Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 147


__ADS_3

keduanya yakin jika sebenarnya Gerry itu punya maksud tertentu Dengan mengatakan hal yang sangat ambigu jika hanya didengar sekilas tanpa mencernanya lebih dahulu, maka dari itu Norah tanpa banyak berbicara lagi langsung menatap tajam ke arah kiri meminta klarifikasi dari pria itu soal perkataan yang tadi.


" kamu bisa jelaskan apa yang kamu maksud tadi Soalnya mama sepertinya masih kurang paham dengan arahnya ke mana, tetapi kamu ingat ya jangan sampai melakukan lagi kesalahan yang sama seperti dulu aku bisa dipastikan nama kamu bakalan segera tersingkirkan dari kartu keluarga Erlangga!" ancam Norah yang terlihat sungguh-sungguh bahkan bisa dibilang tidak nada-nada bercanda di dalamnya.


Gerry hanya bisa menghela nafasnya kasar soalnya sepertinya setiap apa yang ia katakan pasti bakalan selalu disalah artikan oleh sang mama, memang benar dirinya sedang merencanakan sesuatu Tetapi entah apa itu ia tidak bisa memastikan secara langsung karena Biar bagaimanapun kesalahannya yang pertama saja belum termahal kan masa iya dirinya harus melakukan kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya.


" mama, setiap orang itu otomatis ingin menjadi lebih baik daripada hari kemarin jika hari yang kemarin itu dirinya melakukan kesalahan otomatis hari ini ia akan segera memperbaikinya! aku mencoba bersikap seperti begitu Tetapi hanya Mama saja yang tidak pernah mempercayakan kesungguhanku, jadi mau aku berbicara seperti apapun pasti tidak akan ada yang mengerti dengan keinginan hatiku saat ini! "Jelas Gerry yang begitu kecewa dengan apa yang tengah ia alami saat ini.


" kamu kalau sebagai seorang pria sejati biarpun mau masalah yang dihadapi itu sebesar apapun pasti tidak akan pernah menyerah dan mengambil jalan pintas, maka dari itu sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkataan Mama kamu yaitu tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama lagi dan membuat semuanya menjadi tambah rumit!" kali ini mau tidak mau sebagai seorang kepala keluarga Dito tidak bisa Hanya berdiam diri dan mendengar perdebatan istrinya dan juga anaknya yang sepertinya tidak akan pernah ada kata mengalah diantara keduanya itu.


" Mama saja penasaran kok bisa ya mereka punya anak secepat itu, padahal bisa dibilang Asya kan belum lama meninggalkan negara ini?" kali ini Gery si pemikiran dengan sang mama karena memang dari kemarin hal itu yang ada dalam benaknya hanya saja mau mencari tahu kepada Andi merupakan sebuah hal yang mustahil.


apalagi mengingat sikap Vina yang begitu membenci Gerry membuat pria itu tidak bisa lagi terus-menerus menghubungi sang sahabatnya, karena pasti nanti bakalan terjadi perang dunia antara Vina dan juga Andi hanya karena masalah yang tidak begitu rumit.


" Sebenarnya aku itu dengan gampang bisa minta tolong sama Andi, hanya saja sepertinya istrinya itu sangat tidak menyukai keberadaanku di sekitar mereka soalnya Setiap hari aku telepon pasti bakalan berakhir dengan berdebat dengan dia!" jelas Gerry membuat Norah menatap tak percaya ke arah putranya itu karena memang merasa aneh jika mendengar kata Andi sudah menikah.


karena setahunya jika Gerry baru saja selesai studi otomatis Andi pun pasti melakukan hal yang sama juga mengingat Mereka berdua adalah satu angkatan, dan jikalaupun istrinya itu mengenal Gerry Artinya mereka merupakan orang yang sama-sama dekat dengan pria itu selama ini.


" memangnya siapa sih istri dari Andi itu sampai-sampai sangat membenci kamu, karena perasaan selama setahun kamu di sini otomatis kamu pasti tidak akan pernah bertemu dengannya kan?" tanya Norah penasaran.


Gerry menatap tak percaya ke arah mamanya yang ternyata juga kepo dengan urusan kepribadiannya Andi, padahal sebenarnya itu merupakan urusannya karena Biar bagaimanapun yang bersahabat dengan Andi adalah dirinya Bukan mamanya.


" Mama kenapa mau ingin tahu siapa sebenarnya istrinya Andi saat ini, perasaan kalau Mama nggak tahu juga tidak akan mengubah Apapun kan agar menjadi lebih baik nantinya?" tanya Gerry membuat Norah mendengus kesal karena menurutnya anaknya itu seolah meremehkan dirinya.

__ADS_1


" kamu pikir dengan mama mencari tahu semuanya Terus setelah tahu bakalan tinggal diam saja tidak melakukan apapun karena kebodohan yang sudah kamu lakukan itu? kamu bisa tidak jadi orang berpikirnya lebih realistis tidak sampai itu amat, Mama sebagai orang tua ingin masalah ini cepat beres agar tidak berlarut-larut soalnya membereskannya untuk sekarang rasanya sudah terlambat! " jelas Norah dengan kata-kata yang begitu lebih tinggi nada bicaranya.


" Mama kenapa sih selalu bisa terpancing emosi padahal sebenarnya apa yang dikatakan Gerry itu tidak ada yang salah, mau kita tahu siapa istrinya Andi pun tidak akan mengubah apapun menjadi lebih baik atau pun Asya bakalan kembali ke sini!" kali ini Dito tidak menyukai apa yang dikatakan oleh istrinya tadi.


" nah tuh kan Papa saja mendukung apa yang aku katakan Kenapa mama kok susah sekali untuk saat ini saja mendukungku, padahal sebenarnya apa yang aku katakan tadi tidak ada yang salah sedikit pun?" Gerry merasa besar kepala ketika sama Papa sudah mulai mendukungnya seperti biasanya.


Norah tersenyum mengejek ke arah kedua pria yang sangat berharga untuk hidupnya itu, karena memang sikap yang mereka tunjukan itu seolah memancing keadaan agar dirinya menjadi emosi dan berakhir dengan perdebatannya sendiri seperti biasa.


" kalau saja kamu tidak memancing emosinya Mama terus melakukan kebodohan yang seperti sudah kamu lakukan selama ini, ya tentu saat ini mama tidak bakalan marah-marah ke kamu terus mengatakan hal yang aneh-aneh karena kan kamu tidak ada salah! namun kalau kamu sudah melakukan kesalahan seperti begini saja berharap kamu bakal berubah suatu saat nanti tanpa perlu dikatakan yaitu sama saja bohong, karena orang seperti kamu itu harus dibilang Secara garis lurus tanpa belok kiri kanan baru mungkin bisa paham dengan apa yang orang lain inginkan!"Omel Norah yang terlihat begitu tidak menyukai Sikap yang ditunjukkan oleh Gerry barusan.


Dito yang melihat istrinya sudah mulai terpancing Emosi tidak bisa berbuat banyak apalagi Norah yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, otomatis dirinya tidak bisa lagi menambah bumbu ataupun membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah.


" baiklah kalau mama mau tahu siapa sebenarnya istrinya Andi maka aku akan mengatakan sejujur-jujurnya tanpa ada yang bisa aku sembunyikan, tetapi ini menurut perkataan orang itu bukan karena aku sudah melihatnya sendiri dan Lagian mereka juga tidak ada di sini sebab sedang menyusul Asya dan keluarganya yang entah di mana Aku saja bingung!" perkataan yang dilontarkan Gerry membuat Norah terhenyak kaget karena tidak percaya jika Sebenarnya ada yang tahu di mana selama ini Asya berada.


" Vina, Mama tahu kan wanita cempreng yang biasa ke rumahnya Asya dulu? dia itu merupakan istri Andi saat ini dan Sebenarnya aku sudah meragukannya tetapi Mendengar kata-katanya secara langsung membuat aku sadar, jika sebenarnya memang dirinya sudah menikah dengan Andi dan entah kapan itu terjadi Aku tidak tahu menahu sama sekali!" jelas Gerry .


netra Norah membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Gerry barusan, memang dirinya sangat tidak asing dan bisa dibilang mengenal dekat Siapa itu Vina.


oleh karena wanita itu selalu berkunjung ke rumah Asya sehingga membuat dirinya bisa mengenal dekat, dan juga karena satu universitas yang sama dengan Gery jadi otomatis tidak terlalu asing dengan Vina.


" Jadi maksud kamu Vina itu sebenarnya adalah istrinya Andi saat ini, wah Wah ternyata selama kita pindah banyak kejadian yang sudah Terlewatkan dan kita tidak tahu sama sekali?" tanya Norah dengan tatapan yang sendu karena biar bagaimanapun dirinya merasa seperti kehilangan momen berharga di antara orang-orang sekitarnya.


Padahal selama ini apapun yang terjadi pasti dirinya akan tahu menahu tidak seperti saat ini terlihat seperti orang asing padahal sudah saling mengenal lama, jika sudah seperti begini Mungkinkah dirinya masih punya muka untuk tampil di hadapan keluarganya Dirgantara.

__ADS_1


" Iya apa yang mama tanyakan tadi itu benar sekali tapi Itu kan menurut Vina dan aku masih meragukan kebenarannya, Siapa tahu hanya akal-akalannya saja agar aku berhenti menghubungi Andi dan tidak menanyakan soal Asya ?" jelas Gerry membuat Norah menatap kesal ke arah putranya itu.


" Seharusnya kamu itu malu dan juga tidak ada niat untuk melakukan pernikahan orang lain, Memangnya menurut kamu ada keuntungan buat Vina jika mengakui kalau Andi itu adalah suaminya saat ini? kamu yang tidak tahu apa-apa harusnya lebih sopan sedikit dalam menyikapi sesuatu jangan langsung ambil jalan pintas seperti begitu, Memangnya kamu pikir dia tidak punya pekerjaan lain selain mengakui hal-hal yang seperti kamu katakan tadi?" tanya Norah karena memang tidak menyukai Sikap yang ditunjukkan oleh Gerry yang merasa diri paling benar di antara semua orang yang ada.


" Ya aku kan maksudnya meragukan soalnya selama ini kan mereka selalu bermusuhan tidak pada kata akur sedikitpun, masa iya tiba-tiba langsung menikah seperti begitu kan terasa begitu aneh!" ujar Gerry sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" terus katanya kamu yang akur sama Asya Apa masih bertahan sampai sekarang atau mungkin kalian sudah menikah, Coba kamu lihat sekarang Memangnya dia mau bertemu sama kamu padahal bisa dibilang kalian dulu tuh selalu lengket seperti amplop dan perangko?" tanya Norah sinis karena tidak menyukai rasa percaya diri yang dilontarkan oleh Gerry barusan.


Gerry baru sadar setelah mamanya mengatakan hal itu ternyata memang benar terkadang apa yang kita lihat belum tentu kenyataannya seperti itu, hanya saja semua sudah terjadi kata terlambat pun tidak akan bisa memperbaiki kesalahannya maka dari itu dirinya lebih memilih mendengarkan apa yang dikatakan oleh seorang mama agar wanita itu pun tidak merasakan kecewa seperti yang lain.


" Maafkan aku mah karena selama ini sudah membuat Mama malu dan juga membuat Mama selalu saja memikirkan hal yang telah aku lakukan, tetapi Percayalah kalau aku tidak ada niat sedikit untuk menyakiti hati orang lain apalagi membuat orang-orang tersebut menjadi jauh dari keluarga kita bahkan bisa dibilang menjadi musuh!" lirih Gerry tetapi menurutku Norah hal itu sudah sangat terlambat untuk saat ini.


" apa yang kamu ngomong dari tadi itu sebenarnya menurut Mama sudah tidak ada gunanya sama sekali, Lagian untuk dapat mempertahankan ataupun berusaha menjadi lebih baik ketika kesalahan kamu yang dahulu saja belum diperbaiki! untuk sekarang ini kamu Lanjutkan pekerjaan kamu karena mama sama papa aku sudah susah payah membiayai kamu sekolah menjadi seorang dokter, mungkin uang yang kami berikan itu menurut kamu tidak seberapa tapi kalau bagi orang lain itu merupakan sebuah angka yang tidak bisa dianggap sebagai sebuah angka yang biasa saja tetapi sangat berharga menurut mereka!" jelas Norah membuat Dito hanya tersenyum ketika mendengar istrinya mulai bisa menggunakan kata-kata yang lebih bijak.


" Mama kalau setiap hari cara berbicaranya lebih halus dan juga lebih mengena seperti begini rumah kita bakalan terasa lebih adem, bukan seperti hari-hari kemarin yang hobinya hanya marah-marah dan juga membuat Papa sampai bingung harus menjawabnya seperti apa!" kata-kata sindiran yang dilontarkan oleh Dito membuat Norah menatap tajam ke arah suaminya yang menurutnya secara tidak langsung sudah membuat harga dirinya sedikit anjlok menurun ke bawah ia mungkin kisaran 5% begitu.


" Papa, anak zaman sekarang itu kalau memang kita sudah berbicara secara halus tidak mau didengar maka cara kasar pun sepertinya tidak masalah! Hanya saja karena kemarin Mama marah-marah sepertinya Gerry tidak terlalu paham maka dari itu Mama sedikit menurunkan intonasi nada bicara, kalau saat ini juga dia belum paham juga otomatis isi otak anak kamu itu berwarna biru sehingga tidak berfungsi dengan benar!" terlihat Gerry memegang kepalanya karena merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh sang mama.


" mana ada isi otak orang warnanya biru Memangnya Mama dapat teori kata-kata itu dari mana sih, orang aku yang bertahun-tahun belajar ilmu kedokteran saja tidak pernah mendengar hal itu?" tanya Gerry tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh sang mama.


" maka dari itu saat bersekolah harusnya lebih banyak praktek daripada teorinya biar langsung terjun ke lapangan dan menemukan masalahnya secara langsung, tapi kalau hanya duduk terus mengetik sampai tangan-tangan bengkok tetapi tidak ada faedahnya sama sekali ya percuma dong sekolah tinggi-tinggi!" sinis Norah membuat Gery hanya bisa menghela nafasnya kasar Soalnya kalau berdebat dengan sang Mama dari dulu sampai sekarang dan nanti sampai akhir tidak akan pernah menang.


" Iya mama paling benar di dunia dan aku merupakan orang yang paling salah di sini jadi tidak masalah jika mau dimarah seperti apapun, Hanya Intinya cuma satu Tolong jangan membuangku lagi seperti kemarin karena aku merasa sendirian hidup di dunia ini!" pinta Gerry memelas.

__ADS_1


__ADS_2