
Dev mendekat kearah Asya untuk menawarkan tumpangan, mobil yang datang untuk menjemput nya itu ada 2 jadi tidak ada salahnya jika satunya dipakai oleh keluarga Rio.
" permisi, kalian belum ada yang mau jemput ya?" tanya Dev memastikan.
Asya menatap sinis ke arah Dev yang entah mengapa dirinya merasa kesal setiap melihat pria itu, karena dari tadi cara bicaranya seolah selalu memancing keadaan yang tidak menyenangkan.
" Memangnya Apa urusannya sama kamu kalau jemputan kami belum datang sampai sekarang?" tanya Asya sinis.
" Kamu kenapa jutek begitu kepada saya, Memangnya dari tadi saya ada cari masalah begitu sama kamu?" tanya Dev sampai tak bisa menahan tawanya karena itu merupakan hal yang paling langka dalam dirinya.
" Anda Kenapa tertawa tuan, apa ada hal yang sangat lucu begitu?" tanya Rama memastikan karena sangat jarang seorang Dev tertawa Sampai sebegitunya.
" kamu tolong urus mobil yang satunya untuk mereka karena nanti kalau aku yang ngomong sepertinya ada yang bakalan kebakaran jenggot, daripada anak orang Sakitnya tambah parah ya lebih baik aku diam saja!" Sindir Dev sambil menatap kearah Asya yang malah melotot tajam ke arahnya.
" Apa kamu bilang, kamu pikir hanya dengan mobil kamu saja Kami bakal sampai ke tujuan? eh sudah cukup ya aku kamu katain gara-gara ikut sama kuda terbang milik kamu itu, sekarang mau disuruh pakai kuda besi lagi ogah!" Ketus Asya karena setiap kali Dev berbicara dirinya bakalan merasa emosi.
" Nah tuh kan aku salah lagi, padahal hanya ngomong tidak ngapain juga?" ujar Dev santai.
Asya mendengus kesal ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dev itu, pria itu seolah dari tadi ingin sekali membuat dirinya emosi dan dirinya yang bakalan menikmati wajah kusut milik Asya.
" Permisi Om dan tante, kata Tuhan Dev karena ada salah satu mobilnya yang menganggur tidak digunakan dan kebetulan sudah berada di depan pan jadi dia menawarkan untuk kalian mengikuti mobil itu saja buat pulang! karena kami juga mau langsung pergi sebab sudah ada mobil dan menunggu, tapi maaf tidak bisa mengantar sampai langsung ke rumah karena Tuan Dev sedang ada urusan lain!" ujar Rama membuat Asya tersenyum karena akhirnya ada pria yang tidak menyebalkan seperti Dev.
" Terima kasih Kak Rama, Kami nanti bakal terlalu merepotkan jadinya! hanya saja kalau memang tidak keberatan maka kami bakal dengan senang hati menerima tawaran itu, sebab bosan juga kalau terlalu lama menunggu di bandara tanpa kepastian begini!" sahut Asya sebenarnya merasa trauma jika berhubungan dengan lelaki Tetapi kalau hanya sebatas mengobrol tidak lebih dari itu maka tak ada Masalahnya kan.
" kalau kalian sudah selesai mengobrol Bisakah kita berangkat sekarang, Nanti kalau saya terlambat pertemuannya Rama kamu yang bakalan terima akibatnya?" tegas Dev yang sebenarnya tidak menyukai jika Asya terlalu dekat dengan pria lain apalagi asistennya yang terkenal dengan sifat playboy layaknya donjuan kelas kakap.
" Ya sudah Kak Rama kesana saja deh jangan terlalu menempel denganku nanti bosnya cemburu buta, Makasih banyak ya Kak Sudah menemani kami selama ini maaf kalau selama pertemuan kita ada banyak kata-kataku yang salah!" jelas Asya membuat Rama merasa Tak Tega karena sepertinya tersirat kalau wanita itu menginginkan sekarang adalah pertemuan terakhir mereka.
" kamu kok ngomongnya kayak gitu seolah besok lusa kita tidak bakalan ketemu lagi?" Percayalah jika ada seseorang yang sampai mengatakan hal ini maka bisa dipastikan dirinya menginginkan pertemuan yang bakal berlanjut dari sekarang besok dan seterusnya.
Dev adalah orang yang masih ingin bertemu dengan Asya sekedar untuk memperjelas ingatannya tentang wanita itu, yang menurutnya sangat Tak asing di dalam benaknya Tetapi entah di manakah mereka pernah bertemu.
" Tadi katanya takut terlambat Tuan sekarang malah mengajak Asya buat ngobrol, Nanti kalau saya yang tanggung jawab kan bakalan urusannya lebih parah lagi?" Sindir Rama yang sekadar mengingatkan Dev tentang perkataannya yang tadi.
" Kamu itu kenapa jadi orang tidak bisa diam sama sekali, Lain kali kalau orang lagi ngobrol setidaknya dihargai dulu jangan langsung dipotong begitu saja entah apapun itu dan sepenting yang model bagaimana?" begitulah seorang Dave Smith selalu saja tidak ingin mengalah apalagi dikalahkan.
__ADS_1
" Maafkan saya Tuan jika tadi salah bicara, hanya saja saya ingin mengingatkan ulang tentang apa yang tadi anda katakan barusan! kalau begitu semuanya kami pamit kalau memang masih ada umur yang panjang kita bakal bertemu lagi, maafkan Tuan saya yang terlalu sensitif tapi begitulah orangnya selalu dari hati tidak pernah dari pikiran!" Rama Jika dilihat baik-baik dikira bahwa pria itu adalah seorang yang sangat dewasa padahal begitulah tipenya dalam memberikan kesan yang baik kepada para wanita yang bakal dikejar nya.
" sekali lagi terima kasih Tuan Dev atas tumpangannya, jika memang besok lusa diberi kesempatan bertemu lagi Kami bakal mengucapkan terima kasih dengan cara yang layak!" ujar Rio sambil membungkukan badannya.
Dev hanya mengangkat tangannya sebelah setelah itu langsung pergi, tetapi sebelum itu pria itu sempat menoleh sekilas kearah Asya yang malah membuang wajahnya ke arah lain tidak ingin menatap ke arah pria itu.
" kita pasti bakal bertemu lagi!" gumam Dave dalam hati setelah itu berlalu pergi dari situ.
sepanjang perjalanan pria yang dikenal irit bicara itu lebih memilih diam entah apa yang dia pikirkan sekarang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, So pasti sang asisten yaitu Rama menyadari perubahan sikap majikan itu hanya saja bukan ranahnya untuk bertanya maka dirinya memilih diam.
" tuan, tadi saya sempat dihubungi oleh nyonya besar hanya saja saya tidak menggubrisnya. mungkin Tuan bisa menghubungi Nyonya balik Jangan sampai Ada hal penting yang ingin dia bicarakan, soalnya saya tidak enak hati jika berbohong nantinya kalau ditanya!" jelas Rama membuat Dev hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
" hm nanti sajalah....
" tapi tuan, Ini Nyonya sudah kembali menghubungi saya!" ujar Rama sambil menyerahkan ponselnya yang sedang bergetar itu.
" Ya itu kan ponsel Kamu kenapa harus saya menjawab jangan sampai mau membahas hal lain, lain kali itu jangan curiga sembarangan jangan sampai memang kamu yang dituju!" sungut Dev yang sama sekali tidak ada niat untuk berbicara dengan mamanya yang kalau hendak mau berbicara selalu saja mau ingin menang sendiri.
" halo nyonya, Iya tuan Dev ada di dekat saya. Ya baiklah saya akan memberikan ponsel padanya, agar Nyonya lebih jelas lagi kalau berbicara dengannya karena saya tidak paham!" jelas Rama yang seolah tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga itu.
" dasar asisten sialan yang tidak bisa diandalkan jika diperlukan saat seperti ini, setidaknya kasih alasan apa yang manusiawi biar mama tidak banyak bertanya lagi kan?" Ketus Dev lalu mengambil ponsel yang diberikan oleh Rama.
" tuan tolong ponsel saya setelah ngomong jangan dibanting ya, soalnya ntar sudah kesekian kalinya saya harus bolak-balik ke konter hanya untuk mengganti ponsel yang isi datanya semua harus sama!" pinta Rama memelas membuat Dev menatap tak percaya ke arahnya.
" kamu pikir saya ini perusak barang, kalau tahu seperti begitu Tidak usah mengangkat telepon dari mama daripada akhirnya kamu bakal curigaan tidak tidak?" tanya Dev sambil mendelik kesal.
" nah tuh kan salah lagi, padahal aku hanya ngomong yang sesuai kenyataan kenapa masih saja tidak diterima?" ujar Rama frustasi tetapi dalam hati Mana berani berbicara secara langsung bisa lebih bahaya lagi urusannya.
" Iya Mah, aku masih hidup masih bisa bernafas belum mati Jadi jangan tanya yang aneh-aneh ataupun memberikan perintah yang tidak jelas!" begitulah seorang Dev tidak terlalu ingin urusannya dicampur adukan oleh mamanya yang berbuat seolah dirinya masih anak kecil.
" Eh dasar anak kurang ajar, kamu tahu tidak Mama khawatir lho sama kamu Makanya mama menghubungi kamu tapi ponsel kamu itu mati total ya akhirnya Mama Hubungi ke Rama?" teriak Lilian dari seberang membuat Dev sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
" nah terus masalahnya dimana, yang penting Sekarang aku sudah jawab kan jadi jangan memperbesarkan masalah deh?" tanya Dev Tak habis pikir dengan jalan pikiran setiap wanita Ribet sekali kalau menjurus kepada sesuatu yang tidak menyenangkan dalam pemikiran mereka.
" Kamu itu kenapa sih jadi anak tidak ada sopan santunnya sama orang tua sedikitpun, Memangnya salahnya di mana coba kalau mama itu khawatir sama kamu karena tidak ada kabar dari kemarin?" tanya Lilian kesal.
__ADS_1
" salahnya Mama itu cuma satu dari dulu sampai sekarang, yaitu dengan tega menjodohkan aku dengan wanita yang bentukannya pun bikin sakit mata! aku itu punya pilihan dalam hidup dan aku yakin mau pasti tidak bakalan kecewa, hanya saja Tolong jangan paksa aku pada seseorang yang tidak ingin ku lirik sama sekali!" Dev benar-benar kesal dengan sikap mamanya yang sangat memaksa agar dirinya menjadi pria yang paling manis terhadap Rebecca yang jelas-jelas bukan tipenya Sama sekali.
" apa kamu bilang tadi? Wah kamu jadi orang tidak tahu terima kasih sama sekali Ya sudah Mama pilihkan jodoh terbaik untuk kamu tapi masih saja di komplain, kurang apanya coba Rebecca itu sudah Manis kaya dan juga berpendidikan tinggi Pasti nanti kalau kamu bawa kemana-mana tidak bakalan membuat kamu malu kan?" tanya Lilian heran.
" Aku mau yang seperti Asya!" tegas Dev yang Bahkan tidak sadar dengan apa yang dirinya katakan barusan.
" Asya? wanita mana lagi yang sedang kamu simpan Dev, jangan bilang kalau bentukannya lebih parah dari Rebecca bakalan mama potong Kuping kamu agar sadar jadi anak karena dibilangin tidak pernah mau dengar?" tanya Lilian tak terima dengan pilihan putranya pasti lebih hancur parah daripada Pilihannya yang sekarang.
" mama dengar baik-baik apa yang Dev karena tidak bakalan Dev ulangi lagi sampai kapanpun! Asya itu lebih bagus dari siapapun yang ada di muka bumi ini termasuk mama, jadi jangan pernah Memberikan komentar yang buruk tentangnya karena Biar bagaimanapun dia itu sudah bikin Dev merasa menjadi pria yang sempurna!" setelah mengatakan hal itu Dev langsung mematikan panggilannya secara sepihak karena jika berlama-lama menelpon dengan mamanya bakalan membuat ponsel yang dipegang itu bakalan hancur remuk tak berbentuk.
" tuan, itu...
" apa? jangan bilang kamu mau ikutan berkomentar seperti mama, kalau sampai hal itu terjadi kamu bakalan saya sepak keluar dari dalam mobil ini?" tanya Dev dengan Tatapan yang tajam bak elang yang seolah ingin menerkam mangsanya.
" maaf, tapi ponsel saya...
Rama tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena dirinya bergidik ngeri dengan Tatapan yang diberikan Dev barusan, hanya saja demi menyelamatkan alat komunikasi yang sekarang dirinya punya mau tidak mau dirinya harus berubah jadi pengemis dan tidak mengenal rasa takut padahal sebenarnya hal ini sedikit menciut akibat dari tatapan yang diberikan oleh Dev yang tidak ada kompromi sama sekali.
" ponsel butut saja seperti takut kehilangan berlian!" sinis Dev sambil memberikan benda persegi yang diminta oleh Rama barusan.
" biarpun butut tapi ini sudah bisa membuat Anda mati kutu dihadapan nyonya!" Rama dalam hati Mana berani berbicara secara langsung ketika Dev dalam keadaan mood yang benar-benar parah.
" Memangnya Asya itu seperti apa sih menurut kacamatanya Tuan Dev, karena kalau menurut saya dia itu sangat perfect buat dijadikan calon istri?" tanya Rama yang pura-pura ingin mencari tahu isi dalam otak tuannya itu yang tadi sudah secara sadar mengatakan kelebihan Asya di depan mamanya sendiri.
" itu bukan urusan kamu, yang penting intinya 1 jangan coba-coba kamu mendekati Asya hanya untuk menuntaskan rasa keanehan dalam diri kamu itu. karena biar bagaimanapun dia itu adalah tanggung jawabku dan juga wanitaku, Jadi kamu jangan coba-coba menunjukkan kegilaan kamu yang seperti sudah-sudah karena aku tidak bakalan tinggal diam!" Rama bergidik ngeri karena tuannya itu selain Arogan dan tidak punya malu ternyata main enak saja mengklaim sesuatu menjadi miliknya.
" Terserah anda saja Tuan Saya tadi hanya bercanda!" Lirih Rama yang sudah memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain takut juga sih kalau berhadapan dengan Dev dalam keadaan marah seperti itu.
mencintai sesuatu itu bukan karena fisiknya ataupun karena lebihnya melainkan karena kurangnya, karena bisa Jadi kurangnya itu merupakan kelebihanmu dan kelebihannya itu merupakan kekuranganmu.
Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang manusia sempurna seluruhnya, karena biar bagaimanapun yang sempurna di dunia ini adalah milik sang pencipta.
ingatlah! terkadang apa yang kamu lihat belum tentu kenyataannya sesuai dengan yang terjadi, dan juga terkadang Apa yang kamu pikirkan kan belum tentu hal itu benar.
seseorang paling bisa menyembunyikan kesedihannya daripada menyembunyikan perasaannya, karena sedih itu berasal dari dalam hati sedangkan perasaan itu sesuatu yang terkadang membuat seseorang lupa segala-galanya.
__ADS_1
Jangan Menyerah, karena Tuhan memberikan pikiran untuk berpikir dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.