
kini keluarga kecil itu sudah sampai di tempat penginapannya dimaksud terlihat begitu megah, membuat Asya yakin Entah berapa banyak dirinya itu mengeluarkan biaya sewanya dan juga merogoh kocek sedalam mungkin untuk menyenangkan hatinya.
" Kamu kenapa malah Bengong di luar, Tadi katanya mau masuk dan juga istirahat soalnya capek sudah melakukan perjalanan yang jauh?" tanya Kenzo penasaran ketika Asya bukannya masuk ke dalam malah menatap Intens ke arah tempat yang sedang ada di hadapan mereka kini.
" Mas kamu Jawab dengan jujur ini berapa banyak biaya sewanya, bisa tidak mencari penginapan yang biasa saja karena kita kan tidak tinggal di sini selama-lamanya kan?" tanya Asya sambil menatap tajam ke arah suaminya itu membuat Kenzo ingin sekali tertawa karena Asya selalu komentar banyak ketika dirinya menghambur-hamburkan uang yang katanya tidak jelas.
" apapun untuk membuat kalian nyaman bakalan aku lakukan dan itu tidak akan pernah aku lakukan secara setengah-setengah, karena apa yang aku punya itu merupakan milik kalian berdua dan tidak akan pernah habis meskipun seluruh tempat yang ada di dunia ini aku sewa!" ucap Kenzo tenang tapi pasti membuat Asya merasa gemas dalam sikap suaminya itu yang selalu saja susah untuk dinasehati.
" tapi kan ada hal lain yang lebih penting yang bisa kamu lakukan daripada melakukan hal konyol seperti begini, aku sama Elnara itu bakalan betah dan nyaman di manapun tempatnya yang penting intinya ada kamu di situ!" Asya benar-benar tidak tahu lagi harus berbicara seperti apa agar suaminya itu paham dengan apa yang ia pikirkan sekarang ini.
" ya kamu nyamannya Bersamaku dan aku ingin kalian nyaman juga saat memiliki tempat tinggal Meskipun jauh dari rumah, karena kenyamanan kalian itu merupakan prioritas utama dalam hidupku selama ini dan aku tidak ingin kamu banyak berkomentar." Kenzo mengatakan hal itu sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya itu yang selalu saja berkomentar panjang kali lebar sampai membentuk jajar genjang karena melihat hal yang tidak pas dengan jalan pemikirannya.
" Terserah Bapak Kenzo Delano apa yang mau ingin dilakukan dan apa juga yang ingin dikatakan karena aku mau Bodo amat, soalnya nanti sama saja aku bakalan mau komentar seperti apapun pasti tidak bakalan didengarkan!" ujar Asya Jengah dan tidak ingin lagi membahas hal yang menurutnya hanya membuat Ia sakit kepala sebab pihak sebelahnya tidak merespon positif.
" ya memang harus seperti itu Ibu Asya Delano, sebagai seorang istri harus menikmati jerih payah suaminya agar sang suami lebih semangat lagi buat kerja menjadi uang yang banyak!" Sahut Kenzo dengan begitu antusias lalu menarik tangan Asya agar masuk ke dalam rumah megah itu.
" Ya sudah ayo kita masuk sekarang soalnya sepertinya sedikit lagi mau turun salju sudah terlalu dingin seperti begini, dan aku tidak ingin kamu mengalami demam ketika baru pertama kali datang ke tempat ini sebab nanti aku bisa gagal Unboxing dari pagi sampai pagi!" Percayalah Jika suami istri itu merasa bahwa obrolannya itu hanya didengar oleh mereka berdua maka kepercayaan mereka itu salah besar.
karena dari tadi ada sosok lain yang menatap nanar dan begitu terluka ke arah mereka berdua Dan rasa-rasanya ia ingin sekali menghajar pria itu agar segera menjauh, sosok yang dari tadi tidak pernah berpaling dari punggung wanita yang sangat dirindukannya selama setahun lebih ini meskipun dilihatnya ada beberapa bagian yang sudah sedikit berbeda.
__ADS_1
sosok yang kini sedang tertawa bersama dengan orang lain padahal dirinya selama setahun lebih ini jangankan tertawa tersenyum pun dirinya enggan melakukannya, bahkan dirinya pun tidak pernah menatap ke arah lain Meskipun banyak sekali wanita yang mencoba ingin dekat dengannya karena menurutnya hanya satu-satunya orang yang dalam hidupnya yaitu Asya Malika Dirgantara seorang.
namun yang membuat hatinya sedikit teriris yaitu mendengar panggilan yang diberikan oleh pria asing yang berada di samping Asya Tadi, bahkan lebih parahnya lagi Asya tidak menolak atau menampik kebenaran dari Hal itu membuat Gerry harus bekerja keras untuk segera menemui Asya dan menanyakan semua kejadian dan tengah ia lihat sekarang.
Gerry kini tengah bersembunyi di balik salah satu pilar yang ada di tempat itu, Bukannya tidak ingin mendekat ataupun memiliki keberaniannya hanya saja momennya belum pas sesuai dengan keinginannya membuat ia harus ekstra menunggu dan bersabar.
apalagi perubahan Asya yang tidak ditemuinya selama setahun ini membuat pria itu harus berusaha untuk bersikap lebih dewasa, karena dirinya ingin agar apa yang ia lihat bisa dapat digapai tanpa harus bekerja ekstra lagi.
meskipun satu yang tidak ia pungkiri bahwa dirinya sangat merindukan sosok yang kini tengah tertawa dengan pria lain, sosok yang membuat dirinya merasa bersalah dan tidak pernah hilang perasaan itu selama ini.
dirinya ingin memastikan apa yang ia lihat itu hanyalah sebuah akting yang sedang dilakukan oleh Asya dan pria itu merupakan orang asing yang hanya singgah sebentar dan setelah itu langsung pergi, karena yang ia inginkan yaitu Asya kembali padanya dan mereka pun kembali lagi ke tanah air melanjutkan rencana mereka dari awal tanpa ingin diganggu oleh siapapun lagi dan melakukan kesalahan lagi.
untung juga nada dering ponselnya dalam mode bergetar sehingga nada deringnya Tidak kedengaran sedikitpun, sebab Dirinya belum siap jika Asya sampai memergoki keberadaannya dan bagaimana caranya menjelaskan semuanya ini.
apalagi tempat yang berada di hadapannya kini merupakan tempat penginapan bukan sebuah rumah dan otomatis Asia datang ke tempat itu sebagai turis, maka dari itu dirinya tidak boleh gegabah dalam melangkah karena pria yang berada di samping Asya itu bukan merupakan seorang pria yang biasa saja dan tidak mempunyai apapun.
" aku sangat merindukan kamu bisa tidak jangan tertawa dengan orang lain tetapi menatap ke arah belakang walau hanya sekali saja, Mungkin setelah melihat wajah kamu meskipun tidak dari dekat itu sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku selama ini. " lirih Gerry yang terasa begitu terluka karena Biar bagaimanapun seorang pria ketika berbicara bahwa ia kuat maka belum tentu sesuai dengan hati nurani.
" Mas kamu bawa adik lebih dulu saja deh Soalnya aku tadi sebelum ke sini sempat melihat bunga tulip yang cantik-cantik, Kalau tidak ada yang marah Aku ingin memetiknya dan membawa ke dalam kamar kita karena sepertinya bakalan membuat pemandangan Lebih Indah!" ujar Asya membuat Kenzo tersenyum dengan bahasa yang digunakan oleh istrinya itu.
__ADS_1
" Ya jelas tidak ada yang marah lah orang tempat ini kan sudah kita sewa jadi otomatis apapun yang ada di sekitar ataupun di dalamnya sudah menjadi milik kita, tapi aku suka dengan bahasa kamu yang terakhir agar membuat pemandangan di dalam kamar kita lebih indah!" Kenzo masih saja memikirkan hal yang tidak-tidak membuat Asya mendengus kesal karena otak suaminya itu setiap apa yang ia katakan bakalan berbuntut panjang di dalam benaknya.
" Ih kalau kayak begitu lebih baik tidak usah saja deh soalnya aku punya pemikiran lain tapi kamunya malah nyeleneh, bisa tidak jadi orang otaknya jangan terlalu mesumnya akut biar orang lain kalau ngomong tidak selalu salah pengertian?" tanya Asya dengan Tatapan yang tidak suka dengan sikap suaminya itu.
" sepertinya tidak bisa deh Soalnya aku akan berpikiran ke arah sana setiap kali berdekatan dengan kamu, entah Hal apa yang kamu miliki sehingga bisa mengalihkan semua duniaku tanpa terkecuali." Asya ingin sekali muntah mendengar gombalan receh yang diucapkan oleh seorang pria kaku seperti Kenzo itu.
" sudah ah kamu lebih dulu masuk jangan banyak ngomong lagi soalnya setiap kali kamu bicara aku bakalan pusing mendengarkannya, kamu itu jadi orang hobi sekali membuat orang lain emosi atau mungkin itu memang talenta kamu selama ini yang pernah kamu miliki?" Tanya Asya.
Kini Tinggal Asya sendiri di dalam taman yang berada di sekitaran tempat mereka menginap saat ini, wanita itu tidak mewaspadai keadaan sekitarnya sehingga Saat berjalan dirinya tersandung pada batu yang sengaja memang disimpan di tempat itu.
hanya saja entah kebetulan atau disengaja dirinya hendak terjatuh itu tidak sampai menyentuh lantai malah mendarat sempurna dipelukan seseorang , dan membuat nafas wanita itu tercekat di tenggorokannya karena sangat mengenal aroma tubuh yang sedang memeluknya sekarang ini.
" tolong Jangan menggangguku lagi karena aku pun tidak akan pernah mengganggumu seumur hidupku,dan juga tolong pergi pergi dari sini sebelum suamiku melakukan hal yang tidak tidak!" Pinta Asya.
"Aku sangat merindukan mu!" lirih Gerry.
"Tapi aku tidak!" tegas Asya.
Gerry menatap dalam ke arah Asya karena pikirnya wanita itu Tengah berbohong hanya karena ingin menghindarinya,namun nyatanya tatapan Asya begitu membenci nya dan Gerry sadari itu.
__ADS_1