Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 190


__ADS_3

Gerry tersenyum mendengar kata-kata penuh perhatian dari Kenzo barusan, otomatis pria itu sudah berusaha menerima kehadirannya meskipun mungkin belum sepenuhnya.


"Terima kasih karena sudah mau memaafkan aku, kamu memang pria terhebat aku akui kamu sangat pantas mendapatkan Asya. Jagalah mereka berdua dengan sepenuh hati kamu karena aku janji tidak akan pernah mengusik kehidupan kalian yang sudah berbahagia, jika memang ada kenanganku yang masih tersisa di antara kalian tolong jaga baik-baik anggap saja itu merupakan peninggalan dariku!"ujar Gerry membuat semua orang di ruangan itu menatap heran ke arah pria yang tengah terbaring lemah tersebut seolah-olah kata-katanya itu seperti sebuah perpisahan yang ingin disampaikan secara tidak langsung.


"kamu dari tadi itu ngomongnya selalu aneh loh, Emangnya kamu mau pergi ke mana sampai-sampai harus pakai pesan salam segala seperti begitu? lain kali ngomong itu jangan membuat orang lain Jadi kepikiran, Memangnya kamu tidak ingat kalau masih punya orang tua yang harus kamu jaga dan kamu perhatikan saat ini?"tanya Vina yang dari tadi merasa kesal karena Gerry selalu saja mengatakan hal-hal yang ambigu sampai-sampai membuat orang lain harus memikirkan lebih daripada ini.


"Bukan seperti begitu Aku hanya ingin mengatakan hal itu soal kehidupan manusia itu sudah ada yang mengatur, hanya kita manusia terkadang harus mulai menyiapkan hati dan pikiran agar ketika tiba-tiba dipanggil menghadapnya sudah tidak ada hati yang tersakiti!"jelas Gerry tetapi siapapun pasti paham dengan maksud pria itu hanya entah kenapa harus sekarang mengatakan semua keganjilan Kenapa tidak dari dulu.


"Sebenarnya apa yang dikatakan Vina tadi itu benar kalau kamu itu aneh sekali hari ini, lain kali jangan ngomong tidak jelas lagi ya soalnya kasihan Tante Norah sama Om Dito mereka bakalan memikirkan apa yang kamu katakan kali ini!" Asya menimpali apa yang dikatakan oleh Vina sebab memang dirinya tidak memungkiri kalau Gerry sangat aneh belum lagi Wajah pria itu sudah semakin pucat seperti tidak ada peredaran darah di dalamnya.


"kamu baik-baik saja kan Ger, atau aku panggilkan dokter saat ini untuk memeriksa kondisi kamu? "tanya Andi panik sebab biar bagaimanapun dirinya juga seorang Dokter jadi kondisi pasien yang tidak stabil sesudah operasi itu merupakan hal yang sangat fatal.


Sedangkan operasi yang dijalani itu bukan operasi yang kecil atau main-main hanya sekedar mengangkat Duri ataupun daging kecil tetapi ini merupakan pencangkokan sumsum tulang belakang, maka dari itu Takutnya ada sesuatu hal yang tidak diinginkan bisa menyebabkan kematian.


sebenarnya penjelasan tentang mekanisme seseorang untuk mendonorkan sumsum tulang belakang itu seharusnya dilakukan pemeriksaan selama seminggu dan juga pasien tidak mengalami atau tidak sedang menderita penyakit lain, namun apa yang terjadi pada Gerry ini lain ceritanya sebab pria itu sebenarnya menderita penyakit bawaan namun dirinya diam-diam saja tidak ingin orang lain tahu.


Oleh karena itu setelah operasi tubuhnya bukan membaik Tetapi malah menunjukkan gejala yang mengarah kepada hal Serius, padahal orang yang baru selesai dioperasi Tulang belakangnya itu sebenarnya sumsumnya itu diambil sedikit saja tidak terlalu banyak dan juga proses penyembuhannya tidak memakan waktu sampai yang begitu lama.


Maka dari itu Andi yang merupakan notabene seorang dokter pasti bakalan langsung peka dengan apa yang terjadi dengan cs-nya kini, Bagaimana tidak terlihat Gerry susah sekali untuk berbaring karena tulang panggulnya yang nyeri dan juga terlihat ada seperti memar di sekitarnya.


Belum lagi pria itu dari tadi seolah seperti kesusahan untuk bernafas sampai-sampai harus memerlukan bantuan selang oksigen, maka dari itu Andi ingin mencari tahu sebenarnya keadaannya seperti bagaimana saat ini tetapi Gerry tetap saja pada pendiriannya yaitu dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Ini sepertinya tidak bisa dibiarkan, Mas Ken bisa tidak tolong panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Gery saat ini! dan tolong kabari kepada keluarga yang lain sepertinya pasien kepala batu satu ini susah sekali untuk diajak kompromi, Kalau memang dia Mau mampus ya sudah mampus saja soalnya kita dari tadi perhatian Tetapi dia hanya malah tidak menghargai perhatian kita itu!"kesal Vina dengan tatapan tajamnya ke arah Gerry sebab menurutnya pria itu dari tadi susah sekali untuk diajak kompromi padahal kondisinya sedang tidak baik-baik saja dan juga untung juga dirinya dan Andi masih berada di situ jadi paham apa yang terjadi dengan pria itu saat ini.


Kenzo yang mendengar perintah dari Vina Tanpa banyak bicara langsung menuju ke ruangan Dokter padahal sebenarnya di situ ada tombol darurat yang tidak perlu harus memakan waktu lagi memanggil Dokter di ruangannya, hanya saja mungkin dalam keadaan panik sampai-sampai mereka yang berpendidikan tinggi semua yang ada di situ tidak paham dengan apa yang ada di hadapan mereka saat ini.


Asya dari tadi bingung harus bereaksi seperti apa soalnya seumur hidup dirinya baru melihat Gerry terbaring lemah tak berdaya seperti ini, tetapi yang lebih membuat dirinya bingung yaitu wajah pria itu dari tadi tidak menampakkan bahwa dirinya sedang kesakitan yang ada Ia hanya menampilkan senyum terbaiknya seolah semua-semua yang terjadi saat ini itu tidak apa-apa.


"Kamu baik-baik saja kan? Tolong bilang kalau ada yang sakit biar nanti sebentar Dokter datang aku bakalan bantu untuk sampaikan kepada beliau, maafkan aku ya karena gara-gara anakku kamu sampai seperti begini keadaannya!"ujar Asya yang benar-benar merasa iba dengan keadaan Gerry saat ini.


Gerry tersenyum sebab melihat wajah kekhawatiran Asya untuknya itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri baginya sebab sudah sekian lama wajah wanita itu hanya terlihat kesal dan tidak bersahabat kepadanya, kalau memang saat ini dirinya harus dipanggil untuk menghadap Tuhan maka ia ikhlas menghadap kepada penciptanya dengan lapang dada tanpa mengeluh sedikitpun karena beban hidupnya di dunia sudah selesai.


Tok tok tok


Kenzo mengetuk pintu ruangan dokter dan tidak lama ada sapaan dari dalam yang menyuruh seseorang itu untuk masuk, dan sesampainya di dalam Kenzo langsung bertanya kepada dokter yang menangani operasi tersebut sebenarnya ada apa sampai-sampai Gerry seperti begitu keadaannya.


Pria itu sebenarnya tidak bisa melangkahi aturan yaitu membocorkan rahasia tentang pasiennya sendiri jika pasien tersebut tidak menginginkan orang lain tahu, namun jika dirinya diam saja dirinya bisa dituduh melakukan malpraktek dan itu bisa berakibat fatal pada karirnya ke depan.


"Baiklah karena ini permintaan anda maka dari itu sebelum saya menangani pasien saya akan menjelaskan sesuatu secara detail dan juga cepat tolong anda dengarkan baik-baik karena nyawa pasien juga sedang dalam bahaya, dan nanti ketika anda sudah mengetahui hal ini tolong sampaikan secara perlahan kepada keluarga beliau karena Biar bagaimanapun ini adalah murni permintaannya dan saya juga tidak bisa melangkahi apa yang sudah menjadi perjanjian antara saya dan juga pasien!"jelas Dokter tersebut sambil berusaha untuk tetap tenang karena biar bagaimanapun ini adalah resiko pekerjaan yang akan diterimanya setiap saat.


"Baik saya akan sampaikan kepada keluarga pasien jadi silakan Anda menjelaskan kepada saya detail mungkin dan tidak masalah secepat yang anda bisa, karena saat ini otak saya lagi berfungsi dengan baik jadi otomatis Apa yang anda jelaskan bakalan saya terima dengan baik pula!" Tegas Kenzo membuat Dokter tersebut langsung menganggukkan kepala pertanda paham dengan kemauan pria yang ada di hadapannya ini.


"Pasien itu sebenarnya sebelum dioperasi beliau menderita kanker otak stadium 3, sebenarnya itu tidak dianjurkan untuk menjadi pendonor. Bagi seseorang baik dalam penyakit apapun itu! Waktu dia mengajukan tes untuk menjadi pendonor bagi anak anda sebenarnya saya sudah sempat menyarankan, karena waktu mengetahui dirinya memiliki kecocokan 100% maka otomatis semua hasil pemeriksaan kesehatannya bakalan kita ketahui Apakah dia pantas atau tidak. Kami menyarankan untuk melakukan observasi selama seminggu agar bisa memastikan kira-kira dalam seminggu itu obat yang kami berikan kepadanya bisa berfungsi dengan baik atau tidak agar bisa menjalankan operasi, tetapi sepertinya pasien tersebut keras kepala dan tetap pada pendiriannya yaitu dirinya tetap bakalan memberikan apa yang ia punya kepada anak Anda dan itu merupakan permintaan terakhirnya!" jelas Dokter tersebut membuat Kenzo langsung lemas sebab tak menyangka pria yang selama ini ingin Ia hajar habis-habisan bahkan ingin dibunuhnya dengan tangannya sendiri ternyata Tuhan sudah memberikan hukuman secara langsung kepadanya.

__ADS_1


"Jadi maksud anda saat melakukan operasi itu sebenarnya dia dalam keadaan sakit, tetapi karena ingin menyelamatkan nyawa anak saya makanya dia rela melakukan apapun itu sampai-sampai membahayakan kesehatannya sendiri?"tanya Kenzo memastikan.


"Iya benar sekali yang anda katakan barusan! Kalau begitu bisakah kita kembali ke ruangan pasien soalnya saya harus memastikan keadaannya dan penanganan apa yang harus dilakukan, dan tolong anda memberitahukan kepada keluarganya agar lebih tegar dan juga banyak berdoa bukankah mukjizat itu ada dan nyata!"ujar Dokter tersebut lalu segera pergi sambil diikuti Kenzo dari belakangnya.


Sedangkan di dalam ruangannya terlihat Gerry sudah sangat kesulitan bernafas tetapi pria itu memilih untuk mengangkat tangannya menyuruh Asya untuk memegang tangannya itu, membuat wanita itu kebingungan karena memikirkan perasaan suaminya tetapi tidak tega juga melihat keadaan Gerry sekarang sampai-sampai dirinya melupakan keberadaan anaknya sejenak padahal gadis kecil itu juga baru selesai melawan maut di meja operasi.


"kamu baik-baik saja kan? Tolong jangan bersikap begini soalnya aku bingung harus merespon seperti apa, kalau ada yang sakit secara berlebihan kamu ngomong biar bisa segera ditangani!" pinta Asya tetapi Gerry hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sedangkan Vina sudah merasa gemas dengan sahabatnya itu karena terlihat tubuhnya sakit tetapi masih memaksakan diri seolah kuat.


"kamu itu bisa tidak jangan berlebihan seperti begitu jangan merasa diri seperti Hulk yang merupakan orang paling terkuat, dan juga jangan berbuat seolah menjadi Iron Man yang meskipun dihajar Palu godam pun masih tetap bisa hidup!"sungut Vina yang merasa kesal dengan sikap Gerry .


"Kalau aku menjadi Iron Man, otomatis rumah kalian yang pertama bakalan aku bakar biar kamu dan suamimu menjadi Gelandangan agar mulut istrinya jangan terlalu ember! atau mungkin Andi bakalan berpaling ke arah wanita lain yang lebih pendiam tidak bawel seperti kamu, maka dari itu lebih baik kamu diam agar aman agar aku pergi Nanti saya juga bakalan tersenyum dan kamu akan selalu mengingat senyumanku itu!"Gerry meskipun merasa sakit tetapi memaksakan diri untuk mengajak Vina bercanda sebab dari tadi wanita itu yang hobinya marah-marah kepadanya berbeda dengan Asya yang malah terlihat begitu khawatir.


"Ya syukurlah kalau kamu mau menjadi Iron Man kalau begitu ayo bangun kemudian berubah diri kamu jangan tidur seperti pria yang gemulai begitu, katanya seorang Airlangga itu kuat tetapi apa model seperti begini lebih baik rubah nama kamu jangan bawa nama-nama Om Dito Soalnya Om Dito itu keren bukan seperti kamu!"Ketus Vina.


"Ya sudah kalau aku kamu suruh ganti nama biarlah kamu yang menjadi anaknya Papa sama Mama soalnya memang kamu itu lebih cocok menjadi keturunan Erlangga, karena bawelnya sama seperti Norah Erlangga dan juga kuatnya seperti seorang Dito Erlangga!"Gerry mencoba untuk tetap membuka matanya karena tidak ingin pandangannya yang mengarah kepada Asya itu menjadi hilang.


"Idih aku mah mana mau menjadi anaknya orang tua kamu nanti papa sama mamaku mau dibuang ke laut Antartika atau apa sih, Ya sudah cepat kamu bangun kasihan orang tua kamu pasti bakalan kecewa karena punya anak hanya sebiji doang Tetapi malah cengeng seperti begini! "Vina sebenarnya ingin menangis ketika melihat wajah Gerry yang semakin pucat bahkan terlihat dada pria itu kembang kempis akibat mungkin nafasnya tercekat tetapi dirinya memaksakan untuk tetap berbicara padahal sebenarnya saat berbicara itu pasti sangat menyiksa.


"Permisi tuan Erlangga Kami ingin mengecek keadaan Anda saat ini jadi otomatis nyonya yang berada di sini silakan keluar dulu, Soalnya kami ingin memastikan Apakah kondisi beliau baik-baik saja atau tidak!"jelas Dokter tersebut membuat Vina langsung menarik tangan Asya agar keluar dari ruangan itu.


Sepeninggal semuanya Gerry langsung memegang tangan dokter tersebut dan menggelengkan kepalanya, sebab dirinya tidak ingin diperiksa ataupun dilakukan tindakan apapun karena yang ia inginkan sekarang yaitu pergi dalam keadaan damai tanpa beban pikiran tanpa beban yang selama ia hidup belum terselesaikan.

__ADS_1


"dokter Saya tidak ingin diobati tetapi yang saya inginkan Tolong selamatkan anak saya yang tadi baru selesai dioperasi tolong jaga dia agar cepat sembuh, saya ini sudah puas hidup di dunia tetapi dia belum dia masih kecil masih banyak mimpinya yang belum tercapai tolong utamakan dia kalau saya tidak masalah karena saya juga sudah capek hidup!"ujar Gery sambil memaksakan senyuman di wajahnya membuat dokter tersebut menghela nafasnya kasar.


__ADS_2