
Gerry yang sedang berbaring di dalam kamarnya dibuat terkejut dengan telepon masuk dari Andi, Padahal tadi ia sudah bermaksud untuk menghubungi pria itu sekedar menanyakan keberadaan mereka sekarang karena dengan begitu dirinya dapat mengetahui sebenarnya di mana Asya menetap saat ini.
" Iya kenapa, Bukankah istri kamu itu marah-marah kalau kita sering teleponan?" tanya Gerry memastikan padahal sebenarnya itu hanya kata-kata basa-basi tetapi dalam hatinya berbeda.
" Kamu itu kenapa sih jadi orang tidak pernah mau berterima kasih Tetapi malah marah-marah tidak jelas, Memangnya kamu pikir aku itu mau saja menghubungi kamu kalau tidak ada urusan penting? " tanya Andi Ketus karena memang tidak menyukai sapaan yang dilontarkan Gerry barusan karena terdengar begitu sangat kasar.
" Ya habisnya dari kemarin setiap kali aku telepon kamu pasti istri kamu tuh bakalan mengamuk dan marah-marah tidak jelas, padahal sebenarnya Apa susahnya sih menjawab telepon dariku dengan sedikit sopan dan juga tidak marah-marah? " tanya Gerry yang seolah menyalahkan Vina jangan terlalu bersikap kasar dan juga tidak sopan santun kepada dirinya itu.
Andi mendengus kesal meskipun Gerry adalah sahabatnya tetapi biar bagaimanapun prioritas dalam kehidupannya sekarang yaitu Vina, tidak mungkin dirinya harus memarahi sang istri hanya karena bersikap kasar dan juga tidak sopan kepada sahabatnya.
" Kamu kan tahu sikap Vina itu seperti apa setiap kali bertemu sama kamu dan kamunya juga tidak pernah mau mengalah kepadanya, coba saja kalau kamu bersikap lebih manis dan juga tidak berlebihan ataupun mengundang emosi seseorang Ya otomatis dia pasti bakalan lebih sopan!" ujar Andi yang membuat Gerry hanya bisa menghela nafasnya kasar.
" ya memang benar sih kalau di mana-mana di dunia mana pun baik di kolong jembatan di kolong langit maupun di kolong emperan pasti suami bakalan membela istrinya, Soalnya kalau istrinya sudah sampai tidak dibela otomatis nanti makanan saat malam tidak akan pernah didapatkan!" sindiran Gerry itu membuat Andi tidak tahu harus bersikap seperti apa karena menurutnya orang yang masih bujangan seperti Gerry tidak akan paham masalah antara suami dan istri karena dia belum menikah.
" Terserah dari kamu mau berbicara apa dan juga suka-suka kamu Mau mengatakan apa yang penting Intinya cuma satu yaitu aku lebih mementingkan Istriku dari apapun itu, aku tahu persahabatan kita sudah berjalan lama tetapi kamu juga tahu kan rasa kecewa aku atas sikap kamu yang membuat persahabatan kita menjadi merenggang itu belum bisa sedikit Terlupakan?" apa yang dikatakan oleh Andi membuat Gerry langsung bungkam Karena sejujurnya jika sampai ia membantah otomatis dirinya itu terkesan seperti orang yang tidak punya perasaan.
" Maafkan Aku jika sudah membuat kamu kecewa dan juga terlebih istri kamu itu, aku sadar kalau dia itu merupakan sahabat dekatnya Asya otomatis yang lebih kecewa antara kalian berdua yaitu dia. hanya saja Bisakah kalian memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan, tanpa harus menjauhiku ataupun memusuhiku karena itu sama saja membuat aku kebingungan harus memulai dari mana menebus semua kesalahanku?" lirih Gerry penuh permohonan tetapi tidak di gubris sama sekali oleh Andi karena menurutnya semua kesalahan Gerry itu tidak terjadi kepada dirinya ataupun keluarganya melainkan keluarga sahabat dari istrinya.
" kalau soal masalah yang kamu ucapkan tadi aku tidak tahu menahu dan juga tidak ingin ikut campur karena itu bukan hakku untuk melakukannya, hanya saja permintaanku tolong kamu jangan pernah berbuat seolah kamu merupakan orang yang paling benar dan orang lain di dunia ini adalah orang yang paling salah dan tidak tahu apa-apa! aku minta kamu paham dengan perubahan sikapnya Vina terhadap kamu yang semakin jutek dan kasar bahkan terkadang mungkin bisa dibilang dia sering mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan, karena Biar bagaimanapun itu merupakan bentuk kepedulian dan kekecewaan yang dia Tunjukkan secara langsung kepada kamu tanpa ingin kamu membela diri!" perkataan Andi itu merupakan pukulan telak yang dirasakan tepat di dadanya Gerry tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
" Aku tahu aku salah aku tahu juga perbuatanku itu tidak akan pernah mendapatkan maaf yang begitu mudah, hanya saja Bisakah kalian mengerti dengan kondisiku sekarang dan Bisakah kalian pahami kalau semua itu adalah perbuatan yang sangat paling aku sesalkan seumur hidupku?" tanya Gerry pelan berharap agar Andi paham jika sebenarnya dirinya masih sama seperti yang dulu tidak pernah berubah menyayangi Asya hanya saja terlepas dari semua kesalahannya itu dirinya hanya manusia biasa.
__ADS_1
" kalau urusan Vina nanti aku yang bakalan kasih tahu ke dia agar lebih paham dan juga mengerti maksud tujuan kamu itu, Tetapi kalau urusan yang lain aku minta ke kamu jangan pernah melibatkan istriku apalagi berkata kasar kepadanya." pinta Andi yang terdengar begitu serius bahkan bisa dibilang tidak ada nada bercanda di dalamnya.
" istrimu itu juga kelebihan cerewetnya deh sampai-sampai kita ngomongnya halus tapi selalu ditanggapinya dengan nada-nada omelan, apa saja bingung kok kalian bisa menikah ya padahal dulu merupakan musuh bebuyutan dan tidak pernah nyambung setiap kali bertemu?" tanya Gerry sekaligus dengan nada mengejek Dan juga mengubah topik pembicaraan karena biarlah yang sudah berlalu menjadi kenangan dan tidak akan terulang lagi di esok hari karena juga menjadi pelajaran yang berharga.
" sekarang pertanyaannya ke kamu juga. Dulu selalu menjaga Asya sepenuh hati bahkan tidak ingin orang lain menyakiti dia ataupun merebut dia dari kamu, tapi kenapa kebalikannya malah kamu yang menyakiti dia dan membuat dia menjauh dari kamu?" Tanya Andi balik.
" ah Kamu sungguh keterlaluan aku membahas apa eh kamunya malah membahas hal yang lain, Kenapa jadi orang tega begitu sih lagian itu kan kesalahan di masa lalu dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi?" bujuk Gerry agar tidak melulu disalahkan.
" kenapa malah berjanji kepadaku Memangnya kamu pikir aku ini apaan sampai-sampai harus memegang janjinya kamu, eh urusan kita berdua itu tidak ada sama sekali jadi jangan kamu merepotkanku dengan mengingat janji kamu yang sangat tidak ada bagusnya itu!" ejek Andi membuat Gerry mendengus kesal karena ketika dirinya sedang mellow sahabatnya itu malah tidak mendukung suasana.
" Aduh kamu nih jadi orang memang kelebihan keterlaluannya mungkin karena kelamaan hidup dengan istri kamu itu membuat otak kamu juga sudah ikutan seperti dia, aku tadi itu ceritanya sedang bersedih dan mengucapkan kata-kata sangat terharu setidaknya kamu kasih endingnya yang begitu pas lah Eh malah menghancurkan suasana?" sungut Gerry tidak terima.
" kamu itu kalau berbicara dengan manusia laknat bisa sampai berjam-jam tapi kalau sama istri sendiri hanya satu dua kata langsung berhenti, setelah itu ajak Main kuda-kudaan lah main burung-burungan lah main petak umpet lah segala macam sampai-sampai suasana romantisnya pun tergantikan dengan suasana kacau balau!" sungut Vina yang tidak menyukai jika Gerry terlalu menelepon suaminya karena takutnya Andi bakalan mengikuti jejak kurang ajarnya pria itu.
Gerry yang mendengar Vina sedang memarahi Andi hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata dirinya terlanjur buruk di mata wanita itu sehingga apapun yang dilakukan apapun yang dibahas pasti bakalan selalu salah di matanya.
" tolong bicara sama istri Kamu itu orang yang sedang dia marahi sedang berada di dekatnya dan aku juga mendengar jelas apa yang ia bicarakan, nanti kalau mau marah-marah bisa sabar dulu tidak setelah panggilan ini dimatikan agar aku tidak mendengar apa yang kalian katakan entah mau memakiku atau apapun itu terserah! " ujar Gerry dari seberang membuat Vina langsung merampas ponsel dari tangan suaminya dan menatap tajam ke arah Andi yang hendak melayangkan protes.
" Makanya jadi orang itu jangan kelebihan kurang ajar biar bisa menikah dan punya keluarga serta memiliki keturunan yang bobotnya semuanya sangat sopan santun, sekarang melihat orang lain sudah menikah kamu mulai menghasut yang aneh-aneh agar kami berdebat dan bertengkar? " tanya Vina sinis membuat Gerry hanya bisa menghela nafasnya kasar karena akan selalu salah di mata wanita itu.
" aku tadi itu hanya bicara sebentar saja deh tidak sampai memarahi kamu sampai seperti begitu tetapi kamu kenapa sih selalu hobi sekali memarahiku, Apa memang aku begitu jahat di mata kamu atau mungkin karena aku sudah nyolong jemuran kamu sampai-sampai kamu harus marah-marah tidak jelas kayak ibu-ibu berdaster?" Gerry terlihat begitu santai ketika ketika menghadapi Vina karena menurutnya sikap sahabatnya itu ia sangat tahu yaitu bakalan diam ketika ada orang yang sudah berani membalas apa yang ia katakan.
__ADS_1
" mau aku jadi ibu-ibu berdaster atau bapak-bapak berbikini pun suka-suka aku dong kenapa jadi kamu yang repot, Lagian kamu itu yang manusia tidak punya pekerjaan hobinya mengganggu rumah tangga orang lain agar ada orang bertengkar dan di situ pula kamu merasa kebahagiaan ada? " marah Vina membuat Gerry Berusaha tetap tenang dan menghembuskan nafasnya secara perlahan agar tidak tercekat di tenggorokan oleh karena emosi yang tidak bisa tersalurkan.
Vina yang mendengar nafas Gerry terdengar begitu besar meskipun dari seberang dirinya tersenyum geli dan menatap ke arah Andi, dirinya tahu jika sebenarnya pria itu ingin marah-marah Tetapi entah kepada siapa.
" kenapa malah menghembuskan nafas kamu seperti begitu kalau mau memarahiku Ya tidak masalah aku mah ikhlas, soalnya manusia seperti kamu itu kan hobi sekali membuat orang emosi dan juga suka sekali melihat orang kesusahan? "tanya Vina membuat Gerry meremas ponselnya kuat coba saja kalau wanita itu berubah jadi pria dan ada di hadapannya Sekarang pasti sudah diajaknya SmackDown gaya John Cena.
Andi mengusap pelan bahu istrinya itu lalu mengambil ponsel dari tangan Vina dan langsung mematikannya tanpa mengucapkan salam perpisahan dahulu kepada Gerry, karena menurutnya Jika iya harus berpanjang kata dengan Gerry lagi nanti yang ada masalahnya bukan dengan pria itu tetapi dengan istrinya sendiri.
" sudah ya sayang Jangan marah-marah lagi Kasihan loh nanti dosa bakalan terasa begitu dekat dengan kita, Nanti kalau sudah agak tenangan baru kita berangkat ya mau keliling ke kota ini mau belanja apapun itu terserah kamu!" bujuk Andi tetapi tidak dihiraukan sama sekali oleh Vina.
" Eh kamu pikir aku ini wanita materialistis dan doyan belanja jadi kamu menawarkan hal yang paling tidak aku sukai untuk mengalihkan pembicaraan kita, pokoknya aku tidak akan berhenti sebelum kamu minta maaf dan berjanji tidak akan pernah menghubungi pria itu lagi! " tegas Vina dengan Tatapan yang menusuk seolah-olah ada ribuan jarum yang ada di matanya dan sewaktu-waktu bisa menusukkan di kapanpun wanita itu inginkan.
" aku itu sebenarnya tadi sengaja menghubungi dia agar besok lusa tidak pulang lagi mengganggu ketenangan kita dan juga mengajak kamu bertengkar, masa sebagai seorang suami aku hanya ingin melihat istriku dimarahi oleh pria lain dan hanya diam saja tanpa merespon ataupun melakukan hal agar kejadian itu tidak terulang lagi? " Vina mangut pertanda paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu tapi menurutnya juga hal itu sebenarnya sangat terlambat karena dari dulu sampai sekarang dirinya dan Gerry setiap kali bertemu pasti berdebat.
" Terima kasih perhatian yang kamu berikan tapi sepertinya sudah sangat terlambat, soalnya setiap kali kami bertemu pasti akan berdebat jadi Sudah kebiasaan mana bisa dirubah orang kita juga sudah tua ini! " sahut Vina malas membuat Andi hanya tertawa pelan melihat sikap keras kepalanya Vina yang tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.
" kamu sudah ngomong sama om dan tante mereka Kalau sebentar kita bakalan jalan-jalan keliling kota Den Haag, Takutnya nanti kalau sampai kemalaman otomatis kita bakalan menginap di hotel terdekat? biar nanti mereka bakalan tidak mencari kita atau merasa khawatir karena Biar bagaimanapun kita itu sedang menginap di rumahnya orang, akan sangat tidak sopan jika saat pergi dari rumah tidak memberitahukan kepada mereka! " Vina menganggukan kepala mendengar pertanyaan sang suami Karena memang tadi saat di dapur dirinya sudah sempat mengatakan maksud dan tujuannya untuk datang ke tempat ini sekalian bertemu Asya dan juga bulan madu.
" Iya aku sudah ngomong kalau kita bakalan travelling keliling kota ini dan juga spot-spot wisata yang sudah masuk di dalam daftar untuk dikunjungi sebelum Asya kembali ke negara ini, tetapi kalau suatu saat Asya pulang entah mau liburan di manapun dan sepenting apapun aku bakalan meng-cancel karena ingin sekali bertemu dengan dia!" jelas Vina membuat Andi hanya bisa menganggukkan kepalanya karena memang sang istri itu jika menyangkut soal Asya urusan pribadinya bakalan di nomor 2 kan.
" Iya iya aku bakal menurut Apa yang kamu katakan kalau Asya kembali Biarpun kita sedang dalam toilet bakalan langsung keluar dan menemui dia, soalnya kamu sama dia kan itu kayak perangko dan magnet saling tarik menarik dan tidak bisa berjauhan!" ledek Andi.
__ADS_1