
Rio yang melihat Kenzo berlari dari dalam rumah dengan menggendong Asya membuat pria paruh baya itu merasa cemas dengan keadaan putrinya, berbagai macam kecurigaan ataupun pikiran yang aneh-aneh berseliweran di dalam otaknya sekarang. sebab Ia takut jangan sampai ia mendapatkan kekerasan di dalam situ dan Terlambat untuk ditolong, karena jika sampai hal itu terjadi otomatis dirinya merutuki kegagalannya sebagai orang tua yang tidak bisa menjaga putrinya sendiri.
" Ya Tuhan Kenzo itu Asya kenapa kok bisa seperti begini, apa bakalan keluar dan menangani penculik kurang ajar yang sudah melakukan hal yang tidak-tidak kepada anak kesayangan Papa ini? "tanya Rio memastikan karena dirinya memang benar-benar tidak terima dengan keadaan Asya sekarang dimana kedua pipinya mulai membiru akibat dari tamparan keras yang diberikan oleh Dave.
" papa lebih baik sekarang kita kembali agar bisa ke rumah sakit untuk mengurus Asya kalau untuk penculik itu biarkan saja Maxwell yang menangani dengan caranya, karena yang penting Intinya cuma satu yaitu kita sudah berhasil menemukan Asya dan memastikan keadaannya nya. untuk urusan yang lain biar sudah kita tidak perlu menanganinya karena ada anggota Black Dragon yang akan menanganinya,jadi sekarang kita fokus ke Asya saja!" jelas Kenzo lalu berlari kearah mobilnya diikuti oleh George dan Rio.
Percayalah Maxwell hari ini merasa begitu bahagia karena mendapatkan jatah dari Kenzo,sebab sudah sekian lama dirinya tidak menghajar orang dengan begitu leluasa.
"Kamu mau apa?" Tanya Dev dengan nada yang begitu meninggi karena ada lagi orang asing yang berada di sekitarnya.
"Mau menghajar manusia yang tidak punya kerjaan dan meminta untuk di kasih kerja!" Sahut Maxwell ambigu.
"Aku akan memberikan kamu uang,tinggal katakan saja mau berapa banyak!" Bujuk Dev.
Maxwell tertawa sambil memasang wajah yang mengejek dengan apa yang ia dengar barusan,dirinya yang notabene merupakan pemimpin kelompok mafia kelas dunia otomatis tidak akan pernah kekurangan yang sedikitpun.
"Apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang memerlukan uang?" Tanya Maxwell serius.
"Bukan sekarang tapi pasti suatu saat kamu akan memerlukan hal itu,jadi aku menawarkan kerja sama agar saling menguntungkan !" Sahut Dev yang mulai merasa diatas angin ketika melihat Maxwell yang menggubris setiap apa yang ia katakan.
Bugh
"Ini karena kamu sudah menghinaku dengan uang mu!" Ujar Maxwell setelah melayangkan satu tendangan kearah pipi Dev..
Bugh
"Ini karena sudah membuat sahabatku kesusahan mencari istrinya!" Sambung Dev lagi.
Bugh
"Ini karena kamu yang sudah menjatuhkan harga diri para jomblo,yaitu dengan menculik istri orang dan paksa untuk menikah!" Maxwell benar benar auto tidak ingin Dev bicara lagi karena hanya membuat dirinya emosi.
Melihat Dev yang pingsan,Maxwell bukannya berhenti malah mengambil alat kejut listrik dan menyetrumnya tepat di kedua lutut pria itu hingga membuat Dev kejang kejang.
Maxwell tertawa sambil memasang wajah cemberutnya karena sama saja ketika melakukan hal yang jahil tapi korbannya malah pingsan itu sama saja bohong,karena merasa sia sia Maxwell memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan Dev sebelum nya.
"Heii kalian cepat buka semua pakaian pria ini dan kasih pakai Pakaian Ren*n* wanita,ingat jangan lupa pakaikan juga Lipstik merah menyala milik Oma nya Douglas!" perintah Maxwell.
"Kalau sampai semua sudah beres mau dibuat apa ini orang?" Tanya Douglas yang merupakan salah satu anggota Black Dragon yang sedikit miring otaknya.
"Jadikan dia pajangan dijalanan yang sangat ramai,bila perlu taruh saja di pusat perbelanjaan agar saat sadar nanti dia bakal kapok datang ke negara ini!" perintah Maxwell lalu pergi dari situ.
__ADS_1
Astaga Dev, ingin hati menikah hari ini malah yang ada harga diri tergadaikan,membuat semuanya jadi hancur berantakan dan tidak tahu harus digambarkan seperti apa lagi.
Lebih parahnya lagi keadaan Dev itu ketika dirinya menjadi bahan tontonan semua orang,namun sepertinya dirinya tidak menyadari hal itu karena dalam posisi pingsan.
Terkadang efek jera yang dilakukan itu tidak perlu harus pakai kekerasan,tinggal hanya menggunakan akal yang sesuai dengan keadaan maka semua jadi beres.
"Oh Tuhan tolong,kenapa ada pria yang tidak tahu malu pingsan disini? Jangan jangan dirinya sedang Fashion Show dan karena malu jadi tertidur,wah kalau begini kasihan Ibu yang melahirkan dirinya karena bakal merasa malu mengeluarkan bibit perusak mata!" begitulah kata kata yang di keluarkan Neneknya Douglas yang kebetulan lipstik nya sedang di pinjam dadakan oleh Dev tadi akibat kelakuan dari Maxwell yang memberikan perintah tanpa ingin dibantah.
Dirumah sakit kondisi Asya tidak terlalu mengkhawatirkan oleh karena dirinya tidak mengalami masalah pada tubuhnya,selain dari bekas tamparan yang diberikan oleh Dev tanpa ada perasaan bersalah dari pria itu.
Kenzo dari tadi tidak pernah meninggalkan Asya dan mungkin juga saat ingin buang air ditahan nya juga karena takut Asya di culik lagi,ah Babang Kenzo kelebihan lebay deh masa iya penculiknya auto kampret lagi senam kesabaran dunia akhirat.
"Mas,aku itu baik baik saja dan ingin pulang! Kalau sakit yang dipipi paling di kompres air Es langsung mendingan,jangan cemas terlalu berlebihan begitu aku itu rasanya seperti orang yang tidak berguna sama sekali!"jelas Asya namun Yang namanya Kenzo sedang kapan mendengar apa yang orang lain katakan.
"Aku tidak masalah jika tetap melayani kamu karena selama ini kamu kan tidak pernah mengeluh saat melayani ku siang malam,jadi kamu lebih baik istirahat saja sampai dokter yang menyuruh kamu pulang baru kita bakal pulang !" tegas Kenzo membuat Asya mendengus kesal.
"Aku itu calon dokter yang tertunda jadi kamu jangan banyak bicara lagi,atau setelah dari sini aku bakal langsung daftar kuliah biar kamu nyaho sekalian!" Ancam Asya karena memang sikap Kenzo itu terlalu berlebihan menurutnya.
Kenzo diam karena tidak berani membantah sebab pria itu takut apa yang dikatakan istrinya itu bakal menjadi kenyataan,padahal dirinya mana ikhlas jika sang istri di lirik oleh pria lain diluaran sana.
"Mas,Elnara dimana?Kok dari tadi tidak kelihatan,padahal aku kangen?" Tanya Asya karena memang dari tadi Asya tidak melihat keberadaan putri kecilnya itu.
"Anak baru mau jalan setahun malah sudah direncanakan hal yang aneh aneh,awas saja kalau sudah besar terus kamu melakukan yang tidak jelas?" Sungut Asya.
"Yang,Anak itu harus di rencanakan masa depan nya mulai dari sekarang supaya besar tidak salah jalan!" Sahut Kenzo santai.
"Bodoh amat,terserah kamu mau bicara apa!" Omel Asya.
Gerry
Pria yang sedang galau itu hari ini memutuskan mengikuti penelitian keseluruh dunia bagi para dokter muda,penelitian yang dilakukan atas kerja sama antara kampus tempat dirinya kuliah dan juga beberapa negara tetangga.
"Kamu yakin mau pergi Nak? Apa tidak sebaiknya kita kembali ke Tanah air untuk memastikan keberadaan Asya,daripada kamu pergi tanpa ada kejelasan seperti ini?" Tanya Norah yang tidak ingin Gerry pergi.
"Apa yang Mama kamu katakan itu benar Nak,karena sama saja kamu mencari seseorang di tempat yang asing tapi tidak ada keterangan dimana dia sebenarnya itu sama saja melakukan hal yang mustahil!" Dito menimpali apa yang dikatakan Norah barusan.
Gerry hanya tersenyum sambil melanjutkan sarapannya dan memilih memikirkan jawaban yang pas agar Orang tuanya itu paham,sebab jika tidak pasti akan banyak muncul pertanyaan yang tidak jelas dikemudian hari.
"Kamu kok malah diam saja terus pake senyum segala,padahal Mama sama Papa kan sementara bicara ke kamu?" Tanya Norah kesal.
"Mah,bisa tidak jawabnya nanti saja soalnya aku lagi menikmati sarapan nasi goreng yang entah kapan nanti bisa aku merasakan nya lagi!" Sahut Gerry membuat nafsu makan Norah langsung hilang.
__ADS_1
"Kamu kalau mau merasakan masakan Mama tiap hari ya kalau begitu kamu tidak usah pergi,daripada kamu sendirian di sana terus tidak ada kejelasan entah kamu nanti seperti apa disana!" Omel Norah.
"Mama,seorang pria itu harus bisa menghadapi kejamnya dunia baru bisa di bilang seorang pria sejati. Maka dari itu sebagai orang tua itu harusnya mendukung apa yang dilakukan anak sendiri bukan malah menghancurkan harapan nya,jadi kenapa aku yang pergi tapi Mama yang cengeng?" Tanya Gerry sambil memasang tatapan meledek yang membuat Norah ingin sekali menghajar putranya itu.
"Anak kurang ajar! Sudah tahu orang tua lagi cemas malah bicara yang tidak jelas,kamu mau Mama hajar sampai bonyok biar sekalian tidak usah jalan?" Tanya Norah dengan tatapan khas kalau orang yang lagi marah..
"Mah,jangan marah marah begitu dong? Biar ganteng begini aku itu anak nya Mama cuman satu satunya di dunia,nanti kalau kangen pasti tidak bakal ketemu lagi !" Goda Gerry.
"Ayo sini kamu biar Mama hajar,karena sudah terlalu kurang ajar pada orang tua sendiri!" panggil Norah tapi dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir.
Gerry yang dari tadi hanya bercanda langsung tertegun ketika melihat keadaan Norah kini,sebagai seorang anak ia sangat paham dengan apa yang di rasakan wanita yang telah melahirkan nya itu.
Ingin sekali dirinya mengundurkan diri dari segala ***** bengek itu hanya saja ini semua dilakukannya demi Asya,jika bukan karena ingin mencari wanita yang sudah ia hancurkan miliknya itu otomatis dirinya pasti mengabulkan keinginan Norah itu.
"Mah,aku janji bakal baik baik disana.Aku pergi bukan untuk menghilang atau mau melakukan hal yang tidak ada faedahnya sama sekali,tapi aku pergi untuk mencari Asya yang entah pergi kebagian Bumi yang mana?" Lirih Gerry yang benar benar tidak ingin di batalkan maksud dan tujuan nya itu..
"Tapi Nak,Mama tidak tega kalau kamu menyiksa diri sendiri seperti ini !" Ujar Norah sendu.
"Yang bilang aku tersiksa itu siapa? Orang aku sekarang hanya baik baik saja kok,malah sedang bersemangat untuk melakukan sesuatu yang lebih gila lagi!" terdengar dari nada yang diucapkan oleh Gerry begitu terluka sebab sepertinya dirinya sedang merasakan hal yang membuat terluka tapi sengaja di sembunyikan agar orang lain tidak tahu.
Norah ingin sekali bertanya dan mengharapkan kejujuran putranya itu tapi Gerry tidak pernah didapatkan,mungkin karena pemuda itu ingin memendam nya sendiri.
Padahal hati seorang Ibu ingin sekali yang terbaik untuk anak anaknya,saling berbagi suka dan duka agar beban terasa lebih ringan.
Nora memilih diam saja tidak ingin lagi berkomentar banyak karena sama saja nanti tetap tidak bakalan digubris lagi oleh anaknya itu, mungkin hanya ini satu-satunya jalan untuk bisa menemukan Asya maka dari itu dirinya memilih untuk diam..
" Ya sudah kalau begitu Mama tidak bakal memaksa kamu untuk tinggal Tetapi kalau kamu kesulitan di sana lebih baik langsung pulang, soalnya saat kamu disana pasti bakalan sendirian tidak ada keluarga dan juga tidak ada kami. " pinta Norah.
"Iya Mama, aku bakalan melakukan apa yang mama katakan tadi jadi tolong jangan menjaga saat aku akan pergi. aku janji bakalan menjaga diri saat berada di sana Dan juga akan selalu memberi kabar kepada kalian agar tidak cemas Disini, Doakan aku agar bisa menemukan Asya segera dan bisa membawanya pulang!" Gerry benar benar merasa yakin jika akan menemukan Asya saat mengikuti penelitian nanti.
Dirinya bahkan tidak peduli jika nanti Asya sebenarnya sudah punya kehidupan sendiri,karena menurutnya dirinya adalah pemilik sah nya Asya oleh karena apa yang sudah ia ambil dari wanita itu.
padahal aku sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya beserta dengan suami dan juga anaknya, karena keinginannya untuk segera pulang dan ingin menemui Elnara maka dari itu Kenzo membujuk dokter agar istrinya itu bisa segera pulang ke rumah.
Oleh karena dokter yang bertugas menangani Asya adalah sepupunya yaitu Lorin. maka dari itu dirinya tidak kesulitan untuk mendapatkan izin, sebab fluorin paling tidak suka berdebat dengan Kenzo yang tidak ingin mengalah kepada siapapun apalagi kepada dirinya.
" nanti juga pasti pulang tapi sekarang tunggu di observasi dulu kenapa sih jadi orang tidak pernah mau sabaran sedikit , Lagian ini kan fasilitas VIP Kenapa kok ribet sekali jadi orang?" Sungut Lorrin yang tidak menyukai sikap Kenzo itu.
' kamu itu katanya seorang dokter tapi sebenarnya tidak memahami apa yang dirasakan oleh pasiennya, Istriku itu merasa baik-baik saja dan mengatakan kalau lama-lama dirinya berada ditempat ini otomatis bisa sakit beneran! jadi lebih baik jadi bawa pulang saja sesuai dengan keinginannya bukan malah kamu mencegahnya seperti begini, atau jangan-jangan kamu memang berniat untuk membuat dia sakit dan setelah itu bakalan kesulitan untuk melakukan sesuatu? " tanya Kenzo sesuai dengan tatapan menyelidik membuat Lorrin menatap jengah kearahnya karena selalu mencurigai yang tidak-tidak padahal dirinya tidak ada niat melakukan hal itu sama sekali.
tak ingin menggubris apa yang di katakan oleh sepupunya itu,Lorrin memilih untuk membuatkan resep obat untuk Asya.
__ADS_1