
Bambang begitu kalut pikirannya sedang diambang antara memilih untuk mempertahankan rumah tangganya atau untuk pergi, jika dirinya tetap mempertahankan rumah tangganya maka bisa dipastikan ia harus lebih bersabar dalam menyikapi sikap istrinya yang tidak pernah berubah tetapi jika dirinya pergi maka bisa dibilang ia akan sedikit lega karena merasa tidak berdosa sebab tidak melihat tingkah istrinya itu tetapi itu sama saja dengan dirinya membiarkan orang lain melakukan kesalahan tetapi tidak ada niatan untuk memperbaikinya.
bertahan dengan wanita yang sikapnya keras kepala seperti Nina dan juga anak yang tidak pernah mau menghargai apa yang dikatakan orang tua seperti Mona sungguh terasa begitu menyiksa batin Bambang, padahal yang diinginkan oleh seorang kepala keluarga yaitu dihargai oleh anggota keluarganya dan jika setiap kata-katanya salah maka selalu menggunakan kata-kata yang halus sebagai sanggahan.
namun apa yang ia dapatkan selama ini dirinya selalu dibanding-bandingkan dengan orang kaya yang lain bahkan istrinya itu Dengan terang-terangan mengatakan bahwa ada pria di luaran sana yang ingin menikahinya karena kaya, hanya saja dirinya tidak ingin menyadap status janda maka bisa dipastikan dia tetap memilih Bambang karena dirinya menyukai pria yang tidak terlalu agresif ataupun bersikap kasar seperti itu agar dirinya bisa bebas di luaran sana tanpa ada yang namanya kekerasan fisik yang bakalan terjadi kepadanya.
" mama kenapa sih aku tidak ditempatkan saja di ruangan VIP, biar kita bisa bebas mengobrol tanpa ada yang bakalan menguping dan juga menyela omongan kita seperti orang yang suci? " tanya Mona yang sebenarnya belum terlalu bisa bergerak bebas sebab bagian intinya terasa begitu sakit bahkan bisa dibilang mati rasa dan juga tulangnya seperti remuk redam layaknya tukang bangunan.
Nina menghela nafasnya kasar mendengar pertanyaan putrinya itu karena memang sebenarnya Ia juga ingin seperti begitu karena dengan begitu dirinya bisa mensejajarkan posisi dengan orang kaya yang setiap hari sakit selalu memilih untuk ruangan sendiri, hanya saja keadaannya sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu sebab jika semakin dirinya mencoba untuk menjadi orang kaya maka bisa dipastikan pengeluarannya pun akan semakin besar.
" Mama sih maunya seperti begitu tapi kan kamu tahu sendiri kalau ruangan itu kan mahal biayanya, sedangkan kita dapat uang dari mana untuk membayar semuanya dengan Papa kamu yang tidak berguna itu. ya jadinya alhasil kamu di ruangan kelas 3 seperti begini soalnya uang di dalam dompet kamu itu kan hanya segitu saja, Jadinya Mama sesuaikan saja yang penting Intinya kamu tetap ditangani dokter dan bisa segera keluar dari sini!" Mona membulatkan matanya sempurna ketika mendengar kata-kata terakhir dari mamanya itu padahal sebenarnya uang dalam dompet itu ia simpan rapat guna untuk keperluan tertentu yang penting Intinya satu yaitu untuk bisa membuat Gerry kembali terpikat olehnya.
" Apa maksud Mama ngomong kayak tadi? jangan bilang kalau uang yang aku simpan itu Mama sudah ambil pake tanpa izin ku, padahal itu kan aku bakal gunakan buat biaya operasi untuk memperbaiki wajahku agar lebih glowing lagi?" tanya Mona dengan nadanya yang sedikit meninggi karena memang tidak menyukai jika barangnya diambil tanpa memberitahukan lebih dahulu meskipun itu untuk dipakai oleh dirinya.
Nina mana tapi tidak suka ke arah mana yang terdengar seperti tidak menyukai apa yang ia lakukan itu, Padahal selama ini tidak masalah jika Nina mengambil berapapun yang ada di dalam dompet Mona kenapa sekarang malah seperti begini.
" Memangnya ada yang salah kalau Mama ambil uang kamu terus dipakai buat kamunya, bikin selama ini kan tidak ada masalah kalau mama mengambil apapun yang Mama inginkan dari kamu kenapa sekarang malah seperti begini respon kamu itu?" tanya Nina Ketus karena memang selama ini maunya tidak pernah bersikap seperti itu kepadanya apapun yang dia inginkan pasti dituruti oleh putrinya itu tanpa Banyak mengeluh.
" Bukannya aku tidak mau kasih ataupun mau mengeluh Tapi kan maksudnya dengan keadaan seperti begini otomatis aku tidak bakalan bisa buat melakukan hal-hal yang seperti biasanya untuk menghasilkan uang, padahal yang tersisa dalam dompetku Tuh kan hanya itu saja dan itu juga aku mau pakai seperti yang tadi aku katakan hanya saja sudah oudes habis sih mau bagaimana lagi?" ujar Mona yang terlihat tidak begitu semangat karena dengan keadaannya seperti begini otomatis rencana yang sudah disusun rapi dalam benaknya bakalan tidak bisa terealisasikan.
__ADS_1
" kalau kamu sampai tidak melakukan hal-hal yang seperti biasanya terus kita bakalan dapat uang dari mana coba, mau mengharapkan papa kamu itu sama saja pungguk Merindukan Bulan soalnya tidak bakalan pernah terjadi?" tanya Nina yang sedikitpun tidak memikirkan keadaan putrinya itu atau mungkin menyuruhnya berhenti dari jalan yang tidak benar Tetapi malah merasa seperti jika Mona beristirahat otomatis ladang uangnya tidak akan ada lagi.
" ya kalau misalnya aku yang beristirahat ya Otomatis Mama yang menggantikan aku Bekerjalah, masa iya aku harus memaksakan diri yang ada nanti bakalan memperpendek umurku sendiri kan?" sahut Mona membuat Nina langsung tersenyum antusias karena memang itu merupakan ide yang paling Cemerlang sebab tidak mungkin juga akan dirinya Hanya duduk onggang-ongkang kaki sedangkan segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang.
" Kamu benar juga ya kenapa Mama tidak kepikiran ke arah situ nanti kalau usul urusan papa kamu itu mah tenang gampang diatur soalnya kan dia orangnya gampang sekali untuk dibohongi, bersyukur punya suami yang otaknya lemot seperti begitu soalnya kemana-mana tidak ada yang bakalan melarang!" Nina begitu antusias bahkan bisa dibilang keberadaan suaminya itu dianggapnya seperti angin lalu seolah manusia itu hanya nampak jiwanya saja tetapi roh nya sudah tidak ada.
" Iyalah lain kali harus bersikap seperti begitu ngapain juga peduli sama dia Memangnya Apa sih yang dikasih buat kita, ada itu kita kerja sendiri banting tulang sendiri terus kasih makan dia tapi enak sekali kalau harus segala sesuatu pakai izin segala !" ujar Mona yang terlihat tidak begitu peduli dengan kehadiran Papanya.
" Oh iya Mama hampir melupakan sesuatu nanti kalau polisi datang terus menanyakan hal yang aneh-aneh usahakan kamu itu berbuat sehisteris mungkin Terasa seperti orang yang trauma, supaya nanti saat kita menuntut mereka kita Bakalan mendapatkan kompensasi yang begitu besar dan Dengan begitu kita bisa berfoya-foya mungkin sekalian liburan ke luar negeri begitu!" Nina malah mempengaruhi jalan pemikiran putrinya itu Dan jangan salah lagi kalau Mona bakalan menyambut dengan begitu antusias.
Gerry yang hari ini rencananya bakalan mengecek Rumah Sakit tempat dirinya bakalan mengajukan lamaran kerja mendadak menghentikan langkah kakinya dan jadi berubah pikiran, ketika melihat Papanya Mona sedang duduk di depan salah satu ruangan yang berada di situ.
" itu kan Papanya Mona, kalau dia berada di sini otomatis Mona juga pasti sedang rawat di sini, sepertinya aku melamar kerjaan di tempat lain saja deh soalnya belum apa-apa juga sudah menemukan hal yang membuat aku pusing!" gumam Gerry monolog dan memilih untuk segera pergi dari situ tetapi langkah kakinya itu kalah cepat dengan Bambang yang sudah melihat ke arahnya.
" sepertinya om salah lihat soalnya saya ke sini itu karena ada urusan dengan direktur rumah sakit ini, tetapi beliau sedang keluar makanya Saya hendak pulang kalau begitu saya permisi dulu ya!" Gerry bener-bener tidak mau berurusan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Mona karena dirinya yakin jika berhubungan dengan wanita itu otomatis kesialan yang bakalan selalu menimpa hidupnya.
" Maafkan saya Om bukannya hendak Berlaku tidak sopan kepada anda hanya saja ketika dekat dengan Putri anda itu akan membuat saya merasa tidak nyaman dan ingin sekali mencekik batang lehernya itu, maka dari itu lebih baik saya memilih menghindar Biarkan saja dia merenungkan kesalahan Kalau memang dia merasa diri tidak punya salah Ya sudah biarkan saja!" batin Gary yang tidak ingin jujur kepada Bambang karena menurutnya ia dan Mona itu sudah tidak ada hubungannya sama sekali dan otomatis tidak ada hak untuk mencampuri urusan masing-masing.
sepeninggal Gerry terlihat Bambang menatap ke arah punggung anak muda itu yang menurutnya sangat tidak asing, hanya saja mendengar nada penuh percaya diri dan tidak ada keraguan yang dilontarkan pemuda itu membuat Bambang yakin bahwa sebenarnya dirinya salah orang.
__ADS_1
" kenapa aku merasa sangat tidak asing ya dengan orang itu tapi mendengar ucapannya tadi Sepertinya dia memang benar-benar bukan temannya Mona, Lagian aku juga kenapa sih malah menawarkan untuk menemui Mona di dalam seolah-olah ingin sekali memperkenalkan anakku kepada orang luar yang belum aku kenal sama sekali?" Bambang terdengar merutuKi kebodohannya padahal sebenarnya ia ingin putrinya itu berubah tetapi malah dirinya yang mengatakan hal tidak tidak kepada orang asing.
" Papa dari tadi itu ke mana saja sih cuma Belikan aku makanan kayak Apakah begitu Soalnya aku nih lagi kelaparan loh, masa iya aku harus memakan makanan dari rumah sakit ini yang rasanya tidak ada enak-enaknya sama sekali?" tanya Mona yang merasa gelisah karena dari tadi Papanya itu tidak muncul sama sekali seolah menghindar daripada tanggung jawab padahal sebenarnya memang pria itu benar-benar menghindar Tetapi hanya untuk menghindari perdebatan dengan istrinya bukan karena hal lain.
" ya mungkin dia capek berantem sama mama, Tapi kalau kamu menyuruh papa kamu untuk membeli makanan Memangnya dia punya uang kamu tahu sendiri kan kalau dia itu orangnya kere banget?" Nina selalu saja menjatuhkan harga diri suaminya itu entah kepada siapapun dan juga di manapun dirinya bakalan tidak pernah mempedulikan hal itu sama sekali karena menurutnya tidak penting.
" terus akunya juga harus gimana soalnya tadi kan uangnya Dalam Dompet aku suruh Mama ambil semuanya jadi otomatis sudah tidak ada yang tersisa sedikitpun, jadi mama yang cari jalan dong pinjam uang ke mana Begitu atau ngerayu siapa begitu biar kita bisa dapat makan enak sekarang?" kesal Mona karena orang tuanya itu memang benar-benar bisa dibilang hanya numpang hidup di dunia ini tapi tidak ada kegunaannya sama sekali.
" Ya sudah kamu tunggu di sini saja nanti mama yang bakalan cari jalan, tapi intinya hanya satu yaitu saat Papa kamu datang ke sini terus menanyakan Mama kamu bilang saja kalau mama ada pergi beli makanan!" setelah mengatakan hal itu Nina pun pergi dari situ karena sebelum Bambang datang dan menanyakan hal yang tidak tidak lebih baik dirinya pergi.
" Kenapa sih Aku harus punya orang tua yang tidak berguna seperti mereka yang ada bukannya memberikan aku uang tapi malah terus saja meminta kepadaku, Apa mereka tidak tahu betapa susah payahnya Aku bekerja untuk mendapatkan semua uang itu tetapi mereka malah menggunakannya tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun!" sungut Mona yang benar-benar tidak menyukai sikap Nina yang selalu saja memaksa dirinya bekerja dan bekerja dan dengan begitu Mamanya itu terasa seperti mucikari yang selalu saja mencari pelanggan untuk anaknya sendiri.
" Ah sudahlah daripada memikirkan mereka lebih baik aku istirahat untuk memulihkan tenagaku yang sudah terkuras percuma, Karena setelah aku sehat kembali otomatis aku bakalan beli gencar mendekati Gerry yang secara itu sangat kaya dan otomatis aku tidak perlu bekerja keras lagi Tetapi semua kebutuhanku bakalan dia yang penuhi tanpa terkecuali!" gumam Mona yang terlihat begitu bahagia ketika mengingat sosok Gerry yang selalu Royal kepadanya.
ketika Mona yang sedang memikirkan Gerry untuk kembali kepadanya berbeda dengan Norah yang terkesan sedikit bimbang jika Gerry tetap menetap di kota itu, sebab menurutnya Mona itu merupakan wanita yang nekat bakalan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
apa yang terjadi kepada istrinya itu membuat Dito sedikit penasaran sebab tidak biasanya Norah terlihat gelisah memikirkan sesuatu yang secara berlebihan seperti itu, Padahal selama ini wanita itu selalu terkesan cuek dan juga tidak terlalu menanggapi serius masalah yang ia hadapi karena menurutnya nanti kalau capek pasti bakalan berhenti sendiri.
" Mama kenapa sih seperti ada beban pikiran yang begitu berat saat ini, kalau memang bingung ya ngomong saja sama papa biar kita cari jalan keluarnya sama-sama?" tanya Dito memastikan agar istrinya itu tidak terlalu kelihatan cemas karena Biar bagaimanapun murah itu merupakan penderita hipertensi akut.
__ADS_1
mendengar pertanyaan sang suami Norah hanya bisa menghela nafasnya kasar karena bingung harus memulai pembicaraan itu dari mana, sudah begitu dirinya juga bingung Apakah nanti segala bebannya sedang ia pikirkan ini bakalan diterima tidak oleh YouTube atau yang ada pria itu malah menyalahkan dirinya.
" nanti sajalah kalau sudah ketemu waktu yang pas baru mama cerita, hanya untuk sekarang ini biarkan saja seperti begini soalnya bikin mumet bingung mau ngomong seperti apa!" setelah mengatakan hal itu Norah pun kembali ke dapur tidak ingin lagi membahas tentang Mona.