
Dewi mencoba bersikap biasa saja tidak terlalu menonjol karena Takutnya nanti Vina bakalan tersinggung dan juga merasa bahwa ia tidak menerima orang yang masih mau membahas tentang masa lalu anaknya, dirinya juga tidak mungkin merespon apa yang dikatakan oleh Vina tadi karena wanita itu sedang curhat otomatis memerlukan teman untuk bicara dan juga berbagi keluh kesah.
terkadang apa yang kita inginkan dan juga yang kita harapkan tidak berjalan sesuai dengan keinginan oleh sebab semuanya sudah ada yang mengatur, hanya saja kalau Hanya berdiam diri seperti begitu dan memendam segala beban pikiran otomatis tidak ada yang bakalan tahu apa yang sedang kita rasakan sekarang ini.
" tidak masalah jika diri memang tidak mempercayai soal hubungan kamu sama Andi yang sebenarnya memang resmi sebagai suami istri, karena orang terkadang tidak percaya dengan apa yang didengar jika tanpa melihatnya secara langsung. maka dari itu kamu ambil respon positifnya saja yaitu tetap membina hubungan yang baik antara kamu dan suami kamu, agar orang lain tidak mengambil keuntungan dari hal itu Dan nanti bakal merugikan kalian sendiri! " jelas Dewi yang tidak ingin menjadi seorang juri dalam masalah pribadi ataupun rumah tangga yang tengah dihadapi oleh pasangan muda itu yang dirinya bisa memberikan pemikiran yang lebih bagus.
Vina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Dewi tadi karena tadi pikirnya Dewi bakalan marah Ataupun mungkin cuek kepadanya karena menyebut nama orang yang paling dibenci oleh mereka, hanya saja ketika mendengar jawaban dari wanita paruh baya itu terasa begitu legah di dalam hatinya dan sepertinya bebannya sedikit terangkat dengan Respon yang diberikan oleh Dewi.
" Terima kasih banyak tante atas pengertiannya Tapi jujur selama ini aku tidak pernah mau merespon apalagi membahas soal orang itu, hanya saja jika berhubungan dengan Andi aku kurang tahu karena sepertinya Gerry yang selalu menghubunginya seperti yang sudah aku temui beberapa kali ini!" ujar Vina membuat Dewi hanya bisa menghela nafasnya kasar.
entah dirinya harus merespon seperti apa ataupun menjawab setiap kata yang diucapkan oleh Vina tadi bagaimana, hanya saja otomatis ada rasa tidak nyaman yang ia rasakan ketika membahas tentang orang yang sudah membuat putrinya itu kesusahan di masa lalu.
namun jika mengingat soal keberadaan El Nara kini otomatis dirinya tidak mungkin menyangkal bawa kebahagiaan secara tidak langsung dititipkan diri itu merupakan sebuah anugerah yang terindah dalam hidup mereka, tidak mungkin ada penolakan dalam hidupnya jika menyangkut bayi kecil yang manis itu yang selalu saja membawa kebahagiaan di dalam kehidupan mereka tanpa bisa disangkanya.
" Ya sudah tidak masalah mungkin dia juga butuh teman untuk bicara atau seperti apalah terserah dari kemauannya saja kita tidak pantas untuk membatasi seseorang dalam mencari ruang gerak, hanya kalau memang kamu yang merasa tidak nyaman ngomong saja sama suami kamu pasti dia bakalan paham dengan apa yang kamu rasakan! jangan dipendam seperti itu karena setiap orang tidak bisa membaca pikiran orang lain, yang ada Nanti kalian bakalan berantem diam-diam Percuma dong datang ke tempat ini jika akhirnya bakal seperti begitu!" jelas Dewi.
ketika keduanya sibuk untuk berbicara tiba-tiba Rianti muncul dari belakang dan berusaha menyimak Apa yang sedang mereka perbincangkan tetapi sepertinya tidak dapat mengerti dengan arah pembicaraan mereka, Maka dari itu dirinya lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Dewi agar cepat selesai.
" kalian itu lagi ngobrolin apa sih kok serius banget, sampai-sampai aku yang dari tadi berdiri di pojokan sana tidak kalian hiraukan sama sekali?" tanya Rianti sambil mencubit gemas pipi Vina yang begitu tembem.
Vina hanya tertawa cengengesan melihat wajah penuh penasaran mertuanya Asya itu, dirinya pun menatap ke arah Dewi yang ternyata ikutan tertawa juga sebab merasa lucu dengan tingkah iparnya itu yang seperti orang penasaran.
" kamu itu kan tidak tahu apa-apa Jadi kalau mau dibahas pun kamu pasti bakalan gagal paham jadi lebih baik tidak usah tahu sama sekali, Lagian kita ini kan maksudnya kenalan lama yang baru bertemu sekali-sekali otomatis pembahasannya harus banyak dong Bila perlu harus meluber ke mana-mana!" ledek Dewi membuat Rianti mendengkur kesal karena iparnya itu sepertinya membuat dirinya harus memendam rasa penasaran.
__ADS_1
" Ya aku kan dulu juga merupakan tetangga Kalian juga otomatis kita itu merupakan kenalan lama jadi kalau ada berita penting harus dibagi dong, masa iya membiarkan aku bertanya-tanya seperti begini kalian itu ah nggak Asik jadi orang!" Rianti sambil memasang wajah cemberutnya.
" kita itu lagi nggak orang bahas apa-apa adik iparku tersayang Kamu itu jangan terlalu kepo deh nanti alhasil malam tidak bakalan tidur dengan tenang soalnya memikirkan hal itu terus, Ayo lebih baik Cepat selesaikan membuat sarapannya ke sana nanti para suami kalau bangun terus istrinya malah ngerumpi tidak jelas!" perintah Dewi membuat semuanya tidak mungkin membantah sebab biar bagaimanapun yang paling tua di tempat itu kan Dewi dan suaminya.
" Tante sudah ada kabar terbaru belum dari Asya soalnya aku kangen loh pengen ketemu dia sama anaknya, penasaran banget sama mukanya apa mirip aku atau tidak ?" tanya Vina memastikan.
" Nah itu dia masalahnya Soalnya sampai sekarang ponsel mereka tuh tidak bisa dihubungi bahkan lebih parahnya lagi mereka tidak pernah juga menghubungi ke sini selama pergi, mungkin mereka pikir kita di sini itu orang yang bakal biasa saja jika mereka melakukan hal itu!" sahut Riyanti yang memang dari semalam merasa kesal dengan sikap putranya itu yang seolah malas tahu padahal dirinya di sini sedang berharap-harap cemas dengan kabar dari mereka.
" ya Kok gitu Padahal aku juga dari kemarin loh telepon tapi nggak aktif, coba saja kalau jarak dari Den Haag ke Berlin dekat aku bakalan nyusul deh ke sana!" Vina terlihat begitu frustasi karena memang jujur tujuannya dari awal datang ke tempat itu yaitu melepaskan rindu dengan sahabat karibnya Namun ternyata Apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
" kalian sabar saja mungkin mereka lagi menikmati waktu kebersamaan keluarga kecil mereka yang selama ini selalu terganggu dengan kehadiran kita, masa iya mereka melupakan keluarga mereka sendiri kan tidak mungkin itu merupakan sebuah kemustahilan kan?" bujuk Dewi membuat Rianti dan Vina hanya bisa menghela nafas mereka tidak tahu harus bersikap seperti apa.
" ini pasti kelakuannya Kenzo yang selalu saja membuat orang lain emosi dan juga cemas dengan sikapnya yang semena-mena itu, padahal orang tuanya di sini sedang kebingungan tapi dia hanya di sana pasti bakal tertawa senang!" ujar Rianti yang sangat paham dengan sikap putranya itu yang selalu saja membuat dirinya dan sang suami Spot jantung tiap saat.
" tante kayaknya sepertinya nanti kalau Kenzo udah pulang kamu yang bakalan selalu berdebat dengan dia, soalnya dia itu paling tidak suka kalau orang lain Lebih berhak dari Asya dibandingkan dirinya!" ujar Yanti.
" Permisi tante-tante berdua bolehkah saya pinjam istriku untuk ke dalam sebentar soalnya ada yang ingin dibicarakan, Maaf ya Sekali lagi jika tidak sopan Soalnya dia lagi membantu tante tapi saya malah memerlukannya!" ujar Andi membuat Dewi tersenyum.
" Hei kamu kenapa ngomong kayak gitu nak? Lagian dia itu kan istrinya kamu otomatis ya harus melayani kamu kalau sudah bangun dari tidurnya, Jangan pernah merasa kurang enak hati jika itu menyangkut keluarga kamu soalnya di sini Yang menjadi kepala keluarga kan kamu!" ujar Dewi membuat Andi tersenyum dan begitu bangga Ketika istrinya itu bergaul dengan orang yang memiliki orang tua yang sangat pengertian seperti begitu.
Vina sebenarnya enggan menanggapi apa yang dikatakan oleh Andi tapi dirinya juga bakal merasa tidak sopan ketika berada di tengah-tengah orang lain yang bakalan tahu Apa masalah yang di tengah mereka hadapi, daripada nanti tambah pembahasan yang lebih lebih lagi lebih baik dirinya mengikuti Sebenarnya apa yang ingin Andi katakan padanya.
" Ya sudah kalau begitu tante silahkan lanjutkan saja pekerjaannya soalnya aku harus mengurus ini bayi besar yang tidak berguna, kalau tidak Nanti dia bakalan ngambek terus tidak bakalan berhenti dengan sikap cengengnya itu!" Sindir Vina yang menatap Ketus ke arah Andi.
__ADS_1
" hehe itu bayi besar tapi suami kamu lho bukan suaminya orang lain Jadi yang pantasnya untuk mengurus dia ya kamu, masa iya tanpa harus panggil pembantu sebelah untuk mengurus dia nanti Apa kata dunia ini loh?" ledek Dewi.
sepeninggal Andi dan Vina kini tersisa hanya Dewi dan juga Riyanti yang tadi begitu tersenyum sumringah di hadapan pasangan muda itu kini malah terlihat begitu lesu, entah beban apa yang sedang mereka pikirkan yang mungkin harus dibicarakan segera dengan suami mereka.
" Mbak kalau sampai sekarang belum ada kabar dari Kenzo dan juga Asya Apa kita harus menyusul mereka ke sana juga, aku takut jangan sampai mereka bakal kenapa-napa soalnya kemarin kan Mbak ngomong kalau Gerry juga ada di sana?" tanya Rianti penasaran.
" sebenarnya tidak masalah dia ada di mana saja karena Asya ke sana kan bukan sendirian saja melainkan bersama dengan suaminya yang otomatis pasti bakalan bisa menjaganya, hanya saja yang membuat aku kebingungan itu kenapa sih sampai sekarang mereka belum memberikan kabar sedikitpun Agar kita tahu bagaimana keadaan mereka di sana saat ini!" sahut Dewi yang memang tidak terlalu mengkhawatirkan Asya dan juga Elnara secara berlebihan karena biar bagaimanapun Kenzo pasti tentu tidak akan membiarkan keluarganya kenapa-napa.
" soalnya aku kepikiran sekali takutnya anak itu nekat dan bakal melakukan segala cara untuk membuat keinginannya itu bisa tercapai, dan juga bakal membuat mereka kesusahan di sana soalnya keluarga kita kan tidak ada satupun yang di tempat itu!" jelas Rianti tetapi Dewi tidak terlalu menanggapi dengan serius karena Biar bagaimanapun jika dirinya cemas otomatis tidak bakalan bisa berpikir dengan jernih.
jika semua orang tengah berharap cemas dengan kabar dari keluarga Kenzo berbeda dengan Milen yang selama beberapa minggu ini harus dibuat emosi terus menerus oleh asistennya Dev, Bagaimana tidak pria itu bukannya ikut pulang dengan tuannya kembali ke tanah air malah tiap hari harus merecoki dirinya dengan wajah tanpa berdosanya itu.
kalau saja Rama mengganggunya di tempat lain selain di kantor dan juga dekat dengan orang-orang yang dikenalnya mungkin responnya bakalan biasa saja, tetapi ini sungguh sangat mengganggu segala macam aktivitasnya sebabnya selalu menunggunya di parkiran kantor dan membuat dirinya alhasil menjadi gunjingan satu perusahaan itu.
karena semua orang tahu bagaimana sikapnya selama ini Ketika berhadapan dengan lawan jenis yang dianggapnya seperti orang yang terlalu mengganggu kebebasannya, tetapi dengan Rama dirinya tidak bisa bersikap apapun sebab menurutnya mau dimarahi dicaci maki ataupun dipukuli model apapun pria itu tidak bakalan ambil pusing dan Memilih tetap pada pendiriannya.
" Halo Millen cantik Selamat pagi Kenapa sih hari ini tidak tersenyum seperti kemarin padahal aku sudah menyiapkan kejutan besar lho buat kamu, dan aku yakin kamu bakalan menyukainya tidak akan pernah menolak pesonanya apalagi pesona pemiliknya!" sang Don Juan sejati sedang beraksi namun kira-kira Milan bakalan terpengaruh atau tidak entahlah.
bukannya menggubris apa yang dikatakan oleh Rama Tetapi wanita itu malah memilih untuk menjauh dan segera masuk ke dalam kantor, namun sebelum itu dirinya memberi peringatan kepada satpam yang berjaga di depan agar tidak melakukan kesalahan seperti kemarin-kemarin lagi.
" Eh kamu yang bertugas di situ ingat ya jangan pernah mengijinkan manusia kurang ajar ini masuk ke dalam kantor atau kamu yang bakalan saya depak keluar dari tempat ini, kamu pikir saya datang ke sini hanya untuk bermain-main ataupun melakukan sesuatu yang tidak ada keuntungannya sama sekali?" tanya Millen sinis membuat satpam itu hanya bisa menundukkan kepalanya karena Biar bagaimanapun orang yang sedang berbicara dengannya itu merupakan kaki tangan dari pemilik tempat itu.
" Maafkan saya Nona, jadi tidak bakalan membiarkan benalu seperti yang anda katakan itu masuk dan juga mengotori tempat ini!" sahut satpam itu tetapi tidak dapat menatap ke arah Millen yang tengah bersedekap dada dan menatap sinis arahnya.
__ADS_1
" Baguslah kalau sadar diri tidak seperti kemarin-kemarin yang bertingkah selalu aneh dan membuat saya emosi, ingat ya apa yang saya katakan tadi Jangan pernah memasukkan orang sembarangan ke dalam tempat ini dan mengganggu kinerja para pegawai yang ada di sini!" setelah mengatakan hal itu tanpa menghiraukan kehadiran Rama ataupun membalas sapaan pria itu Millen pergi tanpa menoleh ke arah belakang lagi karena menurutnya kehadiran pria itu hanya mengganggu dirinya saja.