
Dewi memilih tak peduli dengan apa yang ditanyakan oleh sang suami,karena menurutnya tidak ada Yang salah dengan tindakan nya.
"Mah,ayolah jangan seperti anak kecil dong!" Pinta Rio membuat Dewi tambah menatap kesal kearah suaminya itu.
"Siapa yang anak kecil? Jadi menurut Papa,Mama ini anak kecil yang malah tidak pantas dianggap sebagai wanita yang melahirkan anak ini?" Tanya Dewi sambil menunjukkan kearah Asya yang sedikitpun tidak berekspresri.
"Tapi kan bukan begini caranya,biar bagaimanapun dia itu anak kita juga kan?" Tanya Rio lagi yang mulai merasa jengah dengan sikap sang istri yang susah sekali dikasih tau.
"Kalau Memang kalian tidak ingin datang kesini karena aku dan juga tidak menyukai aku sebagai anak kalian maka lebih baik aku pergi dari sini dan menjalani hidupku sendirian!" Ujar Asya lalu segera berlari kearah kamar hendak menyimpan semua barang barang nya karena merasa tak pantas berada disitu.
Dewi tertegun ketika melihat reaksi yang ditunjukan oleh Asya itu dan akhirnya menyadari hal bodoh yang telah dilakukan,tapi Dewi masih kalah cepat dari Kenzo yang sudah lebih dulu menyusul Asya ke kamarnya.
"Sya,tunggu!" Teriak Kenzo yang akhirnya bosa menerobos masuk kedalam kamar Asya dan menutup pintu nya tanpa banyak bicara lagi.
Sedangkan Asya terlihat sibuk dengan pakaiannya dan memasukan kedalam koper,membuat Kenzo sudah tak bisa berpikir jernih dan langsung membalikkan tubuhnya Asya secara spontan dan membuat tubuh wanita itu terbentur dengan wajah nya.
Grepp
Kenzo bahkan terlihat memeluk tubuh Asya begitu erat hingga membuat wanita itu bungkam,bahkan kedua lututnya pun terasa begitu lemas seolah tak bertenaga.
"Tolong,jangan seperti ini!" Pinta Kenzo sesekali mencium puncak kepala Asya.
Tubuh wanita itu bergetar hebat karena sakit hati yang tengah ia rasakan,dirinya bahkan merutuki ketidak adilan yang selalu terjadi dalam hidup nya.
"Aku lebih baik mati saja,untuk apa hidup jika menjadi benalu!" Ujar Asya lirih terlihat sekali dari gestur tubuhnya bahwa wanita itu tengah merasa kecewa yang amat sangat.
"Shut,kamu kalau bicara jangan sembarang!Nanti kalau kamu mati,aku sama siapa disini untuk menjalani hari?" Tanya Kenzo yang sangat tak menerima apa yang dikatakan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Aku capek sekali,Mas!" Netra Kenzo membulat ketika mendengar apa yang dikatakan Asya itu.
Duarrr
kalau boleh meminta,Kenzo ingin sekali meminta petir datang di siang bolong tapi ini kan sudah malam.
"Apa tadi kamu bilang?" Tanya Kenzo dengan wajah nya yang begitu bahagia bahkan bisa dibilang kalau itu adalah senyuman yang ia lakukan paling terlama dalam hidupnya.
Namun Asya sama sekali tidak ada pergerakan sama sekali membuat pria itu yang tadi bahagia langsung panik,karena takut Asya bakal kenapa napa.
"Sya,kamu kenapa Sayang?" Tanya Kenzo penasaran.
Lagi dan lagi tidak ada pergerakan sama sekali membuat pria itu langsung menggendong Asya dan membawa nya keatas tempat tidur,setelah itu dirinya berlari ke lantai bawah untuk meminta pertolongan.
Namun ketika hendak keluar kamar terlihat Rio dan Dewi tengah menatap cemas kearah nya,karena takut jika Asya benar benar akan pergi.
"Ken,Asya dimana Nak?" Tanya Dewi sambil mencari dibelakang tubuh Kenzo siapa tahu Asya juga ikut.
"Papa,ini karena Mama yang terlalu bodoh!Kalau sampai Asya kenapa napa,biar saja Mama yang mati lebih dulu!" Lirih Dewi sambil melangkah pelan mengikuti Kenzo yang tadi sudah lebih dulu masuk.
Rio memilih untuk ke lantai bahwa untuk menyuruh George menghubungi dokter pribadi mereka,sebab putrinya sedang dalam kondisi tidak baik baik saja.
"Yanti,kamu tolong hubungi dokter kalian untuk datang sekarang!" perintah Rio tanpa tedeng aling.
Rianti yang sedang pusing memikirkan semuanya langsung bangun,karena dirinya merasa cemas dengan apa yang di katakan oleh Rio itu.
"Siapa yang sakit Mas?" Tanya Rianti penasaran.
__ADS_1
"Asya pingsan Dek!" setelah mengatakan hal itu Rio kembali ke lantai atas untuk menyusul Dewi.
Dewi kini masih tergugu di depan pintu kamar Asya,karena merasa hancur melihat wajah pucat putrinya itu dan juga perhatian yang diberikan oleh Kenzo.
Pria itu bahkan selalu mengusap dan mencium puncak kepala Asya tanpa peduli dengan sekitar,membuat Dewi jadi bingung harus bagaimana.
"Mah,gimana keadaan Asya...
"Shut,Papa bisa diam tidak? tuh lihat kearah Kenzo,begitu perhatian kepada putri kita!" Ujar Dewi sambil menunjukan kearah Pria yang begitu posesif bahkan tangan Asya selalu dicium nya tanpa henti.
"Nak,gimana keadaan nya?" Tanya Rio penasaran dan tak peduli dengan sekitar karena baginya Asya adalah hak nya.
"Dia masih belum sadar,apa dokter nya sudah di panggil?" Tanya Kenzo memastikan.
"Sudah,tunggu saja!" Ujar Rio lalu segera mendekati Asya membuat Kenzo sedikit menyingkir darinya.
Dewi memilih naik keatas Ranjang dan menciumi seluruh wajah Asya yang begitu pucat,sebab dirinya sangat merasa bersalah dengan hal bodoh yang telah di lakukan nya.
"Sayang,Kamu masih marah ke Mama? Maafin Mama kamu yang bodoh ini Ya,karena terlalu cemas berlebihan sehingga tak bisa membedakan mana yang benar dan tidak?" entah apa di dengar oleh Asya atau tidak yang pasti Dewi tetap bakal mengatakannya..
"Mah,sabar ya nanti baru minta maaf secara benar kepadanya dan tolong jadikan ini adalah kekonyolan yang terakhir,jika tidak ingin Asya pergi dan bukan hanya kata kata semata!" Pinta Rio dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Dewi dengan berurai air mata.
Kenzo yang merasa gemas dengan sikap dokter keluarganya yang sangat lelet,memilih untuk menemui kedua orang tuanya.
"Mah,Papa itu dokter Fu*k sudah di hubungi atau belum?" Tanya Kenzo dengan nada yang begitu menggelegar.
"Astaga Kenzo kamu ini kenapa sih,kok malah memakiku? Memang nya siapa yang sakit,bukan kah semua keluarga Jansen sehat semua?" Tanya Lorrin dengan nada ketus nya.
__ADS_1
"Diam! cepat naik dan periksa keadaanya,awas saja dia kenapa napa karena kamu bakal aku buat kamu kehilangan pekerjaan kamu ini sekarang juga!" Sahut Kenzo dengan nada datar.
Membuat Rianti dan George tak bisa membantu dokter wanita yang merupakan sepupu kandung nya dari Kenzo anak dari adik perempuannya George,dan merupakan orang yang paling di benci oleh Kenzo karena cerewet nya itu.