
Gerry tidak tahu harus menjawab perkataan Mamanya itu seperti apa karena memang yang selama ini ia pikirkan yaitu merebut kembali Asya dari siapapun yang sudah mengambilnya, meskipun itu adalah suami yang sangat dicintai oleh wanita itu dirinya tidak mempedulikan sama sekali.
sebab dalam pikirannya yaitu Asya itu adalah miliknya selama ini karena ia yang sudah menjaga dan juga menemani wanita itu mulai dari kecil sampai dewasa, otomatis yang berhak menemani wanita itu sampai tua dan pergi dari kehidupan ini yaitu dirinya dan orang lain tidak bisa mengambil haknya itu.
Norah yang melihat putranya itu tidak memberikan respon sama sekali hanya tertawa sinis ke arahnya sambil mencibir dengan apa yang ia lihat sekarang, sebab anak muda seperti Gerry itu terkadang melakukan sesuatu karena keegoisan bukan karena rasa ingin memiliki.
" kamu kalau masih mau menginap di rumah sakit silakan dan Ingat jangan pernah menunjukkan wajah memar kamu itu ke dalam rumahnya kami, apalagi menunjukkan rasa bersalah atas kebodohan dan kegilaan yang sudah kamu lakukan! " Sindir Norah lalu keluar dari ruangannya Gerry itu dan menyusul suaminya yang ternyata Tengah menunggunya di depan pintu sambil menyandarkan kepalanya di dinding berusaha mencerna setiap yang terjadi saat ini.
" Mama sudah selesai ngomong sama anak yang tidak berguna itu, kalau sudah selesai lebih baik kita kembali ke Manchester City sekarang dan setelah itu mengemasi semua barang-barang kita dan kembali ke tanah air? " tanya Dito memastikan.
" Mama itu sebenarnya belum selesai dan masih ingin menghajarnya sampai puas, hanya saja jika dengan melakukan cara itu Asya bisa kembali pasti sudah bakalan Mama lakukan Namun sepertinya semua percuma apa yang kita inginkan tidak akan pernah kita dapatkan lagi!" ujar Norah bahkan terlihat wanita paruh baya itu sambil menitihkan air matanya pertanda penyesalan yang tengah ia rasakan begitu dalam dan juga sangat memilukan hati dan pikirannya yang terlihat begitu syok.
" Asya pasti paham bahwa ini semua di luar dari kendali kita ataupun Keinginan kita dan itu murni pemikiran diri sendiri, karena terlihat dari Respon yang diberikan kepada kita saat Mama meminta tolong dia tidak menolak ataupun menyanggah tetapi yang ia inginkan yaitu pengertian!" jelas Dito dan Norah memang tidak memungkiri hal itu.
" cuma Sekarang ikut apa maunya Papa saja deh soalnya sama saja berada di sini Tetapi hanya membuat jengkel dan juga tambah dosa yang besar, lebih baik merilekskan pikiran dan kembali fokus pada pekerjaan itu lebih bagus dan juga berbeda tidak ada pihak yang dirugikan sedikit!" sahut Norah yang memang sudah tidak ada semangat untuk berbicara dengan Gerry meskipun anaknya itu sedang sakit dan masih dipasang oksigen serta infus di tangannya.
Gerry ingin sekali meminta maaf kepada kedua orang tuanya tetapi sepertinya hal itu merupakan sebuah kemustahilan yang tidak bisa ia pungkiri, sebab jika seseorang sedang merasakan kekecewaan yang begitu berlebihan otomatis kata maaf itu tidak akan muncul sedikitpun dari bibirnya.
dirinya sendiri memilih untuk melepaskan alat bantu yang sedang dipasang pada tubuhnya dan keluar dari ruangan itu setelah mengganti pakaiannya, percuma juga bertahan hidup jika semua sudah berantakan dan juga tidak ada yang bisa ia gapai atau perjuangkan lagi.
di lain tempat Vina dan Andi Tengah berbahagia karena Akhirnya bisa menikmati bulan madu yang sesuai dengan keinginan mereka, tapi sebenarnya itu lebih mengarah kepada keinginan Vina selama ini yang ingin sekali bertemu dengan sahabatnya yang sudah menghilang tanpa kabar bahkan lebih parahnya tidak ada kata pamit yang benar kepadanya.
" kamu itu sepertinya sangat antusias sekali Kalau bertemu dengan Asya , padahal jelas-jelas suamimu ada di sini lho?" Tanya Andi yang merasa heran dengan sikap sang istri.
Vina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu,karena memang benar dirinya sangat terlihat antusias karena nanti akan bertemu dengan Asya.
"Oh jelas aku bakal bahagia karena sebentar lagi pasti bakal bertemu dengan Asya,jadi kamu harusnya diam saja dan jangan banyak komentar lagi! yang penting intinya yaitu aku itu perginya bareng sama kamu, jadi tolong jangan banyak berkomentar lagi lebih baik kamu duduk dan diam!" Ujar Vina memasang wajah ketusnya.
"Tapi tidak segitunya juga kan,Aku itu merasa menjadi suami yang tidak di anggap sama sekali!" sungut Andi yang tidak suka jika Vina melupakan dirinya.
Vina menatap tak percaya kearah Pria yang merupakan suaminya itu,karena bersungut akan hal yang sangat tidak penting dan membuat orang lain yang jadi bingung..
"Kamu itu kebanyakan drama nya,aku yang jadi bingung karena ada manusia yang seperti kamu itu! Lain kali kalau cengeng terus,aku bakal pergi dan tidak akan kembali lagi!" Ancam Vina yang sebenarnya tidak ada nada serius di dalam nya hanya saja Andi nya yang kelewat lebay dan juga mungkin karena faktor pengantin baru.
Vina yang melihat Andi hanya diam saja dari tadi memilih untuk tidak ambil pusing,sebab menurut nya kelakuan pria dewasa itu sangat aneh dan hanya membuat orang lain jadi pusing.
Andi hanya ingin agar Vina lebih peka terhadap keinginan nya hanya saja ternyata wanita itu memilih untuk malas tahu,karena baginya itu semua bukan hal yang perlu di khawatirkan jadi untuk apa harus memikirkan hal itu.
Asya yang tertidur ketika mereka sampai di Kota Milan,Italy membuat Kenzo tidak sampai hati harus membangun kan nya. Maka dari itu pria itu memilih untuk ikutan tidur juga,sebab wajah Asya yang tertidur itu sangat menggemaskan menurut pria itu.
"Kamu itu kenapa sih sangat cantik walau sedang tertidur begini?" bisik Kenzo tepat di telinga Asya membuat wanita itu langsung bergerak karena merasa geli.
"Mmmmmm,pergi atau ku hajar!" Ujar Asya yang tidak terlalu jelas di telinga Kenzo.
"Hajar nya dibagian yang mana?" Bisik Kenzo lagi seolah Asya sedang berbicara kepadanya..
Asya yang kalau tidur jika ada yang mengganggu sudah tak dapat tertidur lagi,maka dari itu langsung terbangun dan menatap kesal kearah suami nya itu.
__ADS_1
"Mas,kamu itu kenapa menjadi orang itu penggangu sekali?" Tanya Asya cemberut.
Kenzo terkekeh geli melihat wajah cemberut milik istrinya itu padahal tadi dirinya kira bakal melakukan hal lebih kepada Asya,mengingat pakaian yang sedikit seksi yang sedang di pakai oleh istrinya itu.
Padahal tadi dirinya sudah sempat memegang ini dan itu eh malah sang pemilik nya bangun,jadi mau tidak mau Kenzo harus mengurungkan niat terselubung milik nya itu.
"Kamu itu bisa tidak kalau lihat orang lagi tidur sedikit dihargai,padahal ini itu masih terang kenapa malah aneh aneh sih?" Omel Asya karena sikap usil Kenzo itu.
Asya seketika sadar dengan apa yang ia katakan tadi,sebab ketika mereka pergi dari Jerman waktu sudah malam tapi kenapa malah sekarang siang garing.
"Ini masih diatas awan atau dimana sih Mas?" Tanya Asya yang sadar dengan keadaan sekitar nya.
"Ini itu sudah mendarat bebas di Milan,hanya kamu saja yang terlalu lama menjadi putri tidur jadi tidak tahu bangun bangun dari tadi!" jelas Kenzo santai.
"Kamu nya itu yang kalau kasih bangun orang tidak pada tempat nya,kalau sudah sampai ya tinggal bilang saja jangan malah bertele tele!" Ujar Asya tidak terima.
"Mamiii,You oke?" Tanya Elnara yang sudah mulai sedikit fasih berbicara sebab Asya selalu mengajarkan bayi yang sudah berumur setahun lebih itu untuk berbicara.
Asya selalu saja tidak suka jika El berbicara menggunakan bahasa yang selalu tidak pernah ia ajarkan,karena menurutnya bahasa Ibu adalah diatas segala galanya..
"Bicara nya tidak begitu Nak,harusnya MAMI BAIK BAIK SAJA KAN?" Ujar Asya pelan membuat Elnara menganggukan kepalanya.
"Iya Mami,Adek mau minum cucu!" Pinta El.
"Bukan Adek tapi Kakak,bukan cucu tapi Nenek!" Ujar Kenzo menjajaki sang Putri..
"Ya sudah ayo kita pergi menikmati liburan dan menghabiskan semua uang Papi!" Kenzo mengatakan hal itu membuat Asya dan El yang tadi begitu antusias langsung menghentikan langkah kakinya.
"Nak,kalau sampai uang Papi kamu habis nanti kita bakal makan apa coba?" Bisik Asya.
El hanya menganggukan kepala yang sebenarnya belum terlalu paham dengan apa yang di katakan oleh Mami nya itu,hanya saja untuk menambah kesan semarak Elnara berbuat seolah paham dengan apa yang dikatakan oleh Asya.
Kenzo yang kebingungan karena istrinya yang tidak mengikuti langkah kaki nya,maka dari itu dirinya menoleh kearah belakang dan memastikan keberadaan mereka.
"Kalian kenapa masih di situ,apa kalian mau menginap disini saja?" Tanya Kenzo heran.
Asya dan putrinya itu menggelengkan kepala nya,sebab dirinya yakin jika Kenzo adalah orang yang jiwa kepo nya sangat di atas batas.
"Kalau begitu kenapa tidak jalan?" Tanya Kenzo lagi.
"Takut uang kamu habis dan membuat kami mati kelaparan,maka dari itu lebih baik tetap disini demi kenyamanan!" jelas Asya.
Kenzo hanya bisa menghela nafasnya kasar sebab ternyata candaan nya tadi malah di salah artikan,dan mengakibatkan anak serta istrinya menjadi enggan untuk turun dari jet pribadi mereka..
"Astaga Sayang sayang nya Papi,tadi itu hanya bercanda tidak serius kok!" Sahut Kenzo yang hanya bisa membuang nafasnya kasar.
"Tapi kalau bercanda seperti itu terus aku jadi malas dengar nya,soalnya hanya membuat aku jadi ketakutan!" Omel Asya ketus.
__ADS_1
"Haha,Mami kamu lagi marah tuh Nak!" Kenzo mengatakan hal itu kepada Elnara.
"Papi usil kata Mami!" Elnara memarahi Papi nya yang kalau bicara selalu saja tidak jelas dan alhasil membuat Mami nya pasti bakal marah marah..
"Mami kamu yang usil bukan Papi,hanya kamu saja yang tidak sadar!" Kenzo masih saja ingin membuat Elnara kesal padanya..
"Papiiii,Stop!" Teriak Elnara yang sudah terlihat kesal kepada Kenzo..
"Mas,sudah deh jangan aneh aneh terus dia itu masih kecil masa iya diajak bercanda?" Tanya Asya heran.
"Habisnya mau main sama siapa,masa sama kamu yang suka nya marah marah!" Ujar Kenzo dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
Asya tidak ingin menjawab apa yang dikatakan oleh suaminya yang merupakan the king of the drama,yang suka sekali melebih lebihkan sesuatu secara drastis.
"Nak,ayo kita keluar dari sini terus mencari udara segar karena sepertinya hawa disini sudah tidak cocok untuk kita berdua lagi!" sindir Asya dengan wajah yang terlihat begitu datar.
"Iya Mami!" Sahut Elnara.
Kenzo menatap tak percaya kearah kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu,sebab mereka mengacuhkan dirinya seolah tak menganggap kehadiran nya sama sekali.
"Ceritanya Papa tidak di pedulikan begitu,wah kalian keterlaluan sekali karena sudah membuat pria paling tampan ini merana?" Terlihat Kenzo begitu terluka membuat Elnara begitu kasihan.
"El tayang Papi!" Asya ingin sekali tertawa melihat wajah gadis kecil itu jika sedang membujuk Papi nya agar tidak merajuk.
Dirinya begitu berbahagia ketika pria yang ia pilih sangat menyayangi putrinya itu,walaupun bukan darah daging nya dan hal itu membuat Asya begitu merasa bersyukur karena diberi nikmat Tuhan dengan begitu besar nya.
"Terima kasih Tuhan atas kasih sayang mu yang begitu besar padaku,Terima kasih juga karena sudah memberikan hadiah terindah yaitu kehadiran mereka berdua dalam hidupku!" lirih Asya yang berusaha tak menangis agar Kenzo tidak khawatir.
"Wah akhirnya ada yang Sayang pada Papi,membuat Papi jadi senang!" Kenzo terlihat bercanda dengan anak nya itu sedang Asya berjalan santai di belakang mereka.
Berbeda dengan Norah yang menatap tak percaya kearah Gerry yang terlihat datang ke Bandara sambil menarik koper nya,dan malah duduk disamping dirinya.
Norah terlihat tidak mempedulikan kehadiran pria itu karena menurutnya orang seperti Gerry harus di kasih efek jera,jika tidak maka niatan untuk berubah tidak ada sama sekali.
Begitu pula dengan Dito yang juga sedang merasakan kekecewaan untuk putranya itu memilih untuk diam saja,sebab ia juga tidak ingin berbicara sepatah katapun pada Gerry agar anak itu paham dengan perasaan mereka berdua kini.
Gerry yang merasa bosan hanya menoleh kearah Mama nya yang biasanya cerewet tapi kini hanya diam saja,padahal ia sangat ingin berkeluh kesah dan butuh teman bicara.
"Mah,apa masih mau diam seperti ini?" Tanya Gerry pelan.
Norah berlaku seperti orang yang tidak mendengarkan Gerry sama sekali,karena menurutnya itu merupakan hal yang tidak penting..
Gerry masih tidak k3habidan akal dan memegang tangan sang Mama,dan beruntung Norah tak menolak hal itu sebab ia lagi malas melakukan drama sekarang ini..
"Apa aku juga ikut diam seperti kalian saja atau bagaimana,karena dari tadi ada manusia tapi suara nya malah hilang?" Tanya Gerry membuat Norah jengah..
"Kamu itu anak nya siapa,kenapa malah banyak bicara padahal kami itu tidak mengenal kamu sama sekali?" Tanya Norah sinis.
__ADS_1
"Oh aku itu anak nya Tuan Dito Erlangga dan juga Nyonya Norah Erlangga!" Sahut Dito tanpa beban.