wanita itu saja Masih Membekas dalam ingatanku sampai sekarang masa iya aku harus mengulanginya lagi?" setelah mengatakan hal itu Gerry pun pergi ke kamarnya untuk merenungi semuanya Mungkinkah dirinya harus Mencari Pengganti Asya agar rasa bersalah itu hilang ataukah dirinya kembali merebut wanita itu meskipun suaminya tidak akan pernah mau memberikan istrinya meskipun nyawa adalah taruhannya untuk saat ini.


ketika mereka sedang berbahagia di salah satu penginapan yang bisa dibilang begitu mewah di kota Milan Italy, tiba-tiba Asya terlihat histeris karena melihat hidung Putri kecilnya itu mengeluarkan darah dengan jumlah banyak sampai-sampai seluruh mulut Elnara pun terkena benda cair berwarna merah itu.


" Ya Tuhan Kamu kenapa kok seperti begini, apa tadi Kamu sengaja menusuk hidung kamu dengan benda kasar sampai berdarah seperti begini?" tanya Asya yang mengira jika Elnara yang menyakiti diri sendiri.


Kenzo yang sedang berbicara dengan Millen langsung menghentikan kegiatannya itu dan mematikan ponselnya secara sepihak karena terdengar teriakan histeris dari sang istri, membuat pikirannya tentang hal yang bukan-bukan pun sedang menggerayang di dalam benaknya dan segera langsung menyusul ke arah sumber suara tidak peduli dengan pekerjaannya yang terbengkalai selama dirinya pergi.


Millen mendesah kasar ketika mendengar panggilan itu sudah dimatikan sepihak oleh majikannya itu, padahal kali ini dirinya ingin sekali membahas soal proyek kerjasama dengan Anthony yang merupakan rekan kerja Kenzo dan juga sahabat dari kakaknya yaitu Maxwell.


" selalu saja seperti begini coba setidaknya Anda selesaikan dulu pembahasannya biar aku langsung mengeksekusi itu kan gampang, kalau belum ada keputusan final Aku juga belum berani menjalankan proyek ini karena Biar bagaimanapun keputusan mutlak ada di tangan Anda, tuan!" Millen hanya bisa pasrah karena tidak mungkin juga akan dirinya melainkan protes kepada majikannya yang dikenal dingin dan juga tidak suka diajak kompromi.


Kenzo melihat ke arah istrinya yang tengah menghapus noda merah di hidung putrinya membuat dirinya berpikir mungkin itu adalah saus atau selai begitu, tetapi yang ia heran kan kenapa wajah Asya yang panik sedangkan Elnara terlihat anteng dan menuruti Apa yang dilakukan sang mami.


" El nya kenapa sayang kok kamu kayaknya panik seperti begitu, Perasaan tadi kan dia baik-baik saja apa dia mainnya terlalu kelebihan nakal atau gimana?" Kenzo menanyakan hal itu beruntun tetapi seketika langsung menghentikan pertanyaannya karena melihat air mata sang istri yang tidak berhenti mengalir meski suaranya tidak keluar.

__ADS_1


" Mas ayo kita bawa adik ke rumah sakit soalnya hidungnya berdarah dan setelah aku periksa itu bukan dari bekas benda tajam atau digaruk, soalnya darahnya tidak berhenti sudah begitu aku panik soalnya El dari tadi hanya diam saja nggak nangis!" Asya yang juga sudah ikutan menangis membuat Kenzo segera mengambil putrinya itu dari gendongan sang istri karena Biar bagaimanapun orang yang masih waras harus segera bertindak ketika orang yang lain sepertinya telah dibuat terkejut.


" Ya sudah ayo kita jalan kamu tolong bawa keperluan adik yang penting supaya tidak terlalu lama soalnya takut ada apa-apa dan kita tidak mengetahui selama ini, tapi tolong juga kamu jangan panik agar aku juga lebih rileks dan bisa berpikiran terbuka Soalnya kalau kamu panik aku juga bisa ikutan pandit loh Yang!" pinta Kenzo membuat Asya berusaha untuk tenang dan juga menganggukkan kepalanya walau sebenarnya beban pikirannya begitu berat saat ini.


orang tua mana yang tidak akan panik ketika buah hatinya yang masih kecil belum mengerti apapun sakit tetapi tidak memberitahukan di mana rasa sakit itu berasal, jadi otomatis kita harus lebih peka dan juga bergerak cepat agar masalah yang tidak diinginkan di kemudian hari tidak akan terjadi karena kita yang cepat menyadari hal itu!


jika apapun yang kau rasakan saat ini Tolong lebih bersikap terbuka agar orang di sekitarmu juga berpikiran yang sama, panik sih memang wajar karena itu salah satu sikap manusia dengan bentuk rasa perhatiannya dan juga rasa pekanya yang tiba-tiba muncul.


hanya saja terkadang kita terlambat memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan akibat rasa panik yang terlalu berlebihan itu membuat otak kita jadi Blank, maka dari itu setiap orang bakalan berkata tenang habiskan nafas lalu keluarkan secara perlahan setelah itu rileks dan berpikirlah lebih logis jangan terlalu memaksakan kehendak dan juga memikirkan hal yang tidak mungkin akan terjadi.


Sesampainya di mobil Kenzo memberikan putrinya kepada sang istri lalu dirinya duduk di belakang kemudi untuk membawa mereka pergi ke salah satu rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari situ, sedangkan Asya dari tadi hanya mengecup pelan kepala putrinya itu berusaha untuk tetap tenang karena ia tidak tega dan juga tidak ingin melihat El Nara ikutan sedih.


" Ya Tuhan maafkan aku jika selama ini sudah mempunyai dosa yang begitu besar kepadamu karena tidak pernah bersyukur dengan nikmat yang engkau berikan, tapi Bolehkah aku memohon untuk selalu menjaga putriku dan tidak membiarkan hal-hal yang tidak aku inginkan terjadi padanya!" gumam Asya dalam hati dan begitu sangat tidak kuat karena meskipun jumlahnya sudah berkurang tetapi darah dari hidungnya Elnara itu belum berhenti juga.


" gimana sudah berhenti atau belum sayang, kalau belum coba kamu angkat kepala adik di bagian dagu itu lebih tinggi agar darahnya tidak menetes lagi!" perintah Kenzo membuat Asya merutuki kebodohannya padahal dirinya merupakan mahasiswa kedokteran tapi kenapa hal itu tidak terpikirkan dari tadi.


" ya Mas aku bakal melakukan hal itu tetapi kamu tolong lebih cepat lagi soalnya aku takut ada apa-apa dengan adik, karena kalau sampai hal itu terjadi Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena tidak pernah peka dengan keadaan anaknya!" Kenzo hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena ternyata istrinya itu masih belum berpikiran secara rasional dan masih saja mengedepankan rasa panik itu.


" aku mohon sama kamu untuk sabar dan juga tolong Tetap tenang agar kita bisa melewati semua ini, mungkin adek karena terlalu capek bermain jadinya respon tubuhnya seperti itu atau Bagaimanapun aku juga bingung! Cobalah kamu berpikir Bukankah kamu itu merupakan salah satu mahasiswa di fakultas kedokteran, jadi otomatis jika hal seperti ini pasti kamu bakalan paham dan juga pasti kamu lebih tenang karena sudah tahu jalan keluarnya harus seperti bagaimana!" pinta Kenzo berharap agar istrinya itu lebih sadar dan juga tidak memikirkan hal yang aneh-aneh dan hasil akhir membuat wanita itu juga yang jadi drop.


Asya menggelengkan kepalanya mencoba menepis pemikiran yang aneh-aneh, karena memang apa yang dikatakan suaminya itu sangat benar.

__ADS_1


__ADS_2