
Vina dan Andi yang sudah berada di dalam kamar hanya bisa saling diam,sebab Vina sedang mogok bicara dengan suami nya itu sedangkan Andi tidak tahu harus memulai kata yang mana.
Alhasil karena semua nya berdiam diri dengan ego masing masing,maka yang ada itu hanyalah kesunyian saja.
Vina pun tetap pada pendirian nya yaitu bahwa Andi sangat salah disini sebab sudah berani menyembunyikan hal sebesar itu darinya,padahal selama ini dirinya bertanya tanya dimana Gerry tapi jawaban pria itu adalah tidak tahu menahu bahkan dirinya saja juga sedang mencari keberadaan Gerry.
Apa susah sekali mengakui hal yang diketahui kepada istrinya sendiri,karena itu lebih baik dari pada diketahui dengan cara yang tidak benar.
Andi yang sedang duduk tiba tiba dikejutkan dengan bunyi ponselnya,dan setelah dipastikan siapa yang menelpon tatapan wajahnya langsung terarah kepada sang istri.
Vina yang sedang menatap sinis kearah nya langsung paham jika itu pasti Gerry yang menelpon,dirinya pun tertawa sinis dan memilih langsung tidur saja daripada memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan sama sekali.
"Heh,dasar pria tidak normal lebih mementingkan yang tongkat daripada semangka!" Sindir Vina memilih membelakangi Andi.
Pria itu hanya bisa menghela nafasnya kasar sebab ternyata sang istri memang sangat marah padanya,akan tetapi mau mengabaikan Gerry juga merupakan hal yang tidak mungkin karena biar bagaimanapun pasti ada hal yang penting sehingga pria itu menghubungi dirinya.
"Iya Gerr,ada apa ya?" Tanya Andi memastikan sambil menatap kearah Vina untuk melihat apakah istrinya itu merespon atau tidak.
Namun Vina tak peduli dengan semuanya dan memilih hanya menjadi pendengar yang baik,sebab ia juga harus memastikan sebenarnya apa yang mereka bicarakan.
"Kamu ada dimana sekarang,bisa datang kerumah ku sekarang?" Tanya Gerry memastikan.
"Memang nya kamu ada dimana,memang bisa aku sampai kesana dalam waktu yang cepat?" Tanya Andi heran dengan apa yang dikatakan oleh Gerry itu sebab sangat aneh menurutnya.
"Dalam waktu 15 menit juga kamu pasti langsung sampai,sekarang kamu posisi ada dimana?" Tanya Gerry lagi.
"Jangan bicara yang aneh aneh kamu,bukannya kamu ada diluar negeri?" Tanya Andi sangat tak paham dengan apa yang dikatakan oleh sahabat nya itu.
"Ya aku dirumah makanya suruh kamu datang,memang kamu pikir aku orang yang tidak tahu menahu soal jarak tiap negara?" Gerry terdengar begitu jengkel dengan sikap terlalu bertele tele Andi itu.
"Jadi kamu sudah kembali ke Indonesia,tidak hibernasi lagi di luar negeri seperti kemarin kemarin?" Tanya Andi yang terlihat antusias membuat Vina pun tak kalah antusiasnya seperti pria itu.
"Kamu itu semakin hari semakin tak berfungsi isi otak kamu,menurut kamu orang bodoh mana yang mau menyuruh orang datang dalam waktu 15 menit jika jarak tempat lebih dari beribu kilometer?" Tanya Gerry kesal.
"Ya sudah kalau begitu karena aku memang tak bisa datang,karena aku sedang tidak ada dirumah. Lagian memangnya ada hal penting apa sampai kamu memaksa ku untuk datang,padahal ini kan sudah malam dan aku sangat capek?" Tanya Andi heran.
Gerry menatap kembali kearah ponselnya untuk memastikan apa ia menghubungi Andi atau orang lain,sebab semua jawaban yang diberikan oleh orang di seberang sangat aneh dan tak masuk akal.
"Kamu masih waras kan dan juga bisa tidak memberikan alasan itu jangan yang aneh bin ajaib?" Omel Gerry..
__ADS_1
"Coba jelaskan apa yang aneh dari jawaban ku yang tadi,perasaan itu semua berdasar kenyataan dan tidak ada yang di buat buat?" Sungut Andi.
"Aku disini masih siang garing bahkan bisa dibilang sinar matahari bisa untuk menggoreng ikan,maka dari itu kalau kamu katakan sudah malam ya jelas aku katakan kamu itu tidak jelas sama sekali?" Sungut Gerry.
Andi sempat tertawa tapi Gerry membentak dirinya membuat Vina pun merespon dan meraih ponsel ditangan suami nya itu,sebab menurut nya Gerry terlalu semena mena dengan orang lain karena merasa dirinya paling benar.
"Ehhh manusia tidak tahu diri,kalau menelpon orang lain hanya untuk dimarahi lebih baik tidak usah! Memang nya kamu pikir suamiku ini pesuruh nya kamu jadi seenaknya saja kamu memberikan perintah untuk nya,kalau mau jadi bos besar silahkan cari orang lain saja!" Vina benar benar emosi dengan sikap Gerry yang terlalu menganggap diri sebagai orang yang paling penting begitu.
Gerry menatap heran kearah ponselnya dan merasa heran dengan suara yang ia dengar,sebab sangat tak asing di pendengaran karena sering di dengar tapi entah kapan..
"Ini suara kok sangat tak asing di pendengaran,tapi siapa ya?" Tanya Gerry monolog.
"Heii kenapa diam,apa kamu merasa apa yang aku katakan benar dan akhirnya sadar diri?" Sinis Vina dari seberang.
"Kamu dalam rangka apa bicara seperti itu,jangan bilang kamu Vina si cerewet yang suka sekali menggangu Asyaku selama ini?" Tanya Gerry membuat Vina mendengus kesal.
Asyaku....
Sebuah kata yang terdengar sederhana tapi mengandung berbagai macam bentuk pemikiran setiap orang yang mendengar nya,mulai dari sesuatu yang tak pantas diucapkan dan sesuatu yang menimbulkan konflik berkepanjangan.
"Eh kamu itu kalau dekat dengan ku sekarang maka aku pastikan sudah menghajar kamu sampai bonyok,ingat ya jangan macam macam dengan ku atau aku bakal bikin perhitungan dengan kamu suatu saat nanti!" Teriak Vina yang benar benar sangat tersulut emosi.
"Aku itu istrinya terus kamu mau Apa? Jangan bilang kamu kaget karena dia sudah menikah,ya jelas karena pria baik pasti bakal mendapatkan wanita yang baik pula bukan seperti pria yang tidak tahu menghormati wanita sedikitpun!" Sinis Vina membuat Gerry bungkam dan kembali mengingat hal lalu yang sudah terjadi dan itu merupakan dosa terbesar dalam hidup nya.
"Ingat apa yang aku katakan ini dan camkan dalam otak kamu biar tidak melupakan bahwa ada hal penting yang harus selalu kamu ingat,JANGAN PERNAH MENGGANGU ANDI LAGI KARENA MANUSIA SEPERTI KAMU ITU SEPANTASNYA SENDIRIAN DI DUNIA INI AGAR SADAR DIRI DAN SADAR SALAH !!" Vina menekan setiap perkataan yang ia ucapkan agar Gerry paham.
Lalu setelah itu ia mematikan ponsel nya secara sepihak dan mengeluarkan sim card di dalam nya dan mematahkan nya tepat di hadapan Andi,membuat pria itu hanya bisa menghela nafasnya kasar sebab seperti nya Vina memang benar benar marah padanya.
"Jangan ganggu aku malam ini atau kamu bakal dapat perhitungan dariku,dan aku sedang tidak ingin bercanda kepada kamu walau hanya sedikit saja." jelas Vina dengan Tatapan yang begitu tajam sebab memang benar-benar dirinya tidak ingin berbicara ataupun mengatakan hal yang lainnya kepada sang suami yang menurutnya sudah membuat dirinya kecewa.
Andi tidak mungkin membantah apa yang dikatakan oleh istrinya itu karena menurutnya jika wanita itu sedang kecewa,otomatis setiap perkataan bakal di keluarkan saat itu juga maka kita harus berusaha lebih dewasa agar tidak membuat runyam masalah itu sendiri.
"Tapi kalau colek sedikit saja pasti boleh kan,soalnya kamu tahu sendiri kan tangan ku seperti apa kalau nakalnya lagi kumat?" Tanya Andi yang berusaha tetap dalam posisi santai agar Vina juga tidak terus marah-marah melulu kepadanya dan alhasil masalah mereka yang sebenarnya hanya salah paham saja berubah menjadi masalah besar dan dirinya tidak ingin hal itu terjadi sebab percuma jalan jauh-jauh dari tanah air untuk datang ke negeri itu jika akhirnya tidak melakukan apapun itu.
"Tangan nya kalau nakalya di tinggal diikat saja,daripada mengganggu kenyamanan dan juga ketenangan orang lain?" Sungut Vina dengan tampang cemberut.
"Sabar Andi sabar Bro ! Daripada nanti yang bakal kesulitan kamu sendiri,dan juga sudah tahukan seperti apa sikap suami kamu itu?" Tanya Andi dalam hati berusaha menjadi pria yang kalem dan tidak neko neko.
"Memangnya kamu berani melakukan hal itu kepada suami sendiri, Apa kamu mau dibilang istri yang durhaka karena tidak berbakti kepada suami sendiri dan malah menyiksanya secara fisik dan juga batin? " tanya Andi sambil naik turunkan alisnya membuat wajah Vina menjadi seperti keluar asap diatasnya.
__ADS_1
"Kamu itu bisa tidak jangan banyak bicara,memang nya kamu pikir aku ini teman bermain kamu yang bisa kamu ajak bercanda kapan saja?" Tanya Vina sinis.
"Oh jelas lah,karena kamu itu istriku jadi tidak masalah dong jika ajak bercanda,bahkan olahraga malam pun tak masalah!" Andi tidak mempermasalahkan apapun respon istrinya itu yang menurutnya sedang merajuk merupakan hal yang pantas untuk diajak bercanda.
Vina memilih untuk tak peduli setiap hal yang dikatakan oleh suaminya itu,sebab menurutnya hanya mengundang emosinya dan alhasil keduanya bakal ribut di rumah orang lain.
Dewi dan Rio masih terjaga ketika orang lain sudah tertidur ,sebab keduanya memikirkan tentang Gerry yang takut nya bakal menemukan Asya dan membuat Kenzo bakal bereaksi.
"Mas,padahal selama ini aku selalu berharap mereka tidak akan bertemu lagi. Kalau seperti ini aku tak bisa pastikan bagaimana nasib Elnara nanti nya,sebab kamu tahu kan kalau darah lebih kental dari segalanya?" Tanya Dewi yang terlihat begitu frustasi akan semuanya..
Rio hanya bisa mengusap pelan bahu istrinya itu agar lebih tenang,sebab ia juga tak tahu harus berkata apa sebab semua masih terasa begitu abu abu dan belum ada kejelasan sama sekali.
"Lebih baik berdoa agar lebih tenang dan juga sudah jangan banyak bicara lagi,daripada nanti kamu yang bakal kepikiran dan juga jadi sakit!" Bujuk Rino membuat Dewi hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Semoga saja apa yang kita takutkan tidak terjadi sama sekali,karena Mama bingung harus bereaksi seperti apa nantinya!" Lirih Dewi pelan dan berusaha agar tetap santai.
Tentu saja mereka tak bisa menelpon Asya dan Kenzo sebab nomor keduanya sedang tidak aktif,oleh karena baterai Ponsel yang lupa mereka isi .
Berbeda dengan Rianti yang terlihat sangat heboh oleh karena anak anak nya yang tidak bisa di hubungi,padahal dirinya sangat cemas dan merindukan suara si kecil.
"Pah,perasaan waktu kita pergi liburan ke luar negeri nomor ponsel yang lama masih tetap bisa di gunakan tapi nomor mereka malah yang ada tidak aktif?" Tanya Rianti dengan nada yang penuh kecemasan.
"Sabar saja mungkin baterai Ponsel mereka lowbat atau apa lah itu,dan tolong jangan terlalu panik!" Bujuk George pelan.
Rianti bukannya tenang mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya melainkan wanita itu mendengus kesal ,sebab dalam pikirannya kalau suaminya itu tidak mengerti dengan perasaan nya kini yang sedang gelisah memikirkan keberadaan anak mereka yang tidak bisa dihubungi sama sekali.
" Papa pikir yang Mama cemaskan sekali sekarang itu masalah sepele dan juga tidak ada yang penting sedikitpun, ini itu menyangkut anak kita yang tidak ada kabar sama sekali Padahal mereka berdua mempunyai ponsel?" Tanya Rianti .
George hanya bisa menghela nafasnya karena dari tadi dirinya bukan menyalahkan istrinya karena terlalu cemas berlebihan melainkan hanya ingin agar wanita itu lebih berpikiran positif, sebab tidak mungkin Kenzo dan asap kenapa-napa sedangkan pergi ke sana saja mereka menggunakan jahit pribadi dan juga sudah disiapkan tempat penginapan yang sangat nyaman dengan berbagai sudut ada penjaga di mana-mana.
"Iya sudah maafkan Papa karena berbicara seperti itu,hanya saja bisakah kita istirahat sekarang karena Papa capek sekali?" Akhirnya hanya kata itu yang lolos dari mulutnya George daripada dirinya berbicara banyak dan mengakibatkan perdebatan terjadi antara dirinya dan juga Rianti yang sangat keras kepala itu.
" Ya sudah papa kalau mau tidur ya sana Mama tidak akan mengganggu soalnya yang Mama cemaskan sekarang itu Kenzo dan juga anak istrinya bukannya mencemaskan Papa, Jadi kalau Papa mau ngapain saja terserah mama mah tidak peduli daripada yang ada bikin tambah ribet !" omel Rianti karena Sikap yang ditunjukkan oleh George itu seperti tidak ada yang perlu dicemaskan padahal ini dalam masa darurat.
Kata para Pujangga wahai kaum wanita yang merupakan makhluk paling benar sejagat raya Bisakah ketika berkata selalu menggunakan bahasa yang halus tidak mengandalkan emosi, karena yang ada hanya membuat orang lain kebingungan untuk merespon Seperti apa atas sikap mu itu.
Diam,kata itulah yang menggambarkan suasana hatinya kini yang tengah di pilih oleh George,daripada nanti urusan nya tambah ribet dan membuat masalah yang tak ada menjadi ada.
Rianti yang melihat suaminya sudah tidak berbicara lagi membuat dirinya pun merasa bersalah karena tadi sudah membentaknya, padahal sebenarnya maksud dirinya tidak ingin melakukan hal itu hanya mungkin karena efek terlalu mencemaskan anak-anak membuat respon cepatnya yaitu memarahi suaminya sendiri.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu kita istirahat saja mungkin ponsel mereka baterainya mati atau apa terserahlah,kalau besok mereka tidak memberi kabar barulah kita membicarakan hal ini kepada mas Rio dan Mbak Dewi agar bisa mendapatkan jalan keluarnya!" jelas Rianti.