
Intan bingung harus berbicara apa soalnya terlihat Dev enggan sekali menatap ke arahnya Padahal di sini tugasnya yaitu menggantikan Rama untuk membantu pekerjaan Dev agar lebih mudah, jika sudah seperti begini masa iya dirinya keluar dari ruangan itu tanpa melakukan apapun itu sama saja dengan memakan gaji buta.
wanita itu terlihat Bimbang antara mau melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu atau Memilih tetap Stay di situ meskipun nanti bakal dikatai sama Dev, hanya saja kalau dirinya berdiam diri dan tidak bertanya apapun nanti salah lagi Tetapi kalau nanti bertanya juga belum tentu Dev bakal menjawab dengan baik.
Dev dari tadi merasa diperhatikan langsung menatap tajam ke arah Intan karena menurutnya kelakuan Wanita itu sudah sangat tidak sopan dan juga telah sedikit mengganggu pekerjaannya, Padahal sudah jelas tadi ya mengatakan jika urusan Wanita itu sudah selesai di tempat itu langsung keluar saat itu juga tidak boleh pakai memakan waktu segala.
" Kamu itu sebenarnya paham tidak dengan apa yang saya katakan tadi, yaitu kamu keluar saat ini juga kalau pekerjaan kamu sudah selesai agar tidak mengganggu waktu dan juga istirahat saya? "tanya Dev dengan nada Ketus membuat Intan hanya bisa menghela nafasnya kasar soalnya ternyata kelakuan Arogan majikannya itu bukan kaleng-kaleng.
" Sebenarnya saya itu ditugaskan untuk mempermudah pekerjaan Anda selama Tuan Rama tidak ada, maka dari itu saya tetap bakalan stay di sini sampai ada tugas yang diberikan kepada saya barulah saya bisa keluar! "jelas Intan yang terlihat tetap ada pendiriannya tidak tergoyah sedikit meskipun tatapan tajam yang diberikan kepadanya.
Dev mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Intan barusan karena menurutnya Wanita itu sudah sengaja mengajaknya ribut, untung juga dirinya merupakan wanita cuma kalau Seorang pria sudah bisa dipastikan bakalan hancur babak belur karena terkena pukulan tangannya.
" kamu jadi orang itu kadang otaknya tidak bisa dipakai buat berpikir dengan benar ya, saya tidak pernah menyuruh Kamu mesti di sini karena memang tidak ada pekerjaan. masa kamu harus memaksa saya memberikan pekerjaan kepada kamu sedangkan saya saja bingung pekerjaan apa yang harus kamu lakukan saat ini, kamu mau memaksa saya buat berpikir bagaimana caranya agar tetap melihat kamu di tempat ini? " tanya Dev dengan nada yang terdengar begitu kesal.
Intan tidak berubah pikiran sama sekali yang ada dirinya malah getol menawarkan ini dan itu yang sangat tidak masuk akal membuat Dev hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena kelakuan wanita itu membuat dirinya harus usaha untuk ekstra sabar lagi padahal sebenarnya bisa dibilang batas kesabarannya sudah habis.
" Terserah anda mau menyuruh saya apapun itu ya mungkin mengepel lantai atau melap kaca tidak masalah yang penting Intinya saya punya pekerjaan, Nanti kalau saya keluar dari ruangan ini ongkang-ongkang kaki di tempatnya saya nanti apa kata pegawai yang lain. "jelas Intan membuat Dev tak percaya jika ada seorang pegawai kantoran yang rela menjadi pengganti dari office boy ataupun office girl di tempat itu dengan sukarela padahal sebenarnya pakaian yang dipakai Intan itu sangat tidak masuk kriteria sama sekali.
" Sebenarnya ada pekerjaan yang paling tersibuk di tempat ini dan mungkin sepertinya mereka masih membutuhkan karyawan, kalau kamu berminat saya bakalan memberikan kamu surat rekomendasi untuk masuk ke sana tanpa perlu harus diwawancara terlebih dahulu!" ujar Dev membuat Intan begitu bahagia karena akhirnya dirinya punya pekerjaan dan juga bisa terus melihat wajah tampan dari majikannya itu.
" nah tuh kan saya juga bilang apa Kalau Sebenarnya ada pekerjaan hanya tuan saja yang melupakan hal itu mungkin karena mengingat status saya merupakan wanita yang paling keren di sini, Kalau boleh tahu pekerjaan yang cocok untuk saya itu apa ya supaya saya bisa langsung mengatur posisi dan tempat duduk yang pas agar Ketika nanti diperlukan langsung gerak cepat tanpa menunggu?" tanya Intan mau memastikan membuat Dev ingin sekali tertawa.
__ADS_1
" kamu pergi di bagian HRD terus ngomong ke mereka kalau kamu itu dipindahkan oleh saya ke pantry untuk menjadi office girl, jika office girl di situ sudah penuh suruh salah satu menggantikan posisi kamu agar tidak ada pekerjaan yang kosong nantinya!" Intan membulatkan matanya sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Dev barusan karena itu sama saja dirinya langsung diturunkan jabatan secara tak langsung dan jabatan yang diturunkan itu pun merupakan sebuah jabatan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
" Jadi maksudnya anda saya menjadi petugas kebersihan terus menyiapkan minuman untuk satu kantor, terus nanti pekerjaannya menggantikan tuan Rama di sini siapa? Soalnya saya kan salah satu pegawai yang paling dipercaya kinerjanya dan juga tidak akan pernah mengecewakan atasan, Jadi kalau misalnya nih saya disuruh pindah otomatis yang bakalan kerepotan kan ada sendiri!" jelas Intan yang penuh percaya diri.
" ini orang Kenapa kelebihan aneh ya tadi katanya minta pekerjaan Ya sudah aku kasih pekerjaan dengan sukarela eh malah minta yang lebih dari itu, sudah begitu percaya diri sekali kalau aku mau menggantikan posisi Rama dengannya. bekerjasama dengan laki-laki saja sudah membuatku pusing apalagi kesana kemari harus dengan seorang wanita aneh sepertinya, yang ada bukannya kelar pekerjaanku tetapi langsung masuk ke unit gawat darurat saat itu juga!" geram Dev dalam hati dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Intan seperti tidak punya malu padahal sudah dikatain model apapun.
" Ya sudah kalau kamu sudah paham dengan apa yang saya katakan tadi silakan kamu keluar saat ini juga dan tolong jangan pernah kembali Sebelum saya panggil, atau kamu memang ingin saya rekomendasikan ke bagian HRD agar ditempatkan di pantry? kalau memang iya Ya sudah kamu ngomong yang jelas biar saya langsung buatkan saat ini juga agar kamu tidak pernah nongol lagi ke sini, kamu itu bukannya memberikan solusi sebuah masalah yang ada tanpa membuat masalah itu menjadi rumit!" Intan langsung membungkukkan badannya mendengar kata-kata ancaman yang secara tidak langsung diucapkan oleh Dev kepadanya.
" Maafkan saya tuan Tapi saat ini juga saya bakal kembali ke meja saya dan melanjutkan pekerjaan saya yang tertinggal tadi, Jika Anda membutuhkan sesuatu silakan panggil saya atau panggil orang lain pun tak masalah yang penting Intinya saya tidak ingin pindah dari pekerjaan yang sekarang!" setelah mengatakan hal itu Intan pun pergi dari situ tanpa menambah ataupun mengurangi lagi setiap kata yang diucapkan oleh Dev karena nantinya bakal menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri.
Terhibur
begitulah perasaan Dev saat ini karena dengan apa yang dilakukan oleh intan dan segala kekonyolannya itu membuat dirinya sejenak merupakan masalah yang terjadi, Tetapi hanya saja kalau berdekatan dengan wanita itu beberapa jam lebih lama lagi dirinya merasa tidak sanggup karena nanti bukannya terhibur melainkan terbawa emosi.
Lilian kini tengah menatap tak percaya ke arah para sahabatnya yang terlihat sedang asyik menelpon para suami mereka membiarkan dirinya sendiri menganggur, inilah yang membuat dirinya ingin sekali memiliki menantu agar bisa dibawa kemana-mana dan juga punya teman buat diajak berbelanja.
" kalian ini kok malah di sini ngobrol sama suaminya bukannya menunggu di rumah agar Posisiku merasa tidak dicuekin seperti begini, memangnya tidak bisa ditahan buat ngomongnya sampai-sampai harus saat ini juga saling menelpon seperti begitu?" Sindir Lilian membuat para sahabatnya itu hanya tertawa saja sebab ternyata ibu-ibu janda lagi ngamuk kelihatannya sangat menggemaskan tetapi juga lucu.
" ya sebenarnya ini kan dari kamu Siapa suruh ditinggal suami meninggal malah tidak ada rencana buat kawin lagi, cuma saja kalau kamu lebih menikmati masa muda waktu itu pasti sekarang kamu sudah bahagia seperti kami!" sinis Desi membuat Lilian menatap tak percaya para sahabatnya itu yang bukannya mendukung perkataannya malah balik mengejek dirinya.
" Ya aku kan pikir dengan sendirian segala sesuatu bisa lebih bebas kan tidak harus kemana-mana pakai laporan segala seperti biasa kalian lakukan, hanya saja kalian itu saja yang tidak punya pengertian ataupun Setia kawan masa iya di jam seperti begini saat lagi ngumpul kalian malah asikkan bertelepon Ria sama suami sendiri?" tanya Lilian yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Desi barusan.
__ADS_1
"Aku tuh sebenarnya bingung mau suruh kamu cari suami lagi tapi kamu kan sudah tua ya Mana ada yang mau sama kamu, hanya saja kalau menyuruh kamu tetap sendirian seperti begini yang ada kamu tuh bakalan jadi pengganggu loh!" Desi benar-benar hobi sekali melihat Lilian marah-marah kepadanya dan juga memasang wajah cemberutnya setiap waktu.
" dasar tidak setia kawan sama sekali bukannya mendukung apa yang aku lakukan malah mengejekku balik, aku doakan semoga dalam waktu dekat posisi kita bakalan sama biar kalau mau kangen barengan nangisnya juga barengan !" semua teman-teman mereka berdua tertawa mendengar celotehan kedua orang sahabat itu yang setiap kali bertemu tidak akan pernah luput dari yang namanya berdebat ataupun bertengkar tapi setelah itu langsung baikan kembali.
" Kamu kan tahu awal Mas Satria meninggal itu Dev masih seperti apa, tidak mungkin juga kan aku harus membagi kasih sayangku kepada yang lain sedangkan anakku sudah tidak punya siapa-siapa? maka dari itu aku lebih memilih untuk sendiri agar bisa fokus mengurus dia saja dan tidak teralihkan kepada yang lain, namun setelah dia sudah besar dan sudah bisa mandiri serta berdiri di kaki sendiri aku merasa kesepian karena tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol kalau di rumah?" lirih Lilian yang benar-benar sangat merindukan kehadiran sosok seorang menantu dan juga cucu di dalam rumahnya.
semua orang sangat tahu dengan sepak terjang Lilian Smith di dunia bisnis demi tetap menjaga agar perusahaan yang dibangun suaminya dari nol itu tetap berkembang dan juga tidak bangkrut, hanya saja rasa kesepian yang dirasakan oleh wanita itu mereka tidak bisa membantu soalnya sepertinya sudah terlambat Yang penting intinya sekarang yaitu Bagaimana caranya membuat anaknya itu paham dengan apa yang dirasakan oleh mamanya.
" kamu kalau berbicara kepada Dev yang notabene merupakan seorang keras kepala yang seperti kamu itu harusnya kamu bisa mengikuti caranya dia, kalau memang berbicara secara kasar dia tidak ikut cobalah dekati perlahan karena aku yakin suatu saat dia pasti bakalan luluh!" jelas Desi.
" kenapa ya buah kalau jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya dan sekarang itulah yang aku rasakan seperti yang tengah Dev lakukan saat ini, Apa susahnya sih mengikuti kemauanku yang tidak begitu rumit itu? padahal Rebecca itu sangat cantik loh tidak ada nilai minus dari wanita itu, tetapi sama saja mau dikatakan modal apapun dia tidak bakalan mau ataupun juga mengakui jika Pilihanku itu adalah yang paling terbaik!" desah Lilian frustasi dengan nasib hidup yang tengah ia alami saat ini.
Desi sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu hanya saja mungkin benar apa yang diinginkan oleh Dev itu bertentangan dengan keinginan sang mama, hanya saja Kita sebagai orang tua juga tidak bisa terlalu memaksakan kehendak karena nanti yang bakal menjalani semuanya adalah anak-anak.
" kalau misalnya anak kamu tidak menyukai wanita yang bernama Rebecca itu yang mungkin aslinya orangnya tidak sesuai dengan kriterianya, daripada nanti akhirnya dia mengalah dan juga mengikuti apa yang kamu katakan tapi saat di tengah jalan mereka berdua bubar kan sama saja bohong!" jelas Desi membuat Lilian yang tidak tahu lagi harus berbicara seperti apa.
" Ya sudah kalau begitu karena kamu yang paling mengerti dan juga paham situasiku sekarang ini, Bisakah kamu menghentikan aksi kamu ngobrol sama suami kamu dan menyuruh dia untuk tunggu di rumah saja deh soalnya aku lagi pengen butuh teman curhat nih?" akhirnya kata-kata itu yang bisa lolos dari mulutnya Lilian sekarang dari tadi berdebat terus dengan Desi membuat tenggorokannya sudah terasa begitu kering.
" kenapa Masalah kamu jadi bawa-bawa sama suamiku orang dianya kan tahu kalau aku istrinya jadi kalau ditelepon kan tidak masalah, kecuali dianya menghubungi kamu Nah itu baru jadi masalah besar jadi kalau soal seperti begini lebih baik kamu Anggap saja tidak mendengar apapun!" ejek Desi tanpa perasaan membuat Lilian memasang wajah cemberutnya karena seperti tidak dihargai sedikitpun perasaan yang ia rasakan saat ini.
" kamu itu jadi orang tidak setia kawan sekali sih, Percuma saja datang ke sini kalau akhirnya bakalan duduk bengong sendirian?" Sungut Lilian.
__ADS_1
semua orang di tempat itu hanya tertawa melihat wajah tak bersahabat milik wanita paruh baya keturunan luar negeri itu, namun terdengar begitu fasih mengucapkan bahasa Indonesia mungkin karena sudah berpuluhan tahun tinggal di sini tanpa kembali ke negara asalnya jadi otomatis segala sesuatunya sudah menyatu.