Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 177


__ADS_3

Kenzo terenyuh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya tadi, ternyata gadis kecil itu merasa begitu terbebani berada di ruangan yang serba putih itu dan menurutnya pakaian yang dikenakan suster pun membuat dirinya sedikit terganggu.


otomatis sebagai seorang ayah dirinya harus bertanggung jawab dan juga bisa membuat agar anaknya itu tetap betah, maka dari itu apapun bakalan ia lakukan meskipun dengan harus merogoh sakunya lebih dalam lagi karena hanya itulah yang bisa membuat Elnara tidak merengek minta pulang.


"terus adiknya mau mereka memakai pakaian yang warnanya apa, mungkin nanti Papi bisa merequest kepada mereka agar menggantinya sesuai dengan kemauan adek? "tanya Kenzo penasaran.


"Adek itu maunya pakaiannya warna pink biar terlihat cantik, Terus kalau bisa di ruangan itu ditaruh balon-balon di atasnya biar rasanya seperti lagi di ulang tahunnya orang!"jelas Elnara membuat Asya tak bisa membendung tangisannya karena ternyata Putri kecilnya itu memiliki begitu banyak permintaan yang sangat sederhana.


"Ya sudah nanti Papi bakalan mengikuti semua yang My Princess inginkan, apapun kemauannya dan juga keinginan adik kasih tahu saja ke papian nanti Papi bakalan turuti!"ujar Kenzo yang selama ini tidak pernah membantah apapun yang diinginkan oleh Elnara.


"Ih Mami Jadi iri loh, karena Papi itu selalu menuruti kemauan adik sedangkan kalau Mami tidak pernah."Asya terlihat pura-pura marah karena ingin mencairkan suasana..


"Mami kan sudah besar Jadi tidak cocok meminta sesuatu kalau adek kan masih kecil harus meminta sesuatu agar menjadi anak yang pintar, Nanti kalau adek sudah besar tidak bakalan cengeng kok dan juga meminta yang tidak baik!"Asya dan Kenzo Saling pandang karena tidak percaya Jika putri kecil mereka itu tumbuh begitu bijak bahkan bisa dibilang selama ini anak mereka itu tidak pernah meminta hal-hal yang aneh padahal kedua orang tuanya mempunyai segalanya.


"Eh siapa bilang begitu? dengerin papi nih ya, meskipun kamu sudah besar sudah kuliah atau apapun itu pasti bakalan menurut semua kemauan kamu tanpa terkecuali!"jelas Kenzo.


"Oh iya Mami, Aunty Vina kok tidak kelihatan? Padahal tadi kan mami suruh dia untuk ke sini tetapi Kok tidak datang-datang, apa dia tidak suka kalau adik ada di tempat ini makanya aunty-nya tidak ingin datang ke sini?"tanya Elnara karena memang selama ini dirinya tidak pernah bertemu dengan Vina maka dari itu dirinya sangat penasaran dengan sosok wanita cerewet yang selalu mengganggu maminya itu.


Asya tersenyum mendengar pertanyaannya dilontarkan oleh Putri kecilnya itu karena ternyata dirinya sangat merindukan Vina, dan tentu rasa penasaran itu lebih besar daripada rasa Rindunya mungkin karena hampir setiap hari mendengar suara cempreng wanita itu.


"nanti sebentar malam mereka pasti bakalan sampai terus pasti kamu penasaran dong auntu-nya bakalan datang sama siapa, karena aunty-nya bakalan datang sama kakek dan nenek juga opa sama Oma kamu


"Aku kangen loh sama mereka semua, kenapa ya selama di sini kakek sama nenek terus opa sama Oma tidak telepon?" tanya Elnara heran.


"kalau untuk pertanyaan yang itu silakan kamu tanyakan saja ke Papi kamu soalnya kan semua Papi kamu yang atur, Kalau Mami mah terpaksa ikutin saja aku maunya dia daripada orangnya ngambek kan?"jelas Asya sambil tersenyum mengejek ke arah suaminya itu.


sedangkan Kenzo yang mendengar istrinya itu Tengah memojokkan dirinya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, sebab dirinya sangat paham dengan sifat Putri kecilnya itu jika ingin mencari tahu sesuatu pasti bakalan harus sampai tuntas tidak ada namanya berhenti di tengah jalan.


sedangkan di lain tempat Vina Tengah berkemas karena biar bagaimanapun mereka harus segera pergi ke Milan Italy menyusul Asya dan juga keluarga kecilnya itu, sedangkan Andi lebih dulu pamit katanya ingin check out dari Hotel makanya ya berjanji akan menunggu istrinya itu di lobby.

__ADS_1


padahal sebenarnya pria itu ingin menghubungi Gerry agar tidak usap terbang ke Den haag melainkan langsung ke Milan Italy saja, nanti perkara mereka mau bertemu cara bagaimana di sana itu urusan belakang yang penting intinya dirinya sudah memberitahukan keberadaan Asya dan juga suami serta anaknya itu.


Gerry yang tengah bersiap-siap merasa heran ketika Andi menelponnya, padahal setahunya alamat lengkap tempat Asya dan keluarganya tinggal saat ini sudah dikirimkan oleh pria dari seberang itu tetapi kenapa sekarang malah menghubunginya.


padahal Andi sendiri yang meminta jika Gerry tidak boleh menghubunginya lebih dahulu karena Takutnya nanti ada Vina di dekatnya, namun Entah kenapa pria itu malah sepertinya berubah pikiran dan kini malah menghubunginya lebih dahulu seperti ada masalah yang penting yang sedang terjadi.


"Iya kenapa Ndi, kamu kenapa sekarang ya malah menghubungiku Padahal tadi katanya tidak boleh menghubungi kamu lagi? "tanya Gerry penasaran.


"Memangnya kamu pikir aku ini orangnya plin-plan atau apa sih sampai-sampai harus mengingkari janji yang aku buat sendiri, aku itu sebenarnya mau kasih tahu ke kamu kalau sebenarnya Kami sekarang mau terbang menuju ke Milan Italy karena anaknya Asya sedang sakit dan mereka ada di sana saat ini!"bagaikan bisa petir di siang bolong itulah reaksi yang ditunjukkan oleh Gerry saat ini karena Entah mengapa tiba-tiba dirinya merasa hal yang sangat aneh ketika mendengar bahwa anaknya Asya itu sakit.


"apa? jadi Asya punya anak sedang sakit saat ini dan mereka bukan di Den Haag melainkan di Milan Itali? Ya sudah kalau begitu aku bakalan langsung mengubah tiket penerbangan untuk ke sana, Memangnya Kalian juga ikut menyusul ke sana kah terus sama siapa saja ? "tanya Gerry memastikan.


"Iya kami sedang bersiap-siap mau ke sana katanya menggunakan jet pribadi miliknya suami nya Asya, ingat ya kalau sudah sampai di sana bersikaplah seolah kamu tidak mengetahui semua informasi ini dari aku karena jika sampai hal itu terjadi maka bisa dipastikan tamatlah juga riwayatku dan juga Rumah tanggaku? "tekan Andi yang berharap agar Gerry paham dengan masalah yang tengah ia hadapi saat ini.


tanpa disadari oleh Andi yang mungkin karena terlalu asik berbincang lupa akan sekitarnya bahkan lupa dengan kehadiran seseorang yang dari tadi menetap heran ke arahnya, Bagaimana tidak heran karena saking asyiknya mengobrol sampai-sampai pria itu tidak menyadari di mana Dirinya sekarang Dan juga ada dengan siapa di tempat itu.


Andi dari tadi sangat serius langsung terkejut sebab menurutnya kehadiran istrinya itu sangat tidak ia siapkan sama sekali mentalnya, membuat pria itu mencoba bersikap Tetap tenang dan tidak terlihat seperti sedang ingin menyembunyikan sesuatu karena dirinya paham jika Vina itu paling hafal gestur tubuhnya ketika sedang berbohong.


"Ah kamu salah dengar mungkin tadi aku tidak ada niatan buat membahas soal rumah tangga kita kok, Terus untungnya juga apa coba kalau sampai membahas hal yang seperti begitu dengan orang yang tidak ada kepentingan sama sekali? "bohong Andi sebab dirinya tidak mungkin berkata jujur karena itu nantinya bisa menyebabkan terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Terserah dari kamu saja sekarang mau membohongiku atau tidak karena itu merupakan hak kamu, tetapi yang intinya hanya satu yaitu Jangan sampai aku mendengarkan kebohongan kamu itu dari orang lain atau kalau tidak aku tahu sendiri!"ujar Vina serius kalau keduanya pun segera pergi dari situ.


Andi terlihat hanya diam saja dari tadi berusaha mencerna maksud dari perkataan sang istrinya barusan, Mungkinkah nanti kalau sampai Vina tahu masalah Gerry entah nanti bagaimana respon wanita itu ke depannya.


"Maafkan aku sayang, karena sudah tega membohongi kamu barusan Habisnya aku juga tidak tega terhadap Gerry yang begitu permohonan ingin mengetahui semuanya! "gumam Andi dalam hati tidak berani menatap sedikitpun ke arah istrinya itu.


Vina yakin jika suaminya itu Tengah membohongi dirinya saat ini tetapi tidak berani juga ataupun tidak ada niatan juga untuk memaksakan kehendak agar pria itu mengaku, sebab masalah Asya dan juga anaknya sedang menjadi prioritas utama di dalam pikirannya takutnya sahabatnya itu sedang mengalami masalah yang begitu sulit dan susah sekali untuk mencari jalan keluarnya.


"semoga saja anak kamu baik-baik saja dan tidak terjadi hal yang membuat kita bakalan panik berjamaah, sebab kalau sampai hal itu terjadi maafkan aku karena entah nanti bisa melakukan banyak hal atau tidak kepada kamu!"Vina begitu bingung harus melakukan apa karena biar bagaimanapun Asya itu sahabatnya satu-satunya di dunia ini.

__ADS_1


"Apa kalian sudah mempersiapkan barang-barang yang nanti bakalan kita bawa ke sana, tidak usah terlalu membawa barang-barang terlalu banyak soalnya entah sakit apa yang dialami oleh Elnara kita semua tidak tahu?"tanya Rio memastikan.


"kamu tenang saja Mas, kami juga tidak bakalan membawakan barang-barang yang aneh-aneh. sebab nantinya kita bakalan kesulitan juga saat sampai di sana karena saking banyak barang yang kita bawa, sudah siap berangkat sih tapi hanya masih menunggu Vina dan juga suaminya soalnya tadi Asya berpesan mereka berdua harus ikut!"jelas Rianti.


berbeda dengan Dewi yang terlihat begitu Terpukul karena dirinya merasa belum siap mendengarkan sakit apa yang tengah dialami oleh cucu kesayangan mereka itu, sebab menurutnya waktu Elnara pergi dari situ anak kecil itu tampak sehat-sehat saja tidak ada masalah yang begitu berarti.


"Mbak jangan terlalu meresponnya seperti begitu doang nanti kasihan Asya jadi kepikiran kalau sampai di sana masih tetap keadaannya seperti begini, sakit itu memang merupakan kodratnya manusia tetapi jika masih bisa disembuhkan dan dicari jalan keluarnya maka otomatis kita harus selalu optimis tidak boleh gampang menyerah!"ujar George mengingatkan kakak iparnya itu yang terlihat begitu Murung dan tidak ada rasa semangatnya sama sekali.


"aku itu sedang memikirkan Asya yang pasti sedang kebingungan saat ini karena tidak ada siapapun yang menemaninya hanya Kenzo saja , apalagi mereka itu bisa dibilang masih merupakan orang tua baru pasti belum bisa terlalu mengambil keputusan yang benar karena saking paniknya!"jelas Dewi mengutarakan apa yang tengah ia rasakan saat ini bukan terlalu berlebihan tetapi memang itulah yang ada dalam pikirannya dan juga tidak bisa dirinya bohongi siapa saja.


ketika orang tua itu sedang kebingungan dan juga tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa berbeda dengan kedua orang tuanya Gerry , mereka merasa heran dengan putranya itu yang tiba-tiba keluar dari kamar sambil membawa koper besar seperti orang yang bakalan pergi jauh.


"Eh kamu mau ke mana, Memangnya semalaman kamu tidak tidur sampai-sampai pagi-pagi buta begini kamu sudah pergi? "tanya Norah penasaran.


padahal ini sebenarnya bisa dibilang bukan pagi buta melainkan sudah pagi karena Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, Gerry sebenarnya bakalan mengutarakan niatnya untuk pergi menyusul Asya ketika nanti sarapan pagi karena jadwal pesawatnya berangkat pukul 10.00 tetapi rencananya itu tidak bisa terlaksana.


membuat dirinya mengambil keputusan bahwa bakal Menjelaskan hal itu nanti ketika mungkin sudah dalam perjalanan, sebab takutnya dirinya bakalan terlambat penerbangan karena berangkatnya tepat pukul 09.00 pesawat yang mengantarnya ke Milan Italy.


"aku mau ke luar negeri untuk menyusul Asya dan juga keluarganya, Doakan aku agar bisa berjalan dengan lancar semua masalah yang terjadi dan juga tidak ada hal-hal yang bakalan terjadi tidak sesuai dengan harapan! "jelas Gerry membuat Norah yang tadi sedang menyiapkan sarapan langsung menghentikan kegiatannya itu.


"apa kamu bilang tadi? mau menyusul Asya dan juga keluarganya ke luar negeri, Ya sudah kalau begitu mama sama papa juga ikutan biar masalahnya bakalan clear sampai tuntas!"ujar Norah lalu segera berlari ke dalam kamarnya untuk menyuruh sang suami bersiap-siap karena mereka bakalan langsung pergi saat itu juga.


"tapi mama kalau kita rame-rame ke sana nanti yang ada itu suasananya bakalan lebih runyam, jadi lebih baik kalian tinggal jaga rumah nanti Biarkan saja aku yang bertindak soalnya yang lakukan kesalahan adalah aku maka biarkan aku yang bakalan menanggungnya sendiri!"bujuk Gerry yang sudah mengikuti langkah kaki mamanya berdiri di depan pintu kamar kedua orang tuanya itu.


"big no! kayak Papa siap-siap kita bakalan ikut Gerry untuk pergi menemui Asya dan keluarganya, tolong siapnya jangan pakai lelet atau Bila perlu terus bisa membawa apapun nanti kita bakalan belanja di sana saja!"jelas Norah membuat Dito yang sedang bersiap-siap menatap heran ke arah istrinya itu.


"Memangnya Mama tahu dari mana Kalau dia bakalan pergi menyusul Asya dan juga keluarganya, padahal semalam kan tidak ada rencana sama sekali untuk pergi ke sana? "tanya Dito penasaran karena keputusan yang tiba-tiba diambil oleh sang istri itu membuat dirinya begitu terkejut.


"bisa tidak jalan banyak pertanyaan untuk saat ini langsung saja dikerjakan? karena kalau kita berbicara terus otomatis bakalan ketinggalan pesawat, dan alhasil tujuan dari awal kita Untuk pergi batal kembali?"ujar Norah yang terlihat sudah bersiap.

__ADS_1


__ADS_2