
Kenzo langsung tersenyum penuh kemenangan ketika dirinya sudah berada di luar mobil, pria itu begitu menikmati benda yang sudah tidak berbentuk lagi itu yang pertanda bahwa satu lagi barang milik Asya yang menyangkut Gerry ludes.
Sedangkan Asya menatap jengah kearah Kenzo yang tampak bahagia itu,bukan karena dirinya yang merasa sedih melainkan dirinya tidak terlalu menyukai Respon yang diberikan oleh gensoid yang sangat berlebihan itu.
" Ya ampun itu orang kenapa Aneh banget sih masa iya hanya menghancurkan pedas sepele seperti itu senangnya kayak mendapat bongkahan permata berlian, Bagaimana kalau dia bertemu dengan Gerry dan menghajar pria itu habis-habisan?" gumam Asya dalam hati.
" gimana tadi perbuatan aku sangat jenius kan, Ah kamu tidak perlu memujiku karena aku Aku tidak ada niat sedikitpun untuk dipuji!" tolak Kenzo yang penuh percaya diri.
sedangkan Asya antara percaya atau tidak yang penting Intinya cuma satu dirinya merasa jenuh dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Kenzo, apalagi melihat wajah bahagia pria itu yang walau hanya melakukan hal kecil saja tapi terlihat begitu bahagia,
" suka-suka kamu saja lah mau ngomong apa soalnya aku bingung meresponnya, karena hal itu hanya sepele dan tidak ada yang spesial sama sekali!" sahut Asya.
" Oh jelas semua itu harus menurut kehendak bukan kehendak orang lain dan juga termaksud kamu sendiri, apalagi menyangkut tentang pria lain aku sangat tidak menerimanya dengan akal sehat! " Kenzo dengan senyumannya nya begitu bahagia.
" ya sudah karena urusan di sini sudah selesai Bisakah kita kembali masuk ke dalam, Soalnya aku takut Nanti mama bakal cari seperti tadi lagi?" tanya Asya yang mencoba ingin memastikan Apakah Kenzo mau mendengarkan kemauannya atau tidak.
" Oke baik tidak masalah Aku bakal mengikuti semua yang kamu katakan tanpa terkecuali, karena aku ingin membalas apa yang tadi kamu lakukan kepadaku juga agar kita bisa impas!" Kenzo santai.
" kamu itu dari kemarin dari kapanpun sebutannya balas budi impas lah ini lah itu lah, sampai-sampai aku yang mendengarnya pun jadi bingung harus bersikap seperti apa?" Sungut Asya yang tidak menyukai sikap cancel yang terlalu berbahagia diatas penderitaan orang lain.
__ADS_1
" kan sudah aku katakan. kalau memang kamu capek untuk mendengarkannya, Ya sudah biarkan saja aku mau ngomong seperti apa!" jelas Kenzo mengacak gemas rambut Asya frustasi hingga membuat sang empunya emosi.
" kamu ini pikir aku anak baru kemarin sore jadi melakukan semuanya kepadaku, awas aja ya kalau sampai kamu melakukannya lagi aku bakalan marah besar loh kok ke kamu!" Sinis Asya.
di dalam rumah Rio sedang berusaha menenangkan sang istri karena dari tadi mencari Asya tapi tidak ada di kamarnya ataupun di manapun, padahal sebenarnya di depan teras rumah Dirinya belum mengecek keadaannya sama sekali hanya sebatas di dalam rumah saja.
" sabar dong sebentar lagi juga pasti dia bakalan kembali, kita itu sebagai orangtua usahakan jangan terlalu panik ketika anak keluar karena nanti mereka bakalan kenapa-napa di jalan sebab tertekan batinnya!" bujuk Rio agar istrinya itu lebih rileks dan tidak terlalu memikirkan Asya secara berlebihan sehingga membuat anak gadis mereka itu karena tidak sebebas lagi seperti dulu.
" papa kalau ngomong suruh mama tenang itu enak banget loh tanpa beban sama sekali, padahal sebenarnya Papa harus tahu posisi hati Mama sekarang itu lagi cenat-cenut karena memikirkan Asya yang dari tadi itu entah kemana?" sungut Dewi sambil menatap kesal kearah suaminya itu yang setiap kali ada masalah selalu memilih jalan santai tidak terlalu gembar-gembor agar terlihat berlebihan.
" Papa tahu karena dia juga kan anaknya papa, hanya saja papa itu bukan hanya terlihat santai tetapi memilih untuk berpikiran lebih jernih!" jelas Rio membuat sang istri mendengus kesal karena jawaban yang diberikan pria itu sama sekali tidak ada di dalam pikiran Dewi sekarang.
" Kalau kamu masih lapar aku temani kamu makan lagi saja, Soalnya dari tadi kan kamu belum makan sama sekali hanya yang tadi bareng aku saja kan? "tanya Kenzo perhatian karena dirinya tidak tega jika nanti Asya yang sakit dan itu semua akibat dari ulahnya yang ingin menghindar dari masalah.
" Ih kamu pikir lambung Aku ini miliknya sapi apa, jadi mampu menampung beribuan kg makanan dan tidak bakalan muntah sedikitpun!" sungut Asya yang tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Kenzo selalu padahal itu sebenarnya merupakan bentuk perhatian.
" aku kan hanya memastikan saja tergantung dari kamunya mau atau tidak, kalau memang kamu tidak mau ya sudah aku juga tidak bakalan mau memaksa kok!" ejek Kenzo.
" Kamu itu sebenarnya dari mana sih, Kenapa saat pergi tadi tidak bilang-bilang Memangnya kamu pikir orang di rumah ini sudah ikutan mati semua?" teriak Dewi sambil menangis Tapi tetap saja ingin memarahi Asya agar jangan terlalu seenaknya pergi tanpa pamit.
__ADS_1
sedangkan Asya tadi memang mengakui kekeliruannya yang pergi tanpa mengatakan apapun, hanya saja melihat sikap Dewi yang terlalu over protektif membuat Asya kadang-kadang merasa Jengah sebab menurutnya itu sama saja dengan mendoakan dirinya bakalan celaka.
" tapi aku kan sudah kembali, dan juga dalam keadaan yang sehat walafiat tidak kekurangan apapun? mama bisa tidak membiarkan aku bernafas lebih bebas walau hanya sedikit, soalnya aku itu bingung kalau tiap hari dan tiap saat anda berada terkurung di dalam rumah tanpa melakukan hal yang berkaitan sedikitpun?" tanya Asya yang terlihat begitu sudah tidak dapat menampung kesabarannya.
" apa kamu bilang tadi, ingin kebebasan biar bernapas lega walau hanya sedikit? kamu Sadarkan dengan arti kebebasan itu, kalau gara-gara kebebasan membuat kita sekarang itu terdampar di sini tanpa ada kegiatan dan juga kepastian sama sekali?" Rio menatap tak percaya kearah istrinya itu karena ternyata emosi sudah membuat Dewi sampai mengatakan hal yang tak seharusnya.
Kenzo yang sedang menatap kearahnya Asya,mendadak tidak menyukai sikap Dewi yang sangat berlebihan menurutnya.
Padahal Asya pergi hanya sementara dan tidak membutuhkan waktu yang lama dirinya sudah kembali,tapi entah kenapa Dewi malah marah marah tidak jelas.
Wajah Asya begitu sedih dengan tatapan yang tajam milik Dewi itu,antara kecewa dan sedih jadi satu.
"Tante,kenapa jadi marah tidak jelas ke Asya?" Tanya Kenzo dengan berani bukan karena tidak menghormati Dewi melainkan tidak menyukai kemarahan Dewi yang tidak tepat itu.
"Kamu juga sama saja,suka sekali membuat anak saya membangkang!" Teriak Dewi pelan.
Rianti tak bisa menjawab karena dirinya tidak ingin memperkeruh keadaan yang seperti nya sudah mulai salah paham,entah nanti bagaimana ujung nya tinggal lihat saja.
" Kalau begitu jangan marah dia tapi marahi saya saja!" tegas Kenzo yang terlihat tak ingin Asya yang menjadi korban.
__ADS_1
"Mama,kenapa jadi begini ?" Tanya Rio yang tidak paham dengan sikap Dewi itu.