
Asya bukannya tak sopan kepada orang yang lebih tua, hanya saja dirinya bingung harus berbicara apa ketika Nanti ditanya ini itu oleh om sama Tantenya.
wanita cantik itu memilih berendam di air dingin padahal sudah larut malam dan itu tidak sangat bagus untuk kesehatan, karena Asya ingin menghilangkan bekas jejak sentuhan kiri di tubuhnya.
Namun sayang bekas tubuh itu tidak bisa menghilang bahkan yang ada menjadi tambah lecet ketika Asya menggosoknya begitu kuat, jangan lupakan juga dengan area intinya yang terasa seperti dirobek tapi mau bagaimana lagi hilang sudah bunga yang dia jaga direnggut ketika sedang bermekaran.
Asya bahkan karena terlalu kelelahan menangis sampai tertidur di dalam bak mandi yang Airnya sudah menjadi sangat dingin, wanita cantik itu tidak menyangka jika selama ini dirinya mempercayai pria yang salah karena justru pria yang ia percayai itu menghancurkan dirinya secara perlahan.
didalam tidur dia bermimpi bertemu dengan kedua orang paruh baya yang sama sekali tidak pernah dirinya temui di dunia nyata padahal orang-orang tersebut adalah kedua orang tua kandungnya, hanya saja mungkin karena kepergian mereka ketika Asya masih kecil membuat daya ingatnya sedikit rendah padahal Dewi selalu menunjukkan foto kedua orang tuanya.
" Halo bidadarinya ibu sama ayah Kenapa harus tidur di sini malam-malam, ayo bangun Airnya sudah semakin dingin nanti kamu sakit. kasihan lho Om sama Tante kamu harus bersedih karena kamu yang sakit?" tanya wanita cantik yang masih terlihat mudah walaupun terlihat ada keriput di wajahnya memakai pakaian putih panjang seperti ibu peri.
" benar kata ibu kamu Nak, Kalau ada masalah langsung bicara saja sama om dan tante kamu jangan dipendam sendiri. kamu pasti ingat Bagaimana rasa sayangnya mereka ke kamu jadi tolong jangan kecewakan mereka nak jangan menghukum diri sendiri seperti begini, ibu sama ayah bakalan selalu melihat kamu dari atas dan tidak akan membiarkan Kamu bersedih!" sambung pria yang berada di samping kepalanya Asya.
__ADS_1
ketika kedua almarhum orang tuanya pergi. Asya pun terkejut dan merasakan tubuhnya begitu kedinginan, dengan langkah yang perlahan wanita cantik itu bangkit dari bak mandi dan menuju ke dalam kamarnya untuk memakai pakaian meskipun dirinya merasa tubuhnya begitu menggigil.
" Tuhan apa yang harus aku lakukan, bagaimana kalau aku hamil apa yang harus aku katakan ke Om sama Tante, kalian Begitu jahat Gerry sama Mona Kenapa harus menghancurkan hidupku jika ingin menyingkirkan ku dari tengah kalian. Padahal aku bisa saja menjauh tanpa kalian melakukan hal ini demi Tuhan akan ku balas karena Asya bukan seorang wanita yang lemah!" lirih Asia dalam hati bertekad bakal membalas dendamnya kepada Mona dan Gerry yang sudah melakukan sesuatu menghancurkan masa depannya.
Asya sudah mengambil keputusan dirinya tidak bakalan mundur, karena dirinya tidak bermasalah dengan siapapun selama hidupnya untuk apa ia harus takut kalau memang keperawanannya sudah hilang tuh mau bagaimana lagi karena dirinya bukan sengaja memberikan tapi karena dipaksa dan tanpa bisa ia melawan.
sedangkan Dewi tidak bisa tidur malam ini membuat suaminya merasa heran, karena biasanya setiap 3 bulan sekali Rio pulang dan keduanya selesai berolahraga malam pasti sang istri bakal tertidur nyaman dalam pelukannya tapi ini terasa berbeda sekali.
" Mama kenapa Katanya tadi capek Kok malah tidak tidur, Apa ada yang sedang Mama pikirkan Coba ceritakan Siapa tahu aku bisa bantu?" tanya Rio sambil mengecup pelan kening istrinya itu.
" Papa tadi lihat tidak cara Asia berjalan Kenapa aneh seperti itu ya, terus wajahnya yang pucat seperti begitu seolah sedang ketakutan apa jangan-jangan dia dan Gerry tadi? " Dewi tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena berbagai macam kecurigaan sedang bersarang di benaknya kini.
Rio berusaha menenangkan sang istri meski sebenarnya ia sependapat dengan Dewi, hanya saja dirinya tak ingin istrinya itu malah kepikiran yang terlalu berlebihan.
__ADS_1
" mama ya kalau ngomong jangan sembarangan deh, selama ini kan kita tahu diri itu sikapnya Seperti apakah Asya. karena selama ini yang kita percayakan untuk menjaga Asya kan Gerry, Jadi tidak mungkin dong dia merusak kepercayaan yang sudah kita kasih?" ujar Rio sembari menetralkan rasa cemasnya kepada keponakan istrinya yang sudah ia anggap seperti putrinya itu juga.
" tapi kan selama ini tidak pernah Asya pulang dari rumah Gery tengah malam, tadi kan Papa dengar sendiri kalau Gery minta dia buat menginap di sana karena orang tuanya sedang keluar kota?" tanya Dewi lagi yang karena masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.
" nanti besok baru kita tanyakan saja lebih baik malam ini istirahat saja memangnya kamu tidak capek tadi kita olahraganya lumayan lama loh?" bujuk Rio yang sengaja mengalihkan pembicaraan agar sang istri tidak terlalu membahas soal Asya.
Dewi memasang wajah ketusnya ketika dirinya dalam udah serius suaminya malah membahas hal lain padahal itu sudah mereka lalui beberapa waktu yang lalu.
" papa tidur saja deh mama mau memastikan keadaan Asya dulu takutnya dia sakit karena tadi pulang kena gerimis, Lain kali itu jangan mengalihkan pembicaraan jika bukan ahlinya karena nanti sama saja terdengar ogeb!" Sumut Dewi memilih untuk ke kamarnya Asia tidak peduli dengan kata-kata protes dari suaminya Karena Wanita itu belum merasa puas jika belum memastikan sendiri keadaan Asya sekarang.
Rio hanya tersenyum tidak ingin membantah istrinya apalagi di jaman seperti ini tidak etis kan kalau keduanya harus berdebat, nanti dikira urusan ************ malunya itu loh dapat banget.
sesampainya Dewi di kamarnya Asya wanita paruh baya itu langsung membukanya secara perlahan karena dirinya tahu Asia tidak pernah mengunci pintunya dari dalam sebab gadis belia itu kadang kesulitan buat tertidur atau mengalami mimpi buruk hingga dirinya harus selalu mengecek keadaannya ketika tengah malam.
__ADS_1
Dewi duduk di samping ranjang tempat Asya tidur dan terlihat wanita cantik itu Sudah terlelap, membungkus selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya yang keluar hanyalah bagian kepalanya saja. begitulah cara tidur aja yang kadang-kadang membuat Dewi kelimpungan sendiri sehingga tidak tenang jika tidak mengecek keadaannya.
" kamu Kenapa nak hari ini aneh sekali tanpa cemas selalu memikirkan kamu dari tadi, lain kali ada masalah bilang saja sama tante langsung Kamu tahu kan kalau Tante tidak bisa tidur kalau kamu keadaannya seperti tadi?" lirik Dewi sambil mengecup pelan kening Asya yang terasa hangat membuat wanita paruh baya itu seketika langsung panik karena ternyata keponakannya itu sedang demam.